Jakarta | Kali Cakung Drain di Cilincing, Jakarta Utara, menjadi perhatian setelah kondisinya dipenuhi sampah ramai diperbincangkan di media sosial. Tumpukan itu terlihat mengambang dan menyebar luas di permukaan air, sehingga sampah tampak menutupi sebagian besar area yang terlihat. Gambaran tersebut memperlihatkan kondisi kali yang dipenuhi berbagai benda buangan, tanpa perlu mengandalkan keterangan tambahan untuk menunjukkan bahwa sampah telah terkumpul dalam jumlah besar.
Di tengah tumpukan sampah, terlihat sebuah perahu berwarna merah dan biru. Sejumlah orang juga tampak berada di atas perahu itu, di sampah yang mengambang. Tidak ada keterangan mengenai identitas orang-orang tersebut dalam gambaran yang beredar. Keberadaan perahu dan orang-orang di atasnya menjadi bagian dari pemandangan yang banyak dibicarakan bersama kondisi permukaan kali yang tertutup sampah.
Perhatian publik tertuju pada luasnya sebaran sampah di Kali Cakung Drain. Dalam rekaman atau gambar yang ramai dibagikan, permukaan air tampak dipenuhi sampah dari satu bagian ke bagian lain. Tumpukan itu tidak hanya terlihat pada satu titik kecil, melainkan menyebar di area yang tampak dalam dokumentasi. Kondisi tersebut membuat kali menjadi pusat pembicaraan di media sosial.
Peristiwa ini menggambarkan situasi yang terlihat di Kali Cakung Drain, kawasan Cilincing, Jakarta Utara: sampah mengambang dalam jumlah banyak, sementara sebuah perahu merah-biru dan sejumlah orang terlihat di tengahnya. Gambaran tersebut menjadi perhatian karena memperlihatkan perubahan kondisi permukaan air akibat sampah yang berkumpul dan menyebar. Tanpa menambahkan dugaan mengenai asal sampah ataupun siapa saja yang berada di perahu, hal yang tampak jelas adalah padatnya sampah di permukaan kali dan ramainya pembicaraan publik mengenai keadaan tersebut.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menangani penumpukan sampah yang menutupi aliran Kali Cakung Drain dengan mengerahkan petugas Unit Penanganan Sampah (UPS) Badan Air. Petugas melakukan pengangkutan di lokasi sebagai bagian dari upaya membersihkan sampah yang terlihat menumpuk di badan kali. Dalam penanganan tersebut, sekitar 8 meter kubik sampah diangkut dari kawasan itu.
Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, menyampaikan bahwa penanganan di lokasi dilakukan secara rutin setiap hari. Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin, 26 Oktober 2026. Keterangan itu menjelaskan bahwa kegiatan pembersihan bukan hanya dilakukan sekali, melainkan menjadi penanganan rutin oleh petugas UPS Badan Air di lokasi tersebut.
Pengerahan petugas diperlukan untuk menangani tumpukan yang menutup permukaan aliran. Sampah yang terkumpul diangkat agar tidak terus menutupi bagian kali. Volume sekitar 8 meter kubik menggambarkan jumlah sampah yang berhasil dibawa dari lokasi dalam penanganan yang diberitakan. DLH menyebut kegiatan rutin sebagai bentuk respons terhadap kondisi sampah di Kali Cakung Drain.
Informasi dari Yogi Ikhwan berfokus pada langkah petugas dan jadwal penanganan harian di lokasi. Dengan demikian, tindakan yang dilakukan mencakup pengerahan personel UPS Badan Air serta pengangkutan sampah yang menumpuk. Tidak ada keterangan tambahan mengenai jenis sampah, penyebab penumpukan, ataupun durasi kegiatan dalam pernyataan tersebut. Penanganan yang disampaikan DLH memberi gambaran mengenai upaya langsung untuk membersihkan aliran kali dari tumpukan sampah yang menutupinya.
Penanganan rutin menjadi bagian penting dari pemeliharaan kebersihan badan air, terutama ketika sampah telah tampak menumpuk di permukaan. Melalui petugas UPS Badan Air, DLH DKI Jakarta melakukan pengangkutan di Kali Cakung Drain dan mencatat sekitar 8 meter kubik sampah yang diangkat. Keterangan mengenai kegiatan harian itu disampaikan oleh Humas DLH DKI Jakarta, Yogi Ikhwan, pada Senin, 26 Oktober 2026. Informasi tersebut menegaskan bahwa pembersihan di lokasi berlangsung rutin setiap hari.
Yogi menjelaskan bahwa banyaknya sampah yang terlihat menutupi Kali Cakung Drain berkaitan dengan hujan yang turun sehari sebelumnya. Menurut keterangannya, hujan dapat menggerakkan sampah yang berada di daratan, kemudian membawanya bersama aliran air menuju badan kali. Sampah yang semula tersebar di lingkungan sekitar pun berpotensi terkumpul di saluran ketika air mengalir. Penjelasan tersebut disampaikan sebagai salah satu faktor yang membuat tumpukan sampah tampak lebih banyak di lokasi.
Ia menerangkan, air hujan yang mengalir dari daratan dapat membawa beragam jenis sampah hingga masuk ke Kali Cakung Drain. Dalam proses itu, sampah dapat berpindah dari area sekitar menuju saluran air dan kemudian terbawa arus. Karena hujan terjadi sehari sebelum sampah terlihat menumpuk, Yogi mengaitkan kondisi tersebut dengan aliran air yang membawa sampah dari daratan. Keterangan ini merujuk pada pengamatan dan penjelasan narasumber mengenai keadaan kali, bukan penetapan penyebab secara terpisah.
Selain hujan, Yogi juga menyebut perubahan pasang surut air laut sebagai faktor lain yang dapat membawa sampah ke Kali Cakung Drain. Menurut dia, perubahan kondisi pasang dan surut memungkinkan sampah dari laut maupun kawasan pesisir masuk ke aliran kali. Sampah yang terbawa dari kedua wilayah tersebut kemudian dapat terlihat di badan saluran. Dengan demikian, keterangan Yogi mencakup dua sumber pergerakan sampah: aliran air hujan yang membawa sampah dari daratan, serta perubahan pasang surut yang berkaitan dengan sampah dari laut dan pesisir.
Yogi menyampaikan bahwa kondisi sampah di kali tidak hanya berkaitan dengan apa yang berada di sekitar saluran. Pergerakan air dapat membawa material dari wilayah yang lebih jauh, baik dari daratan setelah hujan maupun dari arah laut dan pesisir saat terjadi perubahan pasang surut. Penjelasan itu memberikan konteks atas banyaknya sampah yang terlihat di Kali Cakung Drain setelah hujan sehari sebelumnya, sekaligus mencatat adanya pengaruh dinamika air laut menurut narasumber. Keterangan mengenai dua faktor tersebut disampaikan untuk menjelaskan kemungkinan jalur sampah menuju badan kali, tanpa mengabaikan bahwa kondisi aliran dan pasang surut dapat berubah dari waktu ke waktu.
Proses pembersihan sampah di Kali Cakung Drain tidak berlangsung tanpa kendala. Akses petugas menuju tumpukan sampah terganggu oleh perahu-perahu nelayan yang diparkir hingga memenuhi badan air. Kondisi tersebut membatasi ruang gerak armada dan menyulitkan petugas untuk menjangkau sampah yang mengapung atau tersangkut di sekitar lokasi. Akibatnya, pekerjaan perlu dilakukan dengan hati-hati dan secara bertahap agar kegiatan pengangkutan dapat terus berjalan tanpa mengganggu perahu maupun keselamatan petugas.
Tantangan lain muncul karena sebagian sampah terselip di perahu. Sampah yang terjepit atau tertahan pada bagian perahu tidak dapat langsung diangkat, sehingga petugas perlu memisahkannya terlebih dahulu sebelum memasukkannya ke armada. Pembersihan dilakukan menggunakan armada UPS Badan Air, dengan petugas mengumpulkan sampah sedikit demi sedikit dari titik yang dapat dijangkau. Meski akses terbatas dan pekerjaan membutuhkan waktu lebih lama, upaya tersebut tetap berlangsung hingga volume sampah yang berhasil diangkut tercatat sekitar 8 meter kubik. Angka itu menunjukkan banyaknya sampah yang telah dikeluarkan dari aliran, sekaligus menjadi pengingat tentang pentingnya mencegah sampah masuk ke badan air.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai, kali, maupun saluran air. Sampah yang dibuang ke aliran dapat terbawa arus, tersangkut, lalu menumpuk dan menghambat aliran air. Dampaknya dapat semakin terasa ketika hujan turun atau terjadi perubahan pasang surut, saat kondisi aliran dan ketinggian air berubah. Karena itu, warga diminta membuang sampah pada tempat yang telah disediakan serta menjaga area di sekitar sungai dan saluran tetap bersih.
Baca juga: Penembakan Petugas Bapang Jadi Tamparan Keras bagi Jaminan Keamanan di Papua






