Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan: Duka Gianni Infantino dan Komitmen FIFA untuk Keselamatan Sepak Bola Indonesia

Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan: Duka Gianni Infantino dan Komitmen FIFA untuk Keselamatan Sepak Bola Indonesia

KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Empat tahun setelah tragedi Stadion Kanjuruhan, duka masih menyelimuti keluarga korban dan komunitas sepak bola Indonesia. Pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan empat tahun peristiwa tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan pesan belasungkawa melalui media sosial. Pesan itu ditujukan kepada keluarga para korban serta komunitas sepak bola dunia yang masih mengingat salah satu peristiwa paling memilukan dalam perjalanan sepak bola Indonesia.

Tragedi Kanjuruhan terjadi empat tahun sebelumnya dan menewaskan 135 orang. Angka tersebut menjadi pengingat atas besarnya kehilangan yang dirasakan oleh keluarga korban, masyarakat, dan publik sepak bola Indonesia. Peringatan tahunan ini kembali menghadirkan memori tentang peristiwa di Stadion Kanjuruhan, sekaligus menunjukkan bahwa tragedi itu masih menjadi luka yang belum hilang dari ingatan publik sepak bola nasional.

Dalam pesannya, Infantino menyampaikan bahwa FIFA turut merasakan kesedihan atas kepergian para korban. “FIFA berduka bersama keluarga para korban dan seluruh komunitas sepak bola dunia atas tragedi Stadion Kanjuruhan yang terjadi empat tahun lalu,” ujar Infantino dalam pesan tersebut. Pernyataan itu menegaskan perhatian FIFA terhadap kenangan para korban pada momen peringatan tersebut. Bagi keluarga korban dan masyarakat Indonesia, pesan itu hadir ketika publik kembali mengenang 135 nyawa yang hilang dalam tragedi tersebut. Penyampaian belasungkawa pada 1 Oktober 2026 juga menempatkan peringatan empat tahun Kanjuruhan dalam perhatian komunitas sepak bola internasional, tanpa menghapus kesedihan yang masih dirasakan di tingkat nasional.

Pesan Gianni Infantino dalam peringatan empat tahun tragedi Kanjuruhan tidak berhenti pada ungkapan duka dan penghormatan bagi para korban. Pernyataan tersebut juga menegaskan perhatian FIFA terhadap proses pembenahan sepak bola Indonesia setelah peristiwa yang menimbulkan kehilangan besar bagi banyak keluarga dan komunitas sepak bola. Bagi FIFA, keselamatan harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan pertandingan serta perkembangan sepak bola di Indonesia.

Infantino menyampaikan bahwa FIFA akan terus mendampingi Indonesia dalam membangun sistem sepak bola yang lebih aman. Pendampingan ini disebut sebagai bagian dari kerja sama yang melibatkan FIFA, asosiasi sepak bola Indonesia, Ketua Umum PSSI Erick Thohir, dan pemerintah Indonesia. Pesan tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap proses transformasi yang perlu dilakukan secara bersama-sama, dengan keselamatan sebagai salah satu arah utama pembenahan.

Kerja sama itu tidak disampaikan sebagai pengganti penghormatan terhadap para korban, melainkan sebagai penegasan bahwa duka harus disertai tanggung jawab untuk memperbaiki tata kelola dan lingkungan sepak bola. Karena itu, pernyataan Infantino memadukan rasa belasungkawa dengan dukungan terhadap upaya Indonesia untuk membangun fondasi yang lebih aman. Peran setiap pihak disebut dalam konteks kolaborasi untuk mendampingi perubahan tersebut.

Komitmen yang disampaikan FIFA diarahkan pada terciptanya masa depan sepak bola Indonesia yang lebih aman. Maknanya terletak pada keberlanjutan pendampingan dan kerja sama yang telah disebutkan, bukan pada pengumuman program baru atau janji tambahan di luar pernyataan tersebut. Dengan demikian, pesan Infantino menjadi pengingat bahwa mengenang tragedi Kanjuruhan juga berarti menjaga kesungguhan dalam memperkuat keselamatan sepak bola melalui keterlibatan FIFA, PSSI, Erick Thohir, dan pemerintah Indonesia.

Keselamatan ditempatkan sebagai salah satu aspek penting dalam proses transformasi sepak bola Indonesia. Penekanan ini berkaitan dengan upaya membangun ekosistem sepak bola yang lebih tertata, bertanggung jawab, dan mampu memberikan perlindungan bagi seluruh pihak yang terlibat, baik pemain, ofisial, penonton, maupun komunitas sepak bola. Dalam konteks tersebut, pembenahan tidak hanya dipahami sebagai peningkatan prestasi di lapangan, tetapi juga sebagai proses memperkuat standar penyelenggaraan pertandingan dan tata kelola sepak bola secara menyeluruh.

Kerja sama FIFA dan PSSI dalam beberapa tahun terakhir mencakup sejumlah bidang yang mendukung transformasi tersebut. Ruang lingkupnya meliputi pengembangan infrastruktur sepak bola, penguatan sepak bola akar rumput, serta program pengembangan pemain. Berbagai bidang itu menunjukkan bahwa agenda kerja sama tidak terbatas pada kompetisi tingkat profesional atau tim nasional. Pengembangan fondasi sepak bola juga menjadi bagian penting, karena keberlanjutan olahraga ini bergantung pada kualitas fasilitas, pembinaan sejak usia dini, dan tersedianya jalur pengembangan pemain yang terarah.

FIFA turut mencatat perkembangan investasi dan program sepak bola di Indonesia melalui FIFA Forward serta sejumlah program lainnya. Pencatatan tersebut menempatkan Indonesia dalam kerangka dukungan dan pengembangan sepak bola yang lebih luas, dengan perhatian terhadap kebutuhan serta prioritas yang ada di tingkat nasional. Namun, informasi mengenai kerja sama ini perlu dipahami berdasarkan hal-hal yang telah tersedia secara resmi. Karena itu, pembahasan mengenai ruang lingkup kemitraan FIFA dan PSSI berfokus pada bidang yang disebutkan, tanpa menyimpulkan rincian program, nilai investasi, atau hasil kerja sama di luar keterangan sumber. Keselamatan, pembangunan infrastruktur, pembinaan akar rumput, dan pengembangan pemain menjadi unsur yang saling berkaitan dalam upaya membentuk sepak bola Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Tragedi Kanjuruhan bermula setelah pertandingan Liga 1 Arema FC dan Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022. Laga tersebut berlangsung di Stadion Kanjuruhan, Malang, dan berakhir dengan situasi yang kemudian berkembang menjadi bencana. Seusai pertandingan, kericuhan pecah di area stadion ketika sebagian penonton turun ke lapangan. Peristiwa itu menciptakan kondisi yang semakin sulit dikendalikan dan memengaruhi pergerakan penonton di dalam stadion.

Situasi memburuk setelah gas air mata ditembakkan ke arah area stadion. Asap dan kepanikan membuat banyak penonton berusaha meninggalkan lokasi secara bersamaan. Mereka bergerak menuju sejumlah pintu keluar, tetapi proses evakuasi berlangsung dalam keadaan penuh tekanan. Penonton mengalami kepanikan dan berdesak-desakan ketika mencari jalan keluar, sehingga keadaan di dalam stadion menjadi semakin berbahaya. Rangkaian peristiwa tersebut menyebabkan jatuhnya banyak korban dalam waktu yang relatif singkat.

Penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mencatat bahwa tragedi tersebut mengakibatkan 135 orang meninggal dunia, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Catatan itu menggambarkan besarnya dampak kemanusiaan yang muncul setelah pertandingan dan memperlihatkan bahwa persoalan keselamatan tidak hanya berkaitan dengan kericuhan seusai laga, tetapi juga dengan cara situasi darurat ditangani.

Komnas HAM menyimpulkan adanya pelanggaran hak asasi manusia dalam tragedi Kanjuruhan. Lembaga tersebut juga mencatat persoalan penggunaan kekuatan secara berlebihan serta kelemahan dalam tata kelola keselamatan pertandingan. Dengan demikian, kronologi peristiwa menunjukkan hubungan kericuhan, penggunaan gas air mata, kepanikan penonton, dan kondisi pintu keluar yang menjadi bagian penting dalam catatan penyelidikan mengenai tragedi tersebut.