Kerusuhan Warnai Unjuk Rasa Biaya Hidup di Prancis, 1.800 Orang Ditangkap

Kerusuhan Warnai Unjuk Rasa Biaya Hidup di Prancis, 1.800 Orang Ditangkap

Jakarta | Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyebut sekitar 1.800 orang ditangkap selama dan setelah unjuk rasa nasional terkait biaya hidup. Aksi tersebut melibatkan kelompok rompi kuning, yang kembali turun ke jalan di sejumlah wilayah Prancis. Angka penangkapan itu mencakup rangkaian peristiwa saat demonstrasi berlangsung maupun setelahnya, ketika aparat menindaklanjuti kerusuhan dan dugaan tindak pidana yang terjadi. Pernyataan Nuñez memberi gambaran mengenai skala penegakan hukum setelah aksi, meski perkembangan di lapangan masih terus dipantau.

Unjuk rasa tersebut diwarnai bentrokan demonstran dan aparat, serta pembakaran dan penjarahan di beberapa tempat. Kerusakan dilaporkan terjadi di lingkungan usaha dan ruang publik. Melalui akun media sosial X, Nuñez mengatakan lebih dari 500 personel kepolisian, gendarmerie, dan pemadam kebakaran terluka. Ia menegaskan bahwa jumlah korban luka itu masih bersifat sementara, sehingga angkanya dapat berubah seiring pendataan dan verifikasi lebih lanjut. Belum ada rincian lengkap mengenai tingkat luka yang dialami setiap personel dalam pernyataan tersebut.

Penyelidikan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan dan kerusakan masih berjalan. Aparat berupaya menelusuri keterlibatan individu dalam bentrokan, pembakaran, maupun penjarahan, sementara proses penanganan hukum terhadap mereka yang ditangkap berlangsung. Nuñez juga menyampaikan bahwa ratusan pelaku usaha mengalami kerusakan material besar. Dampak itu menambah beban bagi bisnis setempat, yang harus menilai kerugian dan memperbaiki tempat usaha setelah kerusuhan. Rangkaian kejadian ini berlangsung di Prancis dan berkaitan dengan demonstrasi nasional mengenai biaya hidup; bukan peristiwa di Indonesia. Informasi mengenai jumlah penangkapan, personel yang terluka, dan kerugian usaha masih bergantung pada pembaruan resmi dari pihak berwenang. Karena penyelidikan belum selesai, rincian tentang para pelaku dan besaran kerusakan belum seluruhnya dapat dipastikan. Otoritas Prancis melanjutkan pemeriksaan untuk menyusun gambaran yang lebih utuh mengenai kekerasan yang terjadi di berbagai lokasi selama gelombang aksi tersebut.Demonstrasi berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, ketika warga dari berbagai kelompok turun ke jalan untuk menyuarakan keberatan atas tekanan biaya hidup. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 550.000 peserta di seluruh negeri, termasuk 110.000 orang di Paris. Angka tersebut berbeda dari perkiraan penyelenggara, yang menyebut jumlah kehadiran secara nasional mencapai sekitar 800.000 orang. Perbedaan itu mencerminkan metode penghitungan dan cakupan estimasi yang tidak sama, sehingga kedua angka tersebut perlu dikaitkan dengan pihak yang menyampaikannya. Aksi berlangsung di banyak wilayah dan menjadi mobilisasi besar terkait persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat Prancis.

Peserta aksi berasal dari sejumlah kelompok, lain rompi kuning, serikat pekerja, mahasiswa, dan petani. Kehadiran kelompok-kelompok dengan latar belakang berbeda menunjukkan luasnya keresahan terhadap biaya hidup, meski tuntutan dan kepentingan mereka tidak selalu identik. Di Paris, pawai utama berlangsung tanpa insiden besar. Situasi tersebut berbeda dari laporan kekerasan dan kerusakan di beberapa kota lain. Sejumlah kejadian itu berlangsung di lokasi-lokasi di luar rangkaian demonstrasi, sehingga tidak seluruhnya dapat disamakan dengan jalannya pawai utama. Pembedaan ini penting untuk menggambarkan suasana aksi secara lebih akurat, sekaligus memisahkan kegiatan unjuk rasa dari insiden yang terjadi di titik lain.

Di Limoges, kebakaran melalap balai kota bersejarah, salah satu insiden paling serius yang dilaporkan pada hari tersebut. Sementara itu, di Marseille, Lyon, dan Bordeaux, terjadi penjarahan toko serta kerusakan pada bangunan. Kekerasan di sejumlah lokasi itu kontras dengan pawai di Paris yang berlangsung tanpa gangguan besar. Laporan mengenai kebakaran, penjarahan, dan kerusakan menggambarkan dampak yang tersebar di beberapa kota, bukan kondisi seragam di seluruh wilayah. Karena itu, jumlah peserta nasional dan suasana aksi di tiap kota perlu dibaca bersama dengan konteks kejadian setempat. Demonstrasi besar tersebut berlangsung di tengah ketegangan seputar biaya hidup, sementara aparat dan pihak penyelenggara menyampaikan hitungan peserta yang berbeda.

Di tengah unjuk rasa menentang biaya hidup di Prancis, sejumlah laporan menyoroti korban jiwa dan cedera serius. Seorang demonstran dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan di Boulevard Magenta, Paris. Menurut keterangan polisi, orang tersebut mengalami henti jantung dan pernapasan. Informasi mengenai kondisi medis itu disampaikan sebagai penjelasan kepolisian; laporan tersebut tidak dengan sendirinya memastikan penyebab awal pingsan maupun kaitannya dengan bentrokan.

Di Saint-Étienne, surat kabar Le Parisien melaporkan bahwa seorang remaja berusia 17 tahun kehilangan satu tangan setelah terkena granat polisi. Atribusi kepada Le Parisien penting karena informasi mengenai insiden tersebut dikutip dari laporan media itu, bukan disajikan sebagai keterangan langsung dari kepolisian atau kejaksaan. Peristiwa tersebut menambah perhatian terhadap dampak fisik yang dialami sebagian orang selama demonstrasi, sementara rincian lebih lanjut mengenai keadaan korban dan konteks kejadian perlu merujuk pada laporan yang tersedia.

Angka penangkapan yang diumumkan juga berbeda menurut sumber dan kategori yang dilaporkan. Kepolisian Paris menyebut 855 orang telah ditangkap. Sementara itu, laporan kejaksaan mencatat 720 penangkapan, termasuk 517 orang yang ditahan. Kedua angka tersebut sebaiknya dicantumkan dengan atribusi yang jelas, tanpa menganggapnya sebagai ukuran yang sama atau menyimpulkan perbedaan itu sebagai kesalahan pencatatan. Penangkapan dan penahanan merupakan kategori berbeda: jumlah orang yang ditangkap tidak otomatis sama dengan jumlah yang kemudian ditahan.

Kejaksaan menyatakan bahwa angka yang disampaikannya belum final. Karena itu, data dapat berubah seiring proses verifikasi dan pembaruan informasi. Hingga angka resmi diperbarui, pembaca perlu membedakan sumber setiap angka, waktu pelaporannya, serta status orang-orang yang tercatat. Dengan pendekatan tersebut, laporan mengenai korban dan penindakan dapat disampaikan secara lebih akurat, tanpa mencampuradukkan jumlah penangkapan dengan jumlah penahanan atau menyajikan laporan media sebagai pernyataan resmi aparat.

Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu dijadwalkan memimpin rapat krisis antarkementerian pada Minggu pukul 19.00 waktu setempat. Pertemuan itu akan membahas berbagai dampak kerusuhan yang terjadi dalam unjuk rasa biaya hidup, termasuk konsekuensi ekonomi, persoalan asuransi, serta tindak lanjut hukum. Agenda tersebut mencakup koordinasi pemerintah setelah aksi berujung bentrokan dan penangkapan, dengan sejumlah kementerian terkait dijadwalkan terlibat dalam pembahasan. Rapat itu menjadi salah satu langkah pemerintah untuk meninjau penanganan situasi dan perkara yang muncul setelah kerusuhan.

Lecornu juga akan bertemu dengan wali kota Paris, Marseille, dan Lyon. Ketiga kepala daerah tersebut meminta penjelasan mengenai pengerahan personel kepolisian selama demonstrasi serta cara aparat menangani kerusuhan. Pertemuan itu memberi ruang bagi para wali kota untuk menyampaikan pertanyaan tentang keputusan operasional di kota masing-masing. Persoalan penempatan polisi dan penanganan insiden menjadi perhatian di tengah beragam dampak aksi di sejumlah wilayah perkotaan.

Sementara itu, Ketua Majelis Nasional Yaël Braun-Pivet mempertimbangkan pembentukan komisi penyelidikan parlemen terkait peristiwa tersebut. Menurut laporan BFMTV, ia akan bertemu para pemimpin kelompok parlemen pada Selasa. Pertemuan itu dijadwalkan membahas langkah parlemen, termasuk kemungkinan penyelidikan formal. Komisi penyelidikan dapat menjadi salah satu mekanisme untuk menelaah peristiwa dan respons yang diberikan, apabila rencana pembentukannya dilanjutkan. Belum ada keputusan final mengenai pembentukan komisi tersebut dalam keterangan yang dilaporkan.

Respons politik terhadap kerusuhan menunjukkan perbedaan pandangan. Lecornu menyalahkan kelompok yang ia sebut sebagai “kiri ekstrem” atas kekerasan yang terjadi. Sejumlah tokoh oposisi, di sisi lain, mengkritik taktik kepolisian dalam menghadapi demonstrasi. Politikus Partai Hijau Marine Tondelier menyerukan agar Laurent Nuñez mengundurkan diri.