Survei SMRC Tempatkan Gibran di Posisi Teratas dalam Simulasi Tiga Tokoh

Survei SMRC Tempatkan Gibran di Posisi Teratas dalam Simulasi Tiga Tokoh

Kota Solo | Survei SMRC pada Oktober 2026 menguji simulasi yang memperhadapkan tiga nama, yakni Gibran Rakabuming Raka, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Prabowo Subianto. Dalam skenario tersebut, Gibran memperoleh 29,7 persen, AHY meraih 28,2 persen, sementara Prabowo mencatat 22,7 persen. Angka itu menempatkan Gibran di posisi teratas dalam simulasi tiga tokoh yang diuji, dengan selisih 1,5 poin persentase dari AHY.

Hasil ini menjadi perhatian karena muncul di tengah desakan agar Gibran mundur dari jabatan wakil presiden. Namun, angka elektabilitas dalam satu simulasi tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan pilihan responden ataupun memastikan bagaimana dukungan akan berkembang. Temuan survei perlu dibaca sesuai konteks pertanyaan yang diajukan dan waktu pengumpulan data. Karena hanya menggambarkan skenario tiga nama, hasil tersebut juga tidak dapat langsung disamakan dengan gambaran seluruh kemungkinan kandidat atau situasi politik yang lebih luas.

Joko Widodo menanggapi pertanyaan mengenai elektabilitas putranya dengan mengingatkan bahwa survei merekam pendapat masyarakat pada waktu tertentu. Menurutnya, hasil semacam itu dapat berubah, sehingga publik tidak perlu buru-buru menarik kesimpulan dari satu pengukuran. Sikap tersebut menekankan sifat sementara dari angka survei: preferensi pemilih dapat bergerak seiring perkembangan isu, pilihan kandidat, serta keadaan politik yang berubah dari waktu ke waktu.

Dengan demikian, posisi Gibran yang teratas dalam simulasi Oktober 2026 merupakan gambaran pada saat survei dilakukan, bukan kepastian mengenai hasil kontestasi mendatang. Selisih ketiga tokoh, terutama jarak tipis Gibran dan AHY, juga membuat pembacaan hasil perlu tetap cermat. Publik dapat mencermati perubahan pada survei berikutnya dan membandingkan temuan dengan informasi mengenai waktu serta cakupan pengukuran. Untuk saat ini, pesan Jokowi mengarahkan perhatian pada batas interpretasi survei, sekaligus mengingatkan agar hasil tersebut tidak diperlakukan sebagai kesimpulan final tentang dukungan politik terhadap Gibran.

Menanggapi pertanyaan mengenai penyebab kenaikan elektabilitas Gibran dalam simulasi tiga tokoh, Joko Widodo meminta agar hasil survei dibaca secara utuh. Ia tidak menunjuk satu peristiwa atau faktor tertentu sebagai penjelasan tunggal atas perubahan angka tersebut. Sikap itu menunjukkan kehati-hatian dalam menafsirkan temuan survei, yang umumnya menggambarkan pilihan responden pada waktu dan kondisi tertentu, bukan memastikan penyebab perubahan dukungan.

Jokowi juga diminta menanggapi kemungkinan bahwa peningkatan elektabilitas itu berkaitan dengan polemik ijazah serta desakan agar Gibran mundur. Dalam jawabannya, ia menyatakan bahwa banyak hal dapat membuat elektabilitas seseorang naik ataupun turun. Pernyataan tersebut tidak secara khusus membenarkan ataupun menolak dugaan bahwa polemik dan desakan itu memengaruhi posisi Gibran. Ia menekankan bahwa perubahan dukungan politik dapat dipengaruhi beragam keadaan, sehingga hasil survei sebaiknya tidak disederhanakan menjadi akibat satu isu saja.

Dengan demikian, tanggapan Jokowi berfokus pada cara membaca survei, bukan pada penetapan hubungan sebab-akibat isu tertentu dan tingkat elektabilitas. Untuk memahami hasilnya secara lebih lengkap, pembaca perlu melihat keseluruhan temuan serta konteks survei, alih-alih mengambil satu angka atau mengaitkannya langsung dengan peristiwa yang sedang ramai dibicarakan. Penafsiran semacam itu juga membantu membedakan data yang dilaporkan dan dugaan mengenai faktor yang mungkin memengaruhi pandangan responden.

Jokowi menyampaikan tanggapan itu kepada wartawan di kediamannya di Jalan Kutai Utara Sumber, Solo, pada Kamis, 29 Oktober. Lokasi dan waktu tersebut menjadi konteks bagi komentarnya atas hasil survei yang menempatkan Gibran di posisi teratas dalam simulasi tiga tokoh. Ia tidak menguraikan faktor-faktor spesifik yang berkontribusi terhadap angka tersebut, melainkan mengingatkan bahwa elektabilitas siapa pun bisa bergerak karena banyak hal. Karena itu, komentar tersebut dapat dipahami sebagai ajakan untuk mencermati hasil secara menyeluruh dan menahan diri dari kesimpulan yang terlalu cepat mengenai penyebab kenaikan dukungan.

Dalam simulasi yang membatasi pilihan pada dua nama, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Gibran Rakabuming Raka, AHY memperoleh dukungan 41,6 persen. Sementara itu, Gibran dipilih oleh 36 persen responden. Adapun 22,4 persen lainnya menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab. Hasil ini menunjukkan bahwa ketika hanya kedua tokoh tersebut yang tersedia sebagai pilihan, AHY berada di atas Gibran dalam perolehan dukungan, dengan selisih 5,6 poin persentase.

Gambaran berbeda terlihat pada responden yang menyatakan mengenal kedua tokoh. Di kelompok ini, dukungan terhadap AHY mencapai 51,1 persen, sedangkan Gibran memperoleh 28,7 persen. Sebanyak 20,3 persen responden dalam kelompok tersebut belum menentukan pilihan. Dengan demikian, hasil pada responden yang mengenal keduanya juga menempatkan AHY di posisi lebih tinggi dalam simulasi dua nama. Angka-angka tersebut menggambarkan pilihan yang tercatat dalam pengujian ini, sementara bagian responden yang belum menentukan pilihan tetap tercatat sebagai kategori tersendiri.

Perbandingan tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan susunan pilihan dalam masing-masing simulasi. Pada simulasi tiga tokoh yang dibahas dalam survei, Gibran berada di urutan pertama. Namun, saat pilihan disederhanakan menjadi AHY dan Gibran saja, AHY memperoleh dukungan lebih besar, baik pada keseluruhan responden maupun pada kelompok yang mengenal kedua tokoh. Karena pilihan yang diuji tidak sama, urutan dukungan pada satu simulasi tidak identik dengan urutan pada simulasi lainnya.

Hasil dua nama ini tidak mengubah temuan simulasi tiga tokoh, melainkan memberikan gambaran tambahan mengenai tingkat dukungan ketika responden diminta memilih di AHY dan Gibran. Perbedaan angka kedua pengujian tersebut dapat disampaikan sebagai hasil dari susunan simulasi yang berbeda, tanpa menetapkan sebab tertentu yang tidak dijelaskan dalam keterangan survei. Karena itu, angka dukungan, kategori tidak tahu atau tidak menjawab, serta kelompok responden yang mengenal kedua tokoh sebaiknya dipaparkan secara terpisah agar pembaca dapat membandingkan hasilnya secara tepat.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa tingkat pengenalan publik terhadap tiga tokoh dalam survei tersebut berbeda-beda. AHY dikenal oleh 70 persen warga yang menjadi responden. Angka pengenalan Gibran jauh lebih tinggi, yakni 97 persen, sementara Prabowo dikenal oleh 99 persen. Data ini menunjukkan bahwa ketiganya memiliki jangkauan pengenalan yang luas, tetapi tingkat keterkenalan Gibran dan Prabowo hampir merata di kalangan responden.

Penilaian kesukaan dihitung di warga yang menyatakan mengenal masing-masing tokoh. Dari kelompok yang mengenal AHY, 77 persen menyatakan suka kepadanya, sedangkan 14 persen menyatakan tidak suka. Untuk Gibran, 66 persen dari warga yang mengenalnya menyatakan suka dan 29 persen menyatakan tidak suka. Dengan demikian, tingkat kesukaan terhadap AHY lebih tinggi dalam kelompok yang mengenalnya, sementara proporsi responden yang tidak suka kepada Gibran tercatat lebih besar. Angka-angka ini menggambarkan penilaian di kalangan orang yang mengenal tokoh bersangkutan, bukan seluruh responden tanpa membedakan tingkat pengenalan.

Survei bertajuk “Efek Tahu Gibran dan AHY pada Elektabilitas Mereka” dilaksanakan pada 1–10 Oktober 2026. Jumlah respondennya mencapai 1.213 orang yang memiliki hak pilih. Dari total tersebut, 1.013 pemilik telepon seluler diwawancarai melalui sambungan telepon dengan metode double sampling. Sementara itu, 200 responden yang tidak memiliki telepon seluler dipilih melalui stratified multistage random sampling dan diwawancarai secara tatap muka. Penggabungan jalur wawancara ini memungkinkan survei menjangkau pemilih dengan akses komunikasi yang berbeda.

SMRC mencantumkan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi simple random sampling.