Kabupaten Tapanuli Selatan | Lima siswa Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Tapanuli Selatan (MAN IC Tapsel) berhasil menjadi utusan Provinsi Sumatera Utara dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat nasional. Ajang kompetisi tersebut dijadwalkan berlangsung pada 8–12 November 2026. Keberhasilan ini menjadi pencapaian penting bagi madrasah sekaligus menunjukkan kemampuan peserta didik MAN IC Tapsel dalam bersaing pada bidang akademik di tingkat yang lebih luas.
Perjalanan menuju kompetisi nasional itu bermula dari pelaksanaan OMI tingkat Kabupaten Tapanuli Selatan 2026. Dalam ajang tersebut, MAN IC Tapsel mengirimkan 18 peserta untuk mengikuti berbagai bidang lomba. Dari jumlah itu, tujuh siswa berhasil meraih juara dan dinyatakan lolos sebagai wakil untuk mengikuti OMI tingkat Provinsi Sumatera Utara. Setelah melalui tahapan seleksi dan kompetisi di tingkat provinsi, lima siswa akhirnya ditetapkan untuk mewakili Sumatera Utara pada OMI nasional.
Kepala MAN IC Tapsel, Abdul Hakim Siregar, S.Pd.I., M.S.I., menyampaikan keberhasilan tersebut pada Minggu, 11 Oktober 2026. Ia mengapresiasi kerja keras para siswa, guru pembimbing, serta seluruh pihak yang mendukung rangkaian persiapan. Menurutnya, capaian itu tidak hanya mencerminkan prestasi individu peserta didik, tetapi juga merupakan hasil pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan di lingkungan madrasah. Para siswa diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menambah pengalaman, menjaga nama baik Sumatera Utara, dan tampil optimal pada OMI nasional mendatang.
Lima siswa Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Tapanuli Selatan (Tapsel) berhasil menorehkan prestasi pada ajang Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026. Capaian tersebut mengantarkan mereka untuk mewakili Provinsi Sumatera Utara dalam OMI tingkat nasional. Kelima siswa itu menunjukkan kemampuan pada bidang keilmuan yang berbeda, dengan dua di antaranya meraih peringkat pertama dan tiga lainnya masuk dalam jajaran 10 besar nasional.
Revanza Alif Margolang menjadi salah satu peraih prestasi tertinggi. Ia meraih juara I bidang ekonomi. Pencapaian tersebut mencerminkan kemampuan Revanza dalam memahami konsep ekonomi serta menyelesaikan persoalan pada bidang yang diikutinya. Prestasi serupa diraih Muhammad Rafli Harahap yang berhasil menjadi juara I bidang geografi. Keberhasilan keduanya menempatkan MAN IC Tapsel sebagai salah satu madrasah dengan perwakilan berprestasi dalam kompetisi tersebut.
Selain dua juara pertama, tiga siswa MAN IC Tapsel lainnya juga mencatatkan hasil membanggakan di tingkat nasional. Maidia De Rveena Pohan masuk 10 besar nasional bidang fisika. Hafni Fadilah Harahap masuk 10 besar nasional bidang kimia. Sementara itu, Izyan Asyan A. Pohan masuk 10 besar nasional bidang biologi. Ketiganya berhasil bersaing dalam bidang masing-masing hingga memperoleh posisi di peserta terbaik secara nasional.
Dengan capaian tersebut, Revanza Alif Margolang, Muhammad Rafli Harahap, Maidia De Rveena Pohan, Hafni Fadilah Harahap, dan Izyan Asyan A. Pohan ditetapkan sebagai utusan Sumatera Utara untuk mengikuti OMI tingkat nasional. Penetapan ini menjadi bentuk penghargaan atas prestasi mereka sekaligus menegaskan peran MAN IC Tapsel dalam membina siswa berprestasi di berbagai bidang akademik. Kelima siswa tersebut selanjutnya membawa nama Sumatera Utara dan madrasahnya dalam kompetisi OMI tingkat nasional 2026.
Kepala MAN IC Tapsel memandang pencapaian lima siswa yang mewakili Sumatera Utara dalam OMI Nasional 2026 bukan semata-mata persoalan angka atau peringkat. Prestasi tersebut mencerminkan keberanian untuk berkompetisi, ketekunan ketika menghadapi soal-soal yang menantang, serta kemauan untuk terus belajar dari setiap tahapan yang dilalui. Dalam pandangan itu, hasil kompetisi menjadi bagian dari proses pendidikan yang membentuk sikap, daya juang, dan kesiapan siswa menghadapi tantangan akademik secara lebih matang.
Proses pembelajaran yang dijalani siswa berlangsung melalui beberapa tahapan yang saling berkaitan. Pendalaman materi dilakukan untuk memperkuat pemahaman terhadap konsep, kemudian dilanjutkan dengan diskusi agar siswa dapat menguji gagasan dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Latihan diberikan secara terukur sehingga kemampuan dapat dikembangkan secara bertahap. Setelah itu, evaluasi digunakan untuk mengenali kemajuan sekaligus bagian yang masih perlu diperbaiki. Seluruh proses tersebut diperkuat melalui pendampingan berkelanjutan, sehingga siswa tidak berjalan sendiri dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.
Abdul Hakim menegaskan bahwa pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas. Soal-soal yang dihadapi siswa dapat menjadi latihan untuk mengembangkan cara berpikir, sedangkan kesalahan tidak dipandang sebagai akhir, melainkan pijakan untuk melakukan perbaikan dan berkembang. Cara pandang tersebut menunjukkan bahwa pembinaan diarahkan pada proses belajar yang konsisten, bukan hanya pada hasil akhir sebuah perlombaan. Melalui kebiasaan belajar, berdiskusi, berlatih, mengevaluasi, dan menerima pendampingan, MAN IC Tapsel terus membangun tradisi akademik yang mendorong prestasi siswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik, hingga tingkat nasional.
Abdul Hakim menyampaikan apresiasi kepada lima siswa MAN IC Tapsel yang berhasil meraih kesempatan mewakili Sumatera Utara dalam OMI Nasional 2026. Penghargaan juga diberikan kepada para guru pembimbing, orang tua, serta seluruh pihak yang mendukung proses persiapan, mulai dari pembinaan akademik hingga pemenuhan kebutuhan teknis peserta. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama yang dibangun melalui ketekunan, pendampingan, dan doa.
Dalam persiapan menghadapi kompetisi, para siswa memperoleh bimbingan sesuai bidang masing-masing. Bagaswara Deas Arista mendampingi bidang fisika, Siti Kholilah Hasibuan membimbing kimia, Nur Atikah mendampingi biologi, Lenni Erika Siregar menangani ekonomi, sedangkan Wilda Mahrani Daulay mendampingi geografi. Peran para pembimbing tidak terbatas pada pengajaran rumus, teori, dan konsep. Mereka turut menanamkan disiplin, daya juang, ketelitian dalam menyelesaikan persoalan, serta keberanian untuk menghadapi persaingan dengan persiapan yang matang.
Abdul Hakim berpesan kepada kelima siswa yang melaju ke tingkat nasional agar terus belajar dengan rendah hati. Prestasi yang telah diraih hendaknya menjadi dorongan untuk berkembang, bukan alasan untuk berhenti berusaha. Ia mengingatkan agar para peserta tetap terbuka terhadap evaluasi, menghargai lawan, dan menjaga semangat belajar selama mengikuti rangkaian OMI Nasional 2026.
Dua siswa lain yang turut mengikuti OMI tingkat Sumatera Utara juga dinilai memiliki peran penting dalam perjalanan tersebut. Pengalaman berkompetisi menjadi bekal berharga sekaligus investasi prestasi pada masa depan. Kemenangan memang dapat tercatat dalam sertifikat, tetapi keberanian untuk mencoba, kemampuan untuk bangkit setelah menghadapi kegagalan, dan kemauan memperbaiki diri akan membentuk karakter yang bertahan lebih lama. Nilai-nilai itulah yang diharapkan terus dibawa oleh seluruh peserta dalam pendidikan dan kehidupan mereka.

