Pramuka Jakarta Pusat Didorong Menjaga Persatuan dan Menjawab Tantangan Zaman

Pramuka Jakarta Pusat Didorong Menjaga Persatuan dan Menjawab Tantangan Zaman

Kota Jakpus | Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat Arifin mengajak generasi muda, khususnya anggota Pramuka, memperkuat persatuan dan menjaga kepedulian terhadap sesama. Ajakan itu disampaikan saat ia memimpin upacara Hari Sumpah Pemuda 2026 di Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Kegiatan tersebut digelar bersama Kwartir Cabang Pramuka Jakarta Pusat sebagai ruang untuk meneguhkan kembali nilai kebangsaan di kalangan pemuda.

Dalam upacara itu, tema yang diangkat adalah “Patriotik, Gigih, Berempati”. Ketiga nilai tersebut, menurut Arifin, relevan untuk membentuk generasi yang tidak hanya mencintai bangsa, tetapi juga tekun menghadapi tantangan dan peka terhadap keadaan orang lain. Ia mendorong anggota Pramuka menerjemahkan semangat tersebut ke dalam sikap sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Arifin juga mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda mengikrarkan persatuan, sedangkan Pramuka memiliki peran untuk merawatnya melalui aksi nyata. Makna persatuan tidak berhenti pada pernyataan atau seremoni, tetapi perlu tercermin dalam kesediaan bekerja sama, menghormati perbedaan, dan membantu warga yang membutuhkan. Kepedulian sosial menjadi salah satu cara agar semangat kebangsaan terasa dalam kehidupan bersama.

Selain persatuan dan empati, integritas dipandang penting bagi generasi muda dalam menjawab perubahan zaman. Anggota Pramuka diharapkan berpegang pada nilai kejujuran, tanggung jawab, dan disiplin ketika mengambil keputusan serta menjalankan tugas. Sikap tersebut dapat memperkuat kepercayaan di sesama dan menjadi bekal saat menghadapi persoalan baru, termasuk perkembangan sosial dan teknologi.

Pesan dalam peringatan ini menempatkan pemuda sebagai bagian penting dari upaya menjaga keutuhan masyarakat. Dengan semangat patriotik, kegigihan, dan empati, anggota Pramuka dapat menunjukkan bahwa nilai Sumpah Pemuda tetap hidup melalui tindakan yang konsisten. Ajakan Arifin sekaligus menegaskan bahwa persatuan perlu dirawat bersama, dimulai dari lingkungan terdekat dan diwujudkan dalam perilaku yang bermanfaat bagi sesama.

Menurut Arifin, nilai Sumpah Pemuda memiliki hubungan erat dengan semangat gerakan Pramuka. Persatuan menjadi landasan penting agar perbedaan tidak menghalangi anggota untuk bekerja bersama dan berkontribusi bagi masyarakat. Semangat tersebut, dalam pandangannya, perlu terus dijaga oleh Pramuka Jakarta Pusat, terutama ketika menghadapi perubahan dan tantangan zaman. Persatuan bukan sekadar ajakan untuk berkumpul, melainkan dorongan untuk saling menghormati, menguatkan, dan mengutamakan kepentingan bersama.

Arifin juga mengaitkan semangat kepramukaan dengan ketangguhan, kebinekaan, kesukarelaan, dan pengabdian. Ketangguhan diperlukan agar anggota mampu menghadapi keadaan yang tidak selalu mudah, sementara penghargaan terhadap kebinekaan membantu mereka hidup berdampingan di tengah perbedaan. Kesukarelaan, menurutnya, menjadi bagian dari kesediaan untuk hadir dan membantu tanpa menjadikan kepentingan pribadi sebagai satu-satunya pertimbangan. Sikap itu sejalan dengan pengabdian, yakni memberikan tenaga dan perhatian untuk kepentingan bersama. Nilai-nilai tersebut, dalam uraian Arifin, saling melengkapi dan menjadi bagian dari semangat yang perlu tercermin dalam gerakan Pramuka.

Dalam pandangan Arifin, pendidikan kepramukaan berperan membentuk karakter. Proses pendidikan ini juga melatih ketahanan fisik dan mental, sehingga anggota dapat mengembangkan kesiapan untuk menghadapi tantangan. Selain itu, pendidikan kepramukaan menanamkan kecintaan terhadap tanah air. Ketiga peran tersebut ia tempatkan sebagai bagian dari pembinaan anggota, bukan hanya sebagai pengetahuan tentang kepramukaan. Pembentukan karakter berkaitan dengan nilai-nilai yang dijalankan, sedangkan latihan fisik dan mental mendorong ketangguhan. Kecintaan terhadap tanah air, pada saat yang sama, memperkuat rasa kebersamaan dan pengabdian. Arifin menekankan bahwa nilai persatuan dan semangat kebangsaan perlu menjadi pegangan dalam kegiatan Pramuka. Dengan demikian, pendidikan kepramukaan menurutnya turut menyiapkan anggota untuk menjaga persatuan, menghargai kebinekaan, dan menjalankan kesukarelaan serta pengabdian dalam kehidupan bersama.

Perjuangan pemuda pada masa penjajahan berlangsung dalam konteks yang berbeda dari tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Pada masa lalu, perjuangan melawan penjajahan menjadi upaya untuk meraih kemerdekaan dan membebaskan bangsa dari kekuasaan asing. Kini, perhatian pemuda tidak lagi tertuju pada perjuangan fisik tersebut, tetapi pada persoalan sosial dan kebangsaan yang hadir di tengah kehidupan masyarakat. Perbedaan konteks ini tidak mengurangi pentingnya peran pemuda. Sebaliknya, generasi muda tetap diharapkan mampu menjaga persatuan, menunjukkan kepedulian, dan ikut menjawab tantangan yang berkembang pada zamannya. Dalam upacara, Arifin mengarahkan perhatian pada sejumlah persoalan yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama bagi pemuda.

Di persoalan yang disampaikan Arifin ialah ketidakpedulian sosial. Ia juga menyoroti perpecahan akibat disinformasi, yang menjadi tantangan bagi persatuan. Selain itu, kemerosotan moral termasuk hal yang ia sebutkan dalam upacara. Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan masa kini mencakup ranah kehidupan sosial dan kebangsaan. Pemuda diharapkan tidak mengabaikan persoalan-persoalan itu, melainkan menyadari bahwa menjaga kebersamaan dan persatuan tetap penting. Pesan tersebut menempatkan generasi muda sebagai pihak yang memiliki peran dalam merespons keadaan di sekitarnya. Arifin menyampaikan perhatian itu sebagai bagian dari seruan agar pemuda menghadapi tantangan zamannya dengan sikap yang bertanggung jawab.

Arifin turut menyebut perundungan dan penyalahgunaan obat terlarang sebagai persoalan yang perlu diperhatikan. Persoalan lingkungan juga masuk dalam daftar tantangan yang ia sampaikan. Dengan demikian, hal-hal yang menjadi perhatian meliputi ketidakpedulian sosial, perpecahan akibat disinformasi, kemerosotan moral, perundungan, penyalahgunaan obat terlarang, serta persoalan lingkungan. Penyebutan berbagai isu tersebut memperlihatkan keluasan tantangan yang dihadapi pemuda masa kini, berbeda dari perjuangan melawan penjajahan pada masa lalu. Pesan dalam upacara itu mengajak pemuda untuk mengenali tantangan tersebut dan tetap berperan dalam menjaga persatuan. Perjuangan generasi sekarang hadir dalam bentuk kepedulian terhadap persoalan yang disampaikan, sekaligus komitmen untuk menghadapi tantangan zaman secara bersama.

Arifin menekankan bahwa pemuda dan anggota Pramuka Jakarta Pusat memiliki peran penting sebagai perekat persatuan. Di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan pandangan, mereka perlu membangun sikap saling menghormati serta mengutamakan kepentingan bersama. Persatuan tidak cukup dipahami sebagai semboyan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan sehari-hari: mendengarkan, menghargai perbedaan, dan bekerja berdampingan. Semangat kebersamaan ini dapat memperkuat kehidupan masyarakat sekaligus menjaga lingkungan kota tetap aman dan harmonis. Bagi Pramuka, nilai tersebut sejalan dengan latihan kedisiplinan dan pengabdian.

Selain menjaga persatuan, generasi muda perlu menguasai ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan teknologi. Arifin mendorong mereka untuk terus belajar, berpikir kritis, serta menggunakan inovasi secara bijak dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan digital dapat membuka peluang baru, tetapi harus disertai tanggung jawab dan kemauan untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat. Dengan bekal tersebut, pemuda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan juga mampu berkontribusi dalam menciptakan perubahan positif bagi lingkungan sekitarnya.

Arah berikutnya adalah memperkuat kepedulian sosial dan membangun kolaborasi lintas sektor. Kepekaan terhadap persoalan warga dapat diwujudkan melalui kegiatan sukarela, bantuan kepada mereka yang membutuhkan, dan perhatian pada lingkungan. Upaya seperti ini akan lebih berdampak jika pemuda bekerja bersama masyarakat, pemerintah, dunia pendidikan, serta berbagai organisasi. Kerja sama memungkinkan gagasan dan sumber daya dihimpun untuk menghadapi tantangan bersama. Dalam setiap kegiatan, Arifin juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas diri, bersikap jujur, menepati komitmen, dan bertanggung jawab atas tindakan.

Kelima arah tersebut menjadi bekal agar pemuda dapat berperan nyata dalam pembangunan. Potensi generasi muda, menurut Arifin, perlu dikembangkan mulai dari Jakarta Pusat melalui ruang belajar, latihan, pengabdian, dan kesempatan berkolaborasi. Keberlanjutan pembangunan kota dan bangsa dipercayakan kepada generasi muda, sehingga kepercayaan itu perlu dijawab dengan kesungguhan.

Baca juga: Koops TNI Habema Amankan Kampung Balamai atas, Pangkoops: Ketegasan untuk Melindungi Masyarakat dan Menjaga Ruang Damai | Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta