Jakarta | Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menurunkan tim Korpolairud Baharkam Polri untuk membantu penyelidikan kebakaran KMP Batumandi di perairan Selat Sunda. Pelibatan unsur kepolisian tersebut ditujukan untuk mendukung pengumpulan keterangan dan penelusuran berbagai kemungkinan terkait insiden yang terjadi di kapal itu.
Arahan Kapolri disampaikan setelah audiensi dengan Menteri Perhubungan Dudy Purwaghandi di Gedung Utama Mabes Polri, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas langkah penanganan dan penyelidikan, termasuk koordinasi Polri dan jajaran Kementerian Perhubungan. Kerja sama lintas lembaga diperlukan agar informasi yang dihimpun dapat saling melengkapi dan proses pemeriksaan berjalan terarah.
Penyelidikan akan menelusuri penyebab kebakaran dari sisi teknis maupun nonteknis. Pemeriksaan teknis dapat mencakup kondisi kapal dan peralatan yang berkaitan dengan keselamatan, sementara aspek nonteknis juga akan diperiksa berdasarkan keterangan serta temuan di lapangan. Tim akan mengumpulkan dan mencocokkan fakta sebelum menarik kesimpulan mengenai awal munculnya api maupun faktor yang berkontribusi terhadap kejadian tersebut.
Korpolairud Baharkam Polri akan membantu jajaran terkait dalam proses tersebut, dengan tetap berkoordinasi bersama Kementerian Perhubungan. Kerja bersama ini mencakup pertukaran informasi dan dukungan terhadap langkah pemeriksaan sesuai tugas masing-masing. Hasil penyelidikan diharapkan memberikan gambaran utuh mengenai kronologi dan kondisi yang melatarbelakangi kebakaran KMP Batumandi.
Kemungkinan adanya tindakan yang disengaja juga masih perlu didalami sebagai salah satu hal yang diperiksa. Kemungkinan itu belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kebakaran, karena penetapan penyebab harus didasarkan pada bukti dan hasil pemeriksaan. Polri menelusuri seluruh petunjuk yang relevan tanpa mengabaikan kemungkinan lain, baik yang berkaitan dengan kondisi teknis kapal maupun faktor nonteknis. Dengan demikian, penyelidikan diharapkan menghasilkan keterangan yang terverifikasi dan menjadi dasar bagi langkah penanganan berikutnya. Koordinasi antarlembaga akan terus dibutuhkan selama proses pengumpulan fakta berlangsung.Penyebab kebakaran KMP Batumandi di Selat Sunda belum dipastikan. Penetapan penyebab insiden masih memerlukan investigasi menyeluruh, sehingga belum ada kesimpulan yang dapat disampaikan mengenai faktor pemicu kebakaran. Pemeriksaan perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran utuh tentang kejadian tersebut, dengan memperhatikan berbagai aspek yang berkaitan dengan insiden. Dalam proses ini, kehati-hatian diperlukan agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap berdasarkan hasil penelaahan, bukan dugaan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) diminta meninjau seluruh aspek kejadian. Penelaahan itu ditujukan untuk mendalami peristiwa kebakaran secara menyeluruh. Dengan cakupan pemeriksaan yang mencakup seluruh aspek terkait, proses investigasi diharapkan dapat memberikan dasar yang memadai untuk memahami kejadian. Namun, sampai pemeriksaan menghasilkan temuan, penyebab kebakaran tetap belum dapat dipastikan.
Dudy menyampaikan keterangan tersebut setelah bertemu dengan Kapolri. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan permintaan kepada KNKT agar melakukan peninjauan terhadap berbagai aspek insiden KMP Batumandi. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penyebab kebakaran masih berada dalam tahap pendalaman dan belum menjadi kesimpulan resmi. Tidak ada dasar untuk menyatakan penyebab tertentu sebelum investigasi selesai dan hasil pemeriksaan tersedia.
Karena itu, proses penyelidikan dan penelaahan menyeluruh menjadi langkah penting sebelum penjelasan lebih lanjut disampaikan. KNKT diminta meninjau seluruh aspek kejadian, sementara informasi mengenai penyebab kebakaran perlu menunggu hasil investigasi. Pendekatan ini menjaga agar perkembangan kasus disampaikan secara cermat dan selaras dengan fakta yang telah diperiksa. Hingga ada hasil yang dapat dipertanggungjawabkan, publik sebaiknya memahami bahwa penyebab kebakaran KMP Batumandi belum diketahui secara pasti. Keterangan Menhub setelah pertemuan dengan Kapolri memberikan penjelasan mengenai langkah penelaahan yang diminta, bukan penetapan penyebab insiden. Dengan demikian, fokus saat ini adalah investigasi menyeluruh atas kejadian tersebut.Kebakaran KMP Batumandi terjadi pada Selasa sore, 20 Oktober 2026, saat kapal tersebut tengah berlayar di Selat Sunda. Pada waktu kejadian, kapal mengangkut ratusan penumpang serta puluhan kendaraan. Informasi awal mengenai insiden ini menunjukkan bahwa peristiwa berlangsung ketika kapal masih berada di perairan sekitar Pelabuhan Merak, bukan saat bersandar di dermaga. Rincian kronologi dan penyebab kebakaran masih menjadi bagian dari penanganan serta pendalaman pihak berwenang.
Kapolda Banten Irjen Pol Hendra Kurniawan menyampaikan data manifes kapal pada Rabu, 21 Oktober 2026. Menurut data tersebut, KMP Batumandi membawa total 420 penumpang. Jumlah itu terdiri atas 393 orang yang berada di dalam kendaraan dan 27 pejalan kaki. Selain penumpang, manifes mencatat terdapat 89 unit kendaraan di atas kapal. Data ini memberikan gambaran mengenai jumlah orang dan kendaraan yang berada dalam pelayaran saat kebakaran terjadi.
Lokasi kebakaran disebut berada sekitar 700 meter dari Dermaga 6 Pelabuhan Merak. Jarak tersebut menempatkan kapal tidak jauh dari kawasan pelabuhan, tetapi insiden berlangsung di perairan sebelum kapal mencapai dermaga. Keterangan tentang posisi kapal dan isi manifes menjadi informasi penting untuk memahami situasi awal kejadian. Namun, angka penumpang dan kendaraan tersebut merupakan data manifes yang disampaikan pada hari setelah insiden, sehingga menjadi rujukan dalam pemberitaan mengenai kondisi kapal ketika terbakar.
KMP Batumandi diketahui merupakan kapal milik PT ASDP Indonesia Ferry. Identitas pemilik kapal, lokasi kejadian, waktu kebakaran, serta jumlah penumpang dan kendaraan melengkapi kronologi dasar yang telah disampaikan kepada publik. Dengan kapal membawa 420 penumpang dan 89 kendaraan, insiden ini melibatkan banyak orang serta muatan kendaraan dalam satu pelayaran. Pihak berwenang masih mendalami penyebab kebakaran, sementara informasi kronologis yang tersedia sejauh ini berfokus pada waktu kejadian, posisi kapal, dan data manifes tersebut.
Seluruh penumpang dan awak KMP Batumandi berhasil dievakuasi setelah kebakaran terjadi di kapal tersebut. Proses evakuasi dilakukan agar semua orang dapat segera meninggalkan kapal dan memperoleh bantuan yang dibutuhkan. Dalam peristiwa ini, tidak ada korban jiwa. Keberhasilan menyelamatkan seluruh penumpang dan awak menjadi kabar penting di tengah upaya petugas menangani dampak kebakaran.
Meski demikian, enam penumpang dilaporkan mengalami keluhan, mulai dari sesak napas dan luka hingga syok. Mereka kemudian dibawa ke Puskesmas Pulomerak dan RS Krakatau Medika untuk menjalani pemeriksaan serta mendapatkan penanganan medis. Petugas kesehatan memeriksa kondisi para penumpang dan memberikan bantuan sesuai keluhan yang dialami. Penanganan tersebut dilakukan setelah mereka dievakuasi dari kapal.
Dermaga 6, yang juga dikenal sebagai Eksekutif 1, digunakan sebagai lokasi evakuasi sekaligus tempat penanganan awal bagi penumpang. Area dermaga itu menjadi titik berkumpul setelah para penumpang dan awak keluar dari kapal. Penggunaan satu lokasi untuk koordinasi memudahkan petugas mendata penumpang, mengidentifikasi mereka yang membutuhkan pemeriksaan, dan mengarahkan bantuan medis. Penumpang yang memerlukan perawatan lebih lanjut kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan.
Selain membantu penumpang, kepolisian membuka posko untuk mendata barang berharga dan kendaraan yang hangus terbakar. Pendataan ini diharapkan membantu pemilik mencatat kerugian serta menindaklanjuti barang yang hilang atau rusak. Kepolisian juga menyediakan surat keterangan kehilangan yang dapat digunakan penumpang untuk mengurus kembali dokumen penting yang ikut terbakar atau tidak ditemukan setelah kejadian.
Bagi penumpang yang perlu melanjutkan perjalanan, ASDP menyiapkan transportasi menuju sejumlah wilayah di Jabodetabek, yakni Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Dukungan transportasi tersebut disediakan untuk membantu penumpang mencapai tujuan setelah proses evakuasi. Dengan demikian, penanganan pascakebakaran tidak hanya mencakup pemeriksaan medis dan pendataan kerugian, tetapi juga bantuan untuk kebutuhan perjalanan serta pengurusan dokumen.
Baca juga: Apel Kesiapsiagaan Karhutla, Sinergi TNI, Polri, dan Masyarakat Cegah Kebakaran Hutan | Cegah Kebakaran Hutan Dan Lahan Meluas, Tim Penyuluh Alpha Mabes TNI Berikan Sosialisasi Dan Wawasan Kepada Anggota Bayan Resourse | TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda






