Merawat Ubin Museum Sumpah Pemuda: Ampas Kelapa hingga Mesin Poles

Merawat Ubin Museum Sumpah Pemuda: Ampas Kelapa hingga Mesin Poles

Jakarta | Usia bangunan Museum Sumpah Pemuda telah melampaui satu abad, sehingga setiap bagian bangunan memerlukan perhatian dalam perawatannya, termasuk lantai. Ubin yang terpasang bukan material modern yang dapat dibersihkan dengan sembarang produk. Usianya dan karakter bahan membuat pendekatan perawatan perlu dilakukan secara hati-hati agar kondisi permukaan tetap terjaga dan tidak mengalami kerusakan akibat proses pembersihan.

Ubin tersebut berjenis semi-batako, dengan bahan utama semen dan pasir. Pada permukaannya juga terdapat lapisan minyak pelindung yang membantu menjaga kondisi ubin. Karakter ini menjadi pertimbangan penting saat menentukan bahan pembersih. Penggunaan larutan kimia tidak diperbolehkan karena kandungannya berisiko mengikis atau merusak permukaan, sekaligus mengganggu lapisan pelindung yang sudah ada. Karena itu, perawatan dilakukan dengan bahan yang dinilai lebih aman bagi material lama.

Salah satu bahan yang digunakan ialah ampas kelapa. Ampas kelapa merupakan sisa kelapa yang telah dihaluskan setelah sari atau santannya diambil. Bentuknya lembap dan memiliki tekstur menyerupai kertas basah yang diremas. Bahan ini dipilih sebagai alternatif untuk membantu membersihkan ubin tanpa mengandalkan larutan kimia. Pemilihan bahan sederhana tersebut menunjukkan bahwa perawatan benda bersejarah tidak selalu memerlukan produk khusus, tetapi tetap harus menyesuaikan kondisi dan karakter materialnya.

Koordinator Museum Sumpah Pemuda, Fathul Futuh Tamam, menjelaskan cara perawatan tersebut saat ditemui di museum pada Jumat, 23 Oktober 2026. Menurutnya, larutan kimia perlu dihindari karena dapat berdampak buruk pada ubin, sedangkan ampas kelapa dinilai aman digunakan. Penjelasan ini menegaskan pentingnya memahami bahan penyusun lantai sebelum membersihkannya. Dengan perawatan yang sesuai, ubin berusia lebih dari seabad dapat dijaga tanpa mengabaikan sifat asli permukaannya.

Cara merawat lantai di rumah maupun bangunan bersejarah berubah seiring waktu. Fathul mengingat bahwa pada 1970-an, ampas kelapa memiliki peran penting dalam membersihkan lantai. Bahkan, ketika Idul Fitri tiba, sebagian pemilik rumah lebih memilih membeli ampas kelapa daripada emas. Pilihan itu bukan sekadar kebiasaan belanja, melainkan karena ampas kelapa dibutuhkan untuk menggosok dan merawat permukaan lantai. Bahan yang kini sering dianggap sisa dapur tersebut dahulu menjadi bagian dari perlengkapan kebersihan rumah tangga. Cerita ini menunjukkan bahwa metode perawatan lantai sangat dipengaruhi oleh bahan dan kebiasaan yang tersedia pada zamannya.

Saat ini, ampas kelapa tidak lagi menjadi kebutuhan wajib untuk membersihkan lantai. Kain pel basah dapat digunakan untuk mengangkat debu dan kotoran sehari-hari, sedangkan mesin poles menjadi pilihan yang lebih praktis ketika permukaan perlu dibersihkan atau dirawat dengan lebih menyeluruh. Menurut Fathul, penggunaan mesin poles tetap aman bagi ubin jika dilakukan dengan cara yang sesuai. Perubahan ini memberi lebih banyak pilihan kepada pengelola bangunan maupun pemilik rumah, tanpa mengharuskan mereka mengikuti satu metode tertentu. Ampas kelapa tetap dapat dimanfaatkan apabila tersedia, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya cara untuk menjaga kebersihan lantai. Yang terpenting adalah memilih metode yang cocok dengan kondisi ubin dan menggunakannya secara hati-hati.

Perawatan rutin juga berperan dalam menjaga permukaan lantai agar tetap baik. Fathul menyarankan agar lantai dibersihkan secara berkala, sehingga debu dan kotoran tidak menumpuk dan mengganggu tampilannya. Jika pembersihan menyeluruh belum dapat dilakukan, lantai setidaknya perlu disiram air setiap dua hari. Kebiasaan sederhana ini membantu menjaga kondisi permukaan dan mencegah ubin menjadi retak. Untuk ubin lama, terutama yang berada di bangunan bersejarah, pembersihan sebaiknya dilakukan tanpa perlakuan kasar. Gunakan kain pel atau alat yang sesuai, dan hindari menganggap metode yang paling kuat selalu paling baik. Dengan jadwal perawatan yang teratur, lantai dapat tetap bersih tanpa bergantung pada ampas kelapa saja. Perpaduan kebiasaan lama dan peralatan modern memungkinkan perawatan disesuaikan dengan kebutuhan, ketersediaan bahan, serta kondisi ubin dari waktu ke waktu.

Menurut Fathul, pada masa ketika rumah yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda digunakan sebagai tempat tinggal, lantai ubin berwarna dan bercorak belum menjadi pilihan umum bagi semua keluarga. Jenis ubin tertentu dapat dipandang sebagai penanda yang membedakan sebuah rumah dari rumah lain. Warna dan motifnya bukan semata-mata unsur dekoratif, tetapi juga menyampaikan kesan tentang kemampuan ekonomi atau kedudukan pemilik. Dengan demikian, lantai ikut membentuk gambaran mengenai siapa yang tinggal di suatu rumah, sekaligus mencerminkan perbedaan sosial pada zamannya.

Fathul menjelaskan bahwa rumah-rumah lain mungkin memiliki bentuk bangunan yang serupa, tetapi belum tentu memakai ubin dengan warna atau pola khusus. Sebagian rumah dapat menggunakan lantai biasa, sementara ubin yang lebih mencolok dikaitkan dengan pemilik yang memiliki kemampuan ekonomi tinggi atau memegang jabatan tertentu. Perbedaan tersebut membantu menjelaskan mengapa detail lantai layak diperhatikan ketika membahas sejarah bangunan. Motif dan warna bukan sekadar pilihan estetis; keduanya dapat menjadi bagian dari cara masyarakat dahulu mengenali kemapanan, kehormatan, dan posisi seseorang.

Keterangan tersebut perlu dipahami sebagai penjelasan mengenai pandangan sosial pada masa itu, bukan sebagai alat untuk menetapkan status seseorang hanya dari tampilan rumah sekarang. Kondisi bangunan telah mengalami perubahan, termasuk akibat pemugaran, pergantian bahan, dan kebutuhan perawatan. Karena itu, keadaan ubin masa kini tidak dengan sendirinya menggambarkan secara utuh kondisi awal maupun kedudukan pemilik pada masa lalu. Penjelasan Fathul memberi konteks tentang makna yang pernah dilekatkan pada ubin, tetapi tidak membuktikan status pemilik rumah berdasarkan apa yang terlihat saat ini. Memisahkan konteks sejarah dari kondisi sekarang membantu pembaca menilai fungsi sosial lantai secara lebih cermat dan menghindari kesimpulan yang melampaui keterangan yang tersedia.

Sebelum menjadi museum, bangunan di Jalan Kramat Raya ini menjalani beberapa fungsi sebagai tempat tinggal. Pada masa penjajahan, rumah tersebut pernah digunakan oleh orang Belanda. Setelah itu, bangunan dibeli oleh keluarga Sie Kong Lian, seorang pengusaha kapas. Riwayat pemilik dan penghuninya memperlihatkan bahwa gedung ini mula-mula merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari di kawasan Kramat, jauh sebelum dikenal sebagai tempat penting dalam sejarah pergerakan pemuda.

Pada 1920–1934, selama 14 tahun, bangunan ini difungsikan sebagai rumah kos. Penghuninya lain mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) dan Rechtschoogeschool. Di para penghuni kos tersebut terdapat pemuda-pemuda yang kelak terlibat dalam peristiwa bersejarah di gedung ini. Rumah itu juga pernah menjadi tempat tinggal direktur rumah sakit Belanda Groot Militair Hospitaal Weltevreden, yang sekarang dikenal sebagai Rumah Sakit Gatot Soebroto. Perubahan fungsi tersebut tidak menghapus ciri hunian yang melekat pada bangunan.

Menurut Fathul, sekitar 99 persen bangunan masih sama dengan bentuk awalnya. Lantai dan plafon disebut masih asli, sehingga pengunjung dapat melihat bagian-bagian yang telah bertahan melewati perubahan zaman. Meski demikian, beberapa unsur mengalami penyesuaian. Sebagian genteng ditambahkan atau diatur kembali, sedangkan bagian plafon ditutup menggunakan gipsum dan semen. Penutupan itu dilakukan agar kotoran dari bagian atas tidak jatuh kepada pengunjung. Dengan demikian, perawatan bangunan perlu mempertimbangkan fungsi perlindungan sekaligus mempertahankan keaslian unsur bersejarahnya.

Gedung ini memiliki ciri arsitektur Indische, lain fasad berpilar dan plafon yang tingginya hampir mencapai tujuh meter. Skala ruang serta bentuk muka bangunan tersebut memberi gambaran tentang rancangan rumah pada masanya. Data bangunan mencatat alamatnya di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, dengan luas bangunan utama 343 meter persegi.

Baca juga: Merawat Silaturahmi, Kas Kohanudnas Silaturahmi Dengan Mantan Panglima TNI