Erick Thohir Dorong Program Olahraga Pusat dan Daerah Lebih Selaras

Erick Thohir Dorong Program Olahraga Pusat dan Daerah Lebih Selaras

Jakarta | Dalam Forum Nasional Transformasi Kebijakan Kepemudaan dan Keolahragaan yang berlangsung di Jakarta pada 15 Oktober 2026, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menekankan pentingnya menyelaraskan program pemerintah pusat dan daerah. Pesan tersebut menempatkan koordinasi kebijakan sebagai kebutuhan utama agar upaya di bidang kepemudaan dan olahraga bergerak dalam arah yang sejalan. Keselarasan bukan sekadar menyamakan nama program, melainkan memastikan tujuan, prioritas, dan pelaksanaan kebijakan dapat saling mendukung. Dengan arah yang jelas, berbagai tingkat pemerintahan dapat menjalankan peran masing-masing tanpa kehilangan keterkaitan dengan tujuan bersama. Prinsip ini menjadi pokok perhatian dalam transformasi kebijakan yang disampaikan pada forum tersebut.

Program pemerintah pusat dan daerah dapat memiliki cakupan serta konteks pelaksanaan yang berbeda. Karena itu, penyelarasan diperlukan agar kebijakan nasional dapat diterjemahkan secara relevan di daerah, sementara kebutuhan daerah tetap menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan program. Pendekatan tersebut membantu mengurangi kemungkinan adanya kegiatan yang berjalan sendiri-sendiri atau tidak terhubung dengan prioritas bersama. Dalam konteks kepemudaan, arah yang selaras dapat mendukung kesinambungan upaya pemerintah dalam mendorong peran dan potensi generasi muda. Di bidang olahraga, keterpaduan kebijakan juga penting agar upaya pembinaan dan pengembangan tidak terpisah tingkat pusat dan daerah. Pesan Erick menegaskan hubungan antartingkat pemerintahan sebagai unsur penting dalam kebijakan publik.

Penekanan pada keselarasan memberi perhatian pada proses perencanaan dan pelaksanaan, bukan hanya pada rumusan kebijakan. Pemerintah pusat dan daerah perlu memiliki pemahaman yang searah mengenai tujuan program serta bagaimana masing-masing dapat berkontribusi. Dengan demikian, kebijakan kepemudaan dan olahraga dapat disusun secara lebih terpadu, sekaligus tetap memperhatikan kondisi setempat. Pesan dalam forum ini menggarisbawahi bahwa transformasi kebijakan membutuhkan keterhubungan arah nasional dan penerapannya di daerah. Keselarasan tersebut menjadi landasan agar program tidak berjalan terpisah, melainkan saling menguatkan dalam mencapai sasaran. Fokus pada koordinasi ini relevan bagi upaya membangun kebijakan yang konsisten, terarah, dan dapat diterapkan sesuai konteks pemerintahan di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam pandangan Erick Thohir, pembangunan sarana olahraga sebaiknya dimulai dengan perencanaan yang jelas, bukan sekadar mengikuti dorongan untuk membangun. Sebelum fasilitas disediakan, tujuan pembangunannya perlu dirumuskan agar setiap keputusan memiliki arah dan manfaat yang dapat dipahami. Perencanaan tersebut juga perlu berangkat dari kebutuhan masyarakat yang akan menggunakan sarana itu. Dengan demikian, pilihan fasilitas, skala, serta fungsi ruang olahraga dapat disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan warga, bukan hanya berdasarkan anggapan umum mengenai apa yang diperlukan. Pandangan ini menempatkan tujuan dan pengguna sebagai pertimbangan awal, sehingga sarana olahraga diharapkan memiliki relevansi nyata bagi kehidupan masyarakat.

Penekanan pada perencanaan juga berarti bahwa penyediaan venue saja tidak cukup untuk menunjukkan keberhasilan pembangunan. Fasilitas perlu memiliki fungsi yang jelas dan menjawab kebutuhan publik, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh orang-orang yang dituju. Karena itu, pertanyaan mengenai siapa yang akan menggunakan sarana, kegiatan apa yang dapat berlangsung di dalamnya, dan kebutuhan apa yang hendak dipenuhi menjadi bagian penting dari pertimbangan. Erick mengingatkan agar pembangunan tidak berhenti pada tersedianya bangunan atau lapangan. Fokusnya perlu mencakup kegunaan fasilitas tersebut bagi masyarakat, sesuai tujuan yang telah ditetapkan sejak awal.

Pendekatan yang berangkat dari kebutuhan warga membantu menghubungkan pembangunan sarana dengan tujuan program olahraga secara lebih luas. Perencanaan yang matang dapat menjadi dasar untuk menentukan fasilitas seperti apa yang relevan, serta memastikan keputusan pembangunan tidak terlepas dari manfaat yang diharapkan. Hal ini juga menegaskan pentingnya melihat sarana olahraga sebagai ruang yang ditujukan bagi publik, bukan sekadar hasil pembangunan fisik. Dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat sejak tahap perencanaan, pemerintah dapat mengarahkan penyediaan fasilitas agar lebih sesuai dengan pengguna dan tujuan program. Bagi Erick, keselarasan rencana, fungsi, dan kebutuhan publik menjadi unsur penting dalam membangun sarana olahraga yang bermakna.

Kementerian Pemuda dan Olahraga merencanakan pertemuan tematik setiap bulan bersama dinas yang menangani urusan pemuda dan olahraga di daerah. Agenda tersebut dimaksudkan sebagai ruang koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah, sehingga komunikasi mengenai program dapat berlangsung lebih teratur. Rencana ini menempatkan dinas daerah sebagai mitra dalam pembahasan kebijakan dan pelaksanaan urusan kepemudaan serta olahraga, bukan semata sebagai penerima informasi dari pusat.

Pertemuan berkala dinilai penting karena pelaksanaan program olahraga melibatkan tingkat pemerintahan yang berbeda. Koordinasi yang lebih kuat dapat membantu kedua pihak menjaga keselarasan arah kerja dan memahami peran masing-masing. Melalui komunikasi langsung, pemerintah pusat dan dinas di daerah memiliki kesempatan untuk menyamakan pemahaman mengenai agenda yang dibahas. Keterangan mengenai rencana tersebut menegaskan bahwa penguatan hubungan pusat dan daerah menjadi tujuan utama, tanpa merinci tema, tempat, maupun hasil keputusan tertentu.

Format tematik dan frekuensi bulanan menunjukkan adanya rencana untuk menyediakan forum komunikasi secara berulang. Dengan demikian, hubungan kerja tidak hanya bergantung pada komunikasi sesekali, melainkan dapat dibangun melalui pertemuan yang direncanakan secara berkala. Namun, rincian mengenai penyelenggaraan, termasuk topik tiap pertemuan, belum disebutkan dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, tujuan yang dapat dipastikan pada tahap ini adalah memperkuat koordinasi, bukan menetapkan keluaran atau mekanisme tindak lanjut yang belum diumumkan.

Bagi dinas daerah, forum tersebut berpotensi menjadi kesempatan untuk terhubung dengan kementerian dalam pembahasan program pemuda dan olahraga. Bagi pemerintah pusat, koordinasi dengan perangkat daerah dapat mendukung komunikasi lintas tingkat pemerintahan. Kejelasan mengenai agenda dan pelaksanaannya nantinya akan penting agar rencana pertemuan dapat dipahami oleh para pihak. Sampai ada keterangan lebih lanjut, rencana ini dapat dipahami sebagai upaya membangun keselarasan pusat dan daerah melalui dialog tematik yang berlangsung setiap bulan.

Rencana menggelar forum konsultasi nasional setiap tahun menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat koordinasi kebijakan kepemudaan dan keolahragaan. Forum tersebut dirancang sebagai ruang komunikasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk membahas arah program, kebutuhan pelaksanaan, serta hal-hal yang perlu diselaraskan. Penyelenggaraannya secara berkala dapat menyediakan kesempatan bagi para pemangku kepentingan untuk bertukar pandangan, tanpa mendahului hasil yang akan dicapai dari proses konsultasi itu.

Penyelarasan program menjadi perhatian karena kebijakan dan kegiatan di bidang pemuda maupun olahraga melibatkan berbagai tingkat pemerintahan. Pemerintah pusat menetapkan arah kebijakan dan program nasional, sementara pemerintah daerah memiliki konteks, kebutuhan, serta prioritas setempat. Karena itu, komunikasi yang teratur diperlukan agar pembahasan mengenai rencana kegiatan, sasaran, dan pelaksanaan dapat berlangsung dengan melibatkan kedua pihak. Forum konsultasi nasional tahunan dapat menjadi salah satu jalur untuk membicarakan kesesuaian tersebut secara lebih luas.

Agenda forum dapat memberi ruang bagi daerah untuk menyampaikan masukan dan menjelaskan kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan. Di sisi lain, pemerintah pusat dapat menggunakan pertemuan itu untuk menyampaikan kerangka kebijakan serta membuka pembahasan bersama mengenai tantangan koordinasi. Rincian agenda dan peserta dapat ditentukan sesuai kebutuhan penyelenggaraan. Dengan demikian, forum diposisikan sebagai mekanisme konsultasi dan komunikasi, bukan sebagai pernyataan bahwa seluruh program telah terintegrasi atau bahwa hasil tertentu sudah tercapai.

Rencana forum tahunan juga melengkapi pertemuan tematik yang dapat digunakan untuk membahas isu tertentu secara lebih terarah. Kedua bentuk koordinasi tersebut memiliki frekuensi dan cakupan pembahasan yang berbeda.

Baca juga: Panglima TNI: Olahraga Bentuk Karakter dan Semangat Pantang Menyerah | Olahraga Bersama Pererat Persahabatan Prajurit TNI dan Negara Sahabat di SGS 2026 | Dari Pesantren untuk Ibu Pertiwi: Kodim 0813 Bojonegoro Bangun Sarana Olahraga Militer, Siapkan Santri Jadi Prajurit TNI