Survei 63 Ahli Petakan Tekanan Ekonomi Indonesia pada Semester II 2026

Survei 63 Ahli Petakan Tekanan Ekonomi Indonesia pada Semester II 2026

Jakarta | Survei Ahli Ekonomi Semester II-2026 yang diselenggarakan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas responden memandang kondisi ekonomi nasional memburuk. Dari 63 ahli yang berpartisipasi, 33 orang atau 52% menilai keadaan ekonomi Indonesia lebih buruk dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Temuan ini menggambarkan tekanan yang dirasakan para ahli dalam menilai perkembangan ekonomi terkini, meskipun pandangan responden tidak sepenuhnya seragam.

Rincian jawaban menunjukkan 29 ahli, setara 46% dari seluruh responden, menyebut kondisi ekonomi lebih buruk. Sementara itu, empat ahli atau 6% menilai keadaan jauh lebih buruk. Jika kedua kelompok tersebut digabungkan, lebih dari separuh responden menilai situasi mengalami penurunan dalam periode perbandingan yang digunakan survei. Penilaian tersebut merupakan persepsi para ahli, dan tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab kemerosotan ataupun menunjukkan besarnya perubahan pada indikator ekonomi tertentu.

Di sisi lain, 25 ahli atau 40% menyatakan kondisi ekonomi tidak berubah dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Sebanyak lima responden, yakni 8%, melihat adanya perbaikan. Tidak ada ahli yang menilai kondisi ekonomi jauh lebih baik. Komposisi jawaban ini memperlihatkan bahwa penilaian yang stagnan menjadi pandangan terbesar kedua setelah persepsi memburuk, sedangkan kelompok yang melihat perbaikan merupakan bagian yang lebih kecil. Dengan demikian, hasil survei mencatat rentang pandangan, tetapi arah penilaian secara keseluruhan cenderung negatif.

Survei tersebut berlangsung pada 21 September hingga 13 Oktober 2026 dengan menggunakan platform survei daring. Pelaksanaannya menjadi survei ahli ekonomi untuk semester kedua pada 2026, dengan 63 ahli sebagai responden. Karena hasilnya bersumber dari penilaian kelompok ahli yang disurvei, angka-angka ini sebaiknya dibaca sebagai gambaran persepsi pada saat pengumpulan data, bukan sebagai pengukuran langsung seluruh kondisi perekonomian. Meski demikian, proporsi responden yang menyebut situasi memburuk memberi sinyal bahwa kekhawatiran terhadap arah ekonomi cukup menonjol di para ahli yang berpartisipasi.

Penilaian para ahli menunjukkan bahwa inflasi masih menjadi salah satu tekanan ekonomi yang menonjol pada Semester II 2026. Dari 63 responden dalam survei, 49 orang atau 78% menilai tekanan inflasi berada pada tingkat tinggi. Rinciannya, 44 ahli atau 70% memilih kategori tinggi, sementara lima ahli atau 8% menilai tekanannya sangat tinggi. Komposisi ini memperlihatkan bahwa mayoritas responden memperkirakan kenaikan harga tetap menjadi perhatian dalam periode tersebut, meskipun tingkat penilaiannya berbeda-beda. Hasil survei ini mencerminkan pandangan para ahli, bukan pengukuran inflasi resmi.

Sementara itu, sebanyak 13 responden atau 21% memberikan penilaian netral terhadap tekanan inflasi. Hanya satu ahli, setara 2%, yang menilai tekanannya rendah, dan tidak ada responden yang memilih kategori sangat rendah. Dengan demikian, pandangan yang menganggap tekanan inflasi tinggi jauh lebih dominan dibandingkan penilaian netral atau rendah. Distribusi jawaban tersebut menggambarkan persepsi responden mengenai kondisi ekonomi yang dihadapi, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab inflasi atau memastikan arah pergerakan harga pada bulan-bulan berikutnya. Perkembangan aktual tetap perlu dibaca bersama indikator resmi dan kebijakan yang berlaku.

Sebagai konteks terpisah, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada September 2026 sebesar 3,28%. Angka tersebut mendekati batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia, yaitu 1,5% hingga 3,5%. Data resmi ini memberikan gambaran capaian inflasi pada periode tertentu, sedangkan hasil survei merangkum penilaian responden atas tekanan ekonomi. BPS belum mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal III-2026. Data terakhir yang tersedia dalam konteks ini menunjukkan ekonomi tumbuh 5,29% pada kuartal II-2026. Karena itu, pembacaan mengenai tekanan harga dan pertumbuhan perlu membedakan persepsi ahli, data inflasi yang telah dirilis, dan indikator pertumbuhan yang masih menunggu publikasi. Ketiganya membantu menggambarkan situasi ekonomi, tetapi merujuk pada jenis informasi dan cakupan waktu yang berbeda.

Dalam survei terhadap 63 ahli, penilaian mengenai penciptaan lapangan kerja pada Semester II 2026 cenderung lebih lemah dibandingkan enam bulan sebelumnya. Sebanyak 46 responden, atau 73% dari keseluruhan ahli yang disurvei, menyatakan bahwa penciptaan lapangan kerja lebih rendah. Angka ini menggambarkan persepsi para responden terhadap perubahan kondisi dalam periode perbandingan tersebut. Hasil survei tidak menyajikan jumlah pekerjaan yang tercipta ataupun hilang, sehingga persentase ini perlu dibaca sebagai penilaian ahli, bukan sebagai ukuran langsung perubahan jumlah pekerjaan.

Di responden yang menilai penciptaan lapangan kerja menurun, 30 ahli atau 48% memilih kategori “lebih rendah”. Sementara itu, 16 ahli atau 25% menilai kondisinya “jauh lebih rendah”. Kedua kategori tersebut jika digabungkan mencakup 46 dari 63 responden, sesuai dengan 73% yang memberikan penilaian lebih rendah secara keseluruhan. Perincian ini menunjukkan tingkat penilaian yang berbeda di kelompok responden tersebut, tetapi tidak menjelaskan penyebab perubahan persepsi ataupun mengidentifikasi sektor tertentu yang mengalami kondisi serupa.

Responden lainnya memberikan penilaian yang berbeda. Sebanyak 15 ahli atau 24% menyebut penciptaan lapangan kerja tidak berubah dibandingkan enam bulan sebelumnya. Adapun dua ahli, setara dengan 3% dari responden, menilai penciptaan lapangan kerja lebih tinggi. Dengan demikian, tanggapan dalam survei mencakup empat kategori: lebih rendah, jauh lebih rendah, tidak berubah, dan lebih tinggi. Komposisi jawaban ini merangkum pandangan 63 ahli yang disurvei. Angka-angka tersebut sebaiknya dipahami dalam batas cakupan survei, yakni sebagai persepsi responden mengenai kondisi penciptaan lapangan kerja, bukan sebagai statistik ketenagakerjaan atau bukti hubungan sebab-akibat.

Penilaian para ahli terhadap lingkungan bisnis Indonesia menunjukkan kecenderungan melemah dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Dari total 63 ahli yang menjadi responden survei, 35 orang atau 56% menyatakan kondisi lingkungan bisnis memburuk. Angka tersebut mencakup dua kelompok penilaian: 26 ahli atau 41% menilai kondisinya lebih buruk, sedangkan sembilan ahli atau 14% menyebutnya jauh lebih buruk.

Di sisi lain, sebanyak 24 ahli atau 38% menilai lingkungan bisnis tidak mengalami perubahan dibandingkan periode tiga bulan sebelumnya. Penilaian ini menunjukkan bahwa bagi lebih dari sepertiga responden, kondisi yang mereka amati masih relatif sama. Sementara itu, empat ahli atau 6% melihat adanya perbaikan. Dengan demikian, jumlah responden yang menilai kondisi memburuk jauh lebih besar daripada jumlah yang melihat perbaikan.

Rincian tersebut menggambarkan sebaran pandangan para ahli, bukan penilaian yang sepenuhnya seragam. Meski mayoritas menyampaikan penilaian negatif, sebagian responden tidak melihat perubahan, dan sebagian kecil mencatat perbaikan. Perbandingan dengan tiga bulan sebelumnya menjadi tolok ukur yang digunakan dalam pertanyaan survei mengenai lingkungan bisnis. Berdasarkan hasil yang tersedia, 56% responden menyatakan kondisi memburuk, termasuk mereka yang memilih kategori lebih buruk maupun jauh lebih buruk.

Dalam konteks hasil survei untuk semester II 2026, lingkungan bisnis menjadi salah satu indikator yang memperoleh penilaian kurang baik dari para ahli. Dua indikator lain yang juga dinilai kurang baik adalah inflasi dan penciptaan lapangan kerja. Ketiganya—lingkungan bisnis, inflasi, serta penciptaan lapangan kerja—merangkum area yang mendapat penilaian kurang baik dalam survei ini. Data lingkungan bisnis secara khusus memperlihatkan bahwa lebih dari separuh responden merasakan kemunduran, sementara 38% tidak melihat perubahan dan 6% menilai ada perbaikan. Angka-angka tersebut menyajikan pandangan responden berdasarkan perbandingan kondisi saat survei dengan tiga bulan sebelumnya, tanpa menguraikan faktor yang mendasari penilaian mereka.