Karhutla Menjangkau Sejumlah Gunung di Indonesia, Upaya Pemadaman Hadapi Medan Sulit

Karhutla Menjangkau Sejumlah Gunung di Indonesia, Upaya Pemadaman Hadapi Medan Sulit

Kota Tomohon | Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terjadi di wilayah luar Pulau Jawa. Dalam laporan terbaru, api juga dilaporkan melanda kawasan pegunungan di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, sehingga penanganannya menjadi perhatian karena lokasi kebakaran berada di medan yang sulit dijangkau. Peristiwa di lereng dan kawasan berhutan dapat menyulitkan petugas untuk membawa peralatan, menjangkau titik api, serta menjaga keselamatan selama operasi. Kondisi tersebut membuat pemadaman tidak selalu dapat dilakukan secepat penanganan kebakaran di wilayah yang aksesnya lebih terbuka. Selain menghambat pergerakan personel, jarak antartitik dan keadaan medan turut memengaruhi upaya pengendalian api.

Plt. Kapustadin BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwa di Jawa Timur terpantau 261 titik panas. Kebakaran dilaporkan berdampak pada 482 hektare lahan, dengan 223 hektare di antaranya masih belum padam. Angka tersebut menunjukkan bahwa upaya penanganan masih berlangsung dan sebagian area terdampak tetap memerlukan perhatian. Informasi itu disampaikan Berton dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB pada Jumat (24/10/2026). Data titik panas dan luas lahan terdampak menjadi gambaran skala kejadian, meskipun pemantauan serta pembaruan kondisi lapangan tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan kebakaran dan hasil pemadaman.

Di provinsi tersebut, karhutla dilaporkan terjadi di empat gunung, yakni Arjuno-Welirang, Argopuro, Saeng, dan Bromo. Kebakaran di sejumlah kawasan pegunungan ini memperlihatkan bahwa ancaman api menjangkau bentang alam yang luas, bukan hanya area hutan dataran rendah atau lahan terbuka. Karakter lokasi yang terjal dan akses terbatas dapat membatasi pilihan jalur bagi tim pemadam, sementara titik api yang tersebar menuntut pemantauan berkelanjutan. Situasi ini juga menegaskan pentingnya koordinasi petugas, pemerintah daerah, dan unsur terkait dalam menentukan prioritas penanganan. Laporan mengenai Jawa Barat dan Jawa Tengah turut menunjukkan bahwa kawasan pegunungan di Pulau Jawa perlu mendapat perhatian dalam pemantauan kebakaran, tanpa mengabaikan kebutuhan penanganan di wilayah lain yang terdampak.

Karhutla di Jawa Timur menelan korban jiwa saat petugas dan relawan berupaya memadamkan api di kawasan Gunung Bromo. Sebanyak lima orang yang terlibat dalam upaya pemadaman tersebut meninggal dunia. Peristiwa ini menegaskan bahwa penanganan kebakaran di kawasan gunung dapat membawa risiko serius bagi orang-orang yang bertugas di lapangan, terutama ketika kondisi di lokasi menyulitkan upaya penyelamatan maupun pemadaman.

Berton menyampaikan bahwa kelima petugas dan relawan itu terperangkap di area tersebut ketika menjalankan upaya pemadaman. Keterangan itu menjadi informasi utama mengenai keadaan yang menyebabkan mereka tidak dapat keluar dari lokasi saat bertugas. Tidak tersedia keterangan lebih lanjut yang dapat menjelaskan identitas para korban, kondisi masing-masing, atau rincian bagaimana mereka terperangkap. Karena itu, informasi mengenai kejadian ini perlu disampaikan secara terbatas pada fakta yang telah diterangkan.

Korban jiwa tersebut menunjukkan besarnya konsekuensi yang dapat timbul dalam penanganan karhutla. Petugas dan relawan berada di kawasan terdampak dengan tujuan memadamkan api, tetapi upaya itu berlangsung di area tempat mereka kemudian terperangkap. Kematian lima orang tersebut menjadi bagian penting dari pemberitaan kebakaran di Bromo, sekaligus mengingatkan bahwa tugas pemadaman tidak hanya berkaitan dengan mengendalikan api, tetapi juga menghadapkan personel pada bahaya di lokasi.

Dalam menyampaikan kabar ini, penting untuk membedakan fakta yang sudah diketahui dari informasi yang belum tersedia. Jumlah korban dan keterangan Berton tentang mereka yang terperangkap saat berupaya memadamkan api merupakan hal yang dapat disampaikan. Sementara itu, tanpa sumber tambahan, tidak tepat untuk menambahkan nama, latar belakang, keadaan saat ditemukan, ataupun urutan kejadian yang lebih terperinci. Dengan batasan tersebut, pemberitaan tetap berfokus pada dampak nyata karhutla di Jawa Timur: lima petugas dan relawan meninggal ketika menjalankan upaya pemadaman di kawasan Gunung Bromo.

Api terpantau di lereng Gunung Sumbing, Jawa Tengah, pada Rabu (21/10/2026). Laporan awal menyebut kobaran merembet dari arah Magelang menuju Temanggung, sehingga perhatian tertuju pada kemungkinan bertambahnya kawasan hutan yang terdampak. Pergerakan api di bentang lereng tersebut membuat kondisi perlu dipantau secara cermat, terutama untuk mengetahui sejauh mana titik kebakaran berkembang dan apakah area di sekitarnya ikut terancam. Hingga informasi ini disampaikan, luas wilayah terdampak di Sumbing belum dijelaskan secara rinci.

Arah rambatan dari Magelang menuju Temanggung menjadi perkembangan penting karena kebakaran berada di kawasan lereng gunung yang melintasi wilayah kabupaten. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran bahwa hutan terdampak dapat meluas apabila api terus bergerak. Namun, laporan yang tersedia belum memberikan angka luasan maupun rincian mengenai batas penyebaran kebakaran. Pemantauan terhadap perkembangan api diperlukan agar perubahan kondisi di lapangan dapat diketahui dan informasi mengenai wilayah yang terdampak bisa diperbarui.

Perkembangan serupa juga terjadi di Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat. Kebakaran di kawasan tersebut terdeteksi pada Rabu (21/10/2026) dan dilaporkan terus meluas. Hingga Jumat (23/10/2026) siang, luas area yang terbakar belum dapat dipastikan. Api masih bergerak di lereng gunung, sehingga batas kawasan terdampak belum bisa dihitung secara akurat. Situasi yang masih dinamis membuat angka luasan belum tersedia sebagai gambaran pasti mengenai skala kebakaran.

Di Ciremai, pergerakan api di lereng menjadi faktor utama yang menyulitkan penentuan luas kebakaran pada saat laporan disampaikan. Selama kobaran masih bergerak, cakupan area yang terdampak dapat berubah, sehingga penghitungan belum menghasilkan angka yang dapat dipastikan. Informasi mengenai kebakaran Sumbing dan Ciremai sama-sama menunjukkan bahwa perkembangan di kedua gunung masih perlu diikuti melalui pemantauan. Pembaruan mengenai arah rambatan serta luasan terdampak akan membantu menjelaskan skala kejadian secara lebih utuh.

Kebakaran hutan dan lahan juga dilaporkan terjadi di kawasan Gunung Lokon, Sulawesi Utara. Berdasarkan informasi yang dikutip pada Selasa (13/10/2026), area yang terbakar diperkirakan mencapai 300 hektare. Luas tersebut merupakan bagian dari kawasan Gunung Lokon yang secara keseluruhan diperkirakan sekitar 700 hektare. Dengan demikian, laporan itu menggambarkan kebakaran yang menjangkau sebagian kawasan gunung, sementara area lainnya tercatat dalam angka luas total kawasan.

Angka tersebut disampaikan sebagai perkiraan, bukan keterangan mengenai luas yang telah dipastikan melalui pengukuran akhir. Informasi yang tersedia menyebut luasan kebakaran dan luasan keseluruhan kawasan, tanpa merinci perubahan luas dari waktu ke waktu. Karena itu, data tersebut memberikan gambaran skala area terdampak pada saat informasi dikutip, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan perkembangan kebakaran setelahnya. Laporan mengenai Gunung Lokon menambah daftar kawasan gunung di Indonesia yang disebut terdampak karhutla.

Dalam pemberitaan mengenai karhutla di sejumlah gunung, kondisi medan menjadi tantangan penting bagi upaya pemadaman. Sejumlah kawasan gunung memiliki medan yang sulit dijangkau, sehingga akses menuju area terdampak menjadi kendala umum dalam penanganan kebakaran. Keterangan mengenai tantangan ini berlaku pada sejumlah kawasan gunung dan tidak merinci kondisi khusus di setiap lokasi. Informasi yang dikutip tentang Gunung Lokon tidak menjelaskan penyebab kebakaran, waktu awal kemunculannya, ataupun langkah pemadaman yang dilakukan di sana. Dengan demikian, laporan yang tersedia dapat mencatat perkiraan area terbakar di Gunung Lokon sekaligus menggarisbawahi bahwa medan sulit dijangkau menjadi tantangan dalam penanganan karhutla di kawasan gunung.

Baca juga: Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas