JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Kebiasaan makan bersama keluarga dinilai memiliki peran lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan pangan anak. Pakar kesehatan masyarakat dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., menyebut momen tersebut dapat mendukung pembangunan kecerdasan intelektual sekaligus emosional, terutama ketika orang tua terlibat aktif dan menciptakan suasana makan yang positif.
Menurut Ray, kecerdasan anak dapat berkembang melalui tiga aspek penting yang hadir dalam kegiatan makan bersama, yakni nutrisi, stimulasi emosi, dan sosialisasi. Nutrisi yang cukup dan seimbang menyediakan bahan bakar bagi pertumbuhan tubuh serta perkembangan otak. Sementara itu, interaksi hangat selama makan membantu anak mengenali perasaan, memahami respons orang lain, dan membangun rasa aman di dalam keluarga.
Aspek sosialisasi juga terbentuk melalui percakapan, kebiasaan bergiliran berbicara, serta pengenalan terhadap aturan dan etika di meja makan. Dalam situasi tersebut, anak memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pengalaman, mengajukan pertanyaan, dan belajar mendengarkan. Proses sederhana ini dapat memperkuat kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Pandangan tersebut disampaikan Ray dalam diskusi bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” di Jakarta pada Kamis. Diskusi itu menyoroti pentingnya kesehatan pencernaan dan lingkungan keluarga sebagai bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Dengan demikian, waktu makan dapat menjadi ruang pengasuhan yang membantu membangun dasar kemampuan berpikir, pengelolaan emosi, dan keterampilan sosial sejak dini.
Menurut Ray, makanan sehat dengan gizi seimbang merupakan salah satu fondasi penting bagi perkembangan intelektual anak. Pada masa pertumbuhan, tubuh dan otak membutuhkan beragam zat gizi untuk menjalankan fungsi biologis secara optimal. Karbohidrat menyediakan energi bagi aktivitas sehari-hari, sementara protein berperan dalam pembentukan dan perbaikan jaringan, termasuk jaringan otak. Lemak sehat juga diperlukan karena mendukung struktur sel saraf serta proses kerja otak.
Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui hidangan yang mengandung sumber makanan beragam, seperti nasi atau pangan pokok lain, lauk berprotein, sayuran, buah-buahan, serta air yang cukup. Vitamin dan mineral, termasuk zat besi, yodium, seng, serta berbagai vitamin, membantu mendukung pembentukan sel darah, fungsi saraf, daya tahan tubuh, dan kemampuan berkonsentrasi. Ketika kebutuhan biologis anak terpenuhi, tubuh memiliki kondisi yang lebih baik untuk mendukung proses belajar, mengingat informasi, memecahkan masalah, dan mengembangkan kemampuan berpikir.
Dalam konteks ini, makan bersama keluarga tidak semata-mata berkaitan dengan seberapa banyak makanan yang dikonsumsi anak. Momen tersebut menjadi situasi yang memungkinkan orang tua memperhatikan pilihan makanan, porsi, serta kebiasaan makan anak secara langsung. Orang tua dapat mengenalkan variasi pangan, mengatur komposisi hidangan, dan memberi contoh pola makan yang seimbang. Pendampingan seperti ini membantu anak memperoleh nutrisi secara lebih teratur sekaligus membangun pemahaman mengenai pentingnya makanan bagi kesehatan.
Suasana keluarga ketika makan juga dapat membuat proses pemenuhan gizi berlangsung lebih menyenangkan. Anak yang merasa nyaman cenderung lebih terbuka untuk mencoba makanan baru dan mengikuti kebiasaan sehat yang dicontohkan anggota keluarga. Dengan demikian, meja makan berfungsi sebagai ruang yang menghubungkan kebutuhan nutrisi dengan perhatian dan keterlibatan orang tua. Asupan gizi yang terpenuhi dalam suasana tersebut memberi dukungan biologis yang diperlukan anak untuk membangun kecerdasan intelektual secara bertahap.
Meja makan dapat menjadi ruang stimulasi yang kaya bagi tumbuh kembang anak. Kegiatan sederhana seperti makan bersama tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memberi kesempatan kepada anak untuk melatih kemampuan motorik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional secara bersamaan. Suasana yang hangat dan interaktif membuat proses tersebut berlangsung secara alami dalam rutinitas keluarga.
Dari sisi motorik, orang tua dapat membiarkan anak mengambil makanan sendiri sesuai kemampuan dan usianya. Aktivitas ini melatih koordinasi tangan dan mata, kekuatan jari, serta kemandirian. Anak juga dapat diperkenalkan pada berbagai bentuk, warna, tekstur, aroma, dan rasa makanan. Pengalaman tersebut mendorong kemampuan kognitif karena anak mengamati, membandingkan, memilih, dan memahami hubungan sederhana tindakan dan hasilnya.
Meja makan juga menyediakan ruang penting untuk perkembangan bahasa. Orang tua dapat mengajak anak berbicara tentang makanan, kegiatan yang dijalani, atau perasaan mereka sepanjang hari. Ketika anak berceloteh, tanggapan yang diberikan dengan penuh perhatian membantu memperkaya kosakata sekaligus membangun rasa percaya diri untuk berkomunikasi. Percakapan dua arah juga mengajarkan anak cara mendengarkan, menunggu giliran, dan menyampaikan pendapat.
Dalam aspek sosial dan emosional, anak dapat diajarkan berbagi makanan, menghargai kebutuhan anggota keluarga, serta memahami aturan sederhana. Psikolog klinis senior Ratih Ibrahim memandang makan sebagai peristiwa sosial, bukan sekadar proses memenuhi kebutuhan tubuh. Menurutnya, unsur makanan yang disantap, teman makan, dan jumlah makanan dapat memengaruhi perasaan bahagia seseorang. Karena itu, pengalaman di meja makan berperan dalam membentuk hubungan dan kenangan emosional anak.
Ratih juga mengajak orang tua mengajukan pertanyaan kritis: bagaimana kondisi anak yang tidak dibiasakan memahami proses tersebut ketika orang tuanya mengabaikan momen makan dan justru sibuk dengan telepon seluler? Ketidakhadiran perhatian dapat mengurangi kesempatan anak memperoleh teladan, percakapan, dan rasa kebersamaan. Kehadiran orang tua, meski dalam waktu terbatas, menjadikan makan bersama lebih bermakna bagi perkembangan anak.
Ray menjelaskan bahwa waktu makan bersama tidak sekadar berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga menjadi ruang interaksi yang penting bagi perkembangan anak. Percakapan ayah, ibu, dan anggota keluarga lain dapat memperkenalkan berbagai nilai sosial secara alami. Anak belajar mendengarkan ketika orang lain berbicara, menunggu giliran, menyampaikan pendapat dengan sopan, serta menghargai perbedaan pandangan. Melalui kebiasaan sederhana tersebut, mereka perlahan memahami arti kebersamaan, kepedulian, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada anggota keluarga.
Agar manfaat interaksi itu dapat dirasakan secara optimal, Ray menekankan pentingnya menghadirkan suasana makan yang bebas dari intervensi telepon seluler maupun gawai. Perangkat digital berpotensi mengalihkan perhatian orang tua dan anak sehingga kesempatan untuk berkomunikasi menjadi berkurang. Selain itu, perilaku orang tua sangat mungkin ditiru oleh anak. Ketika orang tua memilih meletakkan telepon dan terlibat dalam percakapan, anak memperoleh contoh nyata mengenai cara menggunakan waktu, memberi perhatian, dan menghargai orang yang sedang berada di hadapannya.
Menurut Ray, waktu makan juga merupakan kesempatan untuk menanamkan nilai dan kebijaksanaan melalui kegiatan sederhana. Nasihat tentang tanggung jawab, empati, tata krama, atau cara menghadapi masalah dapat disampaikan dalam konteks percakapan sehari-hari tanpa kesan menggurui. Konsistensi orang tua dalam membangun kebiasaan tersebut akan membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional sekaligus kemampuan berinteraksi. Yang terpenting bukan kemewahan hidangan atau lamanya waktu berkumpul, melainkan kehadiran, perhatian, dan kualitas komunikasi seluruh anggota keluarga.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia menganjurkan orang tua mengupayakan makan bersama anak di meja makan setidaknya satu kali dalam sehari. Anjuran ini dapat menjadi langkah praktis bagi keluarga untuk menjaga kedekatan sekaligus membangun rutinitas yang mendukung tumbuh kembang anak. Dengan menjadikan satu waktu makan sebagai ruang tanpa gawai dan penuh percakapan, keluarga dapat menanamkan kebiasaan baik yang berpengaruh pada pembentukan karakter anak dalam jangka panjang.



