Batam | Sejumlah warga Perumahan Pinang Mas, Jalan Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, kembali menghadapi pemadaman listrik pada Selasa malam, 13 Oktober. Padamnya aliran listrik tersebut terjadi setelah jaringan listrik Batam–Pulau Bintan mengalami pemadaman total atau blackout sejak Senin, 12 Oktober. Kondisi ini membuat aktivitas warga di kawasan permukiman kembali terganggu pada malam hari.
Ketika listrik terputus, sejumlah rumah tampak mengandalkan lilin dan pelita untuk menerangi ruangan. Cahaya yang terbatas membuat warga harus menyesuaikan berbagai kegiatan di rumah, termasuk beristirahat dan menjalankan pekerjaan sederhana. Situasi tersebut juga menambah ketidaknyamanan karena pemadaman kembali terjadi setelah sebelumnya warga mengalami gangguan serupa akibat blackout pada jaringan Batam–Pulau Bintan.
Warga menuturkan, aliran listrik sempat menyala sebentar sebelum kembali padam. Nyala listrik yang hanya berlangsung singkat itu membuat warga menduga kondisi belum benar-benar pulih, meski mereka sempat berharap dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Pemadaman berulang pada Selasa malam pun menjadi perhatian bagi warga Perumahan Pinang Mas, terutama karena gangguan berlangsung setelah pemadaman total yang terjadi sehari sebelumnya. Di tengah suasana gelap, lilin dan pelita menjadi sumber penerangan utama di sejumlah rumah. Warga hanya dapat menunggu hingga aliran listrik kembali menyala, sambil membatasi kegiatan yang membutuhkan penerangan atau pasokan listrik.
Erni, warga Pinang Mas, Tanjungpinang, mengatakan listrik di rumahnya telah padam sejak Senin pagi. Aliran listrik sempat kembali menyala, tetapi hanya sebentar sebelum kembali mati pada Selasa malam. Kondisi tersebut membuat kegiatan sehari-hari di rumah terganggu, terutama aktivitas yang membutuhkan penerangan dan penggunaan peralatan elektronik.
Menurut Erni, pemadaman yang berulang membuat warga tidak dapat memastikan kapan listrik akan kembali normal. Situasi mati dan menyala dalam waktu yang tidak menentu juga menambah kekhawatiran, karena perubahan aliran listrik itu dinilai dapat merusak barang-barang elektronik di rumah. Warga, menurutnya, harus lebih berhati-hati ketika listrik kembali menyala setelah sebelumnya padam.
Selain risiko kerusakan peralatan, Erni mencemaskan kemungkinan terjadinya korsleting. Ia khawatir gangguan listrik yang berulang dapat menimbulkan masalah pada instalasi atau perangkat yang masih tersambung, sehingga berpotensi memicu kebakaran. Kekhawatiran tersebut membuat pemadaman tidak hanya dipandang sebagai gangguan terhadap kenyamanan, tetapi juga sebagai persoalan keselamatan di lingkungan tempat tinggalnya.
Erni mengingat kejadian pemadaman total pada 2006. Saat itu, sejumlah barang elektronik di rumah warga mengalami kerusakan karena listrik mati dan menyala secara bergantian. Pengalaman tersebut menjadi alasan ia semakin cemas ketika menghadapi kondisi serupa sekarang. Ia berharap aliran listrik tidak terus mengalami pemadaman berulang, sehingga aktivitas warga dapat kembali berjalan dan peralatan elektronik di rumah tidak kembali terdampak.
Pemadaman listrik total di Pulau Bintan berdampak langsung pada aktivitas Erlina yang sehari-hari membuat kue untuk dijual ke warung-warung. Selama hampir tiga hari, ia tidak dapat berjualan karena proses produksi terhenti. Pembuatan kue membutuhkan listrik untuk menjalankan sejumlah peralatan rumah tangga, sementara kondisi tanpa aliran listrik membuat pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan seperti biasa. Bagi Erlina, kegiatan berjualan bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Pendapatan dari penjualan kue juga membantu menopang pemasukan keluarga, terutama karena suaminya bekerja sebagai buruh bangunan. Ketika listrik padam dalam waktu lama, Erlina kehilangan kesempatan untuk membuat dan memasok kue ke warung-warung. Gangguan itu membuat rutinitas ekonomi rumah tangga ikut tersendat. Ia tidak hanya menghadapi kesulitan dalam menjalankan usaha, tetapi juga harus menyesuaikan kebutuhan sehari-hari dengan keadaan pemadaman yang berlangsung di tengah aktivitas warga Pulau Bintan.
Masalah lain muncul karena mesin pompa air tidak dapat berfungsi tanpa listrik. Akibatnya, ketersediaan air bersih ikut terganggu. Ketiadaan air menyulitkan Erlina membersihkan peralatan, menyiapkan bahan, dan menjaga kebersihan selama proses produksi kue. Pada saat yang sama, rumah yang gelap membuat pekerjaan menjadi semakin terbatas, khususnya ketika ia perlu menyiapkan adonan atau menyelesaikan tahapan produksi. Kendala pompa air, tidak tersedianya air bersih, dan padamnya lampu saling memperburuk keadaan. Ketiga persoalan tersebut membuat Erlina hampir tiga hari tidak mampu memproduksi maupun menjual kue, sekaligus menunjukkan bagaimana pemadaman listrik memengaruhi penghasilan dan kebutuhan dasar warga.
Erni berharap pasokan listrik di Pulau Bintan dapat kembali normal sehingga warga bisa menjalankan kegiatan sehari-hari tanpa harus terus menyesuaikan diri dengan pemadaman bergilir. Bagi masyarakat, listrik bukan hanya diperlukan untuk penerangan rumah, tetapi juga mendukung pekerjaan, komunikasi, penyimpanan makanan, serta berbagai kebutuhan keluarga. Kondisi yang lebih stabil akan membantu warga kembali menjalankan rutinitas secara tenang dan teratur.
Harapan serupa disampaikan Erlina. Ia menginginkan gangguan listrik tidak berlangsung berulang dan segera mendapat penanganan apabila terjadi kerusakan. Menurut harapan warga, setiap masalah pada pasokan listrik perlu ditindaklanjuti dengan cepat agar dampaknya tidak semakin meluas, terutama bagi keluarga yang mengandalkan listrik untuk bekerja dari rumah atau mengelola usaha rumahan.
Warga setempat juga berharap keadaan dapat kembali seperti sebelumnya, ketika pasokan listrik tersedia secara normal dan kegiatan rumah tangga maupun usaha kecil dapat berlangsung tanpa gangguan. Pemadaman yang terjadi membuat masyarakat harus mengatur ulang pekerjaan, penggunaan peralatan, dan aktivitas harian. Karena itu, kestabilan listrik dipandang penting untuk menjaga kelancaran kehidupan warga di berbagai wilayah Pulau Bintan.
Erni, Erlina, dan warga lainnya sama-sama berharap setiap gangguan atau kerusakan dapat segera diatasi, sehingga pasokan listrik kembali normal dan tidak lagi menghambat aktivitas masyarakat. Mereka menantikan kondisi yang lebih stabil agar kebutuhan rumah tangga, pekerjaan, serta usaha rumahan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Baca juga: Pemadaman dan Pembasahan Lahan Gambut Diperkuat, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Berjibaku di Tengah Asap Tekan Dampak Karhutla di Kalsel | Komandan Lanud Sjamsudin Noor Pimpin Langsung Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Selatan
