Kabupaten Sigi | Tim Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menemukan jejak sesar permukaan di Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Temuan tersebut menjadi bagian dari pemetaan geologi untuk mengenali perubahan pada permukaan tanah dan memahami struktur yang bergerak. Jejak itu dikaitkan dengan gempa bermagnitudo 6,7 yang terjadi pada 16 Juni 2026. Dengan mengamati pola retakan dan pergeseran tanah, tim dapat memperoleh petunjuk mengenai pergerakan sesar yang memicu gempa tersebut. Informasi lapangan ini membantu menjelaskan bagaimana aktivitas sesar tercermin di permukaan, sekaligus menambah data geologi untuk wilayah Sigi. Identifikasi jejak sesar juga memberi dasar bagi pemahaman yang lebih terarah mengenai karakter sumber gempa, tanpa mengubah temuan lapangan menjadi perkiraan mengenai kejadian berikutnya.
Temuan jejak sesar permukaan lainnya tercatat di Desa Padende, Kabupaten Sigi. Badan Geologi mengaitkan jejak tersebut dengan gempa yang terjadi pada 28 September 2026. Di lokasi, tanah tampak terbelah, memperlihatkan adanya perubahan pada permukaan yang berhubungan dengan aktivitas sesar. Pengamatan terhadap kedua wilayah memberi gambaran bahwa jejak pergerakan tidak hanya ditemukan di satu desa. Data dari Lembantongoa dan Padende dapat digunakan untuk membaca pola deformasi permukaan yang menyertai gempa, serta memperkaya pemetaan kondisi geologi setempat. Keterkaitan yang disampaikan lembaga itu didasarkan pada hasil pemetaan dan pengamatan lapangan, sehingga jejak tersebut menjadi petunjuk penting dalam memahami pergerakan sesar di Kabupaten Sigi.
Badan Geologi menilai tanah yang terbelah sebagai kondisi yang tidak stabil. Apabila terjadi pergerakan susulan, kondisi tersebut berisiko bagi bangunan dan infrastruktur yang melintas atau berada di area terdampak, termasuk jalan, pipa, dan kabel. Penilaian bahaya ini menekankan perlunya memperhatikan lokasi jejak retakan dalam memahami kerentanan fisik kawasan. Risiko yang disebutkan berkaitan langsung dengan kemungkinan pergerakan tanah terhadap bangunan maupun jaringan infrastruktur tersebut. Temuan pemetaan di dua desa itu karena itu penting sebagai informasi mengenai kondisi permukaan dan potensi bahaya geologi di Sigi. Badan Geologi mengaitkan pengamatan dengan pergerakan sesar pemicu gempa, serta menyampaikan bahwa tanah yang terbelah dapat menjadi tidak stabil jika ada pergerakan susulan. Pencatatan jejak permukaan menyediakan landasan bagi pihak terkait untuk mengenali area yang perlu dicermati, khususnya di sekitar bangunan, jalan, pipa, dan kabel.
Fenomena gas alami yang muncul dari mata air di Kecamatan Palolo menjadi salah satu temuan dalam survei pemetaan geologi di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan wilayah sekitarnya. Menurut hasil pengamatan, gas tersebut keluar melalui mata air dan memiliki sifat yang dapat menyulut api. Informasi ini penting dicatat sebagai indikasi adanya jalur keluarnya gas dari bawah permukaan, bukan sebagai penetapan mengenai jenis gas atau kadarnya. Temuan lapangan itu menambah gambaran tentang kondisi geologi kawasan yang juga dipengaruhi keberadaan sesar aktif.
Badan Geologi menjelaskan bahwa retakan yang terbentuk akibat aktivitas sesar dapat memudahkan gas dari dalam bumi bergerak naik menuju permukaan. Dalam kondisi batuan yang memiliki rekahan, gas berpotensi mengikuti celah tersebut hingga mencapai lokasi yang dapat diamati, termasuk di sekitar mata air. Penjelasan ini menerangkan kemungkinan hubungan struktur geologi dan kemunculan gas di Palolo. Namun, keterangan tersebut tidak dengan sendirinya memastikan karakter gas yang ditemukan atau menjelaskan seluruh proses yang berlangsung di bawah tanah.
Karena itu, temuan gas alami tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari hasil pemetaan sesar aktif, bukan sebagai kesimpulan lengkap mengenai sumber maupun komposisinya. Survei yang mencakup Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan sekitarnya bertujuan mengidentifikasi kondisi geologi serta jejak struktur aktif di wilayah tersebut. Catatan mengenai gas yang keluar dari mata air di Palolo memberikan informasi tambahan bagi pemahaman lapangan. Badan Geologi mengaitkan retakan sesar dengan kemungkinan terbentuknya jalur bagi gas untuk naik, sementara informasi yang tersedia tidak menyebutkan jenis atau kadar gas dan tidak menyatakan bahwa api telah terjadi.
Ahli kebumian Badan Geologi melakukan survei selama 25 hari di wilayah Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Kegiatan ini menelusuri indikasi sesar, baik yang tampak di permukaan maupun yang berada di bawah permukaan. Pengamatan tersebut menjadi bagian dari upaya memahami kondisi geologi setempat secara lebih terarah. Jejak sesar yang teridentifikasi dapat memberi gambaran mengenai keberadaan struktur geologi dan kaitannya dengan potensi aktivitas tektonik. Karena itu, penelusuran lapangan dan kajian bawah permukaan diperlukan untuk menghimpun informasi yang dapat digunakan dalam pemetaan. Hasil pengumpulan data akan menjadi dasar penyusunan peta, bukan berarti peta tersebut telah selesai pada saat survei berlangsung.
Salah satu tujuan utama kegiatan ini ialah mengidentifikasi dan memetakan jejak sesar aktif agar kondisi wilayah dapat dipahami dengan lebih baik. Data yang dihimpun juga digunakan untuk menyusun peta sesar aktif berskala 1:100.000 bagi Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Peta dengan skala tersebut diharapkan menyajikan informasi spasial yang berguna bagi pembacaan kondisi geologi di tingkat wilayah. Proses penyusunannya berlangsung melalui pengumpulan dan pengolahan data, sehingga keberadaan survei selama 25 hari merupakan bagian dari tahapan kerja. Informasi mengenai indikasi sesar perlu ditata secara sistematis agar dapat dimanfaatkan oleh pihak yang memerlukan, dengan tetap membedakan temuan awal dari produk pemetaan yang masih disusun.
Data dasar dari kegiatan ini ditujukan untuk mendukung mitigasi gempa, penataan ruang, serta pengembangan wilayah. Informasi tentang sesar aktif dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam memahami risiko dan merencanakan pemanfaatan ruang secara lebih cermat. Kegiatan tersebut juga mendukung peran Badan Geologi sebagai wali data sesar aktif dalam kebijakan Satu Peta, sehingga informasi geologi dapat dikelola dan dirujuk secara lebih terpadu. Selain ketepatan data, kemudahan akses dan pemahaman pengguna menjadi perhatian. Informasi yang tersaji secara jelas diharapkan dapat digunakan oleh pemerintah, perencana, dan masyarakat sesuai kebutuhan. Dengan demikian, survei ini berkontribusi pada penyediaan landasan informasi yang relevan bagi keputusan berbasis kondisi geologi di Palu dan Sigi.
Badan Geologi menindaklanjuti temuan pemetaan di Sigi melalui pengujian sampel air dan gas yang berasal dari mata air yang dapat mengeluarkan api. Sampel tersebut akan dianalisis di laboratorium untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kandungan dan karakteristiknya. Pemeriksaan ini diperlukan agar informasi mengenai fenomena tersebut tidak hanya bersandar pada pengamatan di lapangan, tetapi juga didukung hasil kajian ilmiah. Data laboratorium selanjutnya dapat membantu menjelaskan kondisi geologi setempat serta menjadi bagian dari dokumentasi penyelidikan. Hasilnya diharapkan memperkaya pemahaman tentang kemunculan gas alami dan hubungannya dengan kondisi lingkungan di sekitar mata air. Hingga analisis selesai, informasi yang tersedia tetap perlu dipahami sebagai hasil penyelidikan yang sedang berlangsung.
Tindak lanjut berikutnya adalah penyusunan peta sesar aktif dengan skala 1:100.000. Peta ini diharapkan menjadi salah satu acuan dalam perencanaan pembangunan, sehingga keputusan mengenai pemanfaatan ruang dapat mempertimbangkan kondisi geologi dan potensi bahaya di wilayah tersebut. Ketersediaan informasi tentang jalur sesar aktif penting untuk mendukung pembangunan yang lebih aman dan berkelanjutan, terutama ketika digunakan bersama data teknis lain yang relevan. Peta yang disusun juga dapat membantu pemerintah dan pihak terkait memahami karakter kawasan secara lebih terukur. Dengan demikian, hasil pemetaan tidak hanya menjadi catatan ilmiah, tetapi dapat memberi dasar bagi pertimbangan dalam penataan wilayah dan pengembangan infrastruktur.
Langkah ketiga ialah menyosialisasikan.
226 kunjungan