Jakarta | Perdagangan saham pada Rabu, 28 Oktober 2026, berlangsung dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona merah pada sesi pertama, mencerminkan pelemahan pasar hingga menjelang tengah hari. Berdasarkan data RTI yang dipantau pukul 10.46 WIB, IHSG turun 1,23% ke level 5.201. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa indeks acuan pasar saham domestik belum mampu keluar dari tekanan pada waktu pemantauan tersebut.
Sejalan dengan IHSG, indeks LQ45 juga bergerak melemah. Indeks yang mencakup sejumlah saham dengan likuiditas dan kapitalisasi pasar besar itu turun 0,85% menjadi 528,10. Penurunan kedua indeks memberi gambaran bahwa tekanan pada sesi perdagangan tersebut tidak hanya terlihat pada indeks utama, tetapi juga pada kelompok saham unggulan yang menjadi perhatian investor.
Selama sesi yang tercatat, IHSG bergerak dalam rentang cukup lebar. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.256,38, sebelum bergerak turun hingga mencapai titik terendah 5.182,40. Rentang ini menggambarkan dinamika perdagangan intraday, ketika posisi indeks berubah di level tertinggi dan terendah yang tercatat pada sesi tersebut. Angka-angka itu merupakan catatan pergerakan selama perdagangan, bukan nilai penutupan hari.
Dengan waktu pemantauan pada pukul 10.46 WIB, data tersebut hanya mencerminkan kondisi pasar pada saat itu. Perdagangan masih berlangsung, sehingga posisi IHSG maupun LQ45 dapat berubah mengikuti transaksi berikutnya. Karena itu, level 5.201 untuk IHSG dan 528,10 untuk LQ45 perlu dibaca sebagai posisi sementara pada sesi pertama, sementara rentang 5.182,40 hingga 5.256,38 menunjukkan batas pergerakan IHSG yang telah tercatat hingga waktu pemantauan. Perkembangan berikutnya akan menentukan apakah tekanan berlanjut atau indeks mampu memangkas pelemahan sebelum sesi berakhir.
Menurut Herditya Wicaksana, analis PT MNC Sekuritas, pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada pekan tersebut. Pertemuan bank sentral Amerika Serikat itu menjadi agenda yang diperhatikan investor, sementara pergerakan pasar saham domestik masih berada dalam tekanan. Sikap menanti tersebut mencerminkan perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan agenda tersebut sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Herditya menyampaikan pandangannya di tengah kondisi sejumlah indikator pasar keuangan yang turut menjadi sorotan. Dengan demikian, perhatian investor tidak hanya tertuju pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga pada nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi pemerintah. Ketiga hal ini menggambarkan dinamika pasar yang berlangsung pada periode tersebut, tanpa mengubah penilaian Herditya mengenai kecenderungan pelaku pasar untuk menunggu.
Rupiah terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan berada di level Rp18.196 per dolar AS. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi Indonesia bertenor 10 tahun tercatat sebesar 7,4%. Kedua angka tersebut menjadi bagian dari gambaran kondisi pasar keuangan yang diamati ketika IHSG mengalami tekanan. Data nilai tukar menunjukkan posisi rupiah terhadap dolar AS, sedangkan tingkat imbal hasil merujuk pada obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun. Penyebutan indikator-indikator ini memberikan konteks bagi perkembangan pasar pada pekan itu, tanpa menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat di pergerakan rupiah, imbal hasil obligasi, dan perubahan IHSG. Dalam keterangannya, Herditya juga menyoroti pergerakan saham kelompok emiten tertentu yang ikut membebani indeks.
Herditya menilai saham emiten konglomerasi dan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mengalami koreksi. Menurut penilaiannya, koreksi pada saham-saham tersebut membebani IHSG. Pernyataan ini menempatkan pergerakan kedua kelompok saham sebagai perhatian dalam membaca tekanan pada indeks, tanpa menambahkan faktor penyebab lain di luar penjelasan yang disampaikan. Dengan demikian, gambaran pasar pada saat itu mencakup kecenderungan pelaku pasar menanti pertemuan FOMC, rupiah yang berada di Rp18.196 per dolar AS, imbal hasil obligasi Indonesia tenor 10 tahun sebesar 7,4%, serta koreksi saham emiten konglomerasi dan bank Himbara. Rangkaian informasi tersebut merangkum pandangan Herditya mengenai kondisi yang menjadi sorotan saat IHSG tertekan, sambil tetap membedakan data pasar dari penilaian analis.
Aksi demonstrasi BEM Universitas Indonesia di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, turut menjadi perhatian pelaku pasar ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam tekanan. Perkembangan tersebut dicermati bersama sejumlah faktor lain yang memengaruhi sentimen dan pergerakan perdagangan. Analis MNC Sekuritas Herditya menyampaikan bahwa aksi demonstrasi itu diperkirakan sedikit banyak menjadi perhatian pasar. Namun, perhatian tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa demonstrasi menjadi penyebab pelemahan indeks. Pergerakan IHSG berlangsung di tengah kondisi pasar yang juga tercermin dari luasnya saham dan sektor yang terkoreksi.
Tekanan terlihat pada mayoritas saham yang diperdagangkan. Sebanyak 489 saham melemah, sementara 174 saham menguat dan 124 saham bergerak tidak berubah. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan tidak hanya terjadi pada satu atau dua emiten, melainkan tersebar luas di pasar. Dari sisi sektoral, hanya sektor kesehatan yang mencatat penguatan, yakni sebesar 0,07%. Kenaikan tipis ini menjadi pengecualian di tengah dominasi sektor yang bergerak di zona merah.
Sektor infrastruktur mengalami koreksi terdalam, turun 2,95%. Berikutnya, sektor industri turun 2,59%, sedangkan sektor energi merosot 2,48%. Tekanan juga membayangi sektor basic yang melemah 1,63%, consumer nonsiklikal turun 1,81%, dan consumer siklikal terkoreksi 1,71%. Sektor keuangan turun 0,26%, properti melemah 0,85%, teknologi turun 0,69%, serta transportasi terkoreksi 1,14%. Sebaran penurunan ini memberikan gambaran mengenai kondisi perdagangan yang kurang kondusif bagi sebagian besar sektor, meskipun kinerja setiap kelompok saham dapat berbeda.
Dalam membaca pergerakan tersebut, pelaku pasar dapat memisahkan perkembangan sosial-politik yang menjadi perhatian dan faktor-faktor pasar yang berpengaruh terhadap harga saham. Pernyataan Herditya menempatkan demonstrasi BEM UI sebagai salah satu hal yang dicermati, bukan sebagai penjelasan tunggal atas pelemahan IHSG. Sementara itu, data saham dan sektor menunjukkan tekanan yang meluas pada hari perdagangan tersebut. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada perkembangan sentimen serta perubahan kondisi perdagangan yang dapat memengaruhi arah indeks dan kinerja sektoral.
Aktivitas perdagangan pada sesi yang dilaporkan mencatat frekuensi transaksi sebanyak 717.649 kali. Volume saham yang berpindah tangan mencapai 13,1 miliar saham, sedangkan nilai transaksinya tercatat sebesar Rp5,8 triliun. Angka tersebut menggambarkan intensitas perdagangan pada sesi itu, dengan jumlah transaksi dan nilai yang dapat dibaca bersama pergerakan indeks. Data aktivitas ini perlu dibedakan dari kinerja pasar pada perdagangan sebelumnya, karena masing-masing merujuk pada sesi yang berbeda. Dengan pemisahan tersebut, catatan frekuensi, volume, dan nilai transaksi tidak tercampur dengan angka indeks yang berasal dari Selasa, 27 Oktober 2026.
Pada perdagangan Selasa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,99% ke level 5.266,13. Indeks LQ45 juga terkoreksi 1,69% dan berakhir di 533,02. Pada waktu itu, rupiah berada di kisaran Rp18.155 per dolar AS. Pergerakan kurs tersebut menjadi bagian dari gambaran kondisi pasar pada hari yang sama, ketika kedua indeks acuan utama tersebut mengalami penurunan. Penyajian angka secara terpisah berdasarkan tanggal membantu menjaga konteks: level IHSG dan LQ45 serta kisaran rupiah di atas merupakan data Selasa, bukan angka untuk sesi pertama Rabu yang sedang dibahas pada catatan aktivitas perdagangan.
Dari sisi sektoral pada Selasa mayoritas sektor.
Baca juga: Solar dari Lapak Penampungan di Tuban Diduga Diambil PT Trisaka Adi Rajasa, Legalitas Jadi Sorotan






