Manado | Selama periode evaluasi 16–30 September 2026, aktivitas kegempaan Gunung Lokon di Sulawesi Utara didominasi oleh gempa vulkanik dangkal. Berdasarkan hasil pemantauan, tercatat 277 kali gempa vulkanik dangkal, yang dalam laporan pengamatan disebut sebagai gempa VB. Data tersebut menjadi jenis gempa yang paling menonjol selama rentang waktu evaluasi dan dicatat sebagai bagian utama dalam perkembangan aktivitas gunung api pada periode tersebut.
Pencatatan gempa VB dilakukan melalui pemantauan seismik yang berlangsung selama periode evaluasi. Informasi mengenai 277 kejadian tersebut menggambarkan distribusi kegempaan Gunung Lokon berdasarkan klasifikasi sumber gempa yang digunakan dalam laporan. Gempa vulkanik dangkal merupakan salah satu parameter yang diamati untuk mengikuti kondisi aktivitas gunung api, bersama dengan pengamatan terhadap gejala visual di sekitar gunung.
Selain data kegempaan, hasil pemantauan visual dan seismik pada 16–30 September 2026 belum memperlihatkan adanya peningkatan aktivitas Gunung Lokon. Pengamatan yang tersedia tidak menunjukkan perubahan aktivitas berdasarkan kedua metode tersebut selama periode evaluasi. Dengan demikian, laporan mencatat dominasi 277 gempa vulkanik dangkal atau VB, sementara hasil pengamatan visual dan seismik tetap menjadi dasar pemantauan kondisi gunung api pada periode tersebut.
Hasil evaluasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa tingkat aktivitas Gunung Lokon masih berada pada Level II atau Waspada. Penetapan ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih memerlukan pemantauan secara berkelanjutan, meskipun belum menjadi dasar untuk menaikkan status ke tingkat yang lebih tinggi.
Status Level II menjadi acuan dalam penyampaian informasi kepada masyarakat, pemerintah daerah, serta pihak-pihak terkait. Informasi tersebut diperlukan agar perkembangan aktivitas Gunung Lokon dapat dipahami secara tepat dan tidak menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan. Pada saat yang sama, masyarakat di sekitar gunung api tetap diimbau memperhatikan informasi resmi dari instansi berwenang dan mengikuti arahan apabila terdapat perubahan kondisi.
Penilaian tersebut didasarkan pada hasil pengamatan dan evaluasi terhadap berbagai parameter kegunungapian. Salah satu catatan penting dalam laporan pengamatan ialah dominasi gempa vulkanik dangkal. Data instrumental itu menjadi bagian dari bahan analisis Badan Geologi untuk menentukan perkembangan aktivitas serta langkah komunikasi yang perlu dilakukan kepada publik.
Laporan pengamatan instrumental disampaikan oleh Kepala Badan Geologi, Lana Saria. Informasi tersebut kemudian dibagikan oleh Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon, Armando Manguleh, melalui grup percakapan yang diikuti BMKG dan para pemangku kepentingan di Manado pada Sabtu. Penyampaian melalui kanal koordinasi tersebut membantu memastikan informasi mengenai kondisi terkini diterima oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Dengan tetap berlakunya Level II atau Waspada, masyarakat diminta tidak mengabaikan pembaruan dari Pos Pengamatan Gunung Api Lokon dan Badan Geologi. Warga juga perlu memahami bahwa status dapat dievaluasi kembali apabila terdapat perubahan pada data pemantauan. Karena itu, kewaspadaan, kepatuhan terhadap rekomendasi resmi, dan penggunaan sumber informasi yang tepercaya menjadi bagian penting dalam menghadapi aktivitas Gunung Lokon.
Pengamatan instrumental aktivitas Gunung Lokon selama 16–30 September 2026 mencatat beberapa jenis kegempaan. Data tersebut menunjukkan 277 gempa vulkanik dangkal, 110 gempa embusan, dua gempa tornillo, tujuh gempa vulkanik dalam atau VA, lima gempa tektonik lokal, serta 43 gempa tektonik jauh. Seluruh catatan itu menjadi dasar untuk menggambarkan aktivitas kegempaan Gunung Lokon selama periode pengamatan.
Gempa vulkanik dangkal merupakan jenis gempa yang paling dominan tercatat dalam hasil pemantauan. Jumlahnya lebih besar dibandingkan seluruh jenis gempa lainnya yang terekam pada periode yang sama. Selain gempa vulkanik dangkal, gempa embusan juga tercatat cukup banyak, yakni sebanyak 110 kejadian. Sementara itu, dua gempa tornillo dan tujuh gempa vulkanik dalam atau VA tercatat dalam jumlah yang lebih terbatas.
Hasil pengamatan juga mencatat lima gempa tektonik lokal dan 43 gempa tektonik jauh. Dengan demikian, catatan kegempaan pada 16–30 September 2026 mencakup kejadian yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik maupun tektonik. Lana Saria menyampaikan bahwa gempa vulkanik dangkal menjadi kegempaan yang paling dominan selama periode tersebut, sedangkan gempa vulkanik dalam relatif jarang terekam. Rincian ini disampaikan sebagai bagian dari hasil pengamatan instrumental, tanpa mengubah status Gunung Lokon yang tetap berada pada tingkat Waspada.
Status Gunung Lokon yang berada pada tingkat Waspada menjadi dasar bagi penyampaian arahan keselamatan kepada masyarakat. Dalam informasi terkait aktivitas gunung api tersebut, masyarakat diminta memperhatikan batas aman yang telah ditetapkan dan mengutamakan kewaspadaan ketika berada di sekitar kawasan Gunung Lokon. Arahan ini disampaikan sebagai langkah pencegahan sejalan dengan pemantauan aktivitas vulkanik yang berlangsung.
Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati Kawah Tompaluan dalam radius 1,5 kilometer. Ketentuan jarak tersebut perlu diperhatikan oleh setiap orang yang berencana mengunjungi atau melintasi kawasan sekitar kawah. Dengan menjaga jarak sesuai arahan, kegiatan di sekitar Gunung Lokon dapat dilakukan dengan mempertimbangkan informasi status Waspada yang sedang berlaku.
Wisatawan dan pendaki perlu memastikan rencana kunjungan mereka tidak membawa ke area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan. Masyarakat di sekitar kawasan juga diharapkan menyampaikan arahan ini kepada pihak yang hendak beraktivitas di lokasi tersebut. Kepatuhan terhadap batas yang diinformasikan merupakan bagian dari tindakan pencegahan selama status Gunung Lokon masih Waspada.
Arahan untuk tidak mendekati Kawah Tompaluan dalam radius 1,5 kilometer berlaku sebagai langkah keselamatan dalam informasi aktivitas Gunung Lokon. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diharapkan memperhatikan informasi resmi mengenai status gunung api serta menyesuaikan aktivitasnya dengan ketentuan yang disampaikan. Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap batas aman menjadi hal penting untuk mendukung keselamatan selama pemantauan aktivitas Gunung Lokon berlangsung.

