Jakarta | Pemerintah Kota Jakarta Timur mengajak generasi muda berperan nyata dalam mendukung kemajuan bangsa pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026. Wali Kota Jakarta Timur Munjirin menyampaikan ajakan tersebut saat membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir di kantor Wali Kota Jakarta Timur, pada Rabu. Pesan itu menempatkan semangat kepemudaan bukan sekadar sebagai kebanggaan terhadap sejarah, melainkan sebagai dorongan untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan.
Ajakan tersebut mengingatkan bahwa patriotisme dapat diwujudkan melalui tindakan yang bermanfaat dan konsisten. Generasi muda memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai kemampuan, minat, serta bidang yang ditekuni. Peran itu tidak harus dimulai dari langkah besar; kepedulian terhadap lingkungan sekitar, kesediaan belajar, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas sehari-hari juga dapat menjadi bagian dari sumbangsih bagi bangsa. Dengan demikian, nilai persatuan dan tekad para pemuda terdahulu tetap relevan dalam konteks kehidupan masa kini.
Peringatan Sumpah Pemuda juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali arti kebersamaan di tengah keberagaman. Anak muda dapat memperkuat persatuan dengan menghargai perbedaan, membangun komunikasi yang sehat, serta bekerja sama untuk tujuan bersama. Sikap tersebut penting agar energi dan kreativitas generasi muda dapat diarahkan pada hal-hal produktif. Semangat kebangsaan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi tampak dalam pilihan, perilaku, dan kontribusi yang memberi manfaat bagi sesama.
Pesan yang disampaikan Munjirin melalui amanat Menteri Pemuda dan Olahraga mengajak kaum muda menjadikan momentum ini sebagai pengingat untuk terus bergerak dan mengambil tanggung jawab. Kemajuan bangsa memerlukan partisipasi lintas generasi, termasuk gagasan dan kerja nyata dari pemuda. Karena itu, setiap orang dapat mulai dengan mengenali persoalan di sekitarnya, mengembangkan kemampuan, lalu menggunakan pengetahuan tersebut untuk membantu mencari solusi. Ketika semangat Sumpah Pemuda diterjemahkan dalam tindakan, patriotisme menjadi kekuatan yang hidup dan mendukung masa depan Indonesia.
Dalam amanat yang dibacakan Munjirin, semangat Sumpah Pemuda ditegaskan sebagai nilai yang perlu terus hidup dan tertanam dalam karakter generasi penerus. Peringatan ini bukan hanya kesempatan mengenang ikrar persatuan, melainkan juga pengingat bahwa pemuda memiliki tanggung jawab menjaga kebersamaan dan turut menentukan arah bangsa. Nilai persatuan, cinta tanah air, serta kesediaan mengutamakan kepentingan bersama perlu hadir dalam pilihan dan perilaku sehari-hari. Dengan demikian, semangat Sumpah Pemuda tidak berhenti sebagai simbol atau perayaan tahunan, tetapi menjadi pedoman yang membentuk sikap generasi muda dalam keluarga, sekolah, lingkungan, dan ruang publik.
Kemajuan Indonesia, menurut pesan tersebut, tidak semata-mata dapat diukur dari berdirinya gedung-gedung, pesatnya perkembangan teknologi, atau bertambahnya kekayaan. Semua itu penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan kualitas sebuah bangsa. Ukuran yang tidak kalah penting ialah mutu sumber daya manusia, terutama anak muda yang memiliki karakter kuat, berintegritas, dan peduli terhadap sesama. Pengetahuan dan keterampilan akan memberi manfaat lebih luas ketika digunakan secara bertanggung jawab dan berpihak pada kepentingan masyarakat. Karena itu, pembangunan perlu berjalan seiring dengan pembentukan pribadi yang menghargai perbedaan, mampu bekerja sama, serta peka terhadap persoalan di sekitarnya.
Patriotisme dalam amanat Munjirin juga ditampilkan sebagai sesuatu yang harus dibuktikan melalui pengabdian dan tindakan nyata. Mencintai Indonesia berarti bersedia berkontribusi sesuai kemampuan, menjaga lingkungan, membantu sesama, belajar dengan sungguh-sungguh, dan menjalankan tanggung jawab. Sikap tersebut tidak selalu menuntut tindakan besar; konsistensi melakukan hal bermanfaat di lingkungan terdekat pun merupakan wujud kepedulian terhadap bangsa. Generasi muda juga diharapkan gigih menghadapi kesulitan dan tidak menyerah ketika mengalami kegagalan. Hambatan dapat menjadi ruang untuk belajar, memperbaiki langkah, dan menguatkan tekad. Dengan karakter tangguh dan kepedulian sosial, pemuda dapat meneruskan cita-cita persatuan melalui kerja yang konkret, sekaligus ikut membangun Indonesia yang lebih baik.
Dalam amanatnya, Munjirin mengajak generasi muda untuk tidak membatasi cita-cita pada keberhasilan pribadi. Meraih pendidikan, pekerjaan, atau tujuan hidup tentu penting, tetapi pencapaian itu tidak seharusnya membuat seseorang abai terhadap keadaan di sekitarnya. Anak muda juga perlu peka ketika warga menghadapi kesulitan dan bersedia memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Ajakan tersebut menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari tanggung jawab bersama, bukan sekadar pilihan tambahan setelah seseorang mencapai kesuksesan.
Pesan ini memperluas makna patriotisme. Cinta kepada tanah air tidak cukup dinyatakan melalui kata-kata atau kebanggaan terhadap bangsa, tetapi perlu tampak dalam sikap terhadap sesama warga. Patriotisme tanpa kepedulian kehilangan makna karena tidak disertai perhatian pada kehidupan orang-orang yang menjadi bagian dari masyarakat. Ketika anak muda mau melihat kesulitan orang lain dan tergerak untuk menolong, nilai kebangsaan hadir dalam tindakan nyata. Kepedulian membuat semangat persatuan memiliki wujud dalam hubungan antarmanusia.
Munjirin juga menegaskan bahwa kegigihan perlu berjalan bersama nurani. Tekad untuk maju dan bekerja keras tetap bernilai, tetapi tanpa pertimbangan moral, kegigihan dapat kehilangan arah. Demikian pula, kemajuan tidak dapat dinilai semata-mata dari pencapaian atau perubahan yang terlihat. Kemajuan tanpa kemanusiaan bukan kemajuan yang sesungguhnya, sebab kehidupan bersama menuntut perhatian terhadap martabat dan kebutuhan orang lain. Dengan demikian, keberhasilan pribadi, ketekunan, dan kemajuan perlu disertai kepekaan sosial. Anak muda diajak menyatukan cita-cita dengan kepedulian, serta menjadikan kesediaan menolong sebagai bagian dari sikap patriotik. Amanat itu mengingatkan bahwa membangun diri dan memperhatikan sesama bukan dua tujuan yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan, sehingga usaha mencapai masa depan yang lebih baik juga memperkuat rasa tanggung jawab terhadap masyarakat. Nilai Sumpah Pemuda pun tercermin bukan hanya dalam semangat untuk maju, melainkan juga dalam kesediaan menjaga kemanusiaan dan membantu warga yang membutuhkan.Generasi muda perlu berani memelihara cita-cita besar dan percaya bahwa masa depan Indonesia dapat dibentuk melalui pilihan serta tindakan hari ini. Cita-cita itu perlu disertai kerja keras, kemauan untuk terus belajar, dan ketangguhan menghadapi kegagalan maupun perubahan. Namun, menjadi tangguh bukan berarti mengabaikan perasaan orang lain. Anak muda juga perlu menjaga kelembutan hati, menghormati perbedaan, dan peka terhadap kesulitan yang dialami masyarakat di sekitarnya. Perpaduan keberanian dan kepedulian akan membantu mereka tumbuh sebagai pribadi yang kuat sekaligus manusiawi.
Dalam pembangunan, pemuda diharapkan tampil sebagai pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab dan bersedia melayani. Kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau kesempatan untuk didengar, melainkan kesediaan mendengarkan, membuka ruang bagi banyak suara, dan bekerja demi kepentingan bersama. Anak muda tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika perubahan berlangsung. Mereka dapat terlibat dengan menyampaikan gagasan yang relevan, menghasilkan karya yang menjawab kebutuhan, serta melakukan tindakan nyata di lingkungan masing-masing. Kontribusi tersebut dapat dimulai dari sekolah, kampus, tempat kerja, komunitas, maupun ruang digital, selama dijalankan secara bertanggung jawab dan membawa manfaat.
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 kiranya menguatkan persatuan, kepedulian, dan semangat pengabdian di tengah masyarakat yang beragam. Nilai persatuan tidak menuntut semua orang berpikir sama, tetapi mengajak setiap warga bekerja bersama dengan menghargai perbedaan dan mengutamakan kepentingan bangsa. Semoga generasi muda terus mengembangkan ilmu, melahirkan karya, dan berani berkorban demi masa depan yang lebih baik. Dengan sikap tersebut, kecintaan kepada Indonesia tidak berhenti sebagai ungkapan atau seremoni, tetapi hadir dalam pilihan sehari-hari yang jujur, tekun, dan bermanfaat.
Baca juga: Pesan Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto : TNI Harus Terus Menjadi Pelopor Perjuanngan Bangsa Meraih Kejayaan | Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta






