Jakarta | Selama satu dekade pelaksanaannya di Indonesia, Girls Takeover telah membuka akses bagi ratusan anak perempuan dan perempuan muda untuk memasuki ruang kepemimpinan yang selama ini lebih sering ditempati oleh orang dewasa. Inisiatif yang digagas Plan Indonesia ini menghadirkan pengalaman langsung bagi peserta untuk memahami proses pengambilan keputusan, menyampaikan pandangan, serta memperkenalkan gagasan yang berangkat dari persoalan sehari-hari mereka.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta mengambil alih peran pemimpin dari berbagai sektor dan lembaga. Mereka berkesempatan mengikuti agenda kerja, berdialog dengan pemangku kepentingan, serta menyuarakan aspirasi mengenai isu yang memengaruhi kehidupan anak perempuan dan kaum muda. Pengalaman ini menempatkan mereka bukan semata sebagai penerima kebijakan, melainkan sebagai pihak yang turut membentuk percakapan tentang pendidikan, kesehatan, keamanan, kesetaraan, lingkungan, dan masa depan.
Dalam perjalanannya, Girls Takeover telah mencakup pengambilalihan tujuh posisi menteri serta lebih dari 40 jabatan strategis di berbagai lembaga. Ruang yang dibuka juga meliputi sektor transportasi dan diplomasi, lain melalui keterlibatan peserta di MRT Jakarta dan sejumlah kedutaan besar. Keragaman tempat tersebut menunjukkan bahwa perspektif anak perempuan relevan dalam berbagai bidang, termasuk bidang yang berkaitan langsung dengan layanan publik, mobilitas, hubungan internasional, dan perumusan kebijakan.
Kesempatan memimpin ini berlangsung dalam konteks rangkaian kegiatan Girls Takeover dan merupakan bagian dari perjalanan pembelajaran peserta, bukan pengangkatan permanen pada jabatan yang mereka ambil alih. Meski bersifat sementara, pengalaman tersebut memberi kesempatan untuk melihat bagaimana keputusan dibuat, mengenali tantangan kepemimpinan, dan membangun keberanian untuk berpartisipasi. Dengan demikian, program ini membantu memperluas pemahaman bahwa anak perempuan memiliki kapasitas, pengetahuan, dan suara yang layak dipertimbangkan dalam ruang pengambilan keputusan.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menjelaskan bahwa Girls Takeover tidak semata-mata merupakan kegiatan ketika anak perempuan menggantikan posisi pemimpin selama satu hari. Program ini dirancang sebagai ruang partisipasi yang memungkinkan suara anak perempuan didengar, pengalaman mereka dihargai, serta sudut pandang mereka dipertimbangkan dalam pembahasan mengenai berbagai persoalan yang memengaruhi kehidupan mereka. Dengan demikian, kehadiran peserta tidak berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman bahwa anak perempuan memiliki pandangan yang relevan bagi proses pengambilan keputusan.
Melalui program tersebut, para peserta memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinan, menyampaikan gagasan, dan berinteraksi langsung dengan pemimpin dari berbagai sektor. Menurut Dini, pengalaman itu penting karena dapat memperkuat kepercayaan diri sekaligus memperkenalkan anak perempuan pada ruang-ruang yang selama ini belum selalu terbuka bagi mereka. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk terus memimpin, berpartisipasi, dan mendorong perubahan di lingkungan masing-masing. Kesempatan satu hari perlu diikuti dukungan yang berkelanjutan agar kepemimpinan anak perempuan berkembang secara nyata.
Gagasan utama Girls Takeover berangkat dari keyakinan bahwa anak perempuan memiliki hak untuk hadir dan didengar dalam ruang pengambilan keputusan. Prinsip ini menjadi semakin bermakna dalam perayaan satu dekade program yang bertepatan dengan Hari Anak Perempuan Sedunia setiap 11 Oktober. Perayaan tersebut turut diisi diskusi di Taman Literasi, Blok M, Jakarta Selatan, pada Minggu (11/10/2026). Forum itu menjadi ruang untuk meninjau perjalanan program sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan anak perempuan dalam kebijakan dan perubahan sosial. Satu dekade Girls Takeover menunjukkan bahwa kepemimpinan anak perempuan perlu dipandang sebagai proses jangka panjang, bukan pengalaman sesaat.
Akses anak perempuan terhadap ruang keputusan penting karena kebijakan dan tindakan yang menyangkut kehidupan mereka perlu mempertimbangkan suara, kebutuhan, serta pengalaman mereka secara langsung. Keterlibatan tersebut menjadi semakin relevan ketika anak perempuan menghadapi ketimpangan dan risiko yang berbeda berdasarkan kondisi sosial, ekonomi, serta tempat tinggal. Ruang pengambilan keputusan dapat mencakup keluarga, sekolah, komunitas, organisasi, hingga lembaga publik, dengan bentuk partisipasi yang sesuai usia dan bermakna.
Data Susenas yang disampaikan dalam sumber menunjukkan adanya perbedaan risiko perkawinan anak berdasarkan tingkat pengeluaran keluarga. Anak perempuan dari keluarga dengan tingkat pengeluaran terendah hampir tiga kali lebih berisiko menikah sebelum usia 18 tahun dibandingkan anak perempuan dari keluarga dengan tingkat pengeluaran tertinggi. Angka ini memperlihatkan bahwa pengalaman dan kebutuhan anak perempuan tidak seragam. Kondisi ekonomi keluarga menjadi konteks yang perlu diperhatikan ketika keputusan yang memengaruhi masa depan mereka dibahas dan ditetapkan.
Perbedaan juga terlihat berdasarkan wilayah tempat tinggal. Anak perempuan yang tinggal di perdesaan disebut dua kali lebih berisiko mengalami perkawinan anak dibandingkan mereka yang tinggal di perkotaan. Data tersebut menegaskan pentingnya mendengar pengalaman anak perempuan dari berbagai latar, termasuk mereka yang hidup di wilayah dengan karakteristik dan tantangan berbeda. Pelibatan yang lebih luas membantu memastikan bahwa pembahasan mengenai perlindungan dan masa depan anak perempuan tidak hanya merepresentasikan pengalaman kelompok tertentu.
Tantangan yang dirasakan anak perempuan juga berkaitan dengan perubahan iklim. Dalam laporan global Plan International terbaru pada 2026, sebanyak 90 persen anak perempuan dan perempuan muda yang disurvei menyatakan bahwa peristiwa iklim memberikan tekanan serius terhadap keberlangsungan hidup, kesehatan, dan stabilitas rumah tangga mereka. Temuan ini menempatkan pengalaman mereka sebagai informasi penting dalam keputusan yang berkaitan dengan lingkungan, kesehatan, perlindungan sosial, dan ketahanan keluarga. Dengan demikian, suara anak perempuan perlu hadir dalam ruang yang membahas persoalan yang secara nyata memengaruhi kehidupan mereka.
Dampak Girls Takeover tidak hanya dirasakan oleh para peserta, tetapi juga oleh institusi yang terlibat. Bagi MRT Jakarta, program ini menjadi kesempatan untuk mendengarkan perspektif generasi muda, termasuk anak perempuan, mengenai layanan, ruang publik, dan pengalaman mereka sebagai bagian dari masyarakat. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda), Weni Maulina, menyampaikan bahwa keterlibatan dalam Girls Takeover memperkaya pemahaman institusi terhadap kebutuhan dan pengalaman masyarakat yang beragam.
Menurut Weni, membuka ruang bagi anak perempuan tidak cukup dilakukan melalui seremoni atau pemberian kesempatan secara formal. Institusi perlu memiliki kesiapan untuk benar-benar mendengar, menerima masukan, dan belajar dari pandangan yang disampaikan peserta. Proses tersebut dapat membantu lembaga memahami persoalan dari sudut pandang yang mungkin belum terlihat dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Dengan demikian, keterlibatan generasi muda tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun kebijakan dan lingkungan kerja yang lebih responsif.
Ia berharap ruang serupa dapat terus dibuka secara bermakna dan melibatkan lebih banyak anak perempuan dari berbagai latar belakang. Keberlanjutan program menjadi penting agar suara peserta tidak hanya didengar, tetapi juga dipertimbangkan dalam proses perubahan. Ketika institusi bersedia belajar secara terbuka, partisipasi anak perempuan dapat berkembang menjadi kontribusi nyata bagi perbaikan layanan serta kehidupan masyarakat.
Pengalaman tersebut juga membekas bagi Mala, salah satu peserta yang mengambil alih posisi Menteri BUMN pada 2021. Ia memandang kesempatan itu sebagai bagian dari perjalanan kepemimpinannya. Dari pengalaman tersebut, Mala belajar bahwa kepemimpinan membutuhkan keberanian untuk menyampaikan hal-hal yang dilihat, termasuk persoalan yang perlu dibenahi, serta perubahan yang ingin didorong.
Bagi Mala, anak perempuan perlu diberi kesempatan untuk terlibat dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan. Kesempatan itu membantu mereka mengenali kapasitas diri, menyampaikan gagasan, dan memahami bahwa suara mereka memiliki arti. Pada saat yang sama, kehadiran mereka dapat memperkaya keputusan dengan pengalaman yang lebih beragam.
Baca juga: Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Semangat Kemerdekaan Dimulai dari Anak-anak, Siti Nurlaela Dorong Budaya Bermain dan Berkarya | Trauma Healing Korem 161/WS Bangkitkan Keceriaan Anak-Anak Korban Gempa Flores

