Kota Desa Shihan | Sembilan orang tewas dan 40 lainnya terluka dalam serangan bersenjata di Gereja Ortodoks Yunani Santo George, Gubernuran Karak, Yordania. Serangan terjadi pada Jumat (23/10), saat sebuah prosesi pemakaman sedang berlangsung. Para pelaku dilaporkan melepaskan tembakan selama beberapa menit pada siang hari, sehingga suasana di lokasi berubah menjadi kepanikan. Peristiwa itu menjadi serangan mematikan di tengah kegiatan keagamaan dan duka yang dihadiri warga setempat.
Gereja Santo George berada di wilayah Karak, sekitar 120 kilometer di barat daya Amman. Menurut laporan mengenai kejadian tersebut, tembakan terdengar ketika prosesi pemakaman berlangsung di kawasan gereja. Informasi awal menyebutkan bahwa sembilan orang meninggal dunia, sementara 40 orang lainnya mengalami luka-luka. Jumlah korban tersebut mencakup orang-orang yang berada di lokasi saat serangan terjadi; rincian lebih lanjut mengenai kondisi para korban belum disampaikan dalam informasi yang tersedia.
Penembakan yang berlangsung selama beberapa menit itu berakhir setelah para pelaku meninggalkan atau tidak lagi menembaki lokasi, meskipun keterangan yang tersedia belum menjelaskan secara rinci bagaimana kejadian tersebut dihentikan. Belum ada informasi yang dapat memastikan identitas para pelaku ataupun alasan di balik serangan. Karena itu, kedua hal tersebut belum dapat disimpulkan dari laporan awal. Peristiwa ini berlangsung ketika keluarga dan warga berkumpul untuk mengiringi pemakaman, sehingga para saksi dan orang-orang yang hadir berhadapan langsung dengan situasi berbahaya. Fokus laporan awal tertuju pada jumlah korban, waktu dan tempat kejadian, serta konteks prosesi yang sedang berlangsung. Gereja itu terletak jauh di barat daya ibu kota Yordania, di Gubernuran Karak. Rincian yang tersedia menggambarkan serangan bersenjata singkat pada siang hari, dengan dampak berat bagi para korban dan komunitas setempat. Informasi mengenai penanganan lebih lanjut atas korban maupun perkembangan penyelidikan tidak dirinci dalam keterangan awal tersebut.
Raja Yordania Abdullah II memerintahkan pasukan keamanan untuk menangani serangan di gereja dengan tindakan tegas, sementara aparat masih memburu pelaku. Seruan agar petugas bertindak dengan “tangan besi” mencerminkan sikap pemerintah yang menempatkan perlindungan warga dan penegakan hukum sebagai prioritas. Perintah itu disampaikan di tengah penyelidikan atas serangan yang menewaskan sembilan orang, sekaligus ketika pihak berwenang berupaya mengungkap siapa yang berada di balik kejadian tersebut.
Pada Sabtu (24/10), Abdullah memimpin rapat Dewan Keamanan Nasional untuk membahas perkembangan penanganan serangan. Dalam kesempatan itu, ia mengecam aksi tersebut sebagai “tindakan teroris yang tercela” dan menegaskan bahwa ancaman terhadap nyawa warga Yordania tidak dapat ditoleransi. Ia meminta lembaga keamanan mengambil langkah yang diperlukan untuk mengejar pelaku dan memastikan mereka dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum. Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah akan mengerahkan aparat secara serius, sembari menekankan bahwa keselamatan masyarakat harus dijaga.
Meski demikian, hingga Sabtu belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Otoritas juga menyatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah pelaku memiliki hubungan dengan kelompok tertentu, baik yang beroperasi di dalam negeri maupun di luar negeri. Karena itu, penyelidikan masih berfokus pada pengumpulan bukti dan penelusuran kemungkinan jaringan atau motif, tanpa menetapkan keterkaitan sebelum informasi terverifikasi tersedia.
Ketidakpastian mengenai identitas maupun afiliasi pelaku membuat aparat perlu bekerja dengan hati-hati, sekalipun perintah raja menekankan ketegasan. Pemerintah belum menunjuk kelompok tertentu sebagai pihak yang bertanggung jawab, dan penyelidikan diharapkan memberikan jawaban berdasarkan bukti. Pada saat yang sama, seruan Abdullah menunjukkan bahwa serangan terhadap warga sipil dipandang sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional. Langkah berikutnya akan bergantung pada hasil pencarian dan pemeriksaan yang dilakukan aparat. Hingga pelaku ditemukan, otoritas keamanan tetap melanjutkan upaya pengejaran serta memastikan perkembangan penyelidikan ditangani melalui jalur resmi.
Kesaksian Pastor Theodoros Soueiss menggambarkan suasana mencekam di dalam gereja ketika serangan berlangsung. Ia mengatakan bahwa dirinya bersama orang-orang yang berada di sana meminta jemaat untuk tiarap demi menghindari peluru. Dalam keadaan itu, mereka berupaya berlindung serendah mungkin, sementara suara tembakan membuat orang-orang sulit memahami apa yang sedang terjadi di sekitar mereka.
Menurut Soueiss, tembakan dilepaskan secara membabi buta. Jemaat tidak mengetahui ke mana peluru akan jatuh, sehingga mereka tidak dapat memastikan bagian mana yang aman. Ketidakpastian tersebut menambah rasa takut di dalam gereja. Orang-orang yang hadir menghadapi ancaman tanpa mengetahui arah datangnya peluru maupun tempat yang dapat memberi perlindungan.
Ia menggambarkan kepanikan menyelimuti mereka yang berada di dalam gereja. Permintaan untuk tiarap menjadi respons segera agar jemaat menjauh dari lintasan tembakan. Kesaksian itu menunjukkan bagaimana serangan mengubah ruang ibadah menjadi tempat yang penuh ketakutan, dengan orang-orang berusaha menyelamatkan diri di tengah situasi yang tidak terkendali. Soueiss menyampaikan keadaan tersebut dari pengalaman dirinya dan jemaat yang berada bersamanya.
Di rumah sakit tempat para korban dirawat, Tarek Ammarin juga menyampaikan reaksinya terhadap serangan itu. Kerabatnya terluka dalam peristiwa tersebut, dan ia menyebut serangan itu sebagai “pembantaian”. Pernyataan Ammarin mencerminkan kemarahan dan kesedihan keluarga yang terdampak, ketika mereka berada di rumah sakit menunggu kabar serta mendampingi kerabat yang terluka. Tidak ada rincian tambahan mengenai kondisi kerabatnya yang disampaikan dalam keterangan tersebut.
Kesaksian pastor dan tanggapan keluarga korban memperlihatkan dampak serangan dari dua sudut: pengalaman orang-orang yang terjebak di dalam gereja dan pengalaman kerabat yang berada di rumah sakit. Keterangan Soueiss menekankan ancaman tembakan yang arahnya tidak dapat diperkirakan serta kepanikan jemaat. Sementara itu, Ammarin menggunakan kata “pembantaian” untuk menggambarkan serangan yang melukai kerabatnya. Kedua reaksi itu menyampaikan beratnya peristiwa tanpa menambahkan rincian yang tidak tersedia tentang para korban.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Amman menyatakan bahwa pengamanan telah ditingkatkan di sejumlah lokasi di Yordania. Langkah tersebut mencakup pusat perbelanjaan, kedutaan asing, serta tempat-tempat lain di berbagai wilayah negara itu. Pernyataan tersebut menandai kewaspadaan aparat setelah serangan di gereja yang menewaskan sembilan orang, tanpa merinci perubahan keamanan yang diterapkan di setiap lokasi.
Serangan semacam ini jarang terjadi di Yordania. Meski demikian, aparat negara itu menyatakan telah menggagalkan sejumlah rencana serangan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk rencana yang melibatkan kelompok-kelompok Islamis. Riwayat penggagalan tersebut menjadi konteks bagi peningkatan kewaspadaan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan pelaku ataupun motif dalam insiden terbaru. Informasi mengenai hal itu perlu merujuk pada keterangan resmi yang tersedia.
Bahjat al-Rushda, Wali Kota Desa Shihan di Provinsi Karak, mengecam insiden tersebut. Ia menyebutnya sebagai aksi teroris ekstremis dan menyampaikan harapan agar keamanan negara tetap terjaga. Pernyataan itu mencerminkan kecaman dari seorang pejabat lokal, sementara penyelidikan dan keterangan pihak berwenang tetap menjadi dasar untuk memastikan rincian kejadian. Tidak ada alasan untuk menarik kesimpulan lebih jauh tentang dampaknya di luar informasi yang telah disampaikan.
Yordania juga memiliki posisi penting dalam kerja sama keamanan regional. Negara tersebut merupakan mitra utama Amerika Serikat dalam upaya memerangi kelompok militan di Timur Tengah. Karena itu, pengamanan di berbagai lokasi menjadi perhatian bagi otoritas dan perwakilan asing, meskipun pernyataan kedutaan tidak secara khusus menghubungkan langkah tersebut dengan perkembangan lain di kawasan. Kewaspadaan yang diumumkan berfokus pada lokasi-lokasi di dalam Yordania.
Di dalam negeri, komunitas Kristen merupakan kelompok minoritas.
Baca juga: Akses Darat Terhambat, Pangkoops TNI Habema Perintahkan Evakuasi Udara Ibu Sinta dari Mbua | Kekerasan OPM Tewaskan Sopir Angkutan Masyarakat, TNI Perkuat Pengamanan Dan Kejar Pelaku | DCT CYBEREX SGS 2026 Paparkan Analisis Serangan, Perkuat Pertahanan Siber






