Jakarta | Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengingatkan masyarakat untuk memeriksa nama penerima sebelum menyelesaikan pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Pemeriksaan sederhana tersebut penting untuk memastikan dana masuk kepada pihak yang benar dan mengurangi risiko salah transfer. Imbauan itu disampaikan Destry dalam wawancara eksklusif di program Central Banking, yang dikutip pada Senin, 12 Oktober 2026.
Menurut Destry, pengguna perlu memperlakukan pembayaran melalui QRIS seperti pengiriman uang pada umumnya. Setelah memindai kode, konsumen sebaiknya tidak langsung menekan tombol bayar, melainkan mencermati informasi yang muncul di layar. Nama penerima menjadi salah satu detail utama yang perlu diperiksa, selain nominal transaksi. Jika terdapat ketidaksesuaian nama yang tampil dan pihak yang seharusnya menerima pembayaran, transaksi sebaiknya dihentikan terlebih dahulu.
Langkah tersebut semakin relevan karena QRIS telah digunakan secara luas dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Masyarakat memanfaatkannya untuk membayar makanan, berbelanja, menggunakan layanan transportasi, hingga melakukan transaksi dengan pelaku usaha kecil. Frekuensi penggunaan yang meningkat membuat kewaspadaan tetap diperlukan, terutama ketika pembayaran dilakukan dalam kondisi terburu-buru atau di tempat yang ramai. Kesalahan memilih atau memindai kode pembayaran dapat menyebabkan dana terkirim kepada pihak yang tidak sesuai dan tidak selalu mudah dikembalikan.
Dengan memeriksa identitas penerima sebelum konfirmasi, pengguna dapat menambahkan satu lapisan perlindungan dalam setiap transaksi. Kebiasaan ini juga membantu meningkatkan keamanan dan kepercayaan terhadap ekosistem pembayaran digital. Apabila nama penerima tidak dikenal, tampak berbeda, atau tidak sejalan dengan informasi pedagang, pengguna dianjurkan meminta klarifikasi kepada pihak terkait sebelum melanjutkan pembayaran. Setelah nama dan nominal dipastikan sesuai, transaksi QRIS dapat diselesaikan dengan lebih aman.
Destry menjelaskan bahwa masih ada kebiasaan pengguna yang perlu diperhatikan saat melakukan pembayaran melalui QRIS. Sebagian pengguna cenderung langsung memindai kode atau mengetuk pilihan pembayaran tanpa mencermati kembali identitas penerima yang tampil di layar. Proses tersebut memang terasa praktis dan cepat, tetapi perhatian yang terlalu singkat dapat membuat detail penting terlewat. Salah satu detail itu adalah nama penerima, yang seharusnya dipastikan terlebih dahulu sebelum transaksi dilanjutkan.
Menurut Destry, perhatian terhadap hal-hal kecil dalam transaksi masih perlu ditingkatkan. Kesalahan nama penerima dapat terjadi, sehingga pengguna tidak sebaiknya hanya mengandalkan kebiasaan atau asumsi bahwa kode yang dipindai pasti mengarah kepada pihak yang benar. Nama yang muncul setelah pemindaian merupakan informasi yang perlu dibaca dan dicocokkan dengan tujuan pembayaran. Dengan meluangkan waktu sejenak untuk memeriksa identitas tersebut, pengguna dapat memastikan bahwa transaksi ditujukan kepada penerima yang sesuai.
Alur yang disarankan tetap sederhana. Pengguna terlebih dahulu memindai QRIS yang tersedia. Setelah itu, identitas penerima akan muncul pada tampilan pembayaran dan perlu diperhatikan dengan saksama. Pengguna kemudian memastikan bahwa nama tersebut sesuai dengan penerima yang dimaksud. Konfirmasi pembayaran dilakukan setelah kesesuaian itu diyakini. Kebiasaan sederhana ini tidak mengubah kemudahan penggunaan QRIS, tetapi membantu menempatkan pemeriksaan nama sebagai bagian penting dari proses transaksi. Dengan tidak langsung mengonfirmasi pembayaran dan memberi perhatian pada identitas yang tampil, pengguna dapat mengurangi kemungkinan kesalahan yang bersumber dari kelalaian dalam membaca detail penerima.
Imbauan untuk memeriksa nama penerima sebelum menyelesaikan pembayaran dengan QRIS disampaikan di tengah penggunaan sistem tersebut yang terus meluas. QRIS tidak lagi terbatas pada pusat perbelanjaan atau gerai modern, tetapi telah menjadi bagian dari transaksi sehari-hari masyarakat. Berdasarkan data yang disampaikan sumber, QRIS telah digunakan oleh 67 juta pengguna dan diterima oleh 46,7 juta merchant. Dari jumlah merchant tersebut, sekitar 96 persen merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Angka ini menunjukkan bahwa perluasan pembayaran digital turut menjangkau sektor usaha yang menjadi fondasi perekonomian nasional.
Bank Indonesia meluncurkan QRIS pada 17 Agustus 2019 sebagai standar nasional pembayaran berbasis kode QR. Sebelum penerapan standar tersebut, sejumlah bank masih menggunakan kode QR masing-masing. Kondisi ini membuat pedagang dan konsumen berhadapan dengan berbagai sistem yang tidak selalu saling terhubung. Pada tahap awal, penyatuan kode QR menghadapi tantangan, baik dari sisi kesiapan penyelenggara maupun pemahaman masyarakat. Namun, kebijakan yang diterapkan secara konsisten mendorong penerimaan QRIS secara bertahap. Penggunaannya kemudian berkembang dari lingkungan ritel hingga pasar-pasar basah, tempat pedagang dan pembeli membutuhkan metode transaksi yang praktis.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa QRIS mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Bagi UMKM, kehadiran pembayaran digital dapat membantu memperluas pilihan transaksi tanpa mengharuskan pelaku usaha menyediakan banyak kode dari penyedia berbeda. Meski demikian, kemudahan ini tetap perlu diimbangi kehati-hatian. Memastikan nama penerima yang muncul pada aplikasi sesuai dengan tujuan pembayaran merupakan langkah sederhana untuk mengurangi risiko kesalahan transaksi. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry, menilai QRIS memiliki sejumlah keunggulan, lain biaya yang murah, keamanan, dan keandalan. Keunggulan tersebut menjadi salah satu alasan sistem ini terus digunakan oleh konsumen maupun merchant di berbagai wilayah.
Destry menekankan bahwa perluasan sistem pembayaran harus berjalan seiring dengan penguatan keamanan. Inovasi memang diperlukan untuk mempercepat transaksi, memperluas akses, dan mendukung aktivitas ekonomi, tetapi setiap pengembangan perlu disertai mitigasi risiko yang tepat. Keamanan tidak hanya berkaitan dengan perlindungan teknologi, melainkan juga kejelasan proses, keandalan infrastruktur, serta kemampuan seluruh pihak untuk mencegah dan menangani potensi penyalahgunaan.
Pendekatan tersebut terlihat dalam pengembangan BI-Fast. Layanan ini telah terhubung dengan banyak pihak melalui open API, sehingga sektor riil, termasuk perusahaan logistik dan rumah sakit, dapat terhubung langsung dengan sektor keuangan melalui satu platform. Konektivitas semacam ini membantu mempercepat pertukaran dana dan meningkatkan efisiensi operasional. Di sisi lain, semakin banyak pihak yang terhubung berarti semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan standar keamanan, tata kelola data, dan pengelolaan risiko diterapkan secara konsisten.
Bank Indonesia berupaya menjaga keseimbangan inovasi dan mitigasi risiko. Perluasan sistem pembayaran tidak semata-mata diukur dari bertambahnya jumlah pengguna atau kanal transaksi, tetapi juga dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan tersebut. Karena itu, penguatan pengawasan, peningkatan ketahanan infrastruktur, serta edukasi kepada pengguna menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pembayaran yang aman dan berkelanjutan. Pengguna pun tetap perlu memeriksa detail transaksi, termasuk nama penerima, sebelum memberikan persetujuan pembayaran.
BI-Fast saat ini telah aktif selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, sehingga masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, QRIS lintas negara terus diperluas untuk mendukung transaksi antarnegara yang lebih praktis. Bank Indonesia juga telah menandatangani kerja sama dengan bank sentral Timor Leste serta menyiapkan kerja sama dengan sejumlah negara lain. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan sistem pembayaran terus dilanjutkan dengan tetap menempatkan keamanan dan pengelolaan risiko sebagai landasan utama.
Baca juga: Pastikan Pasokan Air Tetap Siaga, Satgas Pam Irigasi Embung Jokowi Lanud Sjamsudin Noor Rawat Kesiapan Pompa Untuk Penanganan Karhutla | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Gambut Jadi Medan Tempur, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Pantang Pulang Sebelum Bara Terkendali

