Manado | Stasiun Geofisika Manado, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mencatat sebanyak 497 kejadian gempa bumi tektonik di wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya selama September 2026. Data tersebut mencakup seluruh aktivitas gempa yang tercatat oleh jaringan pemantauan BMKG sepanjang periode tersebut.
Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Geofisika Manado, Kamal Ardiyanto, menyampaikan keterangan itu di Manado pada Senin. Ia menjelaskan bahwa jumlah 497 kejadian merupakan akumulasi pencatatan gempa bumi tektonik selama satu bulan, baik yang terjadi di wilayah Sulawesi Utara maupun kawasan sekitarnya yang masuk dalam pemantauan stasiun.
Pencatatan tersebut menjadi bagian dari kegiatan pemantauan seismik yang dilakukan secara berkelanjutan oleh BMKG. Melalui sistem pemantauan itu, setiap kejadian gempa yang terdeteksi dihimpun dan dicatat berdasarkan waktu serta lokasi kejadiannya. Data bulanan kemudian digunakan untuk menggambarkan aktivitas kegempaan di suatu wilayah selama periode tertentu.
Dengan demikian, angka 497 gempa menunjukkan jumlah keseluruhan kejadian tektonik yang terekam selama September 2026. Pernyataan tersebut tidak merinci dampak dari masing-masing kejadian, melainkan menegaskan hasil pencatatan aktivitas gempa di Sulawesi Utara dan daerah sekitarnya selama bulan tersebut.
Karakteristik gempa tektonik yang tercatat di Sulawesi Utara selama September 2026 menunjukkan variasi berdasarkan kedalaman hiposenter dan magnitudonya. Dari total 497 kejadian, sebagian besar gempa berasal dari sumber yang tergolong dangkal, yakni memiliki kedalaman kurang dari 60 kilometer. Tercatat sebanyak 333 gempa berada dalam kategori tersebut. Dominasi gempa dangkal ini menjadi salah satu gambaran penting dalam membaca aktivitas seismik di wilayah Sulawesi Utara selama periode pengamatan.
Kedalaman hiposenter merupakan jarak titik sumber gempa di dalam bumi dari permukaan. Gempa dengan hiposenter dangkal dapat menimbulkan guncangan yang lebih terasa apabila pusat gempanya berada relatif dekat dengan wilayah berpenduduk, meskipun dampaknya tetap dipengaruhi oleh magnitudo, jarak dari pusat gempa, kondisi tanah, serta karakteristik bangunan. Karena itu, jumlah gempa dangkal tidak secara otomatis menunjukkan tingkat kerusakan, tetapi menjadi informasi teknis yang penting untuk pemantauan dan analisis risiko.
Selain didominasi gempa dangkal, aktivitas tektonik pada September memiliki rentang kekuatan yang beragam. Magnitudo gempa tercatat mulai dari M1,6 hingga M5,7. Gempa bermagnitudo rendah umumnya lebih sering terdeteksi oleh jaringan seismograf dibandingkan dirasakan oleh masyarakat. Sebaliknya, kejadian dengan magnitudo lebih besar berpotensi menghasilkan getaran yang lebih kuat, terutama jika berlangsung pada kedalaman dangkal dan berdekatan dengan permukiman.
Perbedaan kedalaman dan magnitudo tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas gempa di Sulawesi Utara tidak berlangsung dalam satu karakteristik yang seragam. Sebanyak 333 kejadian dangkal menunjukkan konsentrasi aktivitas pada lapisan kerak bumi bagian atas, sementara kejadian lainnya berasal dari kedalaman yang lebih besar. Rentang magnitudo M1,6–M5,7 juga mencerminkan variasi energi yang dilepaskan selama proses tektonik. Data ini menjadi dasar bagi pemantauan berkelanjutan, pemutakhiran informasi kebencanaan, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi guncangan.
Dari keseluruhan 497 gempa tektonik yang tercatat di Sulawesi Utara selama September 2026, sebanyak tiga kejadian dilaporkan dirasakan oleh masyarakat. Data tersebut menunjukkan bahwa laporan mengenai gempa yang dirasakan hanya mencakup sebagian kecil dari seluruh aktivitas tektonik yang tercatat pada periode tersebut. Sementara itu, kejadian lainnya tercatat dalam pemantauan kegempaan, tetapi tidak disertai keterangan bahwa guncangannya dirasakan oleh masyarakat.
Gempa yang dirasakan itu dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah. Daerah yang tercantum dalam sumber meliputi Maba, Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Manado, Ternate, dan Batang Dua. Penyebutan wilayah tersebut menggambarkan lokasi masyarakat yang menerima atau melaporkan getaran dari tiga kejadian gempa dimaksud. Informasi ini disampaikan sebagai bagian dari catatan aktivitas kegempaan regional selama September 2026.
Rangkaian data tersebut menempatkan laporan gempa dirasakan setelah jumlah keseluruhan kejadian yang terpantau. Dengan demikian, informasi yang tersedia mencakup jumlah 497 gempa tektonik, tiga gempa yang dirasakan, serta daftar wilayah yang tercantum dalam laporan. Tidak terdapat keterangan tambahan mengenai tingkat kepanikan masyarakat, kerusakan bangunan, korban, maupun dampak lain akibat tiga gempa tersebut. Karena itu, catatan mengenai kejadian yang dirasakan terbatas pada laporan adanya getaran di Maba, Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Manado, Ternate, dan Batang Dua.
Peta seismisitas dan sebaran episenter menunjukkan bahwa gempa tektonik di Sulawesi Utara selama September 2026 tidak tersebar secara merata. Titik-titik episenter terlihat lebih banyak berkumpul di beberapa kawasan perairan, terutama Laut Maluku, Teluk Tomini, dan Laut Sulawesi. Pola tersebut menggambarkan konsentrasi aktivitas kegempaan di wilayah yang berada di sekitar jalur tektonik aktif, bukan hanya di daratan Sulawesi Utara. Sebaran pada peta juga membantu memperlihatkan kedekatan episenter dengan batas-batas struktur geologi yang memengaruhi kawasan tersebut.
Konsentrasi di Laut Maluku berkaitan dengan posisi wilayah ini yang berada di kawasan pertemuan lempeng dan memiliki zona subduksi di sekitarnya. Pergerakan lempeng yang saling berinteraksi dapat memicu pelepasan energi di dalam bumi, sehingga gempa tercatat pada sejumlah titik di wilayah laut tersebut. Hubungan serupa terlihat pada kawasan sekitar Maluku Utara, yang menjadi bagian dari lingkungan tektonik kompleks di sekitar Sulawesi Utara. Karena itu, aktivitas pada peta seismisitas tampak membentuk kelompok episenter di wilayah perairan yang berdekatan.
Selain Laut Maluku, episenter juga terkonsentrasi di Teluk Tomini dan Laut Sulawesi. Kedua wilayah tersebut termasuk kawasan yang dipengaruhi dinamika tektonik regional dan keberadaan zona subduksi di sekitar Sulawesi Utara serta Maluku Utara. Distribusi ini menunjukkan bahwa aktivitas gempa September memiliki keterkaitan dengan kondisi geologi kawasan pertemuan lempeng. Meski demikian, peta seismisitas hanya menggambarkan lokasi dan pola persebaran kejadian yang tercatat, sehingga pembacaan utamanya adalah mengenali wilayah konsentrasi aktivitas selama periode tersebut.
Berdasarkan data BMKG, sebanyak 497 gempa tektonik tercatat di Sulawesi Utara sepanjang September 2026. Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan Agustus 2026, ketika BMKG mencatat 515 kejadian. Perbandingan tersebut menunjukkan perubahan jumlah kejadian antarb ulan berdasarkan catatan pengamatan, tanpa menjadi dasar untuk memperkirakan aktivitas gempa pada periode berikutnya.

