Jakarta | Setelah menunaikan ibadah haji dan kembali ke Tanah Air, Ashanty memutuskan untuk mengenakan hijab. Keputusan tersebut menandai perubahan penting dalam kesehariannya, termasuk cara ia memilih pakaian. Busana yang sebelumnya menjadi bagian dari koleksinya tidak semuanya lagi terasa sesuai dengan penampilan yang ingin ia jalani. Karena itu, perubahan ini tidak berhenti pada penggunaan penutup kepala, tetapi turut mendorongnya meninjau kembali isi lemari dan kebiasaan berpakaian.
Ashanty menyampaikan bahwa ia telah memberikan sekitar 50 persen koleksi bajunya kepada orang lain. Angka tersebut menunjukkan bahwa penyesuaian yang dilakukan cukup besar. Pakaian-pakaian yang dahulu dikumpulkan atau dikenakan kini sebagian tidak lagi ia perlukan. Dengan membagikannya, ia memberi ruang bagi pilihan busana yang lebih selaras dengan keputusan berhijab, sekaligus memungkinkan orang lain memanfaatkan pakaian tersebut.
Proses memilah dan melepas koleksi lama dapat menjadi bagian praktis dari perubahan nilai maupun prioritas pribadi. Dalam kasus Ashanty, langkah itu memperlihatkan bagaimana keputusan yang bersifat personal dapat memengaruhi hal-hal konkret dalam kehidupan sehari-hari. Ia perlu mempertimbangkan kembali pakaian mana yang masih sesuai, mana yang ingin dipertahankan, dan mana yang lebih baik diberikan kepada orang lain. Penyesuaian semacam ini membutuhkan tindakan nyata, bukan hanya perubahan penampilan di hadapan publik.
Karena itu, keputusan berhijab Ashanty dapat dipahami sebagai pilihan hidup yang membawa konsekuensi pada kebiasaan dan kepemilikan barang. Memberikan sebagian besar koleksi bajunya menggambarkan kesediaannya menata ulang aspek keseharian agar sejalan dengan arah yang dipilih. Perubahan tersebut tidak perlu dipandang semata-mata sebagai pergantian gaya berpakaian. Lebih dari itu, langkah ini mencerminkan proses menyesuaikan diri, menentukan kembali kebutuhan, serta menjalani pilihan baru secara konsisten setelah pulang dari Tanah Suci.
Setelah pulang selama dua bulan, Ashanty mulai membagikan sejumlah pakaian yang tidak lagi ingin ia simpan. Keputusan itu menjadi bagian dari penataan ulang isi lemari sekaligus penyesuaian terhadap perubahan gaya berpakaian setelah berhijab. Meski terlihat seperti kegiatan sederhana, proses memilih satu per satu busana ternyata tidak langsung terasa ringan. Ada kenangan dan pertimbangan pribadi yang membuatnya berhenti sejenak sebelum menentukan pakaian mana yang akan diberikan.
Keraguan tersebut berkaitan dengan masa sebelum berangkat haji. Saat itu, Ashanty sedang menikmati hasil rutinitas olahraga yang dijalani secara konsisten. Ia merasa tubuhnya berada dalam kondisi yang ideal, sehingga beberapa pakaian lama masih tampak menarik dan terasa cocok untuk dikenakan. Busana-busana itu bukan semata benda yang tersimpan di lemari; sebagian mengingatkannya pada periode ketika ia merasa percaya diri dengan penampilan dan hasil usahanya menjaga kebugaran.
Karena masih menyukai beberapa potong pakaian, Ashanty sempat mempertimbangkan kembali keputusannya untuk melepas semuanya. Ia menyadari bahwa pakaian tersebut masih bisa dikenakan, tetapi juga memahami bahwa kebutuhan dan pilihan berpakaian kini telah berubah. Menimbang kedua hal itu membuat proses memilah berlangsung dengan perasaan campur aduk. Ia perlu membedakan rasa sayang terhadap busana yang pernah disukai dan keputusan praktis tentang apa yang ingin terus disimpan untuk digunakan.
Ashanty mengungkapkan bahwa memberikan pakaian-pakaian tersebut membuatnya galau. Perasaan itu menunjukkan bahwa melepas barang yang memiliki nilai personal dapat memerlukan waktu, bahkan ketika pemiliknya sudah mengetahui arah perubahan yang ingin dijalani. Kegalauan tersebut bukan berarti ia menyesali keputusan untuk berhijab. Yang terasa berat adalah berpisah dengan pakaian yang pernah disukai, terutama ketika ia masih mengingat bagaimana busana itu terlihat saat bentuk tubuhnya sedang ia rasa ideal. Dengan memilah secara bertahap, ia dapat menjalani perubahan ini sambil memberi ruang bagi kenangan tanpa harus mempertahankan semua barang lama. Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa menata ulang lemari dapat menjadi proses emosional, bukan hanya soal merapikan barang. Ada kebiasaan, pencapaian, dan identitas pada suatu masa yang ikut teringat ketika seseorang memilih apa yang akan disimpan atau diberikan kepada orang lain. Bagi Ashanty, langkah itu berlangsung bersamaan dengan upaya menata prioritas hidup dan menyesuaikan isi lemari dengan kebutuhan saat ini.
Dalam perjalanannya mengenakan hijab dan melepas koleksi busana, Ashanty mengakui bahwa perubahan itu sempat terasa dapat dijalani dengan kuat. Pada satu hingga dua bulan pertama, ia merasa mampu melewati berbagai penyesuaian. Namun, setelah masa awal tersebut, muncul pergolakan batin yang besar. Pengakuan ini menunjukkan bahwa keputusan untuk berubah tidak selalu berlangsung tanpa keraguan, meskipun dari luar seseorang tampak mantap menjalani pilihannya.
Ashanty juga mengaitkan refleksi tersebut dengan usianya yang akan menginjak 43 tahun pada November. Bertambahnya usia membuatnya memikirkan kembali arah hidup dan hal-hal yang ingin diperbaiki. Ia menyampaikan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, sekaligus memberi contoh yang lebih baik bagi anak-anaknya. Bagi Ashanty, perubahan itu berkaitan dengan upaya menata diri dan prioritas, bukan sekadar penampilan yang terlihat oleh orang lain.
Dalam pandangannya, mengejar kecantikan, tubuh langsing, atau pencapaian duniawi dapat terasa seperti perjalanan yang tidak memiliki ujung. Setelah satu standar tercapai, selalu ada hal lain yang ingin dikejar. Kesadaran tersebut menjadi bagian dari refleksinya tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup. Ia melihat bahwa perhatian yang terus tertuju pada penampilan dan capaian lahiriah tidak selalu memberikan rasa cukup.
Pergolakan yang dialami Ashanty memperlihatkan bahwa proses memperbaiki diri dapat berjalan beriringan dengan perasaan yang tidak sederhana. Ia bisa merasa kuat pada awal perubahan, lalu kemudian menghadapi gejolak batin yang mendalam. Di tengah proses itu, keinginan untuk menjadi lebih baik dan memberi teladan kepada anak-anak menjadi hal yang ia ungkapkan sebagai pertimbangan. Refleksi tentang usia, kecantikan, tubuh, dan pencapaian duniawi pun membantunya menilai kembali prioritas hidup. Kisah ini menggambarkan proses personal yang ia jalani, tanpa menghapus tantangan emosional yang muncul sesudah keputusan dibuat. Perubahan, dalam pengalamannya, menuntut keteguhan sekaligus ruang untuk memahami perasaan sendiri saat menjalani pilihan tersebut.
Perubahan dalam perjalanan berhijab turut terasa dalam keseharian Ashanty, termasuk ketika ia mempertimbangkan berbagai undangan dan kegiatan. Jika sebelumnya ia lebih bersemangat menghadiri banyak acara, kini ia mengaku lebih selektif dalam menentukan mana yang akan didatangi. Keputusan itu menjadi bagian dari upayanya menata prioritas hidup dan memberi ruang bagi proses perubahan yang sedang dijalani. Ia tidak ingin setiap undangan diterima begitu saja, melainkan mempertimbangkan keadaan dan kenyamanan dirinya terlebih dahulu. Sikap tersebut bukan berarti ia menutup diri dari lingkungan, tetapi mencerminkan pilihan untuk menjalani hari-hari dengan lebih terukur. Perubahan ritme ini juga mengingatkan bahwa proses berhijrah dapat membawa penyesuaian dalam kebiasaan, termasuk cara membagi waktu dan menentukan kegiatan yang dirasa sesuai.
Di tengah perhatian publik terhadap keputusannya, Ashanty memilih untuk tidak menanggapi beragam komentar tentang dirinya. Ada berbagai pendapat yang muncul, tetapi ia tidak merasa perlu menjawab semuanya. Baginya, proses ini ingin dijalani dengan tenang, tanpa menjadikan komentar orang lain sebagai pusat perhatian. Ia berusaha menjaga fokus pada langkah yang sedang ditempuh, sembari menerima bahwa perubahan pribadi dapat mengundang beragam tanggapan. Pilihannya untuk tidak merespons setiap suara bukanlah pernyataan tentang benar atau salahnya komentar tersebut, melainkan cara yang ia pilih agar perjalanan ini tetap terasa lebih pribadi.







