Jakarta | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan investor pasar modal agar membangun ketahanan dalam menghadapi dinamika investasi, termasuk ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berfluktuasi dan kapitalisasi pasar mengalami penyusutan. Ketahanan tersebut diperlukan agar investor tidak mengambil keputusan secara tergesa-gesa hanya karena menghadapi tekanan jangka pendek. Pesan ini menekankan pentingnya kesiapan mental dan pemahaman terhadap risiko sebagai bagian dari proses berinvestasi.
Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno, menyampaikan bahwa investor yang tangguh tidak dapat diukur dari ketiadaan kerugian. Dalam investasi, kerugian merupakan salah satu kemungkinan yang harus dipahami sejak awal, sehingga pengalaman tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk mengabaikan prinsip kehati-hatian. “Investor yang tangguh bukan berarti investor yang tidak pernah mengalami kerugian,” ujar Edi.
Menurut pesan tersebut, ketangguhan tercermin dari kemampuan investor untuk tetap tenang, menilai kembali keputusan berdasarkan informasi yang tersedia, serta mempertahankan disiplin dalam menjalankan strategi investasi. Investor juga perlu memahami bahwa pergerakan pasar dapat berubah dan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Dengan demikian, menghadapi kerugian secara rasional menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan investasi, bukan sekadar mengejar hasil dalam waktu singkat.
Pernyataan itu disampaikan Edi dalam acara Ring the Bell for Financial Literacy 2026 yang berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 14 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menekankan pentingnya sikap tangguh ketika berinvestasi. “Yang penting adalah bagaimana kita tetap tangguh dalam berinvestasi,” katanya. Pesan OJK ini menjadi pengingat bahwa ketahanan investor dibangun melalui pemahaman risiko, pengelolaan emosi, dan konsistensi dalam mengambil keputusan.
Edi menjelaskan bahwa harga saham di pasar modal tidak bergerak dalam satu arah secara terus-menerus. Nilainya dapat naik atau turun mengikuti perubahan kondisi ekonomi, kinerja perusahaan, serta sentimen yang berkembang di pelaku pasar. Ketika prospek ekonomi dinilai membaik, minat terhadap saham dapat meningkat dan mendorong harga ke tingkat yang lebih tinggi. Sebaliknya, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi atau perubahan sentimen dapat memicu penurunan harga. Fluktuasi tersebut merupakan bagian dari dinamika pasar yang perlu dipahami investor.
Dalam menghadapi pergerakan harga, pengetahuan mengenai investasi saja belum memadai. Investor juga perlu memiliki kemampuan untuk mengelola emosi dan menyadari risiko yang melekat pada setiap keputusan di pasar modal. Perubahan harga yang cepat dapat memengaruhi rasa takut, cemas, atau terlalu percaya diri. Apabila emosi lebih dominan daripada pertimbangan yang rasional, keputusan yang diambil berpotensi tidak sesuai dengan kondisi dan tujuan investasi. Karena itu, pemahaman terhadap risiko perlu berjalan bersama dengan kesiapan mental untuk menghadapi kemungkinan naik maupun turunnya harga.
OJK mengingatkan agar investor tidak terburu-buru membeli saham hanya karena melihat orang lain memperoleh keuntungan. Keuntungan yang dialami pihak lain tidak otomatis menunjukkan bahwa keputusan yang sama akan menghasilkan hasil serupa bagi setiap investor. Kondisi pasar, waktu pembelian, serta tingkat risiko yang dihadapi dapat berbeda. Mengikuti keputusan orang lain tanpa pertimbangan yang matang dapat membuat investor bertindak berdasarkan dorongan sesaat, bukan penilaian yang rasional.
OJK juga menekankan bahwa investor tidak semestinya mengambil keputusan secara panik ketika pasar mengalami penurunan. Penurunan harga dapat menimbulkan kekhawatiran, tetapi respons yang terburu-buru berisiko memperbesar dampak keputusan yang tidak dipertimbangkan dengan baik. Investor perlu menyadari bahwa pergerakan naik dan turun merupakan karakter pasar modal, sehingga pengendalian emosi menjadi bagian penting dalam menyikapi perubahan harga saham dan risiko investasi.
Menurut Edi, investor yang tangguh bukanlah investor yang mengabaikan gejolak pasar, melainkan mereka yang memahami risiko dari setiap keputusan investasi. Pemahaman tersebut membantu investor melihat bahwa perubahan harga dan kondisi pasar merupakan bagian yang melekat pada aktivitas investasi. Dengan mengenali risiko secara sadar, investor tidak mudah bereaksi secara berlebihan ketika IHSG berfluktuasi atau ketika kapitalisasi pasar mengalami penyusutan.
Selain memahami risiko, investor tangguh perlu menjaga disiplin. Disiplin berarti tetap berpegang pada tujuan dan pertimbangan yang telah ditetapkan, bukan mengambil keputusan berdasarkan kepanikan atau dorongan sesaat. Edi juga menekankan pentingnya mengambil keputusan secara rasional. Sikap rasional memungkinkan investor menilai keadaan dengan tenang serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum menentukan langkah. Keberanian untuk berinvestasi, karena itu, perlu berjalan bersama kesiapan menghadapi risiko yang melekat pada investasi.
OJK menyebut beberapa hal yang dapat membantu membangun ketahanan investasi. Langkah pertama adalah menetapkan tujuan investasi yang jelas. Tujuan tersebut menjadi dasar bagi investor dalam memahami alasan dan arah investasinya. Selanjutnya, investor perlu menyiapkan dana darurat agar kebutuhan yang bersifat mendesak tidak mengganggu keputusan investasi yang sedang dijalankan.
Ketahanan juga dapat dibangun melalui diversifikasi, yaitu tidak menempatkan seluruh investasi pada satu pilihan. Diversifikasi menjadi salah satu cara yang disebutkan OJK dalam menghadapi berbagai kemungkinan di pasar. Di samping itu, investasi perlu dilakukan sesuai kemampuan dan profil risiko masing-masing investor. Setiap orang memiliki kondisi keuangan, tujuan, serta tingkat kesiapan menghadapi risiko yang berbeda. Oleh sebab itu, keputusan investasi perlu disesuaikan dengan keadaan pribadi, bukan semata-mata mengikuti pergerakan pasar atau keputusan investor lain. Dengan pendekatan tersebut, investor dapat menghadapi dinamika pasar secara lebih terukur dan tetap mempertahankan rasionalitas dalam mengambil keputusan.
Pergerakan pasar modal domestik menjadi konteks penting bagi pesan OJK kepada investor ketika IHSG mengalami fluktuasi dan nilai kapitalisasi pasar menyusut. Secara year to date, IHSG telah turun 31,27 persen. Di tengah perubahan tersebut, indeks sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa, yaitu 9.174,47 pada Januari. Angka itu mencerminkan posisi puncak IHSG dalam periode berjalan sebelum indeks kembali bergerak naik turun.
Pada saat yang sama, kapitalisasi pasar saat ini tercatat sebesar Rp10.452 triliun. Nilai tersebut menggambarkan total nilai pasar saham yang tercatat pada posisi terkini, sekaligus menjadi salah satu indikator untuk melihat perubahan skala pasar modal dibandingkan dengan capaian sebelumnya. Perubahan kapitalisasi pasar berlangsung seiring dengan pergerakan harga saham dan dinamika perdagangan di bursa.
Perbandingan dengan pencapaian tertinggi pada 2025 menunjukkan perbedaan yang cukup besar. Pada 8 Desember 2025, IHSG berada di level 8.710,70, sedangkan kapitalisasi pasar mencapai Rp16.000 triliun pada tanggal yang sama. Data tersebut menjadi titik pembanding untuk melihat posisi pasar saat ini, baik dari sisi indeks maupun nilai keseluruhan saham yang tercatat.
Dibandingkan dengan posisi tertinggi pada 8 Desember 2025, kapitalisasi pasar telah berkurang Rp5.548 triliun. Penurunan itu setara dengan 34,68 persen, sehingga kapitalisasi pasar berada pada level Rp10.452 triliun. Dengan demikian, data pergerakan IHSG dan perubahan kapitalisasi pasar tersebut menjadi latar angka bagi pesan OJK mengenai kondisi pasar modal dan perkembangan investasi.
