Jakarta | Pengurus Besar Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PB PSOI) menyiapkan enam atlet untuk mengikuti ajang kualifikasi Olimpiade 2028 yang diselenggarakan International Surfing Association (ISA) di Peru pada bulan berikutnya. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya Indonesia mempertahankan peluang untuk tampil dalam kompetisi selancar ombak di Olimpiade 2028. Ajang kualifikasi tersebut akan menjadi kesempatan bagi para peselancar nasional untuk bersaing memperebutkan tempat dan mengumpulkan hasil penting dalam perjalanan menuju pesta olahraga dunia.
Untuk nomor putra, PB PSOI menyiapkan Rio Waida, I Made Pajar Ariyana, dan Dhany Widianto. Sementara itu, tiga atlet yang disiapkan untuk nomor putri adalah Jasmine Studer, Kya Jo Heuer, dan Hana Suri Jabrik. Komposisi tersebut mencakup atlet dari kedua kategori, sehingga Indonesia dapat mengupayakan hasil di nomor putra maupun putri dalam kompetisi yang digelar di Peru.
Sekretaris Jenderal PB PSOI Tipi Jabrik menyampaikan bahwa organisasi merencanakan keberangkatan enam atlet tersebut untuk mengikuti kualifikasi. Keterangan itu menegaskan jumlah peselancar yang disiapkan sekaligus tujuan perjalanan mereka, yakni berkompetisi dalam ajang ISA di Peru. Rencana keberangkatan ini merupakan bagian dari persiapan federasi menghadapi proses kualifikasi Olimpiade, bukan sekadar keikutsertaan dalam kompetisi internasional biasa.
Persiapan menuju kualifikasi menjadi penting karena setiap kesempatan bertanding dapat membantu atlet mengukur kemampuan menghadapi pesaing dari berbagai negara. Bagi PB PSOI, mengirim enam peselancar merupakan langkah untuk menjaga kesempatan Indonesia tetap terbuka menuju Olimpiade 2028. Para atlet yang dipilih diharapkan dapat menjalani persiapan dengan baik sebelum bertolak dan tampil sesuai nomor masing-masing. Hasil mereka di Peru akan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Indonesia dalam membangun prestasi selancar ombak di tingkat internasional. Dengan rencana ini, federasi menempatkan kualifikasi ISA sebagai agenda penting dalam kalender menuju Olimpiade, sementara para atlet bersiap mewakili Indonesia di panggung tersebut.
Persiapan enam peselancar Indonesia untuk menghadapi kualifikasi Olimpiade 2028 di Peru dapat ditempatkan dalam rangkaian upaya membangun kehadiran Indonesia di panggung selancar ombak internasional. Sebelumnya, Indonesia telah mengirim Rio Waida untuk berlaga pada Olimpiade Tokyo 2020 dan Paris 2024. Keikutsertaan tersebut menjadi pengalaman penting bagi atlet, pelatih, serta organisasi yang mengembangkan cabang olahraga ini. Pengalaman tampil pada kompetisi dengan perhatian dan persaingan tingkat dunia juga memberi gambaran mengenai tantangan yang harus dihadapi peselancar Indonesia. Karena itu, persiapan menuju kualifikasi berikutnya bukanlah langkah yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kesinambungan pembinaan dan partisipasi di ajang internasional.
Dalam catatan penampilannya, Rio terhenti di babak 16 besar pada Olimpiade Tokyo 2020. Pada Olimpiade Paris 2024, ia berhenti di babak eliminasi. Hasil tersebut menjelaskan perjalanan Rio dalam dua edisi Olimpiade, tanpa mengurangi arti bahwa Indonesia telah memiliki wakil pada kompetisi itu. Pengalaman menghadapi format pertandingan, tekanan, dan lawan-lawan dari berbagai negara dapat menjadi bahan evaluasi bagi pembinaan selanjutnya. Namun, catatan dari dua Olimpiade tersebut tidak dengan sendirinya menentukan hasil atlet Indonesia pada kualifikasi di Peru. Setiap kompetisi memiliki situasi dan tantangannya sendiri, sehingga proses persiapan tetap perlu dinilai berdasarkan perkembangan yang berlangsung menjelang pertandingan.
Bagi PB PSOI, menyiapkan enam peselancar untuk kualifikasi menjadi salah satu cara menjaga kesinambungan keterlibatan Indonesia dalam selancar ombak internasional. Upaya ini mencakup memberi atlet kesempatan untuk berkembang dan memperoleh pengalaman bertanding, sekaligus mempertahankan jalur partisipasi yang telah dibuka melalui keikutsertaan Rio. Rekam jejak di Tokyo dan Paris dapat menjadi titik rujukan dalam melihat pengalaman Indonesia, bukan jaminan mengenai capaian berikutnya. Fokus persiapan di Peru adalah menghadirkan atlet dalam kondisi siap menghadapi kualifikasi dan menjalani kompetisi sesuai proses yang tersedia. Dengan demikian, keberangkatan para peselancar mencerminkan kelanjutan kerja pembinaan PB PSOI, sementara hasil kualifikasi tetap akan ditentukan melalui pertandingan yang belum berlangsung.
Rekam jejak selancar ombak Indonesia menunjukkan capaian yang kuat di tingkat regional, termasuk pada SEA Games Manila 2019. Kompetisi cabang ini berlangsung di San Juan, La Union, Filipina, dan para peselancar Indonesia berhasil meraih medali di sejumlah nomor. Hasil tersebut memperlihatkan kemampuan atlet nasional dalam menghadapi persaingan lintas negara, baik pada shortboard maupun longboard.
Di nomor shortboard putra, Oney Anwar meraih medali emas, sementara Rio Waida membawa pulang medali perak. Keduanya menjadi bagian dari hasil penting Indonesia dalam disiplin yang menuntut kecepatan, keluwesan, serta ketepatan memilih ombak dan melakukan manuver. Pada nomor longboard putri, Dhea Novitasari juga menyumbangkan medali emas. Raihan emas dari Oney dan Dhea menempatkan Indonesia sebagai salah satu peserta dengan hasil menonjol dalam kompetisi selancar ombak tersebut.
Indonesia turut mencatat perolehan medali perunggu di beberapa nomor. Dean Permana dan Arip Nurhidayat masing-masing meraih perunggu pada longboard putra. Sementara itu, Tania Izquierdo memperoleh medali perunggu pada shortboard putri. Deretan hasil tersebut melengkapi medali emas dan perak yang diraih para atlet Indonesia, sekaligus menunjukkan kontribusi peselancar dari berbagai disiplin. Catatan SEA Games ini menjadi bagian dari rekam prestasi yang relevan ketika menilai perkembangan atlet selancar ombak nasional.
Capaian Indonesia di tingkat Asia berlanjut melalui I Made Pajar Ariyana, yang meraih medali perak shortboard putra di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Dalam final, Pajar mencatat nilai 10,40 poin. Ia berada di bawah Kanoa Igarashi, yang memperoleh 12,87 poin dan meraih hasil lebih tinggi. Perolehan perak tersebut menambah catatan prestasi Indonesia dalam selancar ombak pada ajang multinasional. Bersama hasil para atlet di SEA Games Manila 2019, pencapaian ini memberikan gambaran tentang kehadiran peselancar Indonesia di berbagai kompetisi regional dan Asia, dengan medali yang diraih pada nomor shortboard maupun longboard.
Menurut Tipi Jabrik, konsistensi keikutsertaan atlet dalam berbagai ajang internasional penting bagi pengembangan selancar ombak di Indonesia. Partisipasi yang berkelanjutan memberi atlet kesempatan untuk terus menjalani kompetisi, bukan hanya hadir sesekali ketika ada agenda tertentu. Dengan pengalaman bertanding yang terjaga, atlet dapat mengukur kemampuan mereka di hadapan peselancar dari negara lain. Pandangan ini menempatkan keikutsertaan sebagai bagian dari proses pengembangan, sekaligus menjaga agar selancar ombak Indonesia memiliki ruang untuk berkembang di panggung olahraga internasional.
Keikutsertaan secara konsisten juga membuka peluang bagi atlet untuk meningkatkan kemampuan melalui kompetisi. Mereka dapat menghadapi tingkat persaingan yang berbeda, menilai perkembangan diri, dan memperoleh pengalaman yang mendukung kesiapan bertanding. Bagi Tipi, kesempatan untuk bersaing di tingkat dunia perlu terus dibangun melalui partisipasi dalam ajang internasional. Dengan demikian, atlet Indonesia mempunyai ruang untuk menunjukkan kemampuan dan mengembangkan diri melalui pertandingan, sementara selancar ombak nasional dapat terus terhubung dengan perkembangan persaingan global. Proses tersebut membutuhkan kesempatan bertanding yang berkelanjutan, sehingga kehadiran atlet di kompetisi internasional tidak dipandang sebagai agenda yang berdiri sendiri.
Atas dasar itu, PB PSOI berharap selancar ombak tetap dipertandingkan dalam sejumlah ajang olahraga besar, yaitu SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade. Keberlanjutan cabang ini di berbagai kompetisi tersebut dinilai penting untuk mempertahankan kesempatan atlet berpartisipasi dan bersaing. Harapan itu sejalan dengan persiapan Indonesia menghadapi jalur kualifikasi Olimpiade 2028. PB PSOI menyiapkan enam atlet untuk mengikuti kualifikasi di Peru, sebagai bagian dari upaya membawa peselancar Indonesia ke kompetisi internasional dan memberi mereka kesempatan bersaing di tingkat dunia.






