Banjir dan Longsor Melanda Empat Kecamatan di Aceh Tenggara

Banjir dan Longsor Melanda Empat Kecamatan di Aceh Tenggara

Kabupaten Aceh Tenggara | Banjir dan tanah longsor melanda empat kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara pada Minggu dini hari, 11 Oktober. Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejumlah wilayah, menyebabkan aliran air meluap dan material tanah bergerak ke area permukiman serta akses warga.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, Mohd. Asbi, S.T., menyampaikan bahwa bencana tersebut berdampak pada tujuh desa. Wilayah yang terdampak tersebar di Kecamatan Ketambe, Lawe Bulan, Babussalam, dan Bambel.

Di Kecamatan Ketambe, banjir dan longsor dilaporkan melanda Desa Kati Maju. Sementara itu, Desa Pulo Nas Baru menjadi wilayah terdampak di Kecamatan Lawe Bulan. Di Kecamatan Babussalam, kejadian serupa terjadi di Desa Pulo Lateng.

Adapun wilayah terdampak di Kecamatan Bambel mencakup empat desa, yakni Desa Lawe Kihing, Desa Bambel Gabungan, Desa Terutung Seperai, dan Desa Terutung Megara Asli. Sebaran lokasi tersebut menunjukkan bahwa bencana tidak hanya terjadi pada satu titik, tetapi meluas di sejumlah kawasan yang berada dalam wilayah rawan genangan dan pergerakan tanah.

Dampak kejadian dirasakan langsung oleh masyarakat. Air banjir menggenangi sejumlah permukiman, sedangkan longsor menghambat akses pada beberapa ruas jalan. Fasilitas umum dan lahan pertanian warga juga ikut terdampak, sehingga aktivitas sehari-hari serta kegiatan ekonomi masyarakat mengalami gangguan.

BPBD Aceh Tenggara melakukan pendataan terhadap wilayah dan objek yang terdampak untuk memperoleh gambaran kondisi di lapangan. Pemeriksaan tersebut mencakup permukiman, akses jalan, fasilitas umum, serta lahan pertanian yang terkena banjir maupun material longsor. Data hasil pendataan menjadi dasar bagi penanganan lanjutan dan penyaluran bantuan kepada warga yang membutuhkan.

Hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Aceh Tenggara sejak Jumat, 9 Oktober. Curah hujan tersebut berlangsung dengan durasi yang panjang dan terus membebani kondisi wilayah hingga Minggu dini hari. Hujan yang turun dalam waktu lama kemudian memicu bencana di sejumlah lokasi, termasuk banjir dan longsor yang berdampak pada permukiman serta akses transportasi masyarakat.

Salah satu dampak hujan deras terjadi di sekitar Sungai Lawe Bulan. Debit sungai mengalami peningkatan sehingga tekanan arus menjadi sangat besar. Kondisi itu membuat tanggul di Desa Pulo Mas Baru jebol. Setelah tanggul tidak lagi mampu menahan arus, air sungai meluap dan masuk ke permukiman warga. Luapan tersebut menyebabkan kawasan tempat tinggal masyarakat terdampak banjir, sementara kondisi sungai yang masih bertekanan besar meningkatkan kewaspadaan di sekitar daerah aliran sungai.

Selain banjir akibat luapan Sungai Lawe Bulan, longsor terjadi di Desa Kati Maju. Lereng di ruas Jalan Nasional Kutacane–Blangkejeren menjadi labil setelah diguyur hujan berintensitas tinggi dengan durasi panjang. Perubahan kondisi lereng itu memicu jatuhnya material tanah dan lumpur ke badan jalan. Material longsor kemudian menutup ruas jalan nasional tersebut dan menghambat arus kendaraan yang melintas.

Penutupan badan jalan oleh tanah dan lumpur menyebabkan kemacetan panjang di ruas Kutacane–Blangkejeren. Kendaraan yang hendak melewati jalur tersebut harus menghadapi hambatan akibat material yang menutupi permukaan jalan. Dengan demikian, hujan yang berlangsung sejak Jumat, 9 Oktober, tidak hanya meningkatkan debit Sungai Lawe Bulan hingga menyebabkan tanggul jebol dan air menggenangi permukiman, tetapi juga membuat lereng di Desa Kati Maju labil hingga menimbulkan longsor serta mengganggu kelancaran lalu lintas.

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Tenggara menimbulkan kerusakan pada infrastruktur, mengganggu layanan dasar, serta menggenangi area produktif masyarakat. Salah satu kerusakan yang dilaporkan terjadi pada intake sumber air bersih Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara. Bangunan intake tersebut hanyut setelah tergerus arus banjir. Kerusakan ini berpotensi menghambat proses pengambilan dan distribusi air bersih bagi warga yang bergantung pada sistem penyediaan air tersebut.

Kerusakan juga terjadi pada tanggul penahan tebing Sungai Lawe Bulan atau Lawe Kisam di Desa Lawe Kihing. Tanggul itu jebol sepanjang sekitar 50 meter sehingga meningkatkan risiko meluasnya genangan dan memperbesar ancaman terhadap permukiman maupun lahan di sekitar aliran sungai. Kondisi tersebut menunjukkan kuatnya tekanan arus air selama banjir, terutama pada bagian tebing dan bangunan pengaman sungai yang tidak mampu menahan gerusan.

Di sektor pertanian, banjir merendam lahan seluas kurang lebih 15 hektare. Area terdampak tersebar di Desa Lawe Kihing, Bambel Gabungan, dan Terutung Seperai. Genangan pada lahan pertanian dapat mengganggu tanaman, menunda aktivitas pengolahan tanah, serta berpotensi menimbulkan kerugian bagi petani apabila air bertahan dalam waktu lama. Penanganan dan pendataan lanjutan diperlukan untuk mengetahui tingkat kerusakan pada setiap lokasi.

Genangan turut menghambat mobilitas di Jalan Nasional Kutacane–Medan, khususnya pada ruas Desa Bambel Gabungan hingga Terutung Megara Asli. Ketinggian air di jalur tersebut dilaporkan mencapai 30–50 sentimeter, sehingga pengguna jalan perlu meningkatkan kewaspadaan dan menyesuaikan perjalanan dengan kondisi lapangan. Selain akses transportasi, gudang logistik BPBD dan fasilitas SMPIT Al Khansa juga ikut tergenang. Kejadian ini dapat memengaruhi penyimpanan bantuan serta kegiatan pendidikan apabila air belum segera surut.

Setelah banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh Tenggara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke lokasi terdampak. Tim tersebut melakukan pendataan lapangan untuk menghimpun informasi mengenai kondisi wilayah, titik bencana, serta kebutuhan penanganan yang harus segera dilakukan. Pendataan menjadi bagian penting dari respons awal agar setiap lokasi dapat ditangani sesuai situasi yang ditemukan di lapangan.

BPBD juga menurunkan satu unit ekskavator untuk membersihkan material longsor yang menutup atau menghambat akses di Desa Kati Maju. Penggunaan alat berat dilakukan untuk mempercepat proses pembersihan material tanah dan memastikan penanganan di lokasi dapat berlangsung secara efektif. Petugas terus bekerja di area tersebut seiring dengan proses pemeriksaan dan pendataan yang dilakukan oleh tim di lapangan.

Penanganan turut dilakukan di Jembatan Bailey Pulo Latong. Petugas mengeruk kayu gelondongan yang menutup aliran di sekitar jembatan tersebut. Pembersihan itu dilakukan untuk mengurangi sumbatan pada aliran air. Selain itu, personel pemadam kebakaran BPBD membersihkan endapan lumpur yang berada di ruas jalan Pulo Nas Baru–Lawe Rutung, sehingga material yang mengganggu jalur tersebut dapat ditangani secara bertahap.

Di Desa Lawe Kihing, petugas melakukan penutupan tanggul dan normalisasi sungai sebagai bagian dari upaya penanganan setelah bencana. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan pembersihan di sejumlah titik lain yang terdampak. Asbi menyampaikan bahwa penanganan oleh BPBD masih berlangsung di lapangan. Berdasarkan kondisi terakhir yang disampaikan, air masih tergenang.