Pakar Telematika Minta Pemeriksaan Forensik atas Video Call Ruben Onsu dan Seorang Pria

Pakar Telematika Minta Pemeriksaan Forensik atas Video Call Ruben Onsu dan Seorang Pria

Jakarta | Pakar telematika Abimanyu Wachjoewidajat menilai keaslian rekaman video call yang memperlihatkan Ruben Onsu bersama seorang pria belum dapat dipastikan. Penilaian tersebut disampaikan setelah Sarwendah membagikan empat rekaman panggilan melalui akun Instagram pribadinya. Materi yang beredar itu kemudian menarik perhatian publik karena menampilkan potongan percakapan yang dikaitkan dengan hubungan serta persoalan sejumlah pihak.

Video tersebut muncul di tengah perseteruan Ruben Onsu dan Sarwendah yang sebelumnya telah menjadi sorotan. Karena konteks itu, setiap bagian percakapan dalam rekaman segera ramai dibahas di media sosial. Warganet menyampaikan beragam tafsir mengenai identitas pria, isi komunikasi, serta waktu pengambilan gambar. Sebagian pengguna bahkan menganggap rekaman itu sebagai bukti tertentu, sementara pihak lain mempertanyakan apakah video telah dipotong, disusun ulang, atau mengalami perubahan.

Menurut Abimanyu, kesimpulan mengenai video asli atau rekayasa tidak semestinya dibuat hanya berdasarkan pengamatan visual dan suara yang beredar di internet. Rekaman perlu diperiksa secara menyeluruh untuk melihat metadata, kesinambungan gambar dan audio, kemungkinan adanya penyuntingan, serta jejak digital lain yang relevan. Pemeriksaan digital forensik diperlukan agar analisis dilakukan menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa pemeriksaan tersebut, berbagai klaim mengenai keaslian video masih berada pada tahap dugaan dan belum dapat dijadikan kepastian.

Abimanyu menilai pemeriksaan forensik terhadap video call Ruben Onsu dan seorang pria perlu dimulai dari penelusuran asal-usul dokumen digital. Langkah tersebut tidak cukup hanya dengan mengamati isi rekaman atau menilai kesesuaiannya dengan percakapan yang terlihat. Pemeriksa perlu mengetahui bagaimana rekaman itu diperoleh sejak awal, perangkat atau media apa yang digunakan untuk menyimpannya, serta siapa saja yang memiliki akses terhadap file tersebut sebelum beredar di ruang publik.

Penelusuran juga perlu mencakup pihak yang menyimpan atau meneruskan rekaman, termasuk proses perpindahan file dari satu orang atau perangkat ke pihak lain. Rangkaian tersebut dapat membantu menggambarkan riwayat dokumen digital secara lebih utuh, mulai dari saat file dibuat atau diterima hingga akhirnya muncul dan diketahui masyarakat. Pemeriksaan terhadap metadata, waktu pemindahan, serta jejak distribusi dapat menjadi bagian dari upaya untuk memahami perubahan atau kemungkinan intervensi terhadap file, sepanjang data yang diperlukan masih tersedia.

Menurut Abimanyu, aspek asal-usul menjadi penting karena video tersebut tidak disebarkan langsung oleh pihak-pihak yang terlibat dalam percakapan, melainkan oleh pihak lain. Karena itu, informasi mengenai siapa yang memperoleh, menyimpan, dan membagikan dokumen tersebut diperlukan untuk menilai jalur penyebarannya. “Informasi itu diperlukan karena dokumen tidak dibagikan oleh lawan bicara secara langsung,” ujar Abimanyu, sebagaimana disampaikan dengan merujuk pada tayangan YouTube Cumicumi pada Senin, 12 Oktober 2026.

Analisis terhadap video call Ruben Onsu dan seorang pria tidak cukup dilakukan dengan mengandalkan bagian percakapan yang beredar di media sosial. Potongan yang muncul kepada publik hanya memperlihatkan sebagian kecil dari interaksi, sehingga belum dapat menggambarkan keseluruhan pembicaraan. Menurut Abimanyu, percakapan melalui layanan pesan pada dasarnya memiliki rangkaian yang panjang, baik dari sisi durasi maupun topik yang dibahas. Karena itu, pemeriksaan perlu menelusuri kesinambungan percakapan, termasuk urutan respons, perubahan topik, serta konteks yang mendahului ataupun mengikuti bagian rekaman yang beredar.

Rekaman yang terpotong juga tidak secara otomatis membuktikan bahwa video tersebut palsu atau telah dimanipulasi. Pemotongan dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk keterbatasan durasi materi yang dibagikan, pilihan pihak yang menyebarkannya, atau kebutuhan untuk menampilkan bagian tertentu. Namun, kondisi itu membuat penilaian terhadap keaslian dan makna percakapan harus dilakukan secara lebih hati-hati. Pemeriksa perlu memastikan apakah bagian yang tersedia masih memiliki konteks yang memadai untuk dipahami secara tepat, serta apakah suara, gambar, dan urutan dialognya tetap menunjukkan kesinambungan.

Selain memeriksa isi potongan, analisis perlu melihat keterkaitannya dengan rangkaian percakapan secara keseluruhan. Topik yang dibahas sebelum dan sesudah bagian tersebut dapat membantu menjelaskan maksud suatu pernyataan, termasuk kemungkinan adanya respons atau penjelasan yang tidak ikut tersebar. Pemeriksaan semacam ini sebaiknya dilakukan terhadap materi asli dan data pendukung yang relevan, bukan hanya salinan yang beredar di platform digital. Dengan demikian, penilaian dapat berfokus pada konteks, kesinambungan, serta bukti teknis yang tersedia, tanpa menarik kesimpulan yang tidak dinyatakan oleh sumber.

Pakar telematika Abimanyu mengamati adanya bagian wajah salah satu pihak dalam rekaman video call yang tampak diburamkan. Menurut pengamatan tersebut, efek blur merupakan petunjuk bahwa video telah melewati suatu proses penyuntingan. Perubahan itu dapat berupa pengaburan pada bagian tertentu, bukan semata-mata hasil rekaman asli yang ditampilkan tanpa pengolahan.

Meski demikian, keberadaan blur belum cukup untuk menyatakan bahwa isi video telah direkayasa atau dipalsukan. Penyuntingan dan pemalsuan merupakan dua hal yang berbeda. Sebuah rekaman dapat disunting untuk kebutuhan tertentu tanpa mengubah percakapan, urutan kejadian, maupun konteks yang terdapat di dalamnya. Karena itu, efek visual tersebut perlu dibaca secara hati-hati dan tidak langsung dijadikan dasar untuk menilai keaslian seluruh materi.

Berdasarkan penjelasan yang tersedia, pemburaman juga dapat digunakan untuk menyamarkan identitas seseorang. Langkah semacam ini mungkin dilakukan demi menjaga privasi, terutama ketika pihak yang terlihat dalam rekaman bukan tokoh yang menjadi perhatian utama atau belum memberikan persetujuan untuk ditampilkan. Dengan demikian, blur dapat memiliki alasan perlindungan identitas, meskipun tetap menunjukkan bahwa file yang beredar telah mengalami perubahan pada tampilan visualnya.

Penilaian terhadap keaslian video masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksa perlu menelusuri asal file, riwayat penyebarannya, kesinambungan percakapan, serta bentuk penyuntingan yang dilakukan pada gambar dan suara. Analisis teknis juga penting untuk mengetahui apakah terdapat bagian yang dipotong, dipindahkan, atau ditambahkan. Tanpa pemeriksaan menyeluruh, pengamatan terhadap wajah yang diburamkan hanya dapat menjadi indikasi awal, bukan dasar untuk menetapkan autentikasi maupun hasil akhir mengenai rekaman tersebut.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Kodim 0906/Kkr Hadir Untuk Masyarakat, Gelar Donor Darah Serta Pengobatan Dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Menyambut HUT TNI | TNI Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis Sambut HUT ke-81