Banjir Subulussalam Berdampak pada 1.985 KK, Ribuan Rumah Masih Terendam

Banjir Subulussalam Berdampak pada 1.985 KK, Ribuan Rumah Masih Terendam

Kota Subulussalam | Banjir yang melanda Kota Subulussalam, Aceh, berdampak terhadap 1.985 kepala keluarga (KK). Data tersebut menggambarkan jumlah keluarga yang terdampak, sementara jumlah warga dalam satuan jiwa masih dalam proses pendataan. Karena pencatatan jumlah penduduk belum selesai, angka warga yang terkena dampak belum dapat dipastikan. Informasi mengenai kondisi banjir dan dampaknya disampaikan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Bahron Bakti, berdasarkan laporan yang diterima di Banda Aceh pada Rabu malam, 28 Oktober.

Di keluarga terdampak, tiga KK dilaporkan mengungsi di Desa Sibuasan. Keterangan ini menunjukkan bahwa setidaknya sebagian warga telah meninggalkan tempat tinggalnya, meski jumlah pengungsi yang tercatat dalam laporan tersebut terbatas pada tiga keluarga. Rincian mengenai kondisi keluarga lainnya tidak disebutkan dalam informasi yang disampaikan. Pendataan jumlah jiwa yang masih berlangsung juga penting untuk memberikan gambaran lebih lengkap tentang skala dampak banjir terhadap warga, melengkapi angka 1.985 KK yang telah dilaporkan. Hingga laporan tersebut disampaikan, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

Angka keluarga terdampak dan jumlah pengungsi merupakan informasi yang berbeda: keluarga dapat terdampak tanpa seluruh anggotanya tercatat mengungsi. Oleh karena itu, data tiga KK di Desa Sibuasan tidak menggantikan jumlah total keluarga yang terkena dampak. Angka 1.985 KK menjadi ukuran awal cakupan dampak, sedangkan pendataan dalam satuan jiwa masih diperlukan untuk memperjelas berapa banyak orang yang terdampak. Keterangan BPBA tersebut memberikan gambaran awal situasi di Subulussalam pada saat laporan disampaikan. Perkembangan lebih lanjut dapat bergantung pada pemutakhiran data oleh pihak terkait; hingga saat itu, laporan yang tersedia menyebut adanya dampak terhadap ribuan keluarga, pengungsian tiga KK, serta belum adanya laporan korban jiwa.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menerangkan bahwa hujan berintensitas tinggi melanda wilayah setempat sejak Sabtu, 24 Oktober, pada pekan sebelumnya. Hujan tersebut menjadi rangkaian awal dari banjir yang kemudian berdampak pada permukiman di Kota Subulussalam. Air dari sungai yang meluap bergerak masuk ke kawasan tempat warga tinggal, sehingga sejumlah lingkungan terdampak. Keterangan ini menjelaskan hubungan hujan yang terjadi dan luapan sungai, tanpa menyebutkan penyebab lain. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi di Kecamatan Sultan Daulat dan Kecamatan Rundeng.

Menurut BPBA, dua aliran sungai yang meluap adalah Sungai Lae Souraya dan Sungai Rikit. Luapan dari Sungai Lae Souraya maupun Sungai Rikit memasuki permukiman, membawa dampak banjir ke wilayah di kedua kecamatan tersebut. Dengan demikian, kejadian ini tidak hanya berkaitan dengan hujan yang turun, tetapi juga dengan naiknya aliran sungai hingga air mencapai kawasan hunian. Keterangan BPBA menempatkan kedua sungai itu sebagai bagian penting dalam rangkaian peristiwa yang menyebabkan banjir di Subulussalam. Lokasi sungai dan permukiman terdampak menjadi unsur utama dalam penjelasan mengenai kejadian tersebut.

Di Kecamatan Sultan Daulat dan Kecamatan Rundeng, masuknya air ke permukiman membuat warga di sejumlah kawasan berhadapan dengan kondisi banjir. Rangkaian yang disampaikan BPBA bermula dari hujan berintensitas tinggi sejak tanggal tersebut, kemudian berlanjut dengan meluapnya Sungai Lae Souraya dan Sungai Rikit, sebelum air memasuki permukiman. Uraian itu menunjukkan lokasi terdampak berada pada dua kecamatan, sementara sumber luapan yang disebutkan adalah dua sungai tersebut. BPBA tidak mencantumkan keterangan mengenai tinggi air ataupun rincian lain tentang kondisi hujan dalam penjelasan ini. Informasi yang tersedia berfokus pada hujan, luapan sungai, dan permukiman yang terdampak di Sultan Daulat serta Rundeng.

Dampak banjir di Subulussalam tersebar di 21 desa pada dua kecamatan. Di Kecamatan Sultan Daulat, tiga desa dilaporkan terdampak, sementara di Kecamatan Rundeng jumlahnya mencapai 18 desa. Cakupan ini menunjukkan bahwa kejadian banjir tidak hanya mengenai satu kawasan permukiman, tetapi meluas ke berbagai desa di kedua kecamatan tersebut. Setiap desa menghadapi kondisi genangan dan dampak yang dapat berbeda, bergantung pada lokasi serta aset yang berada di wilayah terdampak. Data cakupan desa memberikan gambaran tentang luas wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam penanganan banjir dan pendataan kebutuhan warga.

Kerusakan material yang dilaporkan mencakup 2.013 unit rumah terendam. Selain bangunan tempat tinggal, genangan juga berdampak pada jalan desa, lahan perkebunan, lahan pertanian, sekolah, dan tempat ibadah. Gangguan pada jalan dapat memengaruhi akses warga dan mobilitas di permukiman, sedangkan genangan di area perkebunan serta pertanian berpotensi menghambat kegiatan pengelolaan lahan. Sekolah dan tempat ibadah yang terdampak juga merupakan fasilitas penting bagi masyarakat. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci tingkat kerusakan masing-masing aset, tinggi genangan, ataupun lama fasilitas dan lahan tersebut terendam. Karena itu, angka dan daftar dampak ini menggambarkan cakupan yang dilaporkan, bukan penilaian lengkap terhadap kerugian.

Jumlah rumah terendam perlu dibedakan dari angka keluarga terdampak yang tercantum dalam laporan, yakni 1.985 kepala keluarga. Kedua angka tersebut menggunakan satuan berbeda: satu menghitung unit rumah, sedangkan yang lain menghitung keluarga. Dengan demikian, angka 2.013 rumah tidak dapat diperlakukan sebagai jumlah keluarga, dan keduanya tidak semestinya disamakan atau dijumlahkan. Perbedaan itu penting agar pembaca memahami skala dampak secara tepat. Rumah merupakan unit bangunan yang terkena genangan, sementara keluarga menunjukkan kelompok rumah tangga yang terdampak. Pendataan lanjutan pada 21 desa dapat membantu memperjelas kebutuhan warga, kondisi fasilitas umum, serta dampak pada lahan yang turut terendam, tanpa mengaburkan perbedaan ukuran dalam laporan awal.

Hingga laporan disampaikan, banjir di Kota Subulussalam belum surut. Air masih menggenangi kawasan terdampak, sementara ribuan rumah dilaporkan masih terendam. Kondisi tersebut membuat pendataan dan pemantauan tetap menjadi bagian penting dari penanganan situasi di lapangan. Informasi yang tersedia belum menyebutkan kapan genangan akan berkurang atau kapan banjir diperkirakan surut, sehingga perkembangan kondisi masih perlu merujuk pada pemantauan petugas.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Subulussalam melakukan kajian cepat untuk melihat keadaan di wilayah yang terdampak. Dalam proses itu, anggota tim reaksi cepat (TRC) dikerahkan ke lokasi guna melakukan evaluasi dan pendataan. Langkah tersebut membantu petugas memperoleh gambaran langsung mengenai dampak banjir dan kondisi kawasan yang masih tergenang. Pendataan juga menjadi dasar untuk mencatat situasi yang terjadi, tanpa mengabaikan kemungkinan perubahan kondisi selama banjir belum surut.

Selain kajian cepat dan pendataan di lokasi, BPBD menjalankan pemantauan terhadap perkembangan banjir. Pemantauan dilakukan ketika genangan masih berlangsung, sehingga keadaan kawasan terdampak dapat terus diperhatikan. Hingga laporan ini disampaikan, belum ada keterangan bahwa air telah surut. Karena itu, kondisi terkini yang dapat dipastikan adalah wilayah terdampak masih digenangi air dan ribuan rumah tetap berada dalam keadaan terendam.

Respons yang disebutkan sejauh ini berfokus pada kajian cepat, pengerahan anggota TRC untuk evaluasi dan pendataan, serta pemantauan kondisi di lapangan. Belum tersedia informasi lebih lanjut mengenai perkiraan surutnya banjir ataupun langkah lain di luar kegiatan tersebut. Dengan demikian, perkembangan penanganan dan keadaan genangan masih bergantung pada hasil pemantauan serta informasi resmi yang disampaikan kemudian. Untuk saat ini, banjir di Subulussalam belum surut dan pendataan terhadap dampaknya masih berlangsung.