CVR Helikopter Mi-17V5 Ditemukan dalam Pencarian di Perairan Seruyan

CVR Helikopter Mi-17V5 Ditemukan dalam Pencarian di Perairan Seruyan

Kabupaten Seruyan | Tim gabungan TNI dan Basarnas menemukan sebuah perangkat yang diduga merupakan cockpit voice recorder (CVR) helikopter Mi-17V5 yang jatuh saat menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Benda tersebut ditemukan pada Minggu, 8 November 2026, di perairan Kuala Pembuang, Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Informasi awal menyebut perangkat itu diduga milik helikopter tersebut; identitas dan keterkaitannya belum dapat dinyatakan pasti hanya berdasarkan temuan awal. Karena itu, penyebutan CVR dalam laporan ini tetap menggunakan istilah “diduga” hingga ada konfirmasi lebih lanjut dari pihak berwenang.

Penemuan itu menjadi perkembangan penting dalam pencarian di lokasi jatuhnya helikopter. CVR merupakan perangkat yang dirancang untuk merekam percakapan di kokpit dan sejumlah suara di dalam pesawat. Jika nantinya terkonfirmasi sebagai bagian dari helikopter yang dicari, rekamannya berpotensi membantu memberikan informasi mengenai keadaan di dalam kokpit sebelum insiden. Namun, fungsi tersebut tidak berarti isi rekaman atau penyebab kecelakaan sudah diketahui. Temuan benda yang diduga CVR baru menjadi bagian dari rangkaian upaya pencarian, sementara kepastian mengenai jenis perangkat dan asalnya masih menunggu pemeriksaan serta keterangan resmi.

Lokasi penemuan berada di kawasan perairan Kuala Pembuang, wilayah yang menjadi bagian dari pencarian di Kabupaten Seruyan. Keterangan tentang tanggal dan tempat temuan membantu menjelaskan perkembangan operasi, tetapi belum dengan sendirinya memastikan bagaimana perangkat itu berada di sana atau apa yang terjadi pada helikopter. Tim gabungan TNI dan Basarnas disebut menemukan benda tersebut dalam kegiatan pencarian. Informasi yang tersedia juga belum merinci kondisi perangkat, langkah penanganan berikutnya, ataupun hasil pemeriksaan terhadapnya. Oleh sebab itu, setiap laporan mengenai temuan ini perlu membedakan fakta penemuan dari dugaan identitasnya, serta menghindari kesimpulan dini mengenai penyebab jatuhnya helikopter.

Operasi pencarian CVR helikopter Mi-17V5 di perairan Seruyan dipimpin oleh Kasi Ops Korem 102/Pjg, Kolonel Inf Abdul Jamal Husin. Dalam pelaksanaannya, operasi melibatkan penyelam dari tim SAR penyelam TNI Koppeba yang berada di bawah pimpinan Kolonel Laut (S) Suwandi. Personel gabungan bekerja untuk menelusuri area pencarian dan mendukung upaya menemukan perangkat perekam penerbangan tersebut. Koordinasi di lapangan menjadi bagian penting, mengingat pencarian berlangsung di lingkungan perairan dengan kondisi yang tidak mudah bagi penyelam maupun unsur pendukung lainnya.

Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, menyebut sejumlah kendala yang dihadapi tim selama operasi. Arus laut di lokasi pencarian cukup kuat, sementara airnya keruh dan berlumpur. Kondisi tersebut membuat jarak pandang penyelam sangat terbatas, sehingga pergerakan dan pemeriksaan area harus dilakukan secara cermat. Tantangan itu menuntut personel menjaga keselamatan, mengatur langkah dengan hati-hati, serta menyesuaikan pelaksanaan pencarian dengan keadaan di bawah permukaan air. Keterbatasan pandangan juga membuat setiap upaya penelusuran memerlukan koordinasi yang baik penyelam dan tim pendukung.

Meski menghadapi kondisi yang berat, personel tetap bekerja dengan kehati-hatian dan tidak menyerah dalam menjalankan tugas. Ketekunan tersebut memungkinkan upaya pencarian terus dilanjutkan di tengah arus kuat dan visibilitas yang rendah. Zainul menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel serta pihak terkait atas kerja sama dan dedikasi yang ditunjukkan selama operasi. Ia menilai keterlibatan berbagai unsur mendukung pelaksanaan pencarian, terutama ketika tim harus menghadapi medan bawah air yang menantang. Apresiasi itu juga mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam operasi SAR, ketika keselamatan personel dan ketelitian pencarian harus dijaga secara bersamaan. Dengan koordinasi dan komitmen bersama, tim terus berupaya menuntaskan tugas pencarian di perairan Seruyan.Setelah ditemukan dalam pencarian di perairan Seruyan, perangkat perekam suara kokpit atau CVR helikopter Mi-17V5 diserahkan kepada tim investigasi Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad). Penyerahan tersebut menjadi langkah lanjutan agar perangkat dapat ditangani dalam rangkaian penyelidikan. Informasi mengenai pemindahan CVR ini disampaikan oleh Zainul, yang menjelaskan bahwa perangkat hasil pencarian telah diberikan kepada tim terkait untuk mendukung proses pemeriksaan.

CVR merupakan perangkat yang merekam percakapan dan suara di dalam kokpit. Dalam penyelidikan kecelakaan penerbangan, rekaman semacam ini dapat menjadi salah satu bahan yang ditelaah bersama informasi lain yang tersedia. Karena itu, keberadaan perangkat tersebut dan penyerahannya kepada tim investigasi menjadi bagian dari upaya mengumpulkan bahan pemeriksaan. Penyerahan itu sendiri tidak menjelaskan apa yang terekam di dalam perangkat ataupun apa yang akan ditemukan setelah pemeriksaan dilakukan.

Zainul menyebut CVR telah diserahkan kepada tim investigasi Puspenerbad. Keterangan tersebut menegaskan bahwa penanganan perangkat selanjutnya berada dalam proses kerja tim yang bertugas menyelidiki peristiwa tersebut. Tidak ada rincian tambahan dalam keterangan mengenai tahapan pemeriksaan, metode yang akan digunakan, maupun waktu yang diperlukan untuk menelaah data. Oleh sebab itu, informasi yang dapat disampaikan pada tahap ini terbatas pada penemuan perangkat dan penyerahannya untuk keperluan investigasi.

Dalam proses penyelidikan, hasil pemeriksaan CVR nantinya perlu dipahami sesuai konteks dan dikaitkan dengan bahan lain yang dikumpulkan. Rekaman, bila dapat diakses, merupakan salah satu sumber informasi dan bukan satu-satunya dasar untuk menjelaskan suatu peristiwa. Tim investigasi Puspenerbad bertugas menindaklanjuti perangkat tersebut sesuai kebutuhan penyelidikan. Sampai ada keterangan resmi lebih lanjut, penyerahan CVR dapat dicatat sebagai perkembangan dalam pencarian dan penanganan barang yang ditemukan di perairan Seruyan, tanpa mendahului informasi mengenai isi rekaman atau temuan investigasi.Helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat mengalami kecelakaan di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Rabu, 4 November 2026. Peristiwa tersebut terjadi ketika helikopter sedang menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Informasi mengenai waktu, lokasi, dan kegiatan penerbangan itu memberikan konteks bahwa helikopter berada di kawasan tersebut untuk mendukung upaya penanganan kebakaran, bukan dalam penerbangan rutin.

Sebelum kecelakaan, helikopter lepas landas dari Kuala Pembuang pada pukul 09.55 WIB. Tujuannya adalah Telaga Pulang, dengan misi pemadaman di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting. Penerbangan itu menjadi bagian dari kegiatan penanggulangan karhutla di wilayah Kalimantan Tengah. Dalam misi seperti ini, helikopter digunakan untuk mendukung pemadaman melalui teknik water bombing, yakni membawa dan menjatuhkan air ke area kebakaran.

Kecelakaan dilaporkan terjadi sekitar pukul 11.18 WIB, ketika helikopter mengambil air laut untuk keperluan water bombing. Dengan demikian, peristiwa berlangsung saat misi masih berjalan dan helikopter sedang melakukan salah satu tahapan pengambilan air. Lokasi kejadian berada di perairan Desa Sungai Perlu, di Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan. Rangkaian keterangan tersebut menjelaskan hubungan tujuan penerbangan, tugas pemadaman, dan waktu terjadinya kecelakaan.

Dalam operasi pemadaman karhutla, pengerahan helikopter dapat membantu menjangkau area yang sulit ditangani dari darat. Namun, pelaksanaan tugas tersebut juga melibatkan penerbangan menuju titik pengambilan air dan kawasan sasaran. Pada kejadian ini, Mi-17V5 sedang mendukung misi di wilayah Taman Nasional Tanjung Puting setelah berangkat dari Kuala Pembuang. Kecelakaan terjadi di tengah pelaksanaan tugas itu, saat pengambilan air laut dilakukan sebagai bagian dari persiapan water bombing. Tiga anggota TNI dinyatakan gugur.

Baca juga: Perairan Lovina memiliki terumbu karang serta berbagai biota laut yang dapat ditemukan di sekitar kawasan pantai | Evakuasi 17 Kru MV Khatulistiwa 8 Dibantu Dua Tugboat PTK di Perairan Tuban

10 kunjungan