Daisy Fajarina Adukan Manajemen Gedung dan Petugas Keamanan atas Dugaan Intimidasi

Daisy Fajarina Adukan Manajemen Gedung dan Petugas Keamanan atas Dugaan Intimidasi

Jakarta | Daisy Fajarina, ibunda Manohara Odelia Pinot, mengadukan pihak manajemen sebuah gedung dan sejumlah petugas keamanan ke Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Pengaduan tersebut berkaitan dengan dugaan tindakan tidak menyenangkan atau premanisme yang disebut dialami Daisy ketika berada di sebuah gedung di kawasan Kemang.

Dalam laporan itu, pihak yang diadukan mencakup seorang terduga dari unsur manajemen berinisial J, sejumlah unsur manajemen lainnya, serta beberapa petugas keamanan gedung. Daisy menilai tindakan yang diduga dilakukan oleh pihak-pihak tersebut telah menimbulkan rasa tidak nyaman dan intimidasi. Meski demikian, dugaan tersebut masih berada dalam proses penanganan dan perlu dibuktikan melalui pemeriksaan kepolisian.

Kuasa hukum Daisy, Erles Rareral, menyatakan bahwa pengaduan tersebut telah diterima oleh kepolisian. Menurut dia, penerimaan pengaduan menjadi tahap awal bagi aparat untuk menelusuri rangkaian peristiwa yang disampaikan kliennya, termasuk meminta keterangan dari pihak-pihak terkait serta mengumpulkan informasi pendukung.

Erles mengatakan pihak Daisy kini menunggu pemberitahuan mengenai perkembangan perkara dari kepolisian. Berdasarkan informasi yang diterima, pembaruan terkait penanganan pengaduan itu kemungkinan disampaikan pada Jumat atau Senin berikutnya. Pihak Daisy berharap proses tersebut berjalan sesuai ketentuan dan memberikan kejelasan atas dugaan intimidasi yang dilaporkan.

Persoalan tersebut bermula ketika Daisy Fajarina hendak memenuhi pesanan dari salah satu pelanggan tetapnya. Pesanan itu berupa 15 boks air mineral yang perlu diambil dan dibawa keluar dari gedung. Bagi Daisy, pengambilan barang tersebut merupakan bagian dari kegiatan usaha yang masih dapat dijalankan di tengah kondisi restorannya yang sedang tidak beroperasi. Ia menyampaikan bahwa permintaan pelanggan itu tetap perlu dilayani sebagai bentuk upaya menjaga hubungan dengan pelanggan tetap.

Menurut keterangan Daisy, manajemen baru gedung tidak mengizinkan air mineral tersebut dibawa keluar. Daisy kemudian berupaya meminta izin kepada pihak manajemen agar pesanan itu dapat diambil. Dalam permohonan tersebut, ia menerangkan keadaan usaha restorannya yang hampir sebulan tidak beroperasi sejak 2 Oktober. Situasi itu berkaitan dengan kondisi pembongkaran gedung, yang membuat kegiatan restoran tidak dapat berjalan seperti biasa.

Di tengah keadaan tersebut, penjualan air mineral disebut masih menjadi salah satu sumber pemasukan yang dapat diandalkan oleh Daisy. Karena itu, pesanan sebanyak 15 boks tersebut bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan permintaan pelanggan, tetapi juga menjadi bagian dari usaha mempertahankan pemasukan ketika operasional restoran terhenti. Daisy telah menjelaskan situasi usahanya dan alasan ia perlu mengambil barang itu. Namun, menurut keterangannya, penolakan dari pihak manajemen tetap berlanjut. Izin untuk membawa keluar air mineral yang dipesan tersebut tidak diberikan meskipun Daisy telah menyampaikan kondisi usaha dan pentingnya pesanan itu bagi keberlangsungan pemasukan serta hubungan dengan pelanggan tetap.

Eskalasi kejadian, menurut keterangan Daisy Fajarina, bermula ketika ia berupaya membawa sendiri satu kardus air mineral berisi 24 botol untuk memenuhi pesanan. Daisy menyebut langkah tersebut dilakukan setelah terdapat kebutuhan untuk mengeluarkan barang dari gedung. Namun, ketika hendak melewati akses keluar, ia mengaku mendapati pintu tersebut telah ditutup. Kondisi itu disebut membuat proses pengambilan dan pengiriman barang menjadi terhambat.

Daisy kemudian menyatakan bahwa dirinya didorong oleh seorang petugas keamanan. Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dari laporan yang disampaikannya terkait dugaan intimidasi di lingkungan gedung. Ia mengaku perlakuan itu membuat situasi yang semula berkaitan dengan pengambilan barang berkembang menjadi persoalan yang lebih serius, terutama karena melibatkan tindakan fisik yang menurutnya tidak semestinya terjadi.

Dalam uraian Daisy, penutupan akses keluar dan dugaan dorongan tersebut membuatnya merasa tidak leluasa untuk membawa barang pesanannya. Ia menggambarkan keadaan itu seolah-olah barang yang hendak dikirim tertahan di dalam gedung. Perasaan tersebut, menurut pengakuannya, semakin kuat karena ia harus berhadapan dengan petugas keamanan ketika berusaha menyelesaikan keperluan tersebut. Uraian ini merupakan versi Daisy mengenai peristiwa yang dialaminya dan masih menjadi bagian dari dugaan yang perlu diuji melalui proses hukum.

Daisy dan kuasa hukumnya menilai rangkaian kejadian itu tidak dapat dipandang semata-mata sebagai perselisihan mengenai akses keluar atau prosedur pengeluaran barang. Dugaan penutupan pintu serta pengakuan mengenai tindakan mendorong dinilai memiliki dampak terhadap rasa aman dan kebebasan Daisy dalam menjalankan aktivitasnya. Atas pertimbangan tersebut, keduanya memutuskan membawa persoalan ini ke jalur hukum agar keterangan para pihak, rekaman atau bukti yang tersedia, serta tanggung jawab pihak terkait dapat diperiksa secara resmi. Langkah itu juga dimaksudkan untuk memperoleh kejelasan mengenai apa yang terjadi dan memastikan dugaan perlakuan intimidatif tersebut ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.

Setelah insiden tersebut, Erles Rareral menyatakan bahwa pihaknya telah mengambil langkah lanjutan dengan mengadukan J, sejumlah rekan dari manajemen gedung, serta beberapa petugas keamanan yang diduga terlibat dalam kejadian itu. Pengaduan tersebut disampaikan kepada kepolisian untuk meminta penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut berdasarkan keterangan pihak Daisy Fajarina. Erles menegaskan, laporan itu tidak hanya ditujukan kepada satu orang, karena pihaknya menduga terdapat beberapa pihak yang berada di lokasi dan mengetahui rangkaian peristiwa ketika insiden berlangsung.

Untuk mendukung pengaduan tersebut, pihak Daisy menyerahkan sejumlah materi kepada kepolisian. Di antaranya adalah foto anggota keamanan yang diduga berada di tempat kejadian serta video yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Bahan-bahan itu diharapkan dapat membantu memberikan gambaran mengenai situasi yang terjadi, termasuk pihak-pihak yang diduga terlibat. Meski demikian, keterangan mengenai materi tersebut tetap menjadi bagian dari pengaduan dan penjelasan dari pihak Daisy serta kuasa hukumnya. Penilaian lebih lanjut mengenai bukti dan peristiwa diserahkan kepada proses pemeriksaan oleh aparat berwenang.

Daisy mengaku terkejut karena persoalan yang semula berkaitan dengan pengambilan pesanan air mineral berkembang menjadi kejadian yang membuatnya merasa seperti mengalami penyanderaan. Ia mengaku tidak menyangka urusan tersebut dapat berujung pada perlakuan yang menurutnya menimbulkan tekanan dan rasa tidak aman. Daisy juga menyampaikan bahwa usaha yang dirintisnya baru berjalan sekitar lima bulan ketika insiden itu terjadi. Pada saat yang sama, operasional bisnis tersebut sedang menghadapi berbagai kesulitan. Karena itu, kejadian tersebut disebut memberikan dampak emosional tersendiri bagi Daisy, selain menambah beban dalam menjalankan usaha yang masih berada pada tahap awal.

Baca juga: Penembakan Petugas Bapang Jadi Tamparan Keras bagi Jaminan Keamanan di Papua | TNI-Polri Gelar Patroli Terpadu, Jaga Keamanan dan Kondusivitas Jakarta | Jaga Keamanan Wilayah Binaan, Babinsa Bhuana Jaya Lakukan Patroli Dan Sambangi Pos Ronda