Jakarta | Sejumlah pencari kerja di Jakarta Selatan membagikan perjuangan mereka untuk memperoleh pekerjaan. Di para peserta bursa kerja, terdapat orang-orang dengan latar belakang dan tahap kehidupan yang berbeda. Dua kisah yang menonjol datang dari Dominggu Balagaize, pemuda yang baru menyelesaikan pendidikan dan berasal dari Merauke, Papua Selatan, serta Jupri, warga Klender, Jakarta Timur, yang kini berusia 59 tahun. Keduanya mengikuti bursa kerja dengan harapan dapat menemukan kesempatan kerja yang sesuai.
Perjumpaan dua pencari kerja tersebut memperlihatkan bahwa upaya mencari pekerjaan tidak hanya dialami oleh lulusan baru. Dominggu memasuki dunia kerja setelah menuntaskan pendidikan, sementara Jupri mencari peluang pada usia yang jauh lebih matang. Perbedaan usia, daerah asal, dan pengalaman hidup membuat perjalanan mereka tidak sama, tetapi keduanya berada dalam situasi serupa: berusaha mendapatkan pekerjaan di tengah persaingan dan keterbatasan kesempatan. Bursa kerja menjadi salah satu ruang yang mereka datangi untuk menjajaki kemungkinan tersebut.
Bagi pencari kerja, kegiatan seperti ini dapat mempertemukan mereka dengan informasi lowongan serta membuka kesempatan untuk menyampaikan minat kepada calon pemberi kerja. Namun, kehadiran di bursa kerja tidak dengan sendirinya menjamin seseorang langsung memperoleh pekerjaan. Para peserta tetap perlu menghadapi proses seleksi dan mencari posisi yang cocok dengan keadaan masing-masing. Kisah Dominggu dan Jupri menunjukkan bahwa kebutuhan akan peluang kerja dapat dirasakan pada berbagai usia dan oleh orang-orang yang datang dari latar berbeda. Di Jakarta Selatan, mereka sama-sama menempuh langkah untuk mencari kesempatan, meskipun titik awal dan perjalanan mereka tidak serupa. Pengalaman keduanya memberi gambaran tentang ragam pencari kerja yang hadir dalam satu kegiatan: ada lulusan baru yang mulai membangun karier, dan ada pekerja berusia lanjut yang masih berupaya memperoleh pekerjaan. Perhatian terhadap beragam kebutuhan tersebut penting agar upaya mempertemukan pencari kerja dan lowongan dapat menjangkau lebih banyak orang.Dominggu, 23 tahun, datang ke Jakarta melalui beasiswa yang merupakan hasil kerja sama Dinas Kesehatan Papua Selatan dengan Kementerian Kesehatan melalui Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPSDM). Kesempatan tersebut membawanya merantau dari Papua untuk menempuh pendidikan dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Bagi Dominggu, perjalanan ke ibu kota bukan sekadar pengalaman belajar, tetapi juga langkah awal untuk mencari peluang yang dapat membangun masa depannya.
Ia menjalani pendidikan diploma tiga (D3) sebagai teknisi gigi selama empat tahun dan lulus pada 2022. Masa studinya memberikan bekal pengetahuan serta keterampilan di bidang kesehatan gigi. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia berupaya memperoleh pekerjaan di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Wilayah tersebut menjadi tujuan pencarian kerja karena menawarkan berbagai kemungkinan untuk memulai karier dan mengenal lingkungan profesional yang berbeda.
Meski latar belakang pendidikannya berada di bidang kesehatan, Dominggu tidak membatasi pencarian hanya pada pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya. Ia bersedia mempertimbangkan kesempatan di bidang lain, dengan harapan dapat memperoleh pengalaman baru. Sikap terbuka ini menunjukkan bahwa baginya, pekerjaan pertama juga dapat menjadi ruang untuk belajar, memahami tuntutan dunia kerja, dan mengembangkan kemampuan yang belum tentu diperoleh selama kuliah.
Mencari pekerjaan di kawasan ibu kota tentu memerlukan ketekunan, terutama bagi seseorang yang baru lulus dan sedang membangun pengalaman. Dominggu perlu menyesuaikan diri dengan pilihan kerja yang tersedia sekaligus mempertimbangkan bagaimana setiap kesempatan dapat mendukung langkah berikutnya. Pengalaman di luar bidang teknisi gigi pun berpotensi memperluas keterampilan, termasuk kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan menghadapi tanggung jawab sehari-hari. Namun, keterbukaan tersebut tidak menghapus nilai pendidikan yang telah ditempuhnya; bekal itu tetap menjadi salah satu modal yang dapat digunakan bila kesempatan di bidang kesehatan muncul.
Dengan mencari peluang di Jabodetabek, Dominggu berusaha merintis perjalanan kerja secara bertahap. Ia tidak hanya mengincar pekerjaan yang sejalan dengan ijazah, tetapi juga pengalaman yang dapat membantunya memahami kebutuhan dunia kerja. Perjuangannya menggambarkan upaya seorang lulusan muda perantau untuk menemukan pijakan, memanfaatkan kesempatan yang ada, dan terus membangun pengalaman setelah menyelesaikan pendidikan.
Dalam upayanya mencari pekerjaan, Dominggu telah mengirimkan lamaran secara daring ke sejumlah perusahaan. Usaha itu sempat membuahkan respons berupa panggilan dari beberapa daerah, termasuk Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah. Namun, peluang tersebut belum dapat ia ambil. Orang tuanya belum mengizinkan Dominggu bekerja jauh dari ibu kota karena ia baru saja lulus. Kekhawatiran keluarga terhadap jarak dan keadaan anak yang merantau membuat keputusan untuk menerima pekerjaan di luar daerah perlu dipertimbangkan lebih dahulu.
Untuk sementara, Dominggu memusatkan pencarian kerja di wilayah Jabodetabek. Pilihan itu juga berkaitan dengan pertimbangan biaya apabila ia harus pulang ke Papua. Perjalanan kembali ke daerah asal membutuhkan biaya, sehingga ia ingin lebih dahulu memperoleh pekerjaan dan membangun karier. Baginya, memiliki pekerjaan tetap merupakan langkah penting sebelum memikirkan rencana pulang. Dengan begitu, ia berharap dapat memiliki pijakan yang lebih kuat dalam menjalani kehidupan setelah lulus, sekaligus mempertimbangkan kebutuhan keluarga dan masa depannya.
Dominggu melihat persaingan kerja sebagai tantangan yang berat, bukan hanya bagi lulusan SMA atau SMK, tetapi juga bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Banyak pencari kerja berlomba mendapatkan kesempatan yang terbatas, sementara latar pendidikan saja belum tentu cukup untuk memastikan seseorang segera memperoleh pekerjaan. Keadaan tersebut membuat pencarian perlu dilakukan dengan tekun, meskipun hasilnya belum selalu sesuai harapan. Ia berharap pemerintah dapat memperluas akses terhadap pekerjaan, terutama bagi masyarakat kecil dan keluarga yang kurang mampu. Kesempatan yang lebih terbuka dapat membantu mereka menghadapi persaingan dan memperoleh jalan untuk memperbaiki keadaan ekonomi. Harapan itu berangkat dari kenyataan bahwa kebutuhan akan pekerjaan dirasakan oleh berbagai kelompok, termasuk lulusan baru yang sedang berusaha memulai karier. Dalam situasi seperti ini, dukungan terhadap akses kerja dinilai penting agar peluang tidak hanya mudah dijangkau oleh mereka yang memiliki banyak sumber daya. Bagi Dominggu, mencari pekerjaan tetap di sekitar Jakarta menjadi pilihan yang dapat ditempuh sambil menimbang restu keluarga, biaya perjalanan, dan cita-cita membangun karier terlebih dahulu.Jupri, lulusan S1 manajemen informatika asal Padang, Sumatera Barat, pernah menghabiskan 25 tahun bekerja di sebuah perusahaan pelabuhan. Ia menjalankan tanggung jawab sebagai koordinator lapangan sekaligus koordinator kantor. Pengalaman panjang itu memberinya bekal dalam mengatur kegiatan operasional dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Namun, perjalanan kerjanya berubah ketika perusahaan tempatnya mengabdi berhenti beroperasi pada 2023.
Perusahaan tersebut tutup setelah kalah dalam proses tender. Berakhirnya usaha itu sekaligus membuat Jupri kehilangan pekerjaan yang telah menjadi sumber penghidupan selama puluhan tahun. Ia harus menghadapi perubahan besar pada usia 59 tahun, ketika mencari pekerjaan baru bukan perkara mudah. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga tetap berjalan, termasuk tanggung jawab untuk menafkahi keluarga dan membiayai pendidikan dua anaknya.
Untuk mempertahankan penghasilan, Jupri kemudian menjalani berbagai pekerjaan serabutan. Ia menerima pekerjaan yang tersedia sambil berupaya menemukan kesempatan kerja yang lebih stabil. Langkah tersebut menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjaga dirinya tetap aktif dan produktif. Meski begitu, ia masih berharap pengalaman kerja dan keterampilannya dapat kembali dimanfaatkan oleh perusahaan yang membutuhkan tenaga berpengalaman.
Bursa kerja yang diikutinya menjadi pengalaman pertama Jupri melamar pekerjaan melalui kegiatan.
Baca juga: Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta






