Transformasi RSPP Disiapkan sebagai Model Pembenahan Layanan Rumah Sakit BUMN

Transformasi RSPP Disiapkan sebagai Model Pembenahan Layanan Rumah Sakit BUMN

Jakarta | BP BUMN dan BPI Danantara mendorong Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) menjadi proyek percontohan pembenahan layanan rumah sakit milik negara. Inisiatif ini menempatkan transformasi RSPP sebagai langkah awal untuk memperkuat mutu pelayanan kesehatan sekaligus merapikan standar operasional di jaringan Indonesia Healthcare Corporation (IHC). Dalam arah tersebut, perubahan tidak dimaksudkan sebagai pembaruan terbatas pada satu fasilitas, melainkan sebagai model yang dapat menjadi rujukan bagi rumah sakit lain yang berada di bawah pengelolaan IHC. Dengan demikian, pengalaman dan hasil pembenahan di RSPP diharapkan memberi dasar bagi pelaksanaan peningkatan layanan secara lebih luas, dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kondisi setiap rumah sakit.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa transformasi RSPP merupakan tahap awal sebelum perubahan diterapkan pada 38 rumah sakit lain yang dikelola IHC. Pernyataan itu menegaskan sasaran program tidak berhenti pada pembenahan satu rumah sakit, tetapi diarahkan pada penguatan keseluruhan portofolio layanan kesehatan BUMN. Penerapan bertahap dapat membuka ruang untuk menilai proses, mengidentifikasi praktik yang efektif, lalu menyesuaikan penerapannya di berbagai lokasi. Dengan jaringan yang tersebar dan beragam, pendekatan berbasis proyek percontohan juga penting agar perubahan memiliki acuan yang jelas, bukan sekadar instruksi umum. RSPP karena itu diposisikan sebagai titik mula bagi upaya membangun standar layanan yang konsisten, sambil memberi kesempatan kepada IHC untuk mengembangkan perbaikan yang sesuai dengan karakter masing-masing fasilitas.

Dony juga mengarahkan agar RSPP dikembangkan sebagai “Indonesia Hospital”, yakni rumah sakit unggulan dan kebanggaan nasional. Arahan ini membawa target transformasi melampaui pembaruan manajemen internal: RSPP diharapkan mencerminkan layanan kesehatan berkualitas dan mampu menjadi tolok ukur bagi rumah sakit lain. Sebutan tersebut menjadi visi pengembangan, bukan sekadar perubahan nama, sehingga pembenahan perlu diterjemahkan ke dalam mutu pelayanan, pengalaman pasien, serta tata kelola yang kuat. Saat bertemu jajaran direksi IHC di Wisma Danantara pada Kamis, 15 Oktober 2026, Dony menyampaikan dorongan itu sebagai bagian dari agenda peningkatan layanan kesehatan di bawah perusahaan. Pertemuan tersebut menggarisbawahi peran IHC untuk menyiapkan langkah lanjutan setelah proyek percontohan berjalan, sehingga transformasi RSPP dapat menjadi pijakan bagi perubahan di 38 rumah sakit lainnya.

Transformasi RSPP dirancang mencakup pembenahan yang tidak terbatas pada satu aspek layanan. Rencana perubahan diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan medis, memperkuat dukungan fasilitas, serta memastikan tenaga profesional dapat memberikan pelayanan dengan baik. Cakupan tersebut menempatkan kebutuhan pasien sebagai bagian penting dari pembaruan, bukan sekadar mengukur keberhasilan melalui perubahan internal rumah sakit. Dengan demikian, transformasi diharapkan membentuk layanan yang lebih terkoordinasi, responsif, dan sesuai dengan standar mutu yang dituju. Penguatan berbagai unsur ini juga menunjukkan bahwa pembenahan dilakukan secara menyeluruh, dengan keterkaitan kualitas klinis, kesiapan sarana, dan kompetensi sumber daya manusia.

Dalam aspek operasional, rencana pembenahan turut mencakup peningkatan kapasitas tempat tidur. Penyesuaian kapasitas ini disebut sebagai bagian dari upaya memperbaiki kemampuan rumah sakit dalam mengelola kebutuhan pelayanan. Bersamaan dengan itu, proses pelayanan akan diperbaiki agar alur kerja dan interaksi layanan dapat berlangsung lebih tertata. Perbaikan proses bukan hanya menyangkut efisiensi operasional, tetapi juga perlu mendukung mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Penguatan keselamatan pasien menjadi unsur penting dalam transformasi, karena setiap perubahan layanan perlu memberi perhatian pada perlindungan dan kualitas perawatan. Langkah operasional ini menjadi fondasi bagi penerapan pembaruan yang dapat dijalankan secara konsisten di berbagai titik pelayanan rumah sakit.

Selain perubahan dalam proses pelayanan, transformasi juga mencakup pengembangan layanan fisik dan digital. Kedua ranah tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki akses serta pengalaman pasien, tanpa mengabaikan peran tenaga profesional dan fasilitas yang mendukung pelayanan medis. Pengembangan layanan fisik berhubungan dengan pembenahan cara rumah sakit menghadirkan pelayanan, sementara unsur digital memperluas dukungan terhadap proses layanan. Arah pembaruan ini diharapkan membentuk pengalaman yang lebih mudah dipahami dan terhubung bagi pasien. Namun, keberhasilan transformasi tidak hanya ditentukan oleh hadirnya pembaruan, melainkan juga oleh konsistensi mutu pelaksanaan dan keterpaduan dengan keselamatan pasien. Dengan cakupan yang menyentuh mutu klinis, operasi, fasilitas, tenaga, serta pengalaman, RSPP dipersiapkan sebagai model pembenahan layanan rumah sakit BUMN.

IHC menyiapkan penambahan tenaga dokter spesialis sebagai bagian dari pembenahan layanan rumah sakit BUMN. Dalam dua tahun ke depan, perusahaan menargetkan hadirnya 40 dokter spesialis untuk memperkuat kapasitas pelayanan. Langkah tersebut diarahkan agar kebutuhan pasien terhadap layanan spesialistik dapat ditangani dengan lebih baik, sekaligus mendukung peningkatan mutu dan jangkauan layanan di jaringan rumah sakit. Untuk jangka yang lebih panjang, IHC juga merencanakan penambahan 70 dokter spesialis baru pada 2030.

Pencapaian sasaran itu memerlukan pembaruan sumber daya manusia secara lebih luas, bukan hanya pengadaan dokter spesialis. IHC berencana merekrut dokter, perawat, dan pekerja baru sesuai kebutuhan operasional serta perkembangan layanan. Komposisi tenaga yang memadai menjadi unsur penting agar rumah sakit dapat menjaga kesinambungan pelayanan, mengelola beban kerja, dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pasien. Karena itu, proses perekrutan perlu berjalan seiring dengan penataan kapasitas dan kebutuhan tiap unit.

Masuknya tenaga baru juga membuka kesempatan untuk memperkuat keterampilan dan cara kerja di lingkungan rumah sakit. Rekrutmen dapat menghadirkan keahlian yang dibutuhkan untuk mendukung perubahan layanan, sementara pembaruan tenaga kerja membantu organisasi menyesuaikan diri dengan tuntutan pasien dan perkembangan sektor kesehatan. Dengan demikian, penambahan personel tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi jumlah tenaga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun tim yang siap bekerja secara kolaboratif dan responsif.

Dony menilai kehadiran tenaga baru, termasuk tenaga muda, diperlukan untuk mendorong transformasi budaya kerja di rumah sakit. Perpaduan pengalaman pegawai yang telah lama bekerja dengan perspektif dan keterampilan baru diharapkan memperkuat keterbukaan terhadap pembaruan. Perubahan budaya tersebut perlu tercermin dalam cara berkomunikasi, bekerja sama, serta menempatkan kebutuhan pasien sebagai perhatian utama. Dengan dukungan tenaga yang cukup dan budaya kerja yang berkembang, rencana penambahan dokter dapat menjadi salah satu fondasi bagi transformasi layanan RSPP dan rumah sakit dalam jaringan IHC.

Rencana pengembangan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) disiapkan melalui investasi sebesar Rp581 miliar, dengan masa transformasi yang dirancang berlangsung selama 24 bulan. Anggaran tersebut menjadi bagian dari upaya pembenahan layanan rumah sakit agar RSPP mampu menjawab kebutuhan pasien secara lebih baik. Jangka waktu dua tahun itu memberi kerangka pelaksanaan bagi rangkaian pekerjaan yang perlu ditata secara terukur, sejak persiapan hingga penyelesaian. Dengan demikian, investasi dan jadwal bukan sekadar angka perencanaan, melainkan landasan untuk mengawal perubahan secara konsisten serta menjaga agar hasil pengembangan selaras dengan sasaran pelayanan yang ditetapkan.

Dalam pelaksanaannya, Dony meminta agar program tersebut dipercepat, sehingga seluruh proses dapat diselesaikan pada pertengahan 2028. Arahan percepatan itu menuntut koordinasi yang kuat pihak pengelola, tim proyek, dan mitra pelaksana, tanpa mengabaikan tahapan yang diperlukan untuk memastikan kualitas pekerjaan. Direksi IHC juga diminta melibatkan kontraktor profesional yang memiliki pengalaman dalam pembangunan dan renovasi rumah sakit. Keahlian khusus ini penting karena pekerjaan pada fasilitas kesehatan memiliki tuntutan tersendiri, baik dari sisi fungsi ruang maupun keberlanjutan operasional layanan.

Baca juga: Transformasi Berbuah Manis, BRI Catat Kinerja Solid di Triwulan II