Jakarta | SeaBank Indonesia merupakan bagian dari Sea Limited, perusahaan teknologi dan internet konsumen multinasional yang berkantor pusat di Singapura. Karena itu, latar belakang SeaBank tidak dapat dipahami hanya dengan melihat sosok yang mendirikannya. Struktur perusahaan induk, anak usaha, dan kepemilikan korporasi turut menjelaskan bagaimana layanan perbankan digital tersebut berada dalam ekosistem Sea. Sea Limited mengembangkan sejumlah bisnis yang melayani kebutuhan konsumen di berbagai pasar, termasuk Indonesia, dan SeaBank menjadi salah satu bagian dari perluasan aktivitasnya ke sektor jasa keuangan.
Tokoh penting di balik Sea Limited adalah Forrest Li, yang juga dikenal dengan nama Li Xiaodong. Ia merupakan pendiri sekaligus CEO perusahaan tersebut dan berperan dalam membangun grup yang awalnya dikenal luas melalui bisnis gim. Di bawah kepemimpinan Li, Sea Limited kemudian berkembang menjadi perusahaan dengan beberapa lini usaha digital. Nama Forrest Li kerap muncul dalam pemberitaan tentang SeaBank karena kaitannya dengan perusahaan induk, tetapi hubungan itu perlu dijelaskan secara tepat: Li memimpin Sea Limited, sementara SeaBank beroperasi dalam struktur korporasi grup, bukan sebagai usaha yang otomatis dimiliki secara pribadi olehnya.
Secara ringkas, ekosistem Sea Limited mencakup Garena, yang bergerak di bidang gim dan hiburan digital; Shopee, platform e-commerce; serta layanan keuangan digital, termasuk SeaBank. Ketiga lini tersebut memiliki fungsi dan operasional masing-masing, meskipun berada dalam kelompok usaha yang sama. Kehadiran layanan keuangan dapat mendukung aktivitas pengguna dan penjual dalam ekosistem digital, tetapi SeaBank tetap merupakan institusi perbankan dengan entitas serta pengaturan tersendiri. Dengan demikian, pembahasan mengenai bank ini sebaiknya berangkat dari hubungan korporasinya dengan Sea Limited dan sejarah bisnis grup tersebut. Menyebut SeaBank sebagai bank milik Forrest Li secara pribadi tanpa konteks dapat menyederhanakan struktur kepemilikan dan mengaburkan perbedaan kepemilikan perusahaan, kepemimpinan eksekutif, serta operasi anak usaha. Fokus yang lebih akurat adalah memahami bagaimana SeaBank berada di bawah payung grup Sea dan bagaimana Forrest Li menjadi figur pendiri yang memimpin perusahaan induknya.
Sebelum dikenal dengan nama SeaBank Indonesia, institusi ini memiliki sejarah yang berawal dari pendirian PT Bank Kesejahteraan Ekonomi, yang juga dikenal sebagai Bank BKE. Bank tersebut didirikan di Jakarta pada 4 Oktober 1991. Nama awalnya mencerminkan gagasan tentang lembaga keuangan yang berorientasi pada kesejahteraan ekonomi, sekaligus menandai babak pertama perjalanan institusi tersebut.
Pendirian Bank BKE disebut berangkat dari gagasan ekonom senior Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Dalam latar tersebut, gagasan membentuk sebuah bank berkaitan dengan kebutuhan menyediakan pembiayaan bagi kelompok tertentu. Peran Soemitro dalam merintis gagasan ini menjadi bagian penting dari kisah awal bank, meskipun keterangan yang tersedia tidak menguraikan proses pembentukan maupun struktur kelembagaannya secara lebih terperinci.
Fokus awal Bank BKE adalah pembiayaan bagi pegawai negeri sipil. Dengan demikian, bank ini sejak awal memiliki sasaran yang jelas: membantu memenuhi kebutuhan pembiayaan para aparatur sipil negara. Fokus tersebut menjadi penanda identitas awalnya dan membedakan fase pendirian bank dari fase-fase berikutnya. Informasi ini memberikan gambaran mengenai tujuan awal institusi tanpa perlu menambahkan rincian mengenai jenis produk, mekanisme penyaluran, atau cakupan layanan yang tidak disebutkan.
Nama Bank BKE kemudian menjadi bagian dari sejarah panjang institusi yang kini menggunakan nama SeaBank Indonesia. Perubahan dari nama PT Bank Kesejahteraan Ekonomi menuju SeaBank menunjukkan bahwa identitas yang dikenal publik saat ini tidak muncul sejak awal pendirian. Namun, latar yang dapat dipastikan dalam kisah awal ini tetap berpusat pada tanggal pendirian di Jakarta, gagasan yang dikaitkan dengan Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, serta perhatian awal terhadap pembiayaan pegawai negeri sipil.
Menelusuri asal-usul tersebut membantu menempatkan SeaBank Indonesia dalam konteks sejarahnya: mula-mula hadir sebagai Bank BKE pada 1991, dengan orientasi pembiayaan yang spesifik. Rangkaian fakta itu menjadi pijakan untuk memahami perubahan identitasnya, tanpa mencampuradukkan tujuan awal bank dengan karakter atau aktivitasnya pada masa kini.
Pada awal 2021, Sea Group mengakuisisi Bank BKE sebagai bagian dari upaya memperluas ekosistem layanan keuangan digital di Asia Tenggara. Peristiwa ini menandai masuknya Bank BKE ke dalam kelompok usaha Sea Group dan menjadi tahap awal sebelum bank tersebut beralih ke identitas SeaBank. Pada saat akuisisi, nama Bank BKE masih digunakan. Peralihan itu kemudian berlangsung melalui beberapa tahapan yang berbeda, mulai dari pengambilalihan, persetujuan regulator, perubahan nama, hingga peluncuran aplikasi perbankan digital. Urutan ini memperlihatkan bahwa proses menuju layanan SeaBank tidak terjadi sekaligus, melainkan berlangsung sepanjang 2021. Dalam kronologi tersebut, akuisisi pada awal tahun mendahului perubahan nama resmi bank dan peluncuran aplikasi yang menjangkau masyarakat secara nasional.
Setelah akuisisi, perubahan nama dilakukan setelah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada Februari 2021, Bank BKE berganti nama menjadi PT Bank SeaBank Indonesia. Persetujuan OJK merupakan bagian dari proses formal yang mendahului penggunaan nama baru tersebut. Perubahan nama ini perlu dibedakan dari peluncuran aplikasi: pergantian identitas bank terjadi lebih dahulu, sedangkan layanan perbankan digital melalui aplikasi diperkenalkan beberapa bulan kemudian. Dengan demikian, kronologi dasarnya dimulai dari akuisisi Sea Group pada awal 2021, dilanjutkan persetujuan regulator dan perubahan nama pada Februari, lalu peluncuran aplikasi pada Juli. Tahapan tersebut mencatat perkembangan korporasi dan layanan bank secara berurutan, tanpa menyamakan perubahan nama dengan saat aplikasi mulai tersedia.
Pada Juli 2021, SeaBank meluncurkan aplikasi perbankan digitalnya secara nasional. Peluncuran ini menandai tersedianya layanan berbasis aplikasi bagi masyarakat di Indonesia, setelah nama PT Bank SeaBank Indonesia resmi digunakan. Sasaran layanan yang disebut mencakup nasabah ritel dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan cakupan tersebut, aplikasi diperkenalkan untuk melayani dua kelompok pengguna, yakni individu sebagai nasabah ritel serta pelaku usaha dalam kategori UMKM. Rangkaian peristiwa pada 2021 pun dapat dibaca secara jelas: Sea Group mengakuisisi Bank BKE pada awal tahun; setelah memperoleh persetujuan OJK, bank berganti nama pada Februari; dan aplikasi diluncurkan secara nasional pada Juli. Inilah urutan peralihan dari Bank BKE menuju layanan perbankan digital SeaBank di Indonesia.
Perkiraan kekayaan Forrest Li kerap berubah mengikuti harga saham dan kondisi pasar, sehingga angka yang dicantumkan berbagai sumber sebaiknya dipahami sebagai estimasi, bukan nilai tetap. Berdasarkan daftar Forbes yang dirujuk, kekayaan bersih Li diperkirakan mencapai US$6 miliar, atau sekitar Rp93,95 triliun. Angka tersebut menggambarkan perkiraan nilai asetnya pada periode tertentu dan dapat bergerak seiring perubahan kepemilikan serta harga saham.
Sumber utama kekayaan Li adalah kepemilikan sahamnya di Sea Limited, perusahaan teknologi yang ia dirikan dan pimpin. Sea Limited menaungi beberapa lini usaha besar, termasuk Garena di bidang hiburan digital dan gim, Shopee sebagai platform perdagangan elektronik, serta layanan keuangan digital SeaMoney, yang mencakup SeaBank di sejumlah pasar. Dengan demikian, nilai kekayaan Li berkaitan erat dengan kinerja dan penilaian pasar terhadap keseluruhan bisnis Sea, bukan hanya satu produk atau layanan tertentu.
Perubahan nilai saham Sea Limited turut membuat estimasi kekayaan Li berfluktuasi tajam. Pada 2021, ketika saham perusahaan berada dalam periode kenaikan, sejumlah perkiraan menempatkan kekayaannya di kisaran US$20,2 miliar hingga US$22 miliar.





