Samarinda | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan menyelimuti Samarinda dan mulai mengubah keseharian warga. Informasi mengenai kondisi tersebut disampaikan pada Selasa, 13 Oktober 2026. Menurunnya kualitas udara membuat sejumlah warga membatasi aktivitas di luar rumah, terutama ketika kegiatan tersebut tidak dianggap mendesak. Ruang terbuka dan perjalanan harian yang biasanya dilakukan tanpa banyak pertimbangan kini memerlukan perhatian lebih.
Bagi warga Samarinda, kehadiran kabut asap tidak hanya terlihat dari perubahan suasana lingkungan, tetapi juga terasa dalam pengaturan aktivitas sehari-hari. Sebagian masyarakat memilih mengurangi waktu berada di luar rumah dan menunda kegiatan yang dapat dilakukan pada kesempatan lain. Mobilitas tetap berlangsung, namun dilakukan secara lebih terbatas karena udara yang dihirup terasa kurang nyaman. Kondisi ini membuat rutinitas warga berjalan berbeda dibandingkan biasanya.
Dampak tersebut turut dirasakan keluarga yang memiliki anak. Orang tua menjadi lebih berhati-hati dalam mengatur kegiatan anak di luar rumah, termasuk aktivitas bermain dan keperluan lain yang mengharuskan mereka berada di ruang terbuka. Kekhawatiran terhadap kesehatan membuat sebagian keluarga memilih menjaga anak tetap berada di dalam rumah selama kondisi udara belum membaik. Perubahan itu menunjukkan bahwa kabut asap telah memengaruhi bukan hanya kenyamanan, melainkan juga keputusan sederhana yang dibuat warga setiap hari.
Situasi di Samarinda menggambarkan dampak langsung kabut asap terhadap aktivitas masyarakat. Ketika kualitas udara menurun, kegiatan di luar rumah menjadi lebih terbatas dan perhatian warga tertuju pada kenyamanan serta kesehatan keluarga. Pada Selasa, 13 Oktober 2026, kabut asap menjadi bagian dari kondisi lingkungan yang memengaruhi rutinitas warga, khususnya keluarga dengan anak.
Hiero, warga Samarinda berusia 35 tahun, merasakan kabut asap karhutla mulai membatasi aktivitas hariannya. Kondisi udara yang dipenuhi asap membuatnya memilih mengurangi kegiatan di luar rumah dan lebih banyak menjalankan keperluan dari dalam rumah. Keputusan tersebut diambil karena ia menilai ruang terbuka tidak lagi nyaman untuk digunakan seperti biasanya, terutama ketika kabut asap terlihat menyelimuti lingkungan sekitar.
Perubahan itu turut memengaruhi rutinitas keluarga. Kegiatan yang sebelumnya dapat dilakukan dengan leluasa di luar rumah kini perlu dipertimbangkan kembali. Hiero berharap Pemerintah Kota Samarinda bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meningkatkan upaya pemadaman karhutla secara lebih intensif. Menurutnya, penanganan yang cepat dan berkelanjutan diperlukan agar asap tidak terus mengusik kehidupan warga serta membatasi ruang gerak masyarakat.
Kekhawatiran terbesar Hiero berkaitan dengan anaknya yang masih berusia tiga tahun. Sebagai orang tua, ia merasa perlu lebih berhati-hati terhadap paparan asap karhutla yang dapat mencapai lingkungan tempat tinggal. Usia anak yang masih sangat dini membuatnya semakin mencermati kondisi udara dan dampaknya terhadap keseharian keluarga. Ia tidak ingin anaknya terus berada dalam suasana yang diselimuti asap, terlebih ketika keadaan tersebut berlangsung berulang atau dalam waktu yang tidak singkat.
Kekhawatiran itu menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya menimbulkan persoalan lingkungan, tetapi juga memengaruhi keputusan keluarga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Bagi Hiero, berkurangnya kegiatan di luar rumah merupakan bentuk penyesuaian sementara, sementara harapannya tetap tertuju pada langkah pemerintah untuk mengendalikan sumber asap. Ia berharap pemadaman di wilayah terdampak dapat segera membaik sehingga warga Samarinda, termasuk anak-anak, dapat kembali menjalani aktivitas dengan rasa aman dan lebih tenang.
Rosa, warga Samarinda berusia 32 tahun yang bekerja di sektor jual beli alat berat, menyampaikan bahwa kabut asap karhutla turut memengaruhi lingkungan tempat kerjanya. Kondisi udara yang tampak berkabut membuat suasana di sekitar area kerja terasa berbeda dari biasanya. Bagi Rosa, perubahan tersebut bukan hanya berkaitan dengan jarak pandang, tetapi juga dengan kenyamanan ketika menjalankan aktivitas sehari-hari di tempat kerja.
Menurut keterangannya, keberadaan kabut asap ikut mengusik perhatian terhadap standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Lingkungan kerja yang dipengaruhi asap perlu dipandang dengan lebih cermat karena kualitas udara menjadi salah satu aspek yang berkaitan dengan kesehatan pekerja. Rosa menilai kondisi tersebut membuat pembahasan mengenai perlindungan dan kenyamanan kerja menjadi semakin relevan, terutama ketika aktivitas tetap berlangsung di tengah udara yang tidak ideal.
Pengaruh asap dirasakan sebagai bagian dari situasi lingkungan kerja yang harus diperhatikan. Pekerja di sektor jual beli alat berat beraktivitas dalam lingkungan yang dapat melibatkan area terbuka maupun ruang kerja yang terhubung dengan kondisi luar. Karena itu, kabut asap menjadi faktor lingkungan yang menurut Rosa berhubungan dengan penerapan perhatian terhadap K3, meskipun ia tidak menyebutkan adanya perubahan tertentu dalam kegiatan operasional.
Keterangan Rosa menggambarkan dampak kabut asap dari sudut pandang warga sekaligus pekerja. Pernyataannya menekankan bahwa persoalan asap tidak hanya dirasakan di ruang publik atau permukiman, tetapi juga dapat hadir di lingkungan pekerjaan. Namun, informasi tersebut tidak menyebutkan adanya kecelakaan, penghentian operasional, ataupun perubahan aturan kerja. Hal yang disampaikan Rosa terbatas pada pengaruh kabut asap terhadap lingkungan tempat kerja serta kekhawatiran mengenai standar keselamatan dan kesehatan kerja.
Di tengah kabut asap yang membatasi aktivitas warga Samarinda, persoalan lain turut muncul dalam keseharian masyarakat, yakni kesulitan memperoleh air bersih. Kebutuhan terhadap air tetap berlangsung untuk minum, memasak, membersihkan diri, serta menjalankan pekerjaan rumah tangga. Namun, warga menghadapi kendala ketika berupaya mendapatkan pasokan air yang dapat digunakan untuk kebutuhan tersebut.
Dalam informasi yang disampaikan, kondisi Sungai Mahakam juga disebut berkaitan dengan persoalan air yang dihadapi warga. Sungai tersebut menjadi bagian penting dari lingkungan Samarinda dan disebut dalam pemberitaan mengenai situasi masyarakat setempat. Keterangan itu dicantumkan tanpa menyimpulkan penyebab teknis tertentu ataupun mengukur tingkat gangguan yang terjadi pada sumber air tersebut.
Kesulitan mendapatkan air bersih menambah beban warga yang pada saat bersamaan harus menyesuaikan kegiatan mereka dengan kabut asap. Aktivitas di luar rumah telah dibatasi oleh keadaan udara yang kurang mendukung, sementara kebutuhan air bersih tetap harus dipenuhi. Warga pun perlu mencari cara untuk memperoleh air yang dapat dipakai sesuai keperluan sehari-hari, meskipun informasi mengenai sumber dan ketersediaannya masih menjadi perhatian.
Situasi ini menunjukkan bahwa gangguan yang dirasakan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan kabut asap dan perubahan aktivitas. Ketersediaan air bersih juga menjadi persoalan yang disebut bersamaan dengan kondisi Sungai Mahakam dalam pemberitaan tersebut. Dengan demikian, selain kabut asap yang semakin tebal, air bersih yang sulit diperoleh turut menjadi masalah bagi warga Samarinda.
Baca juga: Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla | Lindungi Kesehatan Warga dari Dampak Karhutla, Tim Penyuluh Sesko TNI Gencarkan Edukasi | Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla

