Kabupaten Lamongan | Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, optimistis produksi padi pada 2026 masih berpeluang melampaui capaian tahun sebelumnya. Pada 2025, produksi padi di daerah tersebut mencapai sekitar 1,335 juta ton. Sementara itu, hingga pertengahan Oktober 2026, jumlah produksi yang tercatat telah berada di kisaran 1,2 juta ton. Capaian sementara ini menjadi dasar optimisme pemerintah daerah, terutama karena kegiatan pertanian belum seluruhnya selesai untuk tahun berjalan.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyampaikan optimisme tersebut di Lamongan pada Senin. Menurutnya, masih terdapat musim tanam berikutnya yang dapat membuka kesempatan bagi produksi padi untuk terus bertambah. Dengan demikian, angka hingga pertengahan Oktober belum menggambarkan keseluruhan hasil panen sepanjang 2026. Pelaksanaan musim tanam yang tersisa menjadi salah satu faktor penting dalam melihat perkembangan produksi sampai akhir tahun.
Peluang untuk melampaui hasil 2025 tetap bergantung pada realisasi kegiatan tanam dan panen berikutnya. Karena itu, capaian sekitar 1,2 juta ton perlu dipahami sebagai perkembangan sementara, bukan angka akhir produksi tahunan. Pemerintah kabupaten melihat adanya ruang bagi peningkatan, tetapi belum menyampaikan angka perkiraan hasil akhir. Perbandingan dengan produksi tahun lalu memberi konteks terhadap sasaran tersebut, sementara hasil musim tanam mendatang akan menentukan seberapa besar tambahan produksi dapat dicapai.
Optimisme ini juga menunjukkan bahwa perhatian terhadap keberlanjutan produksi padi tetap menjadi agenda penting bagi Lamongan. Musim tanam berikutnya menyediakan kesempatan bagi petani untuk kembali menghasilkan panen, sekaligus bagi pemerintah daerah untuk terus memantau perkembangan produksi. Namun, potensi peningkatan tidak dengan sendirinya memastikan bahwa capaian 2025 akan terlampaui. Kepastian baru dapat dinilai setelah rangkaian tanam dan panen tahun ini berlangsung serta datanya dihimpun secara menyeluruh.
Dengan posisi produksi yang telah mencapai sekitar 1,2 juta ton pada pertengahan Oktober dan masih adanya musim tanam berikutnya, Pemkab Lamongan menyatakan peluang peningkatan tetap terbuka. Yuhronur menekankan harapan bahwa produksi 2026 dapat lebih tinggi daripada sekitar 1,335 juta ton pada 2025, tanpa menetapkan angka akhir untuk tahun berjalan. Perkembangan hasil panen selanjutnya akan menjadi penentu apakah optimisme tersebut terwujud.
Modernisasi pertanian di Lamongan diarahkan untuk memperkuat proses produksi padi dari tahap budidaya hingga panen. Pemerintah daerah mendorong pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) agar pekerjaan yang sebelumnya banyak mengandalkan tenaga manual dapat dilakukan dengan lebih efisien. Dukungan mekanisasi ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas, sekaligus membantu petani menghadapi kebutuhan pengelolaan lahan dan kegiatan panen secara lebih terencana. Dengan penggunaan peralatan yang sesuai, pekerjaan di sawah diharapkan dapat berlangsung lebih cepat tanpa mengabaikan ketepatan proses.
Penggunaan alsintan juga ditujukan untuk menekan kehilangan hasil, terutama pada tahapan panen dan penanganan padi. Waktu pengerjaan yang lebih singkat dapat membantu petani merespons kondisi tanaman dan cuaca, sementara mekanisasi berpotensi membuat kegiatan lapangan lebih teratur. Efisiensi tersebut penting karena hasil produksi tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau kondisi tanaman, tetapi juga oleh kelancaran pekerjaan sejak awal budidaya hingga hasil dipanen. Karena itu, modernisasi perlu didukung dengan pemanfaatan alat yang tepat dan pengelolaan yang baik oleh kelompok tani.
Dukungan konkret diberikan melalui penyaluran bantuan alsintan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur kepada kelompok tani di Desa Kedali, Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan. Bantuan tersebut diserahkan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Penyaluran ini menunjukkan dukungan pemerintah terhadap kebutuhan petani dalam memperkuat kapasitas produksi di tingkat desa. Kelompok tani diharapkan dapat memanfaatkan peralatan secara bersama, sesuai kebutuhan dan tahap pekerjaan, sehingga manfaatnya menjangkau lebih banyak anggota. Pemeliharaan alat serta pengaturan jadwal penggunaan juga penting agar bantuan dapat digunakan secara berkelanjutan.
Melalui mekanisasi, pemerintah menargetkan pekerjaan petani menjadi lebih cepat, efisiensi dan produktivitas meningkat, serta hasil yang hilang selama proses panen dapat ditekan. Tujuan tersebut relevan dengan upaya Lamongan membidik produksi padi yang lebih tinggi. Namun, keberhasilan pemanfaatan alsintan bergantung pada kecocokan peralatan dengan kondisi setempat, kesiapan operator, dan koordinasi kelompok tani. Dengan pengelolaan yang terarah, dukungan ini dapat membantu memperkuat kegiatan pertanian, mengurangi beban pekerjaan manual, dan menjaga hasil panen agar lebih optimal. Pemantauan penggunaan alat juga dapat membantu memastikan dukungan pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan petani di lapangan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyalurkan 341 unit alat dan mesin pertanian (alsintan) ke berbagai daerah sepanjang 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat produksi pangan. Lamongan termasuk wilayah penerima bantuan tersebut. Dukungan yang dialokasikan bagi kabupaten ini mencakup empat combine harvester berukuran besar, disertai peralatan pertanian pendukung lainnya. Pengadaan alat panen modern diharapkan membantu petani bekerja lebih cepat, terutama ketika padi di lahan yang luas memasuki masa panen dan waktu pengerjaan menjadi faktor penting.
Perbedaan paling nyata terlihat pada durasi panen. Pengerjaan satu hektare secara manual biasanya memerlukan sekitar tiga hari, sementara combine harvester dapat menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam satu hingga dua jam. Mesin ini memotong tanaman, merontokkan gabah, dan memisahkan hasil panen dalam satu rangkaian kerja. Proses yang lebih singkat dapat membantu petani mengatur tenaga kerja dan menangani hasil pada waktu yang tepat. Dengan demikian, penggunaan alsintan bukan hanya mengurangi beban pekerjaan, tetapi juga mendukung kelancaran kegiatan di tengah jadwal panen yang padat.
Manfaatnya juga berkaitan dengan jumlah gabah yang dapat diselamatkan. Kehilangan hasil panen yang sebelumnya berada pada kisaran 9–11 persen disebut dapat ditekan menjadi sekitar 1–2 persen dengan pemanfaatan combine harvester. Penurunan kehilangan tersebut berpotensi menjaga lebih banyak hasil dari lahan tetap masuk ke rantai pasok pangan. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menekankan bahwa penguatan sektor pertanian perlu dilakukan dari hulu hingga hilir. Mekanisasi di tingkat panen menjadi salah satu bagian dari upaya menyeluruh tersebut, bersama dukungan pada proses produksi dan penanganan hasil. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan pangan, terutama saat ketidakpastian iklim dan dinamika pangan global dapat memengaruhi produksi maupun ketersediaan komoditas. Bagi Lamongan, bantuan alsintan memberi tambahan kapasitas kerja bagi petani sekaligus mendukung sasaran peningkatan produksi padi. Pemanfaatan dan perawatan mesin secara tepat akan menentukan seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan di lapangan, termasuk dalam mempercepat panen dan mengurangi gabah yang hilang.
Selain mengejar peningkatan produksi padi melalui dukungan mekanisasi, perhatian pemerintah daerah juga tertuju pada harga gabah yang diterima petani. Yuhronur menyebut harga gabah di tingkat petani Lamongan berada pada kisaran Rp8.600 hingga Rp8.800 per kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP), yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Keterangan mengenai perbandingan harga ini menggambarkan kondisi harga gabah yang disebutkan untuk petani di Lamongan, tanpa mengubah besaran acuan HPP yang berlaku. Kisaran harga tersebut menjadi salah satu hal yang disampaikan di tengah pembahasan sektor pertanian daerah.
Di samping padi, Lamongan juga mengembangkan komoditas pertanian lain, termasuk jagung dan tebu. Pengembangan berbagai komoditas itu merupakan bagian dari perhatian terhadap kegiatan pertanian daerah, selain fokus pada peningkatan produksi padi. Jagung dan tebu disebut sebagai komoditas yang turut menjadi perhatian, sehingga pembahasan pertanian tidak hanya berpusat pada satu jenis tanaman. Tidak ada angka produksi atau sasaran khusus untuk jagung yang disampaikan dalam keterangan ini.
Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | TNI Salurkan Dukungan Peralatan Penanganan Karhutla ke Kalimantan Tengah






