Garut | Polisi mengamankan MHA (19), terduga pelaku penembakan terhadap seorang remaja di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penangkapan tersebut dilakukan setelah beberapa hari petugas melakukan pencarian dan mengumpulkan informasi terkait peristiwa yang menyebabkan korban mengalami pendarahan pada mata kiri.
MHA ditangkap pada Jumat sore, 9 Oktober 2026, di kawasan Gang Babakan Pogor, Desa Mangkurakyat, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut. Petugas kemudian membawa pemuda tersebut ke Mapolres Garut untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Proses pemeriksaan dilakukan guna mendalami rangkaian kejadian, latar belakang peristiwa, serta dugaan keterlibatan MHA dalam penembakan yang menimpa korban.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Hendra Rochmawan membenarkan adanya pengamanan tersebut. Ia menyampaikan bahwa terduga pelaku dibawa ke kepolisian bersama barang bukti untuk kepentingan penyidikan. Barang bukti itu selanjutnya akan diperiksa guna membantu penyidik mengungkap fakta dalam perkara, termasuk kaitannya dengan senjata yang diduga digunakan saat kejadian.
Penanganan perkara kini berada dalam proses penyidikan di Mapolres Garut. Polisi masih mendalami keterangan terduga pelaku, memeriksa sejumlah informasi yang telah diperoleh, serta menelusuri kronologi secara menyeluruh. Penyidik juga akan menilai setiap barang bukti dan keterangan yang tersedia sebelum menentukan langkah hukum berikutnya. MHA tetap berstatus sebagai terduga pelaku selama proses pemeriksaan dan penyidikan berlangsung.
Petugas menyita satu unit senjata jenis airsoft gun model Glock 19 berwarna hitam-perak ketika mengamankan MHA, terduga dalam perkara penembakan terhadap seorang pelajar di Garut. Benda tersebut kemudian dibawa untuk kepentingan penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut. Penyitaan dilakukan sebagai bagian dari langkah kepolisian untuk mengumpulkan barang bukti serta mengungkap rangkaian peristiwa yang dilaporkan.
Airsoft gun Glock 19 itu diduga memiliki kaitan dengan kejadian yang menyebabkan korban mengalami cedera pada mata kiri. Namun, informasi mengenai hubungan senjata yang diamankan dan insiden tersebut masih harus diuji melalui proses pemeriksaan. Polisi belum dapat menyimpulkan secara pasti bahwa airsoft gun itu digunakan dalam peristiwa yang menimpa korban sebelum seluruh keterangan dan hasil pemeriksaan diperoleh.
Untuk memastikan keterkaitan tersebut, penyidik dapat mencocokkan keterangan saksi, keterangan korban, serta penjelasan dari terduga. Pemeriksaan terhadap kondisi dan karakteristik senjata juga menjadi bagian penting dalam penanganan perkara. Selain itu, penyidik akan menilai kesesuaian barang bukti dengan kronologi yang telah dihimpun di lapangan, termasuk lokasi dan waktu kejadian.
Langkah ini diperlukan agar penetapan fakta perkara didasarkan pada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Status airsoft gun sebagai barang bukti tidak dengan sendirinya menunjukkan kepastian mengenai penggunaannya dalam insiden tersebut. Keterangan resmi dari kepolisian dan hasil penyidikan akan menjadi dasar untuk menjelaskan apakah senjata model Glock 19 berwarna hitam-perak itu benar-benar berkaitan dengan cedera pada mata kiri korban.
Selama proses hukum berlangsung, seluruh pihak tetap memiliki hak untuk memberikan keterangan dan memperoleh pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku. Polisi juga perlu menunggu hasil penyelidikan secara menyeluruh sebelum menyampaikan kesimpulan mengenai peran MHA maupun fungsi senjata yang telah disita.
Kronologi awal kasus tersebut terungkap setelah seorang pelajar SMA di Garut mengalami cedera pada mata kiri seusai mengikuti kegiatan berkemah bersama teman-temannya. Kegiatan itu berlangsung pada Minggu, 27 September 2026. Berdasarkan keterangan polisi, korban masih mengikuti rangkaian kegiatan seperti peserta lainnya sebelum kemudian pulang. Pada saat itu, belum diketahui secara pasti benda yang menyebabkan luka pada bagian matanya.
Setelah tiba di rumah, kondisi mata kiri korban mulai menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Mata tersebut mengalami pembengkakan disertai pendarahan. Keluarga kemudian membawa korban untuk mendapatkan penanganan medis. Korban selanjutnya dirawat di Rumah Sakit Cicendo guna menjalani pemeriksaan dan tindakan terhadap cedera yang dialaminya.
Pada pemeriksaan awal, luka pada mata korban sempat diduga berasal dari bola plastik. Dugaan itu muncul karena benda yang mengenai korban sebelumnya diperkirakan berkaitan dengan aktivitas di lokasi perkemahan. Namun, hasil pemeriksaan medis di Rumah Sakit Cicendo menunjukkan temuan berbeda. Dokter menemukan serpihan logam di dalam mata kiri korban, sehingga penyebab cedera tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut oleh kepolisian.
Seorang teman korban kemudian memberikan keterangan mengenai peristiwa yang diduga terjadi di lokasi kegiatan. Ia menyebut MHA diduga mendatangi tempat korban dan teman-temannya berkumpul, lalu melepaskan tembakan sebanyak tiga kali. Salah satu tembakan diduga mengenai mata kiri korban. Keterangan tersebut menjadi bagian dari informasi awal yang sedang didalami penyidik, termasuk untuk memastikan jenis senjata yang digunakan, jarak tembakan, serta rangkaian kejadian sebelum dan sesudah korban terluka.
Penanganan medis terhadap korban dan pemeriksaan saksi menjadi dasar penting dalam mengungkap kronologi perkara. Polisi juga perlu mencocokkan keterangan para pihak dengan hasil pemeriksaan medis serta bukti yang ditemukan di lapangan. Dengan demikian, penyebab cedera dan pihak yang bertanggung jawab dapat ditentukan berdasarkan fakta penyidikan, bukan semata-mata dugaan awal.
Polisi masih mendalami rangkaian peristiwa yang menyebabkan seorang pelajar di Garut mengalami cedera pada mata. Pemeriksaan dilakukan terhadap keterangan para pihak yang berkaitan dengan kejadian tersebut, termasuk informasi yang dapat membantu penyidik menyusun urutan peristiwa secara lebih jelas. Proses ini diperlukan agar setiap keterangan dapat diperiksa kesesuaiannya dengan fakta dan barang bukti yang telah diamankan.
Hendra menjelaskan bahwa pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan fakta yang menyebabkan korban mengalami cedera mata. Penyidik perlu mencermati keterangan yang diberikan serta menghubungkannya dengan barang bukti, termasuk airsoft gun Glock 19 yang disita dalam penanganan perkara. Penelaahan itu masih berlangsung dan belum menghasilkan penetapan akhir mengenai rangkaian kejadian yang sebenarnya.
Selain mendalami kronologi, penyidik juga masih memeriksa ada atau tidaknya unsur pidana berdasarkan fakta yang ditemukan selama proses penyidikan. Penentuan tersebut belum diselesaikan karena polisi masih mengumpulkan dan menguji informasi dari berbagai pihak. Dengan demikian, pemeriksaan terhadap keterangan dan barang bukti tetap menjadi bagian penting dalam mengungkap peristiwa secara utuh, tanpa mendahului hasil penyidikan yang masih berjalan.

