Jakarta | Bagi Andrew Jones, pendiri Noah’s Ark Scans, upaya menelusuri jejak Bahtera Nuh tidak berhenti pada pengamatan dan pemindaian. Agar tim dapat melakukan penggalian secara resmi di Turki, mereka perlu memperoleh izin dari pihak berwenang. Proses tersebut menuntut kesabaran, karena rencana penelitian harus memenuhi persyaratan kelembagaan dan berjalan melalui jalur akademis yang sesuai. Jones dan timnya tidak dapat langsung memulai pekerjaan lapangan hanya berdasarkan keyakinan atau hasil kajian awal.
Selama bertahun-tahun, Jones berusaha membangun kerja sama yang diperlukan untuk mengajukan penelitian tersebut. Salah satu ketentuan penting adalah kegiatan penggalian harus berada di bawah naungan sebuah universitas Turki. Tim juga perlu bekerja bersama seorang profesor Turki, sehingga penelitian memiliki pendampingan akademis setempat dan dapat dilaksanakan dalam kerangka yang diakui. Persyaratan ini menjadi bagian penting dari proses, bukan sekadar formalitas administratif, karena penggalian memerlukan pengawasan dan tanggung jawab ilmiah.
Pengaturan kerja sama itu membutuhkan waktu. Tim harus menjalin hubungan dengan mitra akademis, menyusun rencana penelitian, serta menunggu proses perizinan berjalan. Dalam rentang tersebut, Jones tetap mengupayakan agar gagasan penelitian dapat diterima melalui lembaga yang tepat. Bagi organisasi Noah’s Ark Scans, langkah ini membuka kemungkinan untuk bergerak dari dokumentasi dan pemeriksaan non-invasif menuju pekerjaan lapangan yang lebih langsung. Namun, izin tidak berarti bahwa semua pertanyaan tentang temuan tersebut telah terjawab; penggalian tetap memerlukan metode yang cermat dan penilaian berdasarkan bukti.
Setelah upaya panjang itu, izin akhirnya diperoleh pada awal 2023. Persetujuan tersebut menjadi tonggak penting bagi Jones dan timnya, sekaligus hasil dari kolaborasi dengan kalangan akademis Turki. Dengan adanya izin dan pendampingan profesor setempat, tim dapat melanjutkan rencana penelitian dalam kerangka yang lebih resmi. Perkembangan ini menandai perubahan besar setelah bertahun-tahun menunggu, meskipun tahap berikutnya tetap bergantung pada pelaksanaan penelitian yang tertib, transparan, dan sesuai ketentuan yang berlaku.
Setelah izin diperoleh, kesempatan untuk bergerak ternyata tidak berarti tim dapat langsung memulai pekerjaan. Andrew Jones menjelaskan bahwa mereka hanya memiliki waktu satu bulan untuk menyiapkan berbagai hal sebelum dapat bekerja. Dalam rentang yang singkat itu, tim harus menggalang dana, menyiapkan kebutuhan, serta melibatkan orang-orang yang diperlukan. Setiap urusan tersebut menuntut perhatian, sementara batas waktunya sudah jelas. Karena itu, izin menjadi awal dari tahap persiapan yang mendesak, bukan akhir dari proses yang harus dilalui.
Keterangan Jones tentang satu bulan itu menunjukkan betapa terbatasnya waktu yang tersedia. Menggalang dana, memastikan kebutuhan siap, dan mengajak orang untuk terlibat merupakan pekerjaan yang perlu dilakukan sebelum tim dapat melanjutkan langkahnya. Ketiganya berlangsung dalam jangka waktu yang sama, sehingga tidak ada banyak ruang untuk menunda. Tim perlu menggunakan kesempatan tersebut sebaik mungkin, sembari memastikan berbagai persiapan yang diperlukan tidak terabaikan. Jones tidak menyebutkan besaran dana, jumlah orang, ataupun rincian lain yang dapat menjelaskan skala persiapan itu; yang ditekankan adalah singkatnya waktu sebelum pekerjaan dapat dimulai.
Batas satu bulan tersebut memberi gambaran tentang tekanan yang menyertai tahap awal perjalanan Jones. Setelah izin didapat, tim harus bergerak cepat agar penggalangan dana, persiapan kebutuhan, dan keterlibatan orang-orang dapat ditangani. Namun, urgensi ini tidak menghapus kenyataan bahwa semua hal itu masih perlu diupayakan sebelum mereka bisa bekerja. Dengan demikian, masa persiapan menjadi bagian penting dari perjuangan, bukan jeda tanpa kegiatan. Penuturan Jones menegaskan bahwa waktu yang tersedia sangat terbatas, dan tim harus memanfaatkan bulan tersebut untuk menyiapkan landasan bagi langkah berikutnya. Tanpa menambahkan rincian yang tidak disampaikan, jelas bahwa izin membuka peluang sekaligus memulai hitung mundur bagi tim.
Proyek pemindaian yang berupaya menelusuri Bahtera Nuh menghadapi kecaman dari berbagai pihak, bukan hanya dukungan dan rasa ingin tahu. Sejumlah profesor yang terlibat dalam proyek tersebut disebut pengkhianat oleh sebagian orang yang menentang pekerjaan mereka. Sebutan itu mencerminkan kuatnya pertentangan di sekitar penelitian, terutama ketika temuan atau metode proyek dipandang berbeda dari keyakinan sebagian pihak. Pada saat yang sama, kelompok ateis dan agnostik juga mengecam proyek tersebut, meskipun alasan keberatan mereka tidak selalu sama dengan kritik dari kelompok religius. Dengan demikian, tim menghadapi tekanan dari arah yang beragam dan perdebatan mengenai proyek tidak terbatas pada satu pandangan tertentu.
Di tengah suasana itu, Andrew Jones mengatakan bahwa ia menerima ancaman pembunuhan. Ia mengisahkan bahwa seseorang mengetuk pintu rumahnya pada tengah malam, dan kejadian semacam itu berulang sejak awal tahun. Menurut pengakuannya, ketukan tersebut terjadi pada waktu yang mengganggu dan menimbulkan kekhawatiran, terutama karena disertai ancaman serius. Pengalaman itu menambah dimensi pribadi pada tekanan yang dihadapi Jones ketika menelusuri bahtera dan terlibat dalam proyek pemindaian. Namun, laporan mengenai ancaman tersebut perlu disampaikan sebagai klaim Jones, bukan sebagai fakta yang telah dibuktikan secara independen. Tidak ada keterangan yang memastikan siapa pelakunya, bagaimana ancaman disampaikan secara lengkap, atau apakah telah dilakukan penyelidikan resmi.
Informasi yang tersedia juga tidak menetapkan motif di balik ancaman yang dikatakan diterima Jones. Tidak dapat dipastikan apakah kejadian mengetuk pintu itu dimaksudkan untuk mengintimidasi dirinya, maupun apakah ancaman tersebut berkaitan dengan proyek pemindaian Bahtera Nuh. Kecaman terhadap para profesor dan kritik dari kelompok ateis serta agnostik menunjukkan adanya kontroversi, tetapi keberadaan kontroversi saja tidak membuktikan hubungan sebab akibat dengan ancaman. Karena itu, penting untuk membedakan tekanan publik yang dilaporkan, pengakuan Jones mengenai pengalaman di rumahnya, dan fakta yang belum terverifikasi. Tanpa bukti lebih lanjut, kaitan proyek, para pengkritiknya, dan ancaman tersebut tetap belum jelas. Sikap berhati-hati ini menjaga pemberitaan tetap akurat sekaligus mengakui keseriusan pengalaman yang disampaikan Jones.
Ancaman yang berulang membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari Andrew Jones. Setelah sejumlah kejadian membuatnya merasa tidak aman, ia meninggalkan apartemennya dan kini tinggal bersama seorang teman. Perpindahan itu merupakan langkah pencegahan, bukan pernyataan bahwa ia telah mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas ancaman tersebut. Dengan menetap di tempat lain, Jones berupaya mengurangi risiko dan memperoleh dukungan dari orang yang dipercaya selama situasi berlangsung.
Perubahan tempat tinggal juga berarti ia harus menyesuaikan rutinitas dan mempertimbangkan kembali urusan praktis yang biasanya berjalan tanpa banyak perhatian. Namun, informasi mengenai kepindahan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab setiap kejadian atau memastikan adanya kaitan dengan penelitiannya. Ancaman dan pencarian bahtera Nuh adalah dua hal yang muncul dalam kisah Jones, tetapi hubungan sebab-akibat di keduanya tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan urutan peristiwa. Karena itu, kehati-hatian diperlukan saat menggambarkan keadaan yang dihadapinya.
Meski harus menghadapi ketidakpastian dan mengambil langkah untuk melindungi diri, Jones tidak berniat menghentikan pencariannya. Ia tetap bertekad menelusuri kemungkinan lokasi bahtera Nuh, sebuah upaya yang telah menjadi bagian penting dari kegiatannya. Keputusan untuk terus bekerja tidak menghapus dampak ancaman, sebagaimana kepindahannya tidak berarti ia menyerah pada tujuan tersebut. Untuk saat ini, Jones menjalankan pencarian sambil tinggal bersama temannya dan tetap memperhatikan keselamatan. Tantangan yang dihadapinya mengubah cara ia menjalani kehidupan, tetapi belum mengubah niatnya untuk melanjutkan penelusuran.
Baca juga: Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | Padamkan Bara di Balik Gambut, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Jaga Permukiman Dari Ancaman Karhutla | Api Belum Usai Perjuangan Berlanjut, Satgas Irigasi Lanud Sjamsudin Noor Terus Perkuat Upaya Padamkan Karhutla Kalsel Optimalkan Air Hingga Dinginkan Lahan Gambut





