Kota Bogor. Sahabat Yadi | Kabar duka mengenai kepergian Yadi Timo disampaikan oleh putri tunggalnya, Fatimah Zahra Harristara, melalui unggahan media sosial pada Sabtu (17/10). Dalam unggahan tersebut, Fatimah mengabarkan bahwa sang ayah meninggal dunia pada Jumat (16/10), setelah mengalami sesak napas. Informasi itu menjadi pesan yang menyampaikan kehilangan besar dalam keluarga mereka, sekaligus memberi tahu orang-orang yang mengenal dan menyayangi Yadi mengenai kabar tersebut. Fatimah menyampaikan berita itu secara langsung melalui media sosial, dengan menyebut waktu kepergian ayahnya serta kondisi yang dialami sebelum meninggal. Keterangan yang ia bagikan berfokus pada kabar duka dan kenangan terhadap sosok ayahnya.
Dalam mengenang Yadi, Fatimah menyebut ayahnya sebagai pahlawan dalam hidupnya. Ungkapan itu menggambarkan betapa pentingnya peran Yadi bagi putrinya, sekaligus menjadi cara Fatimah menyampaikan rasa kehilangan yang ia rasakan. Ia juga menyebut bahwa banyak orang menyayangi dan mendoakan sang aktor. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kenangan terhadap Yadi tidak hanya hadir di tengah keluarga, tetapi juga dirasakan oleh banyak orang yang memiliki perhatian dan kasih sayang kepadanya. Fatimah menyampaikan hal itu sebagai bagian dari unggahan yang mengabarkan kepergian ayahnya, tanpa mengurangi kedekatan pribadi yang ia gambarkan melalui sebutan pahlawan dalam hidupnya.
Kepergian Yadi sangat dirasakan oleh Fatimah dan ibunya. Bagi keduanya, kabar tersebut berarti kehilangan sosok keluarga yang dekat dan memiliki tempat penting dalam kehidupan mereka. Melalui unggahan itu, Fatimah membagikan duka keluarga sekaligus mengenang ayahnya dengan penuh kasih. Ia tidak hanya mengabarkan kapan Yadi meninggal dan bahwa ia sempat mengalami sesak napas, tetapi juga menyampaikan betapa berharganya sang ayah baginya. Sebutan pahlawan dalam hidupnya menjadi inti dari kenangan yang ia sampaikan, sementara doa dan kasih sayang banyak orang turut ia sebutkan. Dari keterangan Fatimah tersebut, terlihat bahwa kehilangan ini sangat berat bagi dirinya dan ibunya, tanpa perlu menambahkan rincian di luar pesan yang ia bagikan.Dalam unggahan yang disertai sejumlah foto kebersamaan dengan ayahnya, Fatimah turut membagikan percakapan terakhir yang terus ia ingat. Kenangan itu bukan hanya tersimpan dalam gambar, tetapi juga dalam pesan sederhana Yadi Timo tentang bekal hidup bagi putrinya. Ia berpesan agar Fatimah belajar mandiri dan mampu melakukan berbagai hal sendiri. Nasihat tersebut terasa semakin berarti setelah Yadi berpulang, karena kini Fatimah harus menjalani hari-hari tanpa kehadiran sosok ayah yang selama ini mendampinginya.
Fatimah mengingat percakapan itu terjadi ketika Yadi hendak berangkat bekerja dan meninggalkannya di rumah. Momen yang saat itu mungkin tampak biasa kini menjadi salah satu kenangan paling berharga baginya. Pesan sang ayah tentang kemandirian menunjukkan perhatian Yadi terhadap masa depan putrinya: ia ingin Fatimah memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya dan menghadapi berbagai keadaan. Bagi Fatimah, ucapan tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan amanah yang akan terus dibawa dalam kehidupannya.
Seusai kepergian ayahnya, Fatimah berjanji akan berusaha menjadi pribadi yang mandiri, sebagaimana yang pernah diminta Yadi. Ia juga menyatakan tekad untuk menjaga ibunya. Janji itu menjadi cara Fatimah meneruskan kasih sayang dan perhatian yang telah diberikan ayahnya kepada keluarga. Meski kehilangan tersebut menyisakan kesedihan, kenangan serta pesan Yadi dapat menjadi pegangan saat ia berusaha menjalankan tanggung jawab yang kini terasa semakin besar.
Di balik tekad itu, Fatimah tetap merasakan kerinduan mendalam. Ia merindukan panggilan akrab dari ayahnya, sapaan sederhana yang dahulu menjadi bagian dari keseharian mereka. Kini, suara tersebut hanya dapat dikenang, bersama foto-foto dan percakapan yang ia bagikan. Fatimah juga menyampaikan harapan agar Yadi tidak lagi merasakan sakit. Ungkapan itu menggambarkan kasih seorang anak yang tetap melekat, sekaligus doa agar ayahnya beristirahat dengan tenang. Pesan tentang kemandirian pun akan terus hidup dalam ingatannya, mengiringi langkah Fatimah menjaga keluarga dan menata hidup setelah kehilangan.Keterangan mengenai hari-hari terakhir Yadi Timo disampaikan oleh sahabatnya, Denpus. Menurut Denpus, pada malam sebelum meninggal, Yadi masih berkumpul bersama teman-temannya di kantor sebuah rumah produksi. Pertemuan itu berlangsung hingga sekitar pukul 22.30 WIB. Suasana kebersamaan tersebut menjadi salah satu kenangan terakhir yang dibagikan oleh orang-orang terdekatnya setelah kabar duka datang. Tidak ada keterangan bahwa Yadi menunjukkan tanda-tanda tertentu selama pertemuan tersebut; informasi yang disampaikan berfokus pada kegiatan malam itu dan kejadian setelah ia pulang.
Denpus menjelaskan bahwa sepulang dari pertemuan, Yadi dikabarkan mengalami serangan jantung di rumah. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Menurut penuturan Denpus, dokter menyatakan Yadi telah meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Keterangan ini merujuk pada informasi dari Denpus mengenai dugaan serangan jantung dan kondisi Yadi saat dibawa untuk memperoleh pertolongan. Peristiwa tersebut terjadi setelah ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya pada malam sebelumnya.
Secara terpisah, Fatimah menyebut sesak napas dalam unggahannya. Informasi itu perlu dibedakan dari keterangan Denpus tentang serangan jantung, karena keduanya berasal dari sumber yang berbeda dan tidak menjelaskan hal yang sama. Yadi wafat pada usia 66 tahun pada Jumat (16/10). Pada hari yang sama, jenazahnya dimakamkan di TPU Dreded, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Pemakaman tersebut menjadi momen bagi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengenalnya untuk memberikan penghormatan terakhir. Dengan demikian, kabar mengenai malam terakhir, perjalanan menuju rumah sakit, serta pemakamannya tersampaikan berdasarkan keterangan yang tersedia, tanpa mencampuradukkan informasi dari masing-masing sumber.
Perjalanan karier Yadi Timo di dunia hiburan ditandai oleh kemampuannya membawakan beragam karakter, terutama sosok antagonis dan tokoh dengan sisi licik. Kehadirannya kerap memberi warna pada cerita, baik melalui peran yang memicu konflik maupun karakter yang menyimpan kepentingan tertentu. Namun, rentang perannya tidak terbatas pada tokoh jahat. Yadi juga pernah memerankan ayah yang menderita, menghadirkan sisi emosional yang berbeda dari citra antagonis yang sering melekat kepadanya. Perubahan karakter tersebut menunjukkan keluwesannya dalam menyesuaikan permainan dengan kebutuhan cerita.
Di layar lebar, Yadi tercatat membintangi sejumlah film, termasuk Petualangan Sherina, Banyu Biru, Petualangan 100 Jam, dan Brownies. Ia juga tampil dalam Marley yang dirilis pada 2022. Deretan judul itu menempatkannya dalam beragam produksi film Indonesia, dengan cerita dan karakter yang berbeda-beda. Kontribusinya bukan hanya sebagai bagian dari jajaran pemeran, tetapi juga sebagai aktor karakter yang dapat mendukung dinamika cerita. Pengalaman di film tersebut berjalan berdampingan dengan kiprahnya di televisi, yang membuat sosoknya dikenal pula melalui berbagai serial sinetron.
Dalam sinetron, keterlibatan Yadi 2019 hingga 2022 mencakup Orang Ketiga, Buku Harian Seorang Istri, Dewi Rindu, dan Karena Aku Sayang. Ia kemudian memerankan Amran dalam Ikatan Cinta pada 2023. Salah satu karya terakhir yang tercatat dalam bahan sumber adalah Ketika Cinta Memanggilmu, yang tayang pada 2025; dalam sinetron tersebut, ia berperan sebagai Kusno Hermansyah. Rangkaian peran dari film hingga sinetron memperlihatkan perjalanan panjang Yadi di industri hiburan. Berbagai karakter yang ia bawakan, dari tokoh licik hingga ayah yang tengah menghadapi penderitaan, menjadi bagian penting dari jejak kariernya di layar Indonesia.





