Kabupaten Sumba Timur | Perubahan cara menjual kain tenun di Sumba Timur terlihat dari bertambahnya jalur untuk menjangkau pembeli. Sebelumnya, penjualan banyak bergantung pada wisatawan yang datang langsung ke kampung atau rumah para penjual. Cara tersebut tetap penting, tetapi jangkauannya bergantung pada kehadiran orang yang berkunjung. Kini, penggunaan ponsel dan media sosial memungkinkan pedagang menawarkan kain kepada calon pembeli yang tidak berada di sekitar tempat mereka berjualan.
Facebook, Instagram, dan WhatsApp menjadi sarana untuk memperlihatkan produk serta menghubungkan penjual dengan orang yang berminat. Melalui kanal digital tersebut, informasi mengenai kain dapat disampaikan kepada calon pembeli yang lebih luas, termasuk mereka yang berada di luar negeri. Perluasan jangkauan ini memberi pedagang pilihan tambahan untuk menawarkan hasil tenun, tanpa harus menunggu wisatawan datang secara langsung. Ponsel membantu komunikasi berlangsung dari rumah, sementara media sosial menjadi ruang baru untuk mengenalkan produk.
Meski demikian, penjualan daring tidak menggantikan pertemuan langsung. Keduanya berjalan berdampingan sebagai cara yang saling melengkapi: pembeli tetap dapat datang dan melihat kain di tempat, sedangkan penawaran melalui internet membuka kemungkinan menjangkau orang dari lokasi yang berbeda. Bagi pedagang, keberadaan media sosial menambah jalur penjualan, sementara rumah tetap menjadi tempat untuk berjualan secara langsung. Dengan demikian, perubahan ini bukan semata-mata perpindahan dari pasar tatap muka ke ruang digital, melainkan penambahan cara untuk menawarkan kain tenun.
Salah satu keluarga yang mulai memanfaatkan jalur tersebut adalah keluarga Mama Kiani di Kampung Raja Prailiu, dekat pusat Kota Waingapu. Sejak 2022, keluarga ini mulai menggunakan media sosial untuk memperluas penjualan kain tenun. Penggunaan ponsel dan platform seperti Facebook, Instagram, serta WhatsApp membantu mereka menawarkan produk kepada calon pembeli yang lebih beragam. Mama Kiani menyampaikan bahwa keluarganya berjualan secara daring dan langsung di rumah. Kedua cara itu menunjukkan bagaimana penjualan kain tenun dapat menjangkau pembeli melalui media sosial sekaligus mempertahankan interaksi langsung di rumah.
Kemudahan memasarkan tenun secara daring tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perajin menggunakan telepon pintar atau media sosial. Ketersediaan infrastruktur telekomunikasi juga menjadi bagian penting, karena jaringan yang dapat dijangkau memengaruhi peluang masyarakat untuk mengakses internet dan berkomunikasi dengan calon pembeli. Di Sumba Timur, salah satu gambaran dukungan infrastruktur tersebut terlihat dari keberadaan menara base transceiver station (BTS) yang dibangun melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi.
Berdasarkan data Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sumba Timur per 22 Januari 2026, terdapat 96 menara BTS milik BAKTI Komdigi yang tersebar di 22 kecamatan. Angka ini menunjukkan sebaran fasilitas telekomunikasi di berbagai bagian kabupaten, sekaligus memberi konteks mengenai landasan fisik yang mendukung konektivitas. Namun, jumlah menara merupakan data infrastruktur, bukan ukuran langsung tentang mutu layanan, kecepatan internet, atau kemudahan akses yang dialami setiap penduduk.
Tabundung tercatat sebagai kecamatan dengan jumlah menara terbanyak, yaitu 10 unit. Berikutnya, Paberiwai memiliki tujuh unit. Sementara itu, Kambata Mapambuhang, Mahu, Pandawai, dan Pinu Pahar masing-masing memiliki enam unit. Perbedaan jumlah antarkecamatan tersebut penting dicermati secara proporsional: data memperlihatkan lokasi dengan jumlah menara yang tercatat lebih banyak, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan cakupan sinyal pada setiap desa atau kondisi jaringan di titik tertentu.
Bagi penjual tenun, keberadaan infrastruktur dapat menjadi salah satu prasyarat untuk memanfaatkan kanal digital, seperti mengirim foto produk, menanggapi pertanyaan pelanggan, atau mengatur transaksi jarak jauh. Meski demikian, tidak tepat menganggap semua pedagang telah memiliki akses internet yang sama hanya berdasarkan jumlah menara. Pengalaman konektivitas dapat berbeda menurut lokasi tempat tinggal dan berjualan, kondisi perangkat, ketersediaan listrik, serta kualitas layanan yang diterima. Karena itu, data 96 menara ini berguna sebagai gambaran dukungan jaringan yang tersedia, bukan bukti bahwa seluruh wilayah dan pelaku usaha telah terhubung secara setara.Kampung Adat Praiyawang di Desa Rende, Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, menunjukkan contoh lain pemanfaatan akses internet di wilayah perdesaan. Sejak 2025, kampung ini memperoleh fasilitas akses internet melalui program BAKTI Komdigi. Kehadiran fasilitas tersebut memberi warga sarana untuk terhubung secara daring, sekaligus mendukung kebutuhan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman Praiyawang memperlihatkan bagaimana konektivitas dapat digunakan sesuai kebutuhan masyarakat setempat, termasuk untuk urusan keluarga, kegiatan sosial, dan aktivitas ekonomi.
Umbu Borung, tokoh masyarakat setempat, menyampaikan bahwa akses internet membantu warga berkomunikasi. Menurut keterangannya, fasilitas tersebut juga mendukung kegiatan penjualan kain tenun. Dengan tersedianya koneksi, warga memiliki sarana untuk berinteraksi dan menyampaikan informasi mengenai kain yang mereka jual melalui platform digital. Pernyataan ini menggambarkan fungsi internet sebagai alat komunikasi sekaligus sebagai salah satu saluran yang dapat dimanfaatkan dalam pemasaran hasil tenun, tanpa mengubah cara warga menentukan produk maupun menjalankan kegiatan mereka.
Dalam penggunaan media sosial di Sumba, Facebook disebut sebagai platform yang paling sering digunakan masyarakat, disusul Instagram dan TikTok. Keterangan Umbu Borung ini menunjukkan platform yang akrab bagi warga ketika berkomunikasi dan membagikan informasi. Bagi penjual kain tenun, media sosial tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan produk kepada pengguna lain. Namun, pemanfaatannya tetap bergantung pada pilihan warga dan kebutuhan mereka. Akses internet di Praiyawang dengan demikian membantu membuka pilihan saluran komunikasi, termasuk saluran yang berhubungan dengan penjualan.
Selain mendukung pemasaran kain, fasilitas internet juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga dapat memanfaatkannya untuk berkomunikasi dan mengakses layanan atau informasi yang mereka perlukan, sebagaimana dijelaskan oleh Umbu Borung. Penggunaan tersebut berlangsung berdampingan dengan kegiatan ekonomi, bukan semata-mata berfokus pada penjualan tenun. Praiyawang menjadi contoh bahwa akses internet dapat memiliki fungsi praktis yang beragam bagi sebuah kampung adat. Keterangan tokoh setempat menekankan manfaat yang dirasakan dalam komunikasi, kegiatan menjual kain tenun, dan urusan harian masyarakat, tanpa menyatakan dampak lain di luar pengalaman tersebut.
Perkenalan kain tenun melalui media sosial membuka ruang bagi usaha keluarga Mama Kiani untuk dikenal oleh calon pembeli yang lebih luas. Setelah mulai memperkenalkan dan menawarkan produknya secara daring, usaha tersebut mendapat perhatian dan berkesempatan tampil dalam pameran kerajinan internasional Inacraft 2026. Pameran itu berlangsung di Jakarta Convention Center, Senayan, pada 7–11 Oktober 2026. Kesempatan ini menjadi salah satu hasil nyata dari berkembangnya cara pemasaran, tetapi tidak berarti media sosial merupakan satu-satunya faktor yang menentukan kemajuan usaha.
Keikutsertaan di Inacraft memberi kesempatan untuk memperlihatkan kain tenun kepada pengunjung pameran di luar lingkungan kampung. Bagi usaha keluarga, tampil dalam kegiatan seperti ini merupakan jalur tambahan untuk memperkenalkan produk dan menjangkau orang yang mungkin belum pernah melihatnya secara langsung. Perubahan tersebut berlangsung bersama upaya lain yang dilakukan para perajin dan penjual, termasuk menjaga kualitas kain serta membangun hubungan dengan pembeli. Media sosial berperan sebagai sarana untuk memulai komunikasi, sementara pameran menyediakan kesempatan bertemu dan menunjukkan produk secara langsung.
Pengalaman Rambu Magdalena menunjukkan bagaimana media sosial digunakan oleh penjual tenun lainnya. Perajin sekaligus penjual kain tenun berusia 42 tahun ini tinggal di Kampung Adat Praiyawang dan memanfaatkan Facebook untuk menawarkan produknya. Dengan mengunggah atau menyampaikan informasi tentang kain melalui platform tersebut, ia dapat mengenalkan barang dagangannya kepada calon pembeli tanpa harus menunggu mereka datang langsung ke kampung.
Baca juga: Kodim 1714/Puncak Jaya Gandeng Masyarakat Binaan Membangun Jembatan Merah Putih di Kampung Kulok Enggame | Babinsa 1714-01/Mulia Ulia Pererat Kemanunggalan TNI–Rakyat Melalui Anjangsana dan Bantuan Sembako di Kampung Kulon Enggame, Distrik Pagaleme | Kodim 1714/Puncak Jaya Gelar Doa Bersama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Jembatan di Kampung Kulonggame





