JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Sektor heating, ventilation, air conditioning, and refrigeration (HVAC-R) menghadapi kebutuhan tenaga kerja yang terus meningkat. Perkembangan proyek bangunan, fasilitas produksi, pusat data, rumah sakit, hotel, serta kawasan komersial mendorong permintaan terhadap teknisi yang mampu memasang, mengoperasikan, memelihara, dan memperbaiki sistem pendingin serta tata udara. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan ruangan, tetapi juga dengan efisiensi energi, kualitas udara, keamanan pangan, dan keandalan operasional berbagai fasilitas. Karena itu, peluang kerja di bidang pendingin dan tata udara semakin luas, baik untuk teknisi lapangan maupun tenaga yang menangani perancangan, pengawasan, dan pengelolaan sistem.
Salah satu pendorong utamanya adalah pertumbuhan smart and green building. Bangunan modern menggunakan sensor, sistem otomasi, pemantauan berbasis data, serta peralatan berperforma tinggi untuk mengurangi konsumsi energi dan emisi. Teknisi HVAC-R perlu memahami pengendalian digital, integrasi sistem, analisis penggunaan energi, dan penerapan refrigeran yang lebih ramah lingkungan. Perubahan teknologi ini membuat kebutuhan industri tidak lagi terbatas pada keterampilan mekanis dasar. Tenaga kerja juga dituntut mampu membaca data, mengikuti prosedur keselamatan, dan melakukan pemeliharaan yang mendukung target keberlanjutan bangunan.
Pendorong kedua berasal dari meningkatnya kebutuhan cold chain dalam sektor pangan dan logistik. Penyimpanan, pengangkutan, dan distribusi produk segar, beku, obat-obatan, serta komoditas sensitif suhu memerlukan pengendalian temperatur yang konsisten. Gangguan pada sistem pendingin dapat menurunkan mutu produk, menimbulkan kerugian, dan mengganggu pasokan. Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan teknisi yang memahami sistem refrigerasi, pemantauan suhu, perawatan preventif, dan penanganan gangguan secara cepat. Namun, pertumbuhan kesempatan kerja belum selalu diimbangi kesiapan lulusan. Kesenjangan kompetensi yang dibutuhkan industri dan keterampilan yang dimiliki lulusan menjadi persoalan utama. Pendidikan perlu lebih selaras dengan praktik kerja, teknologi terbaru, standar keselamatan, dan kebutuhan pengguna tenaga kerja agar lulusan dapat memasuki sektor HVAC-R secara lebih siap dan produktif.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mendorong penerapan konsep link and match secara nyata sebagai upaya menjembatani kebutuhan industri dengan kemampuan lulusan HVAC-R. Menurut Yassierli, keterhubungan dunia industri dan kampus perlu diwujudkan melalui kerja sama yang mampu menyelaraskan kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi yang dimiliki para lulusan. Dengan demikian, kemampuan lulusan HVAC-R dapat lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Yassierli memandang konsep link and match penting karena kebutuhan industri terhadap teknisi HVAC-R terus bertumbuh. Pertumbuhan kebutuhan tersebut, menurutnya, harus diimbangi dengan kolaborasi nyata berbagai pihak. Kolaborasi itu diperlukan agar proses penyiapan tenaga kerja tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan mengarah pada tujuan yang sama, yaitu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan pekerjaan.
Dalam pandangan tersebut, hubungan industri dan kampus menjadi bagian penting dalam menyiapkan tenaga teknisi HVAC-R. Kampus diharapkan dapat menghasilkan lulusan dengan kemampuan yang relevan, sementara industri menjadi bagian dari upaya untuk memastikan kesesuaian kompetensi lulusan dan kebutuhan di lapangan. Penyelarasan itu menjadi bentuk penerapan link and match yang perlu dilakukan secara nyata.
Yassierli menegaskan bahwa kolaborasi berbagai pihak harus diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, tersertifikasi, dan siap bersaing. Kompetensi dan sertifikasi menjadi unsur yang perlu diperhatikan seiring dengan pertumbuhan kebutuhan teknisi HVAC-R. Melalui kerja sama yang nyata industri dan kampus, lulusan diharapkan memiliki kemampuan serta pengakuan kompetensi yang mendukung kesiapan mereka untuk bersaing.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa penerapan konsep link and match tidak cukup berhenti pada gagasan, tetapi perlu diwujudkan melalui kolaborasi nyata agar kebutuhan industri dan kemampuan lulusan HVAC-R dapat dipertemukan secara lebih baik.
Langkah penyelarasan kompetensi teknisi HVAC-R diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) tripartit. Kesepakatan ini mempertemukan tiga pihak yang memiliki peran strategis dalam menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri, yaitu PT Panasonic Gobel Indonesia sebagai unsur industri, APITU Indonesia sebagai asosiasi profesi, dan Universitas Darma Persada atau Unsada sebagai perguruan tinggi. Keterlibatan ketiganya mencerminkan pendekatan kolaboratif dalam menjawab perkembangan teknologi serta tuntutan kompetensi di bidang tata udara dan refrigerasi.
PT Panasonic Gobel Indonesia membawa perspektif langsung mengenai kebutuhan lapangan kerja, perkembangan peralatan, serta kemampuan teknis yang diperlukan oleh dunia usaha. Sementara itu, APITU Indonesia berperan memberikan pandangan berdasarkan standar profesi, pengalaman praktisi, dan kebutuhan pengembangan kompetensi teknisi secara berkelanjutan. Unsada melengkapi kerja sama tersebut melalui fungsi pendidikan, penelitian, dan pengembangan kurikulum yang dapat menghubungkan pembelajaran akademik dengan penerapan di lapangan.
MoU tripartit ini menjadi landasan untuk memperkuat hubungan kebutuhan tenaga kerja, standar profesi, dan proses pembelajaran di perguruan tinggi. Penyelarasan tersebut dapat diwujudkan melalui pertukaran pengetahuan, penyusunan materi pembelajaran yang relevan, pelatihan, sertifikasi, kuliah praktisi, hingga peluang magang bagi mahasiswa. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga mengenal prosedur kerja, standar keselamatan, dan tantangan operasional yang dihadapi teknisi HVAC-R.
Kolaborasi lintas pihak ini juga membuka ruang evaluasi bersama terhadap kompetensi yang telah diajarkan dan kebutuhan yang terus berubah. Industri dapat menyampaikan masukan secara berkala, asosiasi profesi membantu menjaga kesesuaian dengan standar keahlian, sedangkan perguruan tinggi memastikan proses pembelajaran berlangsung secara sistematis. Sinergi tersebut diharapkan menghasilkan teknisi HVAC-R yang lebih siap kerja, adaptif terhadap inovasi, dan mampu memenuhi kebutuhan sektor industri secara profesional.
Kerja sama industri dan kampus dirancang sebagai rangkaian program yang menghubungkan pembelajaran akademik dengan kebutuhan nyata sektor HVAC-R. Cakupannya tidak hanya berupa penyelarasan kurikulum, tetapi juga peningkatan keterampilan atau upskilling bagi mahasiswa, dosen, dan teknisi yang telah bekerja. Melalui pelatihan berbasis praktik, peserta diperkenalkan pada metode instalasi, pengoperasian, pemeliharaan, serta diagnosis gangguan peralatan heating, ventilation, air conditioning, dan refrigeration sesuai perkembangan teknologi.
Kolaborasi tersebut juga mencakup riset terapan untuk menghasilkan solusi yang relevan dengan persoalan industri. Topiknya dapat meliputi peningkatan kinerja sistem, penggunaan refrigeran yang lebih ramah lingkungan, pengendalian emisi, digitalisasi pemantauan, dan efisiensi energi. Agar proses pembelajaran berlangsung secara konsisten, mitra industri turut mendukung penyediaan fasilitas pusat pelatihan atau training center. Fasilitas ini memungkinkan mahasiswa berlatih menggunakan perangkat, alat ukur, dan sistem kontrol yang mencerminkan kondisi lapangan.
Pengalaman kerja diperkuat melalui program magang industri yang disusun dengan target kompetensi terukur. Selama magang, mahasiswa belajar menerapkan prosedur keselamatan, standar kerja, dokumentasi teknis, dan pelayanan kepada pelanggan. Peserta juga diarahkan mengikuti sertifikasi profesi sehingga kemampuan yang dimiliki memperoleh pengakuan formal. Sertifikasi dapat menjadi tolok ukur kompetensi sekaligus membantu perusahaan menilai kesiapan calon tenaga kerja secara lebih objektif.
Tujuan akhirnya adalah memastikan lulusan tidak berhenti pada penguasaan teori dasar. Mereka perlu mampu menggunakan standar teknologi terkini, menghitung dan menerapkan prinsip efisiensi energi, serta memahami regulasi yang berkaitan dengan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan. Masukan industri dalam evaluasi kompetensi membantu kampus menyesuaikan materi dengan perubahan kebutuhan lapangan. Pada saat yang sama, mekanisme rekrutmen, rekomendasi, dan penyerapan lulusan memberi jalur yang lebih jelas menuju pekerjaan. Dengan demikian, seluruh program memperkuat kesiapan lulusan memasuki dunia kerja HVAC-R secara profesional dan berkelanjutan.

