Jakarta | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, dengan pelemahan sebesar 0,17%. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup pada posisi Rp18.175 per dolar AS. Angka penutupan itu menjadi level terlemah sepanjang masa dalam catatan yang dirujuk, sekaligus melewati rekor sebelumnya. Rekor tersebut tercatat pada 8 Juni 2026, ketika rupiah mengakhiri perdagangan di Rp18.170 per dolar AS. Dengan demikian, catatan terbaru memperlihatkan penurunan nilai rupiah pada penutupan sebesar lima rupiah per dolar AS dibandingkan penutupan terendah sebelumnya. Perubahan harian sebesar 0,17% menandai tekanan pada mata uang domestik sepanjang sesi perdagangan yang berakhir pada Rabu tersebut.
Perbandingan kedua angka itu menunjukkan bahwa pelemahan pada hari tersebut membawa kurs penutupan melewati batas yang sebelumnya menjadi catatan terendah. Selisih Rp5 per dolar AS mungkin tampak kecil secara nominal, tetapi tetap penting dalam konteks pencatatan rekor karena posisi terbaru menjadi penutupan paling lemah yang disebutkan dalam data. Angka Rp18.175 merujuk khusus pada nilai rupiah saat pasar mengakhiri perdagangan, bukan gambaran tentang setiap pergerakan kurs selama sesi berlangsung. Karena itu, informasi yang tersedia memastikan rekor terjadi pada penutupan, sementara tidak menyatakan bahwa rupiah sempat menyentuh level yang sama pada waktu lain sepanjang hari.
Rekor penutupan ini memberikan tolok ukur terbaru untuk membaca perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dibandingkan dengan posisi penutupan pada 8 Juni, kurs pada 28 Oktober bergerak lebih lemah, sehingga catatan lama tergeser setelah sekitar empat bulan. Penyebutan tanggal dan angka pembanding membantu menempatkan pelemahan harian tersebut dalam rangkaian pergerakan kurs, tanpa mengaburkan perbedaan catatan sebelumnya dan posisi terbaru. Dengan data Refinitiv sebagai rujukan, inti peristiwanya adalah rupiah melemah 0,17% dan ditutup di Rp18.175 per dolar AS. Angka itulah yang menetapkan rekor terlemah pada penutupan perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa tekanan eksternal masih menjadi faktor penting yang menekan nilai tukar rupiah sekaligus mata uang negara-negara kawasan. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan ketidakpastian mengenai penyelesaian konflik di Timur Tengah turut memperburuk prospek pasar. Ketika risiko geopolitik meningkat, pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil risiko dan menilai ulang aset di berbagai negara. Perkembangan tersebut tidak hanya memengaruhi rupiah, tetapi juga menekan mata uang sejumlah negara lain di kawasan, terutama ketika investor mengutamakan likuiditas dan keamanan. Dalam kondisi seperti ini, perubahan persepsi risiko global dapat memicu pergerakan modal dan nilai tukar yang cepat.
Ketidakpastian konflik turut menjaga harga minyak tetap berada di atas US$115 per barel. Harga energi yang tinggi dapat meningkatkan beban impor dan memunculkan risiko fiskal ke depan, khususnya jika pemerintah perlu menambah dukungan atau subsidi untuk meredam dampaknya. Pada saat yang sama, lonjakan harga minyak berpotensi memperkuat tekanan inflasi di berbagai negara. Kondisi tersebut mendorong pasar memperkirakan suku bunga Amerika Serikat akan bertahan tinggi atau meningkat lebih lanjut. Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi membuat aset berdenominasi dolar semakin menarik bagi investor, sementara mata uang negara berkembang menghadapi tekanan tambahan. Menurut BI, rangkaian faktor ini memperbesar tantangan bagi pasar keuangan kawasan.
Tekanan tersebut berlangsung bersamaan dengan memburuknya sentimen risk-off di pasar global. Dalam suasana investor menghindari risiko, dolar AS cenderung menguat karena dipandang sebagai aset yang lebih aman. Peralihan preferensi itu dapat mendorong arus keluar dana dari pasar negara berkembang, termasuk pasar obligasi dan saham, sehingga permintaan terhadap mata uang lokal melemah. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi meningkat, mencerminkan penyesuaian investor terhadap risiko dan prospek suku bunga. Kenaikan imbal hasil juga dapat menambah biaya pendanaan pemerintah maupun perusahaan. Kombinasi penguatan dolar, keluarnya modal, dan kenaikan imbal hasil membuat tekanan terhadap mata uang kawasan lebih luas. BI menilai dinamika global ini perlu dicermati karena perubahan sentimen dapat berlangsung cepat dan memengaruhi pergerakan rupiah.
Tekanan terhadap rupiah dari dalam negeri lain berkaitan dengan kekhawatiran investor mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Isu tersebut menjadi perhatian pelaku pasar ketika mereka mencermati kondisi pasar keuangan nasional. Kekhawatiran atas potensi perubahan klasifikasi itu disebut sebagai salah satu faktor domestik yang turut menekan mata uang. Penyebutan faktor ini menggambarkan sentimen investor yang berkembang, tanpa mengubah penilaian bahwa pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi yang lebih luas.
Selain kecemasan pasar, kebutuhan valuta asing di dalam negeri yang meningkat menjelang akhir bulan ikut menambah tekanan terhadap rupiah. Permintaan valas tersebut menjadi faktor yang disebut Bank Indonesia (BI) dalam menjelaskan keadaan terkini. Dengan demikian, tekanan domestik yang disoroti mencakup sentimen investor terkait MSCI dan meningkatnya kebutuhan valuta asing pada periode menjelang penutupan bulan. Kedua hal itu berlangsung di tengah perhatian terhadap pergerakan nilai tukar, sementara BI juga membandingkannya dengan dinamika mata uang negara-negara lain di kawasan.
BI menilai secara umum pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Penilaian itu disampaikan meskipun rupiah tercatat melemah 1,15% secara bulanan. Angka tersebut menunjukkan pelemahan dalam hitungan bulan, sedangkan penilaian BI menempatkan pergerakan rupiah dalam konteks regional. BI juga mencatat posisi cadangan devisa Indonesia sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Angka cadangan devisa tersebut merupakan data posisi pada akhir bulan itu, dan melengkapi gambaran mengenai kondisi domestik yang disampaikan BI. Faktor-faktor yang disebutkan memberikan konteks atas tekanan yang terjadi, yakni kekhawatiran terhadap kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham serta peningkatan kebutuhan valas menjelang akhir bulan. Dalam keterangannya, BI tetap menekankan keselarasan pergerakan rupiah secara umum dengan mata uang kawasan, bersamaan dengan catatan pelemahan bulanan sebesar 1,15% dan posisi cadangan devisa pada akhir September.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia menyatakan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah stabilisasi dilakukan melalui beberapa instrumen, termasuk transaksi non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), dan transaksi spot. Kehadiran bank sentral melalui instrumen tersebut memungkinkan BI merespons dinamika pasar valuta asing serta menjaga agar pergerakan kurs tidak mengalami tekanan berlebihan. Pendekatan ini merupakan bagian dari upaya otoritas untuk meredam gejolak, sekaligus memastikan transaksi berlangsung secara tertib. BI menegaskan bahwa intervensi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kebutuhan menjaga kestabilan rupiah, bukan untuk menetapkan nilai tukar pada tingkat tertentu. Dengan demikian, pelaku pasar diharapkan tetap dapat bertransaksi dalam mekanisme yang wajar, sementara tekanan jangka pendek dapat dikelola secara terukur.
Selain intervensi di pasar valuta asing, BI juga membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Pembelian tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendukung stabilitas pasar keuangan domestik ketika gejolak global dan tekanan dari dalam negeri memengaruhi sentimen investor. Kombinasi transaksi NDF, DNDF, spot, serta pembelian SBN menunjukkan bahwa bank sentral menggunakan beragam instrumen sesuai perkembangan pasar. Erwin menyampaikan bahwa langkah-langkah tersebut ditujukan untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga sesuai fundamentalnya.






