Korban Jiwa Karhutla di Kawasan Bromo Bertambah Menjadi Enam

Korban Jiwa Karhutla di Kawasan Bromo Bertambah Menjadi Enam

Surabaya | Jumlah korban meninggal dunia akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo bertambah menjadi enam orang. Korban terbaru adalah Suraji, 44 tahun, yang meninggal setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Informasi mengenai wafatnya Suraji disampaikan pihak rumah sakit pada Jumat, 23 Oktober 2026. Keterangan tersebut menambah jumlah korban jiwa dalam peristiwa kebakaran yang terjadi di kawasan Bromo, sekaligus menandai perkembangan terbaru penanganan para korban yang sebelumnya dirawat. Suraji sebelumnya berada dalam pengawasan tim medis rumah sakit setelah kondisinya memerlukan perawatan intensif.

Staf Instalasi Hukum, Humas, dan Pemasaran RSUD Dr. Soetomo, Adin Niken Primasari, menyatakan bahwa Suraji meninggal pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 12.00 WIB. Keterangan rumah sakit itu menjadi dasar informasi mengenai waktu wafatnya korban. Suraji mengembuskan napas terakhir setelah mendapat perawatan intensif di rumah sakit tersebut. Hingga kabar ini disampaikan, jumlah korban meninggal akibat kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo tercatat enam orang, termasuk Suraji. Pihak rumah sakit menyampaikan informasi tersebut melalui perwakilan staf yang menangani hubungan masyarakat dan pemasaran.

Bertambahnya jumlah korban meninggal menjadi perkembangan penting dalam penanganan dampak kebakaran di kawasan Bromo. Suraji merupakan korban keenam yang dilaporkan meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Kabar ini menyusul perawatan intensif yang dijalaninya di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, sebelum dinyatakan meninggal pada tengah hari. Informasi yang disampaikan rumah sakit menyebutkan waktu kejadian secara spesifik, yakni pukul 12.00 WIB pada Jumat, 23 Oktober 2026. Dengan wafatnya Suraji, jumlah korban jiwa yang tercatat akibat karhutla di kawasan Gunung Bromo kini menjadi enam orang. Keterangan mengenai korban dan waktu meninggalnya berasal dari Adin Niken Primasari, staf instalasi hukum, humas, dan pemasaran rumah sakit.

Suraji bekerja sebagai petugas keamanan di Artotel, PT Mitra Indo Permai. Setelah kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo, ia menjadi salah satu korban yang mengalami dampak serius. Paparan api dan panas menyebabkan luka bakar berat dengan luas sekitar 49 persen dari permukaan tubuhnya. Cedera tersebut terutama mengenai wajah dan dada, bagian tubuh yang membutuhkan perhatian khusus selama penanganan. Luas dan lokasi luka membuat kondisinya memerlukan perawatan medis segera, sekaligus pemantauan ketat oleh tenaga kesehatan. Penanganan tidak hanya ditujukan pada luka yang terlihat, tetapi juga terhadap kemungkinan gangguan lain akibat paparan kebakaran.

Selain mengalami luka bakar, Suraji juga mengalami cedera pada saluran pernapasan. Ia menghirup udara panas dan asap saat kebakaran, sehingga dampaknya tidak terbatas pada permukaan tubuh. Paparan tersebut dapat mengganggu jalan napas dan membuat kebutuhan oksigen serta fungsi pernapasan harus diawasi secara saksama. Dalam kondisi seperti ini, tenaga medis perlu memperhatikan perubahan keadaan pasien secara berkelanjutan. Cedera pernapasan yang menyertai luka bakar berat menjadi salah satu alasan penting bagi tim perawatan untuk memberikan dukungan intensif. Informasi mengenai kondisinya menunjukkan bahwa dampak kebakaran terhadap Suraji mencakup cedera luar maupun gangguan akibat menghirup udara panas dan asap.

Karena tingkat keparahan luka dan cedera pernapasan itu, Suraji dirawat secara intensif di ruang resusitasi observasi intensif (ROI). Ia juga memerlukan bantuan ventilator untuk mendukung pernapasannya. Perawatan di ruang tersebut memungkinkan tim medis melakukan observasi dan menangani kondisinya dengan perhatian intensif. Penggunaan ventilator merupakan bagian dari dukungan yang dibutuhkan ketika saluran pernapasan terdampak dan pasien memerlukan bantuan untuk bernapas. Keadaan Suraji menggambarkan beratnya dampak kebakaran bagi korban yang terpapar panas serta asap. Dengan luka bakar pada sekitar 49 persen tubuh, terutama wajah dan dada, dan cedera saluran pernapasan, penanganannya memerlukan pengawasan medis yang berkelanjutan.

Selama menjalani perawatan, kondisi Suraji tidak hanya dipengaruhi oleh luka bakar yang dideritanya. Ia mengalami sejumlah komplikasi serius yang membuat penanganan medis semakin kompleks. Komplikasi tersebut mencakup infeksi berat, infeksi pada paru-paru, anemia, penurunan kadar protein dalam darah, serta gangguan elektrolit. Berbagai masalah itu memerlukan pemantauan dan tindakan berkelanjutan dari tim medis selama Suraji dirawat.

Menurut Adin, keadaan Suraji memburuk pada Jumat pagi setelah ia mengalami syok sepsis. Syok sepsis merupakan kondisi yang dapat terjadi ketika infeksi menimbulkan respons tubuh yang sangat berat. Keadaan tersebut dapat mengganggu sirkulasi darah dan berdampak pada fungsi organ. Pada pasien yang juga mengalami luka bakar dan komplikasi lain, kondisi semacam ini menjadi sangat serius karena tubuh harus menghadapi berbagai gangguan sekaligus.

Tim medis telah memberikan sejumlah penanganan untuk mengatasi masalah yang dialami Suraji. Upaya tersebut meliputi pemberian cairan dan antibiotik untuk mendukung kondisi tubuh serta menangani infeksi. Suraji juga menerima transfusi darah untuk membantu mengatasi anemia dan transfusi protein guna menangani kadar protein darah yang menurun. Selain itu, petugas medis menangani gangguan elektrolit dan memberikan perawatan terhadap luka bakarnya.

Meski berbagai tindakan telah dilakukan, kondisi Suraji terus memburuk. Komplikasi infeksi, gangguan paru-paru, anemia, kadar protein yang rendah, dan ketidakseimbangan elektrolit menjadi tantangan dalam proses perawatan. Syok sepsis yang dialaminya pada Jumat pagi semakin memperburuk keadaan, terutama karena kondisi itu dapat memengaruhi aliran darah serta kerja organ-organ tubuh. Tim medis berupaya menangani setiap masalah yang muncul, tetapi respons tubuh Suraji tidak menunjukkan perbaikan yang cukup untuk memulihkan kondisinya.

Suraji akhirnya meninggal dunia setelah kondisinya terus mengalami kemunduran. Perawatan yang diberikan mencakup dukungan cairan, antibiotik, transfusi darah dan protein, penanganan gangguan elektrolit, serta perawatan luka bakar. Namun, kombinasi komplikasi yang dialami dan syok sepsis membuat keadaan pasien tetap kritis. Penjelasan Adin menggambarkan bahwa berbagai penanganan telah diberikan selama Suraji dirawat, tetapi upaya tersebut tidak mampu menghentikan penurunan kondisinya hingga ia meninggal.

Sebelum Suraji dilaporkan meninggal dunia, lima orang telah lebih dahulu menjadi korban jiwa dalam kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo. Mereka berasal dari unsur petugas taman nasional, relawan, serta masyarakat yang terlibat dalam penanganan kebakaran. Nama-nama tersebut mencakup Sukaris dan Hendra Rony Wagiyanata, petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Keduanya bertugas di kawasan yang terdampak kebakaran, bersama pihak lain yang berupaya menghadapi situasi tersebut. Informasi mengenai para korban menjadi bagian penting dalam memahami dampak kebakaran terhadap orang-orang yang berada di sekitar lokasi.

Tiga korban lainnya adalah Wisnu Yuda Pratama, berusia 25 tahun; Sefriel Ardiansyah, berusia 19 tahun; dan Munawi, anggota Masyarakat Peduli Api Tengger Laut Pasir. Wisnu dan Sefriel disebut sebagai relawan yang bekerja sebagai karyawan hotel setempat. Keterlibatan mereka sebagai relawan menunjukkan bahwa penanganan kejadian tersebut turut melibatkan masyarakat di sekitar kawasan, tidak hanya petugas yang bekerja di lingkungan taman nasional. Sementara itu, Munawi tercatat sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap upaya pencegahan dan penanganan kebakaran di kawasan Tengger Laut Pasir. Kelima nama itu dilaporkan sebelum kabar mengenai Suraji menambah jumlah korban meninggal.

Dengan meninggalnya Suraji, total korban jiwa akibat kebakaran tersebut bertambah menjadi enam orang. Angka ini mencakup lima korban yang telah disebutkan sebelumnya dan Suraji, yang kabar meninggalnya membuat dampak peristiwa tersebut semakin berat bagi keluarga, rekan kerja, serta masyarakat yang terlibat dalam penanganan kebakaran. Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyiapkan santunan sebesar Rp10 juta.

Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas