Bukangi Keluar dari Kanal Busan Setelah Tiga Kali Upaya Penyelamatan

Bukangi Keluar dari Kanal Busan Setelah Tiga Kali Upaya Penyelamatan

Kota Busan | Seekor hiu betina sepanjang sekitar 3,5 meter yang terjebak di sebuah kanal kawasan pelabuhan Busan, Korea Selatan, akhirnya berhasil diarahkan kembali ke laut pada Rabu, 21 Oktober 2026. Hiu tersebut telah berada di kanal selama lebih dari sebulan, sehingga keberadaannya menarik perhatian warga dan petugas setempat. Setelah tiga kali upaya penyelamatan, hewan itu akhirnya dapat keluar dari perairan sempit tersebut menuju laut terbuka. Peristiwa ini berlangsung di Busan, bukan di Indonesia.

Hiu itu mendapat julukan Bukangi, yang diambil dari sebutan Korea untuk Pelabuhan Utara Busan, tempat kanal tersebut berada. Hewan tersebut pertama kali terlihat pada pertengahan September. Sejak itu, pengamatannya menjadi perhatian karena hiu berulang kali berenang memutari kanal, seolah mencari jalan keluar dari area pelabuhan. Pada beberapa kesempatan, siripnya tampak menyembul di permukaan air, memberi tanda bahwa hiu itu masih berada di sekitar lokasi. Pola kemunculan berulang tersebut membuat kisah Bukangi terus diikuti oleh masyarakat.

Kanal yang menjadi tempat hiu itu terjebak merupakan bagian dari lingkungan pelabuhan yang ramai, berbeda dari habitat laut terbuka yang biasanya memberi ruang gerak lebih luas. Karena itu, keberadaan hewan besar di sana memunculkan perhatian terhadap keselamatan hiu sekaligus orang-orang di sekitarnya. Petugas berupaya mengarahkannya keluar tanpa membuatnya semakin tertekan, tetapi prosesnya tidak berhasil dalam dua percobaan awal. Keberhasilan pada upaya ketiga mengakhiri lebih dari sebulan pemantauan dan menjadi penutup dari kejadian yang tak biasa di kawasan utara Busan. Kisah Bukangi pun menyoroti tantangan saat satwa laut masuk ke perairan pelabuhan dan perlunya penanganan yang cermat agar dapat kembali ke habitatnya dengan aman.

Keberadaan Bukangi di sebuah kanal di Busan menarik perhatian besar dari warga maupun wisatawan. Sejak hiu paus itu terlihat di sana, banyak orang datang untuk menyaksikannya secara langsung, menjadikan kanal tersebut pusat perhatian publik. Pemerintah kota Busan turut mengangkat Bukangi sebagai maskot kota, sebuah langkah yang mencerminkan besarnya daya tarik hewan tersebut bagi masyarakat. Pejabat setempat menyebut lebih dari 1,7 juta orang telah mendatangi kanal untuk melihat Bukangi. Jumlah itu menunjukkan bahwa peristiwa ini melampaui perhatian warga sekitar dan menjadi daya tarik bagi pengunjung dari berbagai tempat.

Antusiasme tersebut juga membawa perhatian pada keadaan Bukangi selama berada di kanal. Di tengah sorotan publik dan upaya penyelamatan yang telah dilakukan, para ahli mengkhawatirkan beberapa faktor yang dapat memengaruhi kesejahteraan hiu paus itu. Menurut informasi yang tersedia, Bukangi tidak memperlihatkan tanda-tanda makan selama berada di sana. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berlangsungnya waktu tanpa tanda makan dapat menambah kekhawatiran mengenai keadaannya, meski belum ada dasar untuk menyimpulkan kondisi medis tertentu. Karena itu, pengamatan terhadap perilakunya tetap penting bagi pihak-pihak yang menangani situasi ini.

Suhu air yang kian dingin juga disebut sebagai sumber kekhawatiran. Para ahli menilai perubahan suhu tersebut berpotensi mengganggu kesehatan Bukangi, sehingga kondisi kanal dan respons hewan itu terus menjadi perhatian. Kekhawatiran ini hadir bersamaan dengan tingginya minat masyarakat, yang membuat upaya menjaga jarak dan mengutamakan penanganan yang tepat menjadi penting. Besarnya jumlah pengunjung memperlihatkan kuatnya kepedulian publik, tetapi perhatian itu perlu disertai kehati-hatian agar tidak mengganggu proses penyelamatan. Hingga informasi lebih lanjut tersedia, kondisi Bukangi sebaiknya dipahami berdasarkan hal-hal yang telah disampaikan: ia belum menunjukkan tanda-tanda makan, sementara suhu air yang menurun dikhawatirkan dapat berdampak pada kesehatannya. Tidak ada keterangan yang cukup untuk menyatakan lebih jauh tentang keadaan medisnya.

Penyelamatan Bukangi pada 21 Oktober merupakan upaya ketiga untuk mengarahkannya keluar dari kanal Busan menuju laut. Sebelum operasi tersebut, petugas telah mencoba melakukan penyelamatan pada 29 September dan kembali pada 2 Oktober. Kedua percobaan awal itu tidak berhasil membawa hiu tersebut keluar dari kanal. Urutan tanggal tersebut menunjukkan bahwa upaya pada 21 Oktober dilakukan setelah dua percobaan sebelumnya belum mencapai tujuan. Kronologi ini menjadi konteks penting untuk memahami rangkaian penyelamatan Bukangi, tanpa mengubah fakta bahwa keberhasilan baru dicapai dalam upaya ketiga. Pada tahap awal, petugas menggunakan perahu penyemprot air dan memasang jaring untuk menggiring hiu ke arah laut.

Dalam percobaan pada 29 September dan 2 Oktober, perahu penyemprot air digunakan sebagai bagian dari upaya mengarahkan Bukangi keluar kanal. Petugas juga memasang jaring untuk membantu menggiring hiu menuju laut. Namun, Bukangi dapat menghindari perahu yang digunakan dalam operasi tersebut. Hiu itu juga berhasil melewati jaring yang dipasang petugas. Dengan demikian, cara yang diterapkan pada dua kesempatan awal belum berhasil mengarahkan Bukangi ke luar kanal. Informasi mengenai hasil tersebut menjelaskan secara ringkas mengapa penyelamatan pada 21 Oktober disebut sebagai upaya ketiga, sekaligus memperlihatkan bahwa petugas telah mencoba dua kali sebelumnya dengan menggunakan perahu dan jaring.

Rangkaian kejadian itu berlangsung dalam urutan yang jelas: percobaan pertama dilakukan pada 29 September, percobaan kedua pada 2 Oktober, lalu penyelamatan ketiga berlangsung pada 21 Oktober. Pada dua upaya terdahulu, perahu penyemprot air dan jaring dipakai untuk menggiring Bukangi keluar dari kanal, tetapi hiu tersebut menghindari perahu dan melewati jaring. Kedua percobaan itu pun tidak berhasil. Karena itu, penyebutan upaya ketiga pada 21 Oktober merujuk pada dua usaha sebelumnya yang gagal mengarahkan Bukangi ke laut. Kronologi tersebut memberi gambaran singkat tentang kesulitan yang dihadapi petugas, berdasarkan hasil dua percobaan awal dan tanpa menambahkan alasan lain atas kegagalan tersebut.

Dalam upaya penyelamatan terbaru, petugas menggunakan sebuah platform terapung berukuran besar untuk mengarahkan Bukangi, hiu paus yang terjebak di kanal Busan, menuju mulut kanal. Metode ini memungkinkan tim mengendalikan arah pergerakan hewan tersebut secara bertahap, tanpa harus menariknya langsung menggunakan tali. Platform digerakkan perlahan dari bagian kanal yang lebih dalam menuju jalur keluar, dengan perhatian khusus agar Bukangi tetap berada di dekatnya selama proses berlangsung.

Para pekerja yang berada di atas platform memegang dayung dan mendorong hiu itu menjauh setiap kali ia mendekat. Tindakan tersebut dilakukan berulang kali untuk mencegah Bukangi menabrak atau berenang ke sisi platform, sekaligus membantu mempertahankan arah geraknya. Di tepi kanal, puluhan pekerja menarik tali yang terhubung dengan platform. Koordinasi petugas di atas air dan orang-orang di darat menjadi bagian penting dalam menggerakkan struktur besar tersebut dengan hati-hati.

Proses penyelamatan itu berlangsung di hadapan ratusan orang yang berkumpul untuk menyaksikan. Setelah platform bergerak sekitar satu kilometer ke arah mulut kanal, petugas memasang jaring tambahan. Penghalang tersebut dimaksudkan untuk mencegah Bukangi berbalik dan berenang kembali ke bagian dalam kanal. Langkah ini menjadi penanda bahwa tim telah membawa hiu itu lebih dekat ke perairan terbuka, meskipun pemantauan terhadap arah geraknya masih diperlukan setelah ia meninggalkan lokasi penyelamatan.

Perjalanan Bukangi selanjutnya belum sepenuhnya diketahui. Belum ada kepastian seberapa jauh hiu paus itu melanjutkan perjalanan ke laut lepas, dan ia dilaporkan terlihat di sebuah dermaga yang tidak jauh dari tempat penyelamatan. Wali Kota Busan Chun Jae-soo menyampaikan bahwa perhatian masyarakat kepada Bukangi dan perairan Busan tidak akan dilupakan. Ia juga berharap hiu tersebut dapat hidup sehat di laut.

Baca juga: Latihan Pengenalan Alat Penyelamatan Kapal Perkuat Kemampuan TNI dan Unsur Maritim AS