IPB dan Wageningen Bahas Platform Kolaborasi untuk Ekonomi Sirkular Gambut

IPB dan Wageningen Bahas Platform Kolaborasi untuk Ekonomi Sirkular Gambut

KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Pusat Kajian Sains Keberlanjutan dan Transdisiplin (CTSS) IPB University bersama Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, mengadakan dialog dengan Wageningen University and Research (WUR), Belanda. Pertemuan tersebut berlangsung secara hibrida di Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademik, pengalaman pengelolaan lingkungan, serta gagasan kolaborasi dalam menjawab tantangan dan peluang pemanfaatan lahan gambut secara berkelanjutan.

Dialog tersebut merupakan bagian dari program Diaspora Berdampak yang menghadirkan Dr Aritta Suwarno dari WUR. Kehadiran akademisi dan jejaring diaspora Indonesia di luar negeri diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan institusi nasional dan mitra internasional. Melalui pertemuan ini, para peserta mendiskusikan kemungkinan membangun kerja sama yang menghubungkan riset, pendidikan, kebijakan, dan praktik pengelolaan gambut berbasis kebutuhan masyarakat.

Salah satu agenda penting dalam pertemuan itu adalah penandatanganan letter of intent (LoI) Departemen Silvikultur dan CTSS dengan WUR. Dokumen tersebut menjadi penanda awal komitmen bersama untuk mengembangkan kolaborasi yang lebih terarah. Kerja sama ini dapat menjadi dasar bagi penyusunan kegiatan lanjutan, termasuk riset bersama, penguatan kapasitas, serta pengembangan pendekatan transdisiplin dalam pengelolaan ekosistem gambut.

Dalam dialog, gagasan Konsorsium Sirkularitas Lahan Gambut atau Peatland Circularity Consortium (PCC) turut dibahas. Inisiatif ini berangkat dari pemahaman bahwa pengelolaan gambut tidak semestinya hanya berfokus pada persoalan kebakaran hutan dan lahan. Lahan gambut juga memiliki peluang untuk mendukung ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sumber daya secara bijaksana, pengurangan limbah, dan penciptaan nilai bagi masyarakat tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya. PCC diharapkan dapat menjadi platform kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak untuk merancang solusi berbasis ilmu pengetahuan, menjaga keberlanjutan gambut, serta mendorong manfaat ekonomi yang lebih inklusif.

Pusat Kolaborasi Gambut (PCC) diproyeksikan bukan sebagai lembaga atau entitas baru, melainkan sebagai platform kolaborasi yang menghubungkan berbagai organisasi dan inisiatif gambut yang telah berjalan. Platform ini diharapkan mempertemukan perguruan tinggi dan lembaga riset, pemerintah, organisasi nonpemerintah, dunia usaha, serta komunitas. Dengan peran tersebut, PCC dapat menjembatani hasil penelitian, kebutuhan kebijakan, kapasitas pelaku usaha, dan pengalaman masyarakat dalam satu ekosistem kerja sama yang lebih terkoordinasi.

Kolaborasi itu diarahkan untuk mendorong terbentuknya lanskap gambut yang sirkular dan regeneratif, sekaligus mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. Pendekatan sirkular menempatkan sumber daya gambut secara lebih bertanggung jawab, sedangkan prinsip regeneratif menekankan pemulihan fungsi ekologis dan penguatan penghidupan lokal. Karena itu, keberhasilan PCC tidak hanya diukur dari banyaknya program yang terhubung, tetapi juga dari dampaknya terhadap restorasi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan ekonomi.

Prof. Damayanti Buchori menilai penelitian mengenai gambut sebenarnya sudah sangat banyak, tetapi penerapannya di lapangan masih terbatas. Dalam konteks tersebut, PCC diharapkan berperan sebagai pelaksana riset yang telah tersedia sekaligus katalisator untuk mempercepat restorasi dan proses regeneratif. Peran ini membutuhkan pendekatan transdisiplin yang mempertemukan ilmu pengetahuan, kebijakan, praktik usaha, dan pengetahuan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi.

Penguatan platform juga memerlukan sumber pendanaan alternatif, tidak semata bergantung pada skema konvensional, serta model bisnis yang jelas dan menarik bagi industri. Pada saat yang sama, pengetahuan lokal perlu diintegrasikan melalui proses dekolonisasi pengetahuan, yakni dengan mengakui masyarakat sebagai pemilik pengalaman dan sumber pengetahuan yang setara. Dengan fondasi tersebut, PCC berpotensi mengubah riset menjadi tindakan kolaboratif yang lebih cepat, relevan, dan berkelanjutan.

Hidrologi menjadi fondasi penting dalam setiap upaya pemanfaatan ekonomi lahan gambut. Pengelolaan air tidak dapat dipisahkan dari karakteristik ekosistem, karena gambut memiliki tingkat ketebalan, kematangan, kandungan air, serta kondisi topografi yang berbeda antarwilayah. Perbedaan tersebut membuat pendekatan pengelolaan tidak dapat diseragamkan. Namun, tata kelola hidrologi tetap menjadi prinsip yang berlaku lintas lokasi untuk menjaga keseimbangan kepentingan ekonomi dan fungsi ekologis gambut.

Profesor Adi Jaya dari Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatlands (CIMTROP) Universitas Palangka Raya menekankan bahwa setiap pengembangan model ekonomi sirkular perlu diawali dengan desain tata kelola air. Desain tersebut harus menyesuaikan karakteristik ekosistem dan kondisi setempat, termasuk pola aliran air, tinggi muka air tanah, risiko kebakaran, serta kemampuan lahan dalam mendukung kegiatan produksi. Dengan dasar perencanaan yang tepat, pemanfaatan sumber daya gambut dapat diarahkan agar tidak merusak fungsi penyimpanan karbon, pengatur tata air, dan habitat keanekaragaman hayati.

Pandangan itu sejalan dengan penjelasan Prof. Dr. Suria Tarigan dari IPB University mengenai hubungan erat hidrologi, karakteristik gambut, dan pemilihan komoditas. Jenis tanaman yang dikembangkan semestinya dipilih berdasarkan kesesuaiannya dengan kondisi air di lahan, bukan semata-mata karena nilai ekonominya. Komoditas yang toleran terhadap lahan basah dan genangan berpotensi mengurangi kebutuhan drainase berlebihan. Pendekatan ini membantu mempertahankan muka air pada tingkat yang lebih aman serta menekan risiko subsidensi dan kebakaran.

Karena itu, kegiatan ekonomi dalam ekosistem gambut perlu dirancang dengan mempertimbangkan batas ekologisnya. Model kolaborasi dan ekonomi sirkular akan lebih berkelanjutan apabila mengintegrasikan pemantauan hidrologi, pengetahuan masyarakat, dan pemilihan komoditas adaptif. Tata kelola air yang berbasis kondisi lokal dapat menjadi penghubung produktivitas, perlindungan lingkungan, dan ketahanan penghidupan masyarakat di wilayah gambut.

Perspektif industri dalam diskusi ini disampaikan oleh Fidrianto, Direktur Utama PT Bangka Asindo Agri, melalui pengalaman perusahaan mengembangkan industri sagu dengan pendekatan ekonomi sirkular. Menurutnya, pengelolaan sagu tidak berhenti pada produksi pati, tetapi mencakup upaya memanfaatkan seluruh bagian tanaman dan mengurangi limbah sejak awal proses. Pendekatan zero waste menjadi landasan untuk mengolah residu sagu agar dapat digunakan kembali atau menghasilkan produk bernilai tambah, sehingga efisiensi usaha berjalan beriringan dengan pengurangan tekanan terhadap lingkungan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sagu memiliki peluang untuk menghubungkan kegiatan ekonomi dengan pengelolaan lanskap gambut yang lebih berkelanjutan. Komoditas ini dapat dikembangkan dalam sistem produksi yang menyesuaikan karakter lahan, menjaga produktivitas, serta mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih cermat. Namun, pengembangan industri tetap memerlukan perencanaan yang matang, terutama terkait tata kelola air, kapasitas pengolahan, rantai pasok, dan kepastian pasar. Tanpa keterhubungan antarkomponen tersebut, potensi ekonomi sagu akan sulit menghasilkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat maupun lingkungan.

Dr Aritta Suwarno dari Wageningen University & Research (WUR) menegaskan bahwa valorisasi gambut tidak cukup diukur dari nilai komersial yang dihasilkan. Setiap inovasi perlu menciptakan nilai ekonomi dalam jangka panjang sekaligus memperkuat fungsi ekologis gambut, termasuk kemampuan menyimpan air, menjaga keanekaragaman hayati, dan mendukung pengendalian emisi. Karena itu, pemilihan komoditas dan teknologi harus mempertimbangkan kesesuaian dengan kondisi setempat, bukan hanya mengejar hasil produksi dalam waktu singkat.

Arah pembahasan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak, penerapan hasil riset dalam praktik, serta tata kelola air yang sesuai dengan karakter setiap wilayah. Pemanfaatan komoditas yang kompatibel dengan lanskap gambut perlu ditempatkan dalam kerangka usaha yang inklusif dan adaptif. Dengan demikian, penciptaan nilai ekonomi dapat berlangsung tanpa mengabaikan fungsi ekologis gambut, sementara pengalaman industri menjadi masukan penting bagi perumusan solusi yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.