Jakarta | Dalam kebiasaan hidup warga Finlandia, kebahagiaan tidak selalu perlu diumumkan atau dijadikan bahan perbandingan. Pepatah Finlandia “kell' onni on, se onnen kätkeköön” dapat dimaknai sebagai ajakan agar orang yang beruntung menyimpan kebahagiaannya, alih-alih memamerkannya kepada orang lain. Pesan ini bukan larangan untuk merasa senang atau berbagi kabar baik. Intinya, kebahagiaan pribadi tidak harus dibuktikan melalui pengakuan publik, dan kehidupan seseorang tidak perlu terus-menerus diukur dengan pencapaian orang lain. Sikap tersebut memberi ruang bagi setiap orang untuk menikmati hal-hal bermakna tanpa tekanan untuk terlihat lebih berhasil, kaya, atau bahagia daripada siapa pun di sekitarnya.
Filsuf dan ahli psikologi asal Finlandia, Frank Martela, mengaitkan prinsip ini dengan kebiasaan hidup sederhana dan kecenderungan untuk tidak memamerkan kekayaan. Dalam pandangan tersebut, kesejahteraan tidak semata-mata bergantung pada benda mahal atau penampilan sukses yang terlihat oleh orang lain. Menjalani hidup secukupnya dapat membantu seseorang mengurangi dorongan untuk terus mengejar simbol status, terutama jika dorongan itu berasal dari perbandingan sosial. Bukan berarti warga Finlandia selalu menghindari kenyamanan atau tidak menghargai pencapaian. Gagasan utamanya adalah menjaga hubungan yang lebih seimbang dengan materi, sekaligus memberi perhatian pada pengalaman, relasi, dan rutinitas yang sungguh berarti bagi diri sendiri.
Prinsip ini dapat menjadi titik awal untuk menata perjalanan menuju kebahagiaan. Seseorang bisa menetapkan standar hidupnya sendiri, lalu bertanya dengan jujur hal apa yang benar-benar membuatnya merasa puas dan tenang. Jawabannya mungkin berbeda-beda: waktu bersama keluarga, pekerjaan yang bermakna, kedekatan dengan alam, atau kehidupan yang lebih sederhana. Dengan ukuran pribadi tersebut, kesuksesan orang lain tidak perlu menjadi tolok ukur bagi pilihan hidup sendiri. Finlandia konsisten menempati posisi pertama dalam World Happiness Report selama enam tahun berturut-turut. Pencapaian itu mencerminkan banyak faktor, bukan bukti bahwa satu kebiasaan tertentu menjadi penyebab tunggal kebahagiaan. Sikap tidak membandingkan diri dapat menjadi salah satu lensa untuk memahami pendekatan tersebut, tanpa menyederhanakan kehidupan masyarakat yang beragam.
Bagi banyak warga Finlandia, alam bukan sekadar latar pemandangan, melainkan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Hutan, danau, serta ruang terbuka menyediakan tempat untuk menjauh sejenak dari tuntutan pekerjaan dan rutinitas. Kedekatan dengan alam juga memberi kesempatan untuk bergerak, bernapas lebih lega, dan memulihkan perhatian. Hubungan ini tercermin dalam survei Sitra pada 2021: sebanyak 87 persen warga Finlandia menilai alam berperan penting dalam kehidupan mereka karena menghadirkan ketenangan pikiran, energi, dan relaksasi.
Waktu untuk menikmati alam turut didukung kebiasaan berlibur yang cukup panjang. Pekerja di Finlandia berhak memperoleh libur musim panas selama empat minggu, atau sekitar satu bulan penuh. Banyak orang memanfaatkan masa tersebut untuk pergi ke pedesaan, tinggal di pondok musim panas, dan menikmati danau maupun hutan. Jeda ini memberi ruang untuk memperlambat ritme hidup, berkumpul dengan keluarga, serta mengisi hari tanpa jadwal yang padat. Bagi sebagian warga, menghabiskan waktu jauh dari kota merupakan cara sederhana untuk kembali merasa segar.
Menariknya, liburan yang dianggap berkualitas tidak selalu bergantung pada kemewahan atau fasilitas modern. Sebuah pondok sederhana dengan kenyamanan terbatas dapat menjadi pilihan yang disengaja; bahkan ketiadaan listrik atau air bersih terkadang membuat pengalaman terasa lebih dekat dengan alam. Kondisi tersebut mendorong orang untuk menyesuaikan diri, menggunakan sumber daya dengan bijak, dan memberi perhatian pada kegiatan dasar. Tentu, kenyamanan dan keselamatan tetap perlu dipertimbangkan, tetapi kesederhanaan dapat mengurangi gangguan dan membantu seseorang benar-benar beristirahat.
Waktu di alam terbuka juga dipandang mendukung ketahanan hidup, kesejahteraan, dan pengembangan diri. Menghadapi cuaca, berjalan di jalur hutan, atau menjalani rutinitas sederhana di pedesaan dapat menumbuhkan kemandirian serta kesabaran. Pada saat yang sama, suasana alam memberi ruang untuk merenung dan mengenali kebutuhan diri. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu dicari melalui hiburan atau pencapaian besar. Bagi masyarakat Finlandia, kedekatan dengan alam dapat menjadi sumber pemulihan yang teratur, sekaligus cara praktis menjaga keseimbangan dalam kehidupan modern.
Kejujuran dan rasa saling percaya bukan hanya nilai moral, melainkan kebiasaan sosial yang dapat membentuk kehidupan sehari-hari. Ketika warga percaya bahwa orang lain akan bertindak dengan itikad baik, mereka dapat menjalani urusan rutin dengan lebih tenang, merasa aman di ruang publik, dan mengandalkan dukungan dari lingkungan sekitar. Suasana seperti ini mengurangi kewaspadaan berlebihan serta membantu memperkuat hubungan antarwarga.
Penelitian yang dirujuk dari National Bureau of Economic Research menunjukkan adanya hubungan searah tingkat kebahagiaan suatu negara dan kejujuran serta kepercayaan di masyarakatnya. Negara dengan warga yang lebih saling percaya cenderung memiliki tingkat kebahagiaan lebih tinggi. Temuan ini tidak berarti bahwa kejujuran sendirian menentukan kebahagiaan, tetapi menegaskan bahwa kualitas hubungan sosial dan keyakinan terhadap orang lain merupakan bagian penting dari kesejahteraan bersama.
Contoh yang kerap dibicarakan datang dari eksperimen “dompet hilang” Reader’s Digest pada 2022. Dalam pengujian tersebut, 192 dompet dijatuhkan di 16 kota dunia untuk mengamati apakah orang yang menemukannya akan mengembalikan kepada pemilik. Di Helsinki, 11 dari 12 dompet yang dijatuhkan berhasil kembali. Hasil itu menempatkan ibu kota Finlandia sebagai contoh menonjol tentang perilaku saling percaya dalam situasi sehari-hari. Meski eksperimen semacam ini tidak menggambarkan setiap warga ataupun seluruh keadaan, hasilnya memberi gambaran tentang norma sosial yang kuat.
Filsuf dan peneliti Finlandia Frank Martela menjelaskan bahwa warga Finlandia menghargai kejujuran dan kepercayaan dalam interaksi sehari-hari. Sikap tersebut tampak, misalnya, ketika seseorang berupaya mengembalikan barang berharga yang tertinggal, bukan menganggapnya sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan. Kepercayaan juga tercermin dalam kebiasaan tidak menyentuh barang yang sengaja ditinggalkan sementara, seperti benda yang digunakan untuk menandai tempat duduk atau ruang di tempat umum.
Kebiasaan ini membantu menciptakan lingkungan yang dapat diprediksi: orang merasa barang dan batas pribadinya dihormati. Pada gilirannya, rasa aman tersebut membuat warga lebih nyaman beraktivitas serta berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal. Kejujuran tidak harus hadir sebagai tindakan besar; rangkaian pilihan kecil untuk menghormati hak orang lain dapat memperkuat kepercayaan, dan kepercayaan menjadi salah satu fondasi kebahagiaan sosial.
Rasa aman di Finlandia tampak dalam kebiasaan sehari-hari yang memberi ruang bagi anak-anak untuk bergerak mandiri. Mereka terbiasa pulang sekolah menggunakan bus umum dan bermain di luar rumah tanpa pengawasan ketat orang dewasa. Contoh ini menggambarkan bahwa aktivitas anak tidak selalu berlangsung di bawah pemantauan langsung keluarga. Kehidupan sehari-hari tersebut juga memperlihatkan adanya kepercayaan dalam lingkungan sosial, meski pengalaman setiap keluarga tentu dapat berbeda.
Penjelasan Martela mengenai kepercayaan antarmasyarakat membantu memberi konteks pada contoh tersebut. Kepercayaan memungkinkan orang menjalani kegiatan bersama dengan keyakinan bahwa orang lain akan menghormati aturan dan hak sesama. Dalam gambaran ini, kemandirian anak di ruang publik dapat dibaca berdampingan dengan kepercayaan yang hadir di warga, bukan sebagai bukti bahwa setiap situasi selalu bebas risiko. Uraian ini tetap berpegang pada contoh yang diberikan dan pada hubungan yang dijelaskan Martela, tanpa menggeneralisasi pengalaman seluruh masyarakat.
Contoh rasa aman itu melengkapi tiga kebiasaan yang dibahas sebagai gambaran nilai-nilai yang, menurut Martela, dipercaya mendukung kebahagiaan warga Finlandia.





