Survei PPI: Prabowo Memimpin Dua Simulasi Elektabilitas Pilpres 2029

Survei PPI: Prabowo Memimpin Dua Simulasi Elektabilitas Pilpres 2029

Jakarta | Hasil survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) menunjukkan Presiden Prabowo Subianto berada di posisi teratas dalam tiga simulasi elektabilitas pemilihan presiden yang dipaparkan. Temuan ini menjadi pokok perhatian dalam peluncuran survei bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta pada Minggu. Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno memaparkan hasil tersebut dalam kesempatan itu. Paparan tersebut memperlihatkan bahwa nama Prabowo memimpin pada seluruh format pertanyaan yang diuji, yakni simulasi terbuka, simulasi dengan 17 nama, serta simulasi lima kandidat. PPI menyajikan ketiga format itu dengan susunan kandidat yang berbeda. Meski format simulasinya tidak sama, inti pertanyaan yang diberikan kepada responden tetap serupa.

Dalam simulasi terbuka, responden diminta menyebutkan pilihan mereka tanpa dibatasi pada daftar kandidat tertentu. Format ini melibatkan 20 nama. PPI juga menguji pilihan melalui simulasi dengan 17 nama, serta melalui simulasi yang hanya menyertakan lima kandidat. Ketiga skenario tersebut diajukan sebagai bagian dari pengukuran elektabilitas dalam survei. Pertanyaan yang disampaikan kepada responden sama untuk setiap simulasi: siapa yang akan mereka pilih jika pemilihan presiden berlangsung saat itu. Dengan pertanyaan tersebut, PPI memperoleh gambaran pilihan responden dalam lebih dari satu komposisi nama. Perbedaan jumlah nama menjadi pembeda format pengujian, sedangkan fokus pertanyaan tetap pada pilihan presiden responden pada saat survei dilakukan.

Survei tersebut mencakup 1.200 responden. Dalam pemaparan hasil, Adi Prayitno menyampaikan bahwa Prabowo menempati urutan teratas di simulasi terbuka, simulasi dengan 17 nama, dan simulasi lima kandidat. Dengan demikian, hasil utama survei yang disampaikan PPI menunjukkan kepemimpinan Prabowo pada ketiga bentuk pengujian elektabilitas tersebut. Penyebutan tiga simulasi penting untuk memahami cakupan hasil yang dipaparkan, terutama karena daftar nama dalam setiap skenario tidak sama. Namun, pertanyaan yang diajukan kepada responden tetap konsisten, yaitu siapa pilihan mereka apabila pilpres digelar saat itu. Hasil tersebut disampaikan dalam rangkaian peluncuran survei nasional mengenai evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta pada Minggu.

Dalam simulasi terbuka yang dipaparkan dalam survei PPI, Prabowo Subianto menempati posisi teratas dengan perolehan 31,6 persen. Angka tersebut menjadi hasil tertinggi di nama-nama yang tercantum dalam daftar. Berikutnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meraih 11,4 persen, sementara Anies Baswedan memperoleh 10,1 persen. Ketiganya menempati urutan pertama hingga ketiga berdasarkan persentase yang dilaporkan.

Di bawah tiga nama tersebut, Gibran Rakabuming Raka tercatat mendapatkan 6,9 persen. Ganjar Pranowo berada setelahnya dengan perolehan 4,4 persen. Urutan ini menunjukkan hasil masing-masing tokoh dalam simulasi terbuka tersebut, dengan selisih angka yang berbeda-beda. Persentase itu dapat dibaca sebagai catatan hasil survei, tanpa menjadikannya penjelasan mengenai faktor yang memengaruhi pilihan atau posisi setiap nama.

Daftar berlanjut dengan Agus Harimurti Yudhoyono yang memperoleh 2,3 persen. Mahfud MD tercatat sebesar 1,7 persen, disusul Sherly Tjoanda dengan 1,1 persen. Pada dua posisi berikutnya, Purbaya Yudhi Sadewa dan Basuki Tjahaja Purnama masing-masing memperoleh 0,8 persen. Dengan demikian, sepuluh nama dalam daftar tersusun dari Prabowo, Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, Gibran Rakabuming Raka, Ganjar Pranowo, Agus Harimurti Yudhoyono, Mahfud MD, Sherly Tjoanda, Purbaya Yudhi Sadewa, hingga Basuki Tjahaja Purnama.

Hasil simulasi ini memberi gambaran perolehan yang dilaporkan untuk masing-masing tokoh dalam satu skenario terbuka. Perlu diperhatikan bahwa angka yang disajikan menggambarkan hasil pada simulasi tersebut, bukan kepastian mengenai hasil pemilihan mendatang. Urutan dan persentase dapat disampaikan secara faktual tanpa menyimpulkan bahwa perbedaan angka tertentu disebabkan oleh faktor tertentu. Pembacaan yang cermat juga membedakan data simulasi dari prediksi pasti tentang kontestasi Pilpres 2029. Dalam daftar ini, angka Prabowo tercatat lebih tinggi daripada angka nama-nama lainnya, sedangkan persentase tokoh pada posisi berikutnya disajikan sesuai urutan yang dilaporkan. Setiap nilai tetap merujuk pada hasil masing-masing nama dalam simulasi terbuka PPI.

Dalam simulasi kedua elektabilitas Pilpres 2029 yang dipaparkan PPI, sebanyak 17 nama ketua umum partai politik dan tokoh yang berpeluang diusung partai non-parlemen maupun partai baru dimasukkan dalam daftar pilihan. Hasilnya kembali menempatkan Prabowo Subianto pada posisi teratas, dengan perolehan 34 persen. Angka tersebut menjadikannya kandidat dengan dukungan tertinggi dalam skenario yang melibatkan lebih banyak nama ini.

Di urutan kedua, Anies Baswedan memperoleh 19,4 persen. Selisih dengan Prabowo mencapai 14,6 poin persentase. Berikutnya, Agus Harimurti Yudhoyono berada di posisi ketiga dengan 11,1 persen, disusul Gibran Rakabuming Raka yang meraih 10,9 persen. Kedua angka itu hanya terpaut 0,2 poin persentase. Muhaimin Iskandar tercatat memperoleh 3 persen, menempati posisi setelah empat nama teratas tersebut.

Di bawah Muhaimin, Yusril Ihza Mahendra meraih 1,7 persen, sementara Pramono Anung memperoleh 1,6 persen. Puan Maharani mencatat 1,4 persen dan Kaesang Pangarep 1,3 persen. Surya Paloh mendapatkan 1,1 persen. Selanjutnya, Zulkifli Hasan meraih 0,8 persen dan Bahlil Lahadalia memperoleh 0,6 persen. Muhammad Mardiono tercatat dengan 0,5 persen, sedangkan Al Muzzammil Yusuf memperoleh 0,4 persen.

Nama-nama berikutnya dalam simulasi ini adalah Anis Matta dengan 0,3 persen dan Angela Tanoesoedibjo dengan 0,2 persen. Dengan demikian, hasil yang disampaikan PPI memperlihatkan jarak dukungan yang cukup lebar Prabowo dan Anies, sementara sejumlah tokoh lain berada di bawah 12 persen. Daftar tersebut mencakup nama dari beragam posisi politik, mulai dari tokoh yang menempati urutan atas hingga ketua umum dan figur yang memperoleh persentase lebih kecil.

Angka-angka ini menggambarkan pilihan responden dalam simulasi kedua sebagaimana dipaparkan dalam survei PPI. Susunan 17 nama membuat hasilnya berbeda dari simulasi yang menggunakan daftar lebih terbatas, sehingga setiap persentase perlu dibaca dalam konteks skenario tersebut. Dalam daftar ini, Prabowo tetap memimpin, Anies berada di posisi kedua, dan AHY serta Gibran menyusul dengan hasil yang berdekatan. Tokoh-tokoh lainnya memperoleh dukungan di bawah 3 persen, sesuai angka yang tercantum dalam hasil simulasi.

Pemaparan PPI tidak hanya menyajikan simulasi terbuka dan simulasi dengan daftar 17 nama, tetapi juga menyebut adanya simulasi yang melibatkan lima kandidat calon presiden. Namun, bahan sumber yang tersedia untuk bagian ini tidak mencantumkan nama-nama kandidat dalam simulasi lima kandidat tersebut. Bahan itu juga tidak memuat angka perolehan suara, persentase, atau urutan elektabilitas yang diperoleh masing-masing kandidat. Dengan demikian, keberadaan simulasi tersebut dapat dicatat sebagai bagian dari pemaparan, tetapi hasilnya tidak dapat dijabarkan secara terperinci berdasarkan informasi yang tersedia. Menyebutkan kandidat atau hasil tertentu tanpa dukungan data akan berisiko memberi gambaran yang keliru mengenai isi survei.

Keterbatasan informasi ini penting diperhatikan saat membaca maupun membandingkan hasil survei. Simulasi lima kandidat merupakan susunan pengujian tersendiri, sehingga hasilnya perlu merujuk pada daftar nama serta angka yang memang digunakan dalam skenario tersebut. Informasi dari simulasi terbuka atau dari daftar 17 nama tidak dapat dipindahkan begitu saja untuk menjelaskan simulasi lima kandidat. Setiap skenario memiliki komposisi kandidat dan konteks pertanyaan yang berbeda; karena itu, hasil pada satu daftar tidak otomatis menggambarkan hasil pada daftar lainnya.

Baca juga: Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan