Sumitro Djojohadikusumo Selamat dari Kecelakaan Pesawat pada 1947

Sumitro Djojohadikusumo Selamat dari Kecelakaan Pesawat pada 1947

Jakarta | Sumitro Djojohadikusumo selamat dari kecelakaan pesawat pada 1947, sebuah peristiwa yang terjadi ketika ia sedang melakukan perjalanan melintasi Amerika Serikat. Ia berangkat dari San Francisco menuju New York dengan pesawat Douglas DC-6. Tujuan perjalanannya adalah menjemput istrinya, Dora Marie Sigar. Perjalanan yang semula ditempuh untuk bertemu kembali dengan keluarga itu berubah menjadi pengalaman berbahaya setelah pesawat mengalami masalah di tengah penerbangan.

Dalam perjalanan menuju New York, pesawat tersebut jatuh keras di dekat Pegunungan Rocky. Peristiwa itu menjadi titik balik mendadak dalam perjalanan Sumitro, yang sebelumnya memiliki tujuan jelas: mencapai kota tujuan dan menjemput Dora. Informasi yang tersedia tidak merinci penyebab pesawat mengalami masalah ataupun keadaan teknis yang mendahului jatuhnya pesawat. Karena itu, kejadian tersebut dapat dipahami melalui inti kisahnya saja: penerbangan terganggu, pesawat jatuh, dan Sumitro berhasil selamat.

Kisah kecelakaan ini menempatkan perjalanan pribadi Sumitro dalam situasi yang tidak terduga. Penerbangan dengan Douglas DC-6 dari San Francisco ke New York bukan sekadar perjalanan antarkota, melainkan upaya untuk berkumpul kembali dengan istrinya. Namun, sebelum ia sampai di tujuan, pesawat mengalami masalah dan jatuh dekat Pegunungan Rocky. Di tengah peristiwa tersebut, keselamatan Sumitro menjadi bagian paling penting dari kisah ini. Ia selamat dari insiden yang mengakhiri penerbangan itu, meskipun rincian lebih lanjut mengenai proses penyelamatan tidak disebutkan. Dengan demikian, peristiwa pada 1947 tersebut dikenang sebagai kecelakaan pesawat yang dialami Sumitro saat hendak menjemput Dora Marie Sigar di New York. Kisah ini juga mengingatkan bahwa perjalanan yang memiliki maksud sederhana dapat berubah arah secara tiba-tiba ketika terjadi keadaan darurat. Dalam kasus Sumitro, perjalanan dari San Francisco itu tidak berlangsung seperti yang direncanakan, tetapi ia berhasil melewati kecelakaan tersebut dengan selamat.Setelah pesawat jatuh, keadaan di lokasi kecelakaan memperlihatkan besarnya dampak peristiwa tersebut. Dari total 63 penumpang, 32 orang meninggal dunia. Sumitro Djojohadikusumo termasuk penumpang yang selamat, meskipun ia mengalami luka gores pada jari tengahnya. Luka itu tampak ringan dibandingkan akibat yang dialami banyak penumpang lain. Namun, keselamatannya tetap menjadi hal yang sulit ia jelaskan sendiri. Peristiwa tersebut terjadi ketika kecelakaan pesawat pada 1947 itu berakhir dengan pesawat menghantam bumi dan hancur berkeping-keping, meninggalkan korban serta penyintas dalam keadaan darurat. Angka korban dan detail luka Sumitro dicatat dalam kisah hidupnya yang kemudian disampaikan kepada penulis biografinya, Aristides Katoppo.

Dalam penuturannya kepada Katoppo, Sumitro mengingat bahwa tubuhnya seolah berusaha melompat sesaat sebelum pesawat menghantam tanah. Ingatan itu muncul sebagai bagian dari detik-detik terakhir sebelum pesawat hancur. Ia tidak menguraikan tindakan tersebut sebagai sesuatu yang direncanakan; yang ia ingat ialah tubuhnya bergerak menjelang benturan. Setelah itu, Sumitro mendapati dirinya masih hidup, dengan luka gores pada jari tengah. Ia mengaku tidak memahami bagaimana dirinya dapat selamat ketika sebagian penumpang lainnya meninggal. Pengakuan tersebut menegaskan betapa pengalaman itu terasa tak terjelaskan baginya, terlebih karena kecelakaan tersebut merenggut 32 nyawa dari 63 orang yang berada di dalam pesawat. Kisah ini menunjukkan kontras luka yang dialami Sumitro dan besarnya kehancuran di sekelilingnya.

Sesudah ditemukan, Sumitro segera dievakuasi dari lokasi kecelakaan. Ia kemudian diterbangkan menggunakan pesawat lain, sehingga dapat melanjutkan perjalanan setelah pertolongan awal diberikan. Rangkaian ini disampaikan dalam biografi Sumitro yang terbit pada 2000, berdasarkan kisah yang ia ceritakan kepada Aristides Katoppo. Dengan demikian, detail tentang upaya tubuhnya melompat, luka pada jari tengah, dan pengakuannya mengenai keselamatan berasal dari penuturan Sumitro yang dicatat dalam biografi tersebut. Keterangan itu juga mencakup jumlah penumpang dan korban meninggal, serta evakuasi dan penerbangannya menggunakan pesawat pengganti. Catatan tersebut merekam bukan hanya peristiwa kecelakaan, tetapi juga ingatan pribadi seorang penyintas mengenai saat-saat ketika ia terlepas dari kehancuran pesawat dan segera dibawa menjauh dari lokasi berbahaya.

Kecelakaan pesawat yang dialami Sumitro Djojohadikusumo pada 1947 tidak berhenti menjadi pengalaman masa lalu setelah ia selamat. Peristiwa itu meninggalkan trauma yang terus membayangi dirinya ketika harus kembali bepergian dengan pesawat. Menurut Katoppo, selama dua hingga tiga tahun sesudah kecelakaan tersebut, Sumitro masih merasa takut untuk terbang. Rasa takut itu bukan sekadar kenangan sesaat, melainkan sesuatu yang dapat muncul kembali setiap kali ia berada di dalam pesawat.

Ingatan tentang kecelakaan itu kerap kembali, membuat Sumitro menjalani penerbangan dengan kewaspadaan tinggi. Ia mudah panik ketika melihat ada orang merokok di dalam pesawat. Reaksi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman traumatisnya masih memengaruhi cara ia membaca keadaan di sekelilingnya. Hal yang mungkin tampak biasa bagi penumpang lain dapat mengingatkannya pada kejadian yang pernah dialami dan memunculkan kecemasan.

Perhatiannya juga tertuju pada suara mesin sebelum pesawat lepas landas. Sumitro terbiasa mendengarkan bunyi mesin, seolah-olah ingin memastikan bahwa suaranya terdengar normal. Jika bunyi itu terasa aneh baginya, ia tidak segan menegur pilot. Sikap ini menggambarkan betapa kuatnya kesan kecelakaan 1947 dalam membentuk kebiasaannya saat bepergian. Ia tidak hanya duduk sebagai penumpang, tetapi juga terus mencermati suara yang menurut pengalamannya penting.

Meski demikian, kekhawatirannya memiliki batas tertentu. Katoppo mencatat bahwa turbulensi tidak membuat Sumitro cemas selama mesin pesawat berada dalam keadaan baik. Dengan kata lain, guncangan di udara bukan hal yang paling mengusiknya; perhatian utamanya tetap tertuju pada kondisi mesin. Pembedaan ini memberi gambaran lebih jelas tentang sumber ketakutannya: bukan setiap perubahan selama penerbangan, melainkan kemungkinan masalah yang ia kaitkan dengan keselamatan mesin.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa selamat dari kecelakaan tidak serta-merta menghapus rasa takut. Bagi Sumitro, penerbangan sesudahnya tetap disertai ingatan, pemeriksaan suara, dan kewaspadaan. Catatan Katoppo tentang kebiasaan itu menunjukkan bagaimana trauma dapat bertahan dalam keseharian, bahkan ketika seseorang kembali menjalani perjalanan udara. Kenangan kecelakaan 1947 tetap hadir dalam cara Sumitro menghadapi setiap tahap penerbangan, terutama ketika ia mendengar suara mesin.

Bagi Sumitro Djojohadikusumo, selamat dari kecelakaan pesawat pada 1947 bukan sekadar peristiwa yang luput dari catatan perjalanan. Ia memaknai keselamatan itu sebagai pemberian Tuhan, bahkan menyebutnya “bonus” nyawa. Ungkapan tersebut terasa semakin kuat karena sebelumnya ia pernah menerima vonis bahwa umurnya tidak akan panjang. Setelah melewati kecelakaan yang mengancam hidupnya, Sumitro memandang kesempatan untuk terus hidup sebagai sesuatu yang patut disyukuri dan digunakan dengan sebaik-baiknya.

Makna yang ia berikan pada pengalaman itu berkaitan dengan keinginannya untuk memberi manfaat. Kesempatan hidup tambahan, dalam pandangannya, membuka ruang untuk melakukan sesuatu bagi orang lain dan bagi Indonesia. Catatan Katoppo menggambarkan pengabdian Sumitro kepada bangsa serta cita-cita kerakyatan yang menyertai kiprahnya. Dengan demikian, kisah keselamatan tersebut dapat dibaca berdampingan dengan rekam jejak pengabdiannya, tanpa perlu mengandaikan alasan lain di balik pilihan-pilihan hidupnya. Ia sendiri menghubungkan “bonus” kehidupan itu dengan dorongan untuk menggunakan waktu yang masih dimilikinya secara berguna.

Perjalanan karier Sumitro kemudian menempatkannya di ekonom yang berpengaruh di Indonesia. Ia pernah menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian dalam Kabinet Natsir pada 1950–1951. Setelah itu, ia menjadi Menteri Keuangan dalam Kabinet Wilopo pada 1952–1953, dan kembali memegang jabatan yang sama dalam Kabinet Burhanuddin Harahap pada 1955–1956.

Baca juga: Kemenhub Sediakan 309 Rute Pesawat Perintis di 3T, Anggarannya Segini