Jakarta | Sejumlah kandidat vaksin tuberkulosis (TBC) tengah menjalani uji klinik dan menjadi perhatian Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Pemantauan ini dilakukan seiring upaya mencari perlindungan yang lebih baik terhadap penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Pengembangan kandidat baru diharapkan melengkapi langkah pencegahan yang telah berjalan, termasuk imunisasi dengan vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG).
BCG merupakan vaksin yang berasal dari bakteri dan hingga kini masih digunakan dalam program vaksinasi. Keberadaannya tetap menjadi bagian dari upaya melindungi masyarakat dari TBC, terutama melalui pemberian sesuai kebijakan dan ketentuan kesehatan yang berlaku. Karena itu, pembahasan mengenai efektivitas BCG yang berubah tidak berarti vaksin tersebut telah dihentikan, tidak lagi digunakan, atau sama sekali tidak memberikan manfaat.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa efektivitas BCG mulai menurun sehingga diperlukan pengembangan kandidat vaksin baru sebagai pelengkap. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan di kantor BPOM, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026). Keterangan tersebut menempatkan pengembangan vaksin baru dalam konteks kebutuhan untuk terus memperkuat pencegahan TBC, sembari mempertahankan peran vaksinasi yang sudah tersedia.
Uji klinik merupakan tahapan penting untuk menilai keamanan dan kinerja kandidat sebelum vaksin dapat dipertimbangkan untuk penggunaan lebih luas. BPOM memantau perkembangan kandidat-kandidat tersebut dalam kerangka pengawasan obat dan produk biologi, termasuk proses evaluasi yang diperlukan berdasarkan data penelitian. Setiap hasil pengujian perlu ditelaah secara cermat, sebab keputusan terkait penggunaan vaksin harus bertumpu pada bukti ilmiah dan standar yang berlaku.
Dengan demikian, pemantauan terhadap vaksin kandidat berjalan berdampingan dengan penggunaan BCG, bukan menggantikannya secara langsung. Pengembangan produk baru juga memerlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui tingkat perlindungan, keamanan, serta kelompok yang mungkin memperoleh manfaat. Bagi masyarakat, perkembangan ini menunjukkan bahwa strategi vaksinasi TBC terus dikaji, sementara informasi mengenai perubahan kebijakan maupun rekomendasi tetap perlu merujuk pada keterangan resmi otoritas kesehatan.
Salah satu kandidat vaksin TBC yang mendapat perhatian karena dipromosikan oleh miliarder Bill Gates kini telah memasuki uji klinik fase tiga. Taruna menyampaikan bahwa pengujian tersebut berlangsung secara multisentris, yakni melibatkan sejumlah pusat penelitian dan peserta di berbagai negara. Tahap ini menjadi bagian penting dalam pengembangan vaksin karena kandidat diuji pada kelompok sukarelawan yang besar, dengan pengawasan dan pengumpulan data secara terstruktur.
Menurut perkiraan Taruna, jumlah peserta uji secara global hampir mencapai 60 ribu orang. Ia menyampaikan angka itu dengan catatan bahwa jumlah pastinya belum dapat dipastikan. Dari Indonesia, sekitar 2 ribu orang diperkirakan ikut serta sebagai sukarelawan. Keterlibatan peserta dari berbagai wilayah memungkinkan pengujian dilakukan dalam konteks yang beragam, sekaligus memberikan kontribusi data dari negara dengan beban TBC yang tinggi.
Taruna mengaitkan porsi peserta Indonesia dengan besarnya tantangan TBC di dalam negeri. Jumlah pengidap TBC nasional disebut telah mencapai lebih dari satu juta orang. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar yang relevan dalam pembahasan partisipasi Indonesia pada penelitian berskala internasional. Namun, besarnya beban penyakit tidak dengan sendirinya menunjukkan bagaimana kandidat vaksin akan bekerja; penilaian tetap bergantung pada data yang dikumpulkan selama uji klinik.
Uji fase tiga tersebut, menurut Taruna, masih berjalan. Ia mengatakan telah melihat hasil sementara yang dinilai cukup baik, tetapi keterangan itu belum merupakan hasil akhir penelitian. Data yang tersedia sepanjang proses pengujian masih perlu ditelaah lebih lanjut sesuai rancangan dan pemantauan uji. Karena itu, perkembangan ini lebih tepat dipahami sebagai kemajuan dalam tahapan penelitian, bukan sebagai kepastian mengenai manfaat atau kinerja vaksin. Informasi lanjutan akan bergantung pada penyelesaian pengumpulan dan evaluasi data oleh pihak yang menjalankan uji, serta penilaian regulator berdasarkan bukti yang tersedia.
Selain pendekatan vaksin yang diberikan melalui suntikan, BPOM turut memantau kandidat vaksin TBC dari CanSino yang bekerja sama dengan grup Etana. Kandidat ini memiliki cara pemberian berbeda, yakni melalui hirupan ke saluran pernapasan. Rute tersebut menjadi salah satu aspek yang membedakannya dari kandidat vaksin lain yang sedang dikembangkan. Pemantauan terhadap perkembangannya mencakup tahapan uji klinik serta informasi mengenai keamanan dan kelanjutan penelitian. Dengan demikian, kandidat CanSino-Etana menjadi salah satu arah pengembangan yang mengikuti perhatian regulator di bidang vaksin TBC.
Taruna menyampaikan bahwa uji klinik fase 1 kandidat tersebut menunjukkan profil keamanan yang cukup baik. Temuan awal ini menjadi informasi penting dalam proses pengembangan, tetapi tidak dengan sendirinya berarti vaksin telah terbukti efektif atau siap digunakan secara luas. Kandidat itu direncanakan memasuki fase 2, tahap yang akan melanjutkan evaluasi klinis sesuai rancangan penelitian. Peralihan tahap tersebut tetap bergantung pada pelaksanaan dan hasil kajian yang relevan. Karena itu, perkembangan CanSino-Etana perlu dipahami sebagai bagian dari proses penelitian yang masih berlangsung, bukan sebagai produk yang sudah memperoleh kesimpulan akhir.
Arah lain yang juga dipantau adalah kandidat vaksin TBC dalam negeri yang dikembangkan melalui penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Keterlibatan lembaga riset nasional memperluas ragam upaya yang tengah dijajaki, sekaligus memberi ruang bagi pengembangan berbasis penelitian di Indonesia. Menurut keterangan Taruna, BPOM berencana mengevaluasi riset tim BRIN pada minggu berikutnya. Rencana ini menunjukkan bahwa regulator akan menelaah perkembangan penelitian tersebut, tetapi belum dapat diperlakukan sebagai hasil penilaian. Hingga evaluasi dilakukan dan hasilnya disampaikan, belum ada kesimpulan dari BPOM mengenai mutu, keamanan, ataupun kelayakan kandidat BRIN. Pembedaan rencana evaluasi dan hasil evaluasi penting agar informasi mengenai pengembangan vaksin disampaikan secara akurat. Secara keseluruhan, kandidat CanSino-Etana dan riset BRIN menggambarkan dua jalur berbeda yang sama-sama masih berada dalam proses pengembangan serta pemantauan.Pengembangan kandidat vaksin tuberkulosis (TBC) di Indonesia berlangsung dalam konteks beban penyakit yang masih sangat besar. Data Kementerian Kesehatan RI bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Global Tuberculosis Report menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dunia untuk jumlah kasus TBC, setelah India. Laporan tersebut memperkirakan terdapat lebih dari 1,06 juta kasus baru setiap tahun dan sekitar 125 ribu kematian akibat penyakit ini. Angka-angka itu merupakan estimasi, bukan hitungan pasti, dan menggambarkan skala tantangan kesehatan masyarakat yang perlu ditangani secara berkelanjutan.
Tingginya jumlah kasus menunjukkan bahwa TBC tetap memengaruhi banyak keluarga dan komunitas, sekaligus memberi tekanan pada layanan kesehatan. Penularan dapat berlangsung ketika seseorang dengan TBC aktif menularkan bakteri kepada orang lain, sehingga upaya pengendalian memerlukan beragam pendekatan. Diagnosis yang tepat, pengobatan yang tuntas, pencegahan, dan edukasi masyarakat tetap penting. Namun, besarnya beban penyakit turut menjelaskan mengapa pengembangan vaksin baru menjadi salah satu perhatian dalam strategi pengendalian TBC.
Vaksin yang tersedia saat ini memiliki keterbatasan, terutama dalam perlindungan terhadap TBC pada kelompok usia dan bentuk penyakit tertentu. Karena itu, penelitian terhadap kandidat vaksin diarahkan untuk mencari pilihan yang dapat memberikan perlindungan lebih luas atau lebih sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat. Dalam konteks Indonesia, vaksin baru yang efisien berpotensi membantu melengkapi langkah pencegahan lain dan mendukung upaya menekan penularan. Potensi tersebut tetap bergantung pada hasil penelitian, evaluasi keamanan dan efektivitas, serta proses perizinan yang berlaku.
Besarnya estimasi kasus dan kematian tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kandidat vaksin tertentu akan berhasil mengurangi beban TBC.






