Sepuluh Kodim Beralih ke Kodam Mataram, Komando Wilayah TNI AD Ditata Ulang

Sepuluh Kodim Beralih ke Kodam Mataram, Komando Wilayah TNI AD Ditata Ulang

Kabupaten Sleman | Sepuluh Komando Distrik Militer (Kodim) yang sebelumnya berada di bawah Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Diponegoro kini masuk ke wilayah Kodam XXVI/Mataram. Peralihan tersebut menjadi bagian dari penataan ulang komando kewilayahan TNI Angkatan Darat. Penyerahan satuan menandai perubahan cakupan wilayah komando, dengan sepuluh Kodim itu berpindah dari struktur Kodam IV/Diponegoro ke Kodam XXVI/Mataram.

Peralihan itu ditandai dalam rangkaian serah terima komando dan apel penyerahan satuan yang berlangsung di Lapangan Makodam IV/Diponegoro, Watugong, Semarang, pada Senin, 19 Oktober. Kegiatan tersebut menjadi momen resmi untuk menandai penyerahan satuan dari satu komando wilayah kepada komando wilayah lainnya. Dengan demikian, perubahan status sepuluh Kodim berlangsung dalam konteks penataan organisasi, bukan sekadar pergantian pejabat pada satuan tertentu.

Pada rangkaian yang sama, jabatan Pangdam IV/Diponegoro juga berganti. Mayjen TNI Achiruddin menyerahkan kepemimpinan kepada Mayjen TNI Sudaryanto. Pergantian Pangdam ini merupakan perubahan kepemimpinan di tubuh Kodam IV/Diponegoro, sedangkan perpindahan sepuluh Kodim merupakan perubahan hubungan komando kewilayahan. Kedua hal tersebut berlangsung dalam rangkaian acara yang sama, tetapi memiliki makna dan cakupan yang berbeda.

Perbedaan itu penting untuk memahami penataan yang diumumkan. Serah terima jabatan Pangdam mengalihkan tanggung jawab pimpinan Kodam IV/Diponegoro dari Achiruddin kepada Sudaryanto. Sementara itu, penyerahan satuan mengubah kedudukan sepuluh Kodim yang sebelumnya berada dalam wilayah Kodam IV/Diponegoro, sehingga kini masuk dalam wilayah Kodam XXVI/Mataram. Apel di Watugong menjadi penanda bagi kedua proses tersebut, tanpa menyamakan pergantian pimpinan dengan perpindahan satuan.

Penataan komando ini menunjukkan adanya perubahan susunan wilayah kerja TNI AD. Kodam IV/Diponegoro tetap dipimpin oleh Pangdam yang baru, sedangkan sepuluh Kodim yang diserahkan selanjutnya berada di bawah Kodam XXVI/Mataram. Serah terima pada 19 Oktober menjadi titik penanda pelaksanaan perubahan tersebut. Rangkaian acara itu sekaligus mencatat dua agenda organisasi: pergantian kepemimpinan di Kodam IV/Diponegoro dan peralihan sepuluh satuan teritorial ke komando wilayah yang berbeda.

Mayjen Sudaryanto menyampaikan bahwa keputusan pimpinan TNI Angkatan Darat menetapkan peralihan sepuluh Komando Distrik Militer (Kodim) ke dalam jajaran Kodam Mataram. Penataan tersebut mencakup lima Kodim yang sebelumnya berada di wilayah DI Yogyakarta dan lima Kodim dari wilayah Jawa Tengah. Dengan demikian, satuan-satuan yang berpindah tidak hanya berasal dari satu provinsi, tetapi dihimpun dalam susunan komando wilayah yang baru sesuai keputusan pimpinan.

Sepuluh satuan yang disebut dalam keputusan itu adalah Kodim 0706/Temanggung, Kodim 0707/Wonosobo, Kodim 0708/Purworejo, Kodim 0729/Bantul, Kodim 0730/Gunungkidul, Kodim 0731/Kulonprogo, Kodim 0732/Sleman, Kodim 0734/Yogyakarta, Kodim 0723/Klaten, dan Kodim 0728/Wonogiri. Nama dan nomor satuan tersebut menjadi bagian penting dari penjelasan mengenai cakupan perubahan, karena menunjukkan secara langsung Kodim mana saja yang masuk dalam peralihan ke Kodam Mataram.

Perpindahan ini merupakan bagian dari penataan komando kewilayahan TNI AD. Dalam susunan baru, hubungan komando bagi sepuluh Kodim tersebut dialihkan ke Kodam Mataram, mengikuti kebijakan yang telah diputuskan oleh pimpinan. Perubahan itu berkaitan dengan organisasi dan garis komando satuan; penyebutan peralihan tidak dengan sendirinya menjelaskan perubahan tugas harian tiap Kodim ataupun rincian teknis pelaksanaannya.

Sudaryanto menegaskan jumlah dan cakupan satuan yang beralih sebagaimana ditetapkan dalam keputusan tersebut. Daftar lengkapnya membantu masyarakat memahami skala penataan, sekaligus membedakan perubahan struktur komando dari perubahan nama satuan. Informasi yang tersedia menyebut pembagian jumlah asal secara keseluruhan—lima dari DI Yogyakarta dan lima dari Jawa Tengah—tanpa merinci asal provinsi setiap Kodim satu per satu. Karena itu, daftar satuan dapat disampaikan secara utuh tanpa menambahkan pengelompokan provinsi yang tidak dinyatakan. Penataan ini menandai perubahan susunan wilayah komando TNI AD, sementara seluruh sepuluh Kodim yang disebut tetap menjadi satuan yang berada dalam cakupan organisasi Kodam Mataram sesuai keputusan pimpinan.

Setelah pemisahan wilayah komando, Sudaryanto menyampaikan bahwa Kodam akan lebih memusatkan perhatian pada penataan wilayah serta penyelenggaraan pertahanan dan keamanan. Penyesuaian batas tanggung jawab komando diharapkan membuat pelaksanaan tugas kewilayahan lebih terarah, dengan fokus yang sesuai kebutuhan masing-masing daerah. Menurutnya, pengaturan tersebut juga berkaitan dengan upaya memperkuat sistem keamanan, sehingga koordinasi dan kesiapan dalam menjalankan fungsi pertahanan dapat ditingkatkan. Penataan ini bukan sekadar perubahan pembagian wilayah, tetapi bagian dari pengaturan organisasi agar komando memiliki ruang kerja yang lebih jelas.

Ia juga menyatakan bahwa program ketahanan pangan, energi, dan air akan tetap dilanjutkan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa agenda-agenda itu masih menjadi bagian dari perhatian Kodam di samping tugas pokok pertahanan dan keamanan. Kelanjutannya tidak berarti bahwa seluruh program telah selesai atau hasilnya sudah tercapai; pelaksanaannya tetap menjadi agenda yang perlu diteruskan sesuai kebijakan dan kondisi wilayah. Dengan demikian, prioritas kerja mencakup penguatan fungsi komando kewilayahan sekaligus kesinambungan program yang berhubungan dengan ketahanan masyarakat.

Pembentukan Kodam XXVI/Mataram ditempatkan dalam konteks penataan organisasi TNI AD. Langkah tersebut dimaksudkan untuk memperkuat struktur komando kewilayahan dan mendukung pelaksanaan tugas pertahanan negara. Melalui struktur yang disesuaikan, rentang kendali dan pembagian tanggung jawab diharapkan lebih sejalan dengan kebutuhan wilayah yang dilayani. Tujuan itu menjadi landasan bagi pengaturan komando baru, termasuk pengalihan sepuluh Kodim ke Kodam Mataram sebagaimana disebut dalam penataan tersebut. Perubahan organisasi tetap perlu diikuti koordinasi yang baik satuan, pemerintah daerah, dan unsur terkait agar tanggung jawab keamanan serta pertahanan dapat dijalankan secara tertib. Pada saat yang sama, keberlanjutan program pangan, energi, dan air perlu ditempatkan dalam perencanaan kerja, tanpa mengaburkan prioritas utama Kodam dalam menjaga wilayah. Dengan penataan tersebut, komando diharapkan mampu menjalankan tugasnya secara lebih fokus dan mendukung kebutuhan pertahanan negara di tingkat kewilayahan.

Kodam XXVI/Mataram dibentuk dan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 5 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Tentara Nasional Indonesia. Pembentukan komando daerah militer tersebut menjadi bagian dari penataan organisasi dan wilayah komando TNI Angkatan Darat, termasuk peralihan sejumlah satuan teritorial ke struktur baru. Mayjen TNI Drajad Brima Yoga ditetapkan sebagai Panglima Kodam XXVI/Mataram pertama. Penetapan pimpinan tersebut menandai dimulainya pelaksanaan tugas Kodam Mataram dalam susunan komando TNI AD yang diperbarui.

Markas permanen Kodam XXVI/Mataram direncanakan berlokasi di Kelurahan Sidoluhur, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi itu dipersiapkan sebagai pusat komando untuk mendukung pelaksanaan tugas dan administrasi satuan setelah fasilitasnya siap digunakan. Selama masa transisi, Markas Korem 072/Pamungkas di Kota Yogyakarta direncanakan menjadi lokasi operasional sementara. Penggunaan markas tersebut akan berlangsung sampai markas permanen di Sidoluhur dapat difungsikan. Dengan pengaturan sementara ini, kegiatan operasional Kodam dapat berjalan sembari persiapan fasilitas tetap dilaksanakan.

Dalam rangkaian perubahan kepemimpinan dan penataan organisasi tersebut, Achiruddin berpindah tugas menjadi Wakil Kepala Staf Teritorial (Wakaster) TNI. Ia berpesan agar para prajurit meneruskan dedikasi dalam menjalankan tugas serta menjaga kerja sama dengan pejabat baru. Pesan itu disampaikan seiring pergantian penugasan dan dimulainya kepemimpinan Kodam XXVI/Mataram di bawah Mayjen TNI Drajad Brima Yoga. Pada masa peralihan, satuan dan personel terkait menjalankan tugas sesuai susunan komando baru, sementara penggunaan markas sementara direncanakan tetap berlangsung hingga markas permanen siap digunakan.

Baca juga: Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Salurkan 77.000 Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan | Tanggap Darurat, Kodim Bojonegoro Terus Pasok Puluhan Ribu Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun