DEPOK, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Aksi penyerangan oleh kelompok gangster terjadi di Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, ketika seorang warga bersama temannya melintas menggunakan sepeda motor matik. Perjalanan mereka mendadak terhenti setelah sekitar 20 anggota geng motor menghadang dan memaksa kendaraan tersebut berhenti. Kelompok itu bergerak secara bersama-sama sehingga korban dan temannya berada dalam posisi terdesak di tengah jalan.
Dalam aksi tersebut, para pelaku disebut mengancam korban menggunakan senjata tajam berupa celurit. Ancaman itu membuat situasi menjadi semakin tegang. Korban dan temannya berupaya menghadapi keadaan ketika kelompok tersebut mengepung serta menekan mereka. Namun, jumlah pelaku yang jauh lebih banyak membuat kedua warga itu kesulitan untuk menghindari serangan dan menyelamatkan kendaraan yang digunakan.
Para anggota geng motor kemudian menabrakkan kendaraan mereka ke sepeda motor korban. Benturan tersebut menyebabkan korban dan temannya terjatuh dari sepeda motor matik. Tindakan itu dilakukan ketika kelompok tersebut berusaha menguasai kendaraan korban, sekaligus melancarkan pengeroyokan terhadap kedua warga yang menjadi sasaran. Serangan berlangsung di tengah kepanikan korban setelah mereka dipaksa berhenti dan diancam dengan celurit. Peristiwa di wilayah Pancoran Mas itu menjadi awal dari penanganan perkara terhadap kelompok yang diduga terlibat dalam aksi penyerangan, pengeroyokan, serta upaya mengambil alih sepeda motor milik warga.
Setelah kendaraan yang ditumpangi korban ditabrak, situasi segera berubah menjadi kepanikan. Teman korban yang berada bersamanya berhasil melarikan diri dari lokasi untuk mencari pertolongan kepada warga sekitar. Ia berupaya meminta bantuan agar kejadian tersebut dapat segera diketahui dan korban memperoleh pertolongan. Namun, korban tidak sempat mengikuti temannya karena terjatuh setelah kendaraan mereka mengalami tabrakan.
Dalam keadaan tertinggal dan belum mampu menjauh dari lokasi, korban kemudian menjadi sasaran pengeroyokan sejumlah anggota gangster. Serangan itu dilakukan ketika korban berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, sementara temannya sudah lebih dahulu pergi mencari bantuan. Kondisi tersebut membuat korban harus menghadapi kekerasan seorang diri sebelum pertolongan warga datang.
Akibat pengeroyokan tersebut, korban mengalami sejumlah luka yang diduga berasal dari serangan senjata tajam. Luka robek ditemukan pada bagian kepala, tangan, lutut, dan siku. Beberapa bagian tubuh itu mengalami cedera setelah korban diserang oleh para pelaku. Informasi mengenai luka tersebut menggambarkan dampak fisik yang dialami korban, tanpa memberikan keterangan lebih jauh mengenai tingkat keparahannya.
Teman korban yang berhasil mencapai warga menjadi pihak yang membuka jalan bagi datangnya bantuan. Upayanya untuk meminta pertolongan penting karena korban masih tertinggal di lokasi setelah terjatuh. Warga kemudian dapat mengetahui bahwa terdapat seseorang yang menjadi korban kekerasan dan membutuhkan penanganan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa korban tidak hanya kehilangan kendali setelah kendaraan ditabrak, tetapi juga harus menghadapi pengeroyokan hingga mengalami luka robek pada beberapa bagian tubuh.
Setelah korban tidak berdaya akibat dikeroyok, para pelaku berupaya mengambil sepeda motor miliknya. Kendaraan tersebut menjadi sasaran berikutnya dalam rangkaian aksi yang dilakukan para anggota gangster itu. Mereka berusaha membawa motor meninggalkan lokasi, namun rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Upaya membawa kabur kendaraan akhirnya gagal karena motor menggunakan sistem penguncian keyless. Pada saat itu, remote kendaraan berada dalam penguasaan korban. Kondisi tersebut membuat para pelaku tidak dapat melanjutkan rencana untuk membawa sepeda motor tersebut dari lokasi kejadian.
Keberadaan remote di tangan korban menjadi faktor penting dalam gagalnya penguasaan kendaraan. Meskipun korban telah berada dalam kondisi tidak berdaya, para pelaku tetap tidak berhasil membawa motor pergi. Kendaraan itu berhenti sehingga upaya untuk melarikan diri menggunakan motor korban tidak terlaksana.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa aksi para pelaku tidak berakhir dengan hilangnya sepeda motor korban. Rencana untuk menguasai kendaraan terhenti setelah sistem keyless tidak dapat digunakan tanpa remote yang berada pada korban. Dengan demikian, para pelaku hanya berhasil melakukan pengeroyokan, sementara sepeda motor yang menjadi sasaran tidak berhasil dibawa kabur dari tempat kejadian.
Polisi akhirnya mengamankan seluruh empat tersangka yang diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap seorang warga di Depok. Proses penangkapan dilakukan setelah penyidik melakukan pengembangan secara intensif untuk mengungkap rangkaian peristiwa, termasuk upaya para pelaku yang gagal menguasai sepeda motor milik korban.
Kasat Reskrim Polres Metro Depok AKBP Made Gede Oka Utama menjelaskan bahwa penyelidikan diawali dengan olah tempat kejadian perkara, pemeriksaan korban, serta permintaan keterangan dari sejumlah saksi. Dari tahapan tersebut, penyidik mengumpulkan berbagai petunjuk yang kemudian digunakan untuk melacak keberadaan para tersangka. Informasi mengenai lokasi persembunyian mereka menjadi dasar bagi polisi untuk menyusun langkah penindakan.
Dalam pengembangan kasus, petugas terlebih dahulu mendatangi lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian para pelaku pada waktu subuh. Tiga orang berhasil diamankan dalam operasi tersebut. Sementara itu, seorang tersangka lain sempat masuk dalam daftar pencarian orang karena belum ditemukan saat penangkapan awal. Polisi terus menelusuri keberadaannya berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil pemeriksaan dan penyidikan.
Tidak lama kemudian, tersangka yang sebelumnya dicari berhasil ditangkap. Dengan demikian, jumlah orang yang telah diamankan dalam perkara ini menjadi empat tersangka. Seluruhnya kini menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut guna mendalami peran masing-masing, motif pengeroyokan, serta kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain. Penyidik juga masih melengkapi berkas perkara dengan keterangan saksi dan barang bukti sebelum menentukan tahapan hukum berikutnya.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan perkara dilakukan melalui rangkaian penyelidikan yang terukur, bukan hanya berdasarkan pengakuan awal. Polisi memastikan setiap informasi yang berkaitan dengan kejadian diperiksa dan dicocokkan dengan temuan di lapangan. Penangkapan seluruh tersangka diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi korban sekaligus mengungkap secara utuh kasus pengeroyokan yang sempat menimbulkan keresahan warga.





