Kabupaten Lumajang | Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami peningkatan aktivitas pada Selasa. Berdasarkan laporan pemantauan, gunung api tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat mengalami sembilan kali erupsi sejak pukul 00.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Rangkaian letusan itu menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Semeru masih berlangsung sejak dini hari.
Erupsi pertama tercatat terjadi pada pukul 00.09 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 800 meter di atas puncak gunung. Kolom tersebut tampak berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas sedang. Material abu juga dilaporkan bergerak ke arah barat daya mengikuti kondisi angin di sekitar kawasan puncak.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menyampaikan bahwa erupsi kembali terjadi pada pukul 00.31 WIB. Erupsi kedua memiliki karakteristik yang serupa dengan letusan pertama, yakni kolom abu mencapai ketinggian sekitar 800 meter di atas puncak. Warna kolom terlihat putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, sementara arah pergerakannya tetap menuju barat daya.
Catatan sembilan erupsi dalam kurun waktu kurang dari setengah hari menjadi bagian penting dalam pemantauan aktivitas Gunung Semeru. Informasi mengenai waktu kejadian, tinggi kolom abu, warna, intensitas, dan arah sebaran terus dicatat oleh petugas untuk menggambarkan perkembangan kondisi gunung secara berkala. Masyarakat dan pengunjung di sekitar kawasan Semeru perlu mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang serta mematuhi ketentuan keselamatan yang berlaku selama aktivitas vulkanik masih terpantau.
Rangkaian aktivitas erupsi Gunung Semeru berlanjut berdasarkan hasil pengamatan hingga siang hari. Erupsi ketiga tercatat terjadi pada pukul 00.36 WIB. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari rangkaian letusan yang kembali teramati pada beberapa waktu berikutnya. Data pengamatan mencatat letusan pada pukul 05.06 WIB, kemudian berlanjut pada pukul 05.13 WIB dan 05.20 WIB. Setelah itu, aktivitas erupsi kembali tercatat pada pukul 06.47 WIB.
Rangkaian letusan berikutnya teramati pada pukul 08.10 WIB. Dengan demikian, pengamatan menunjukkan bahwa aktivitas erupsi berlangsung pada sejumlah waktu sejak dini hari hingga pagi. Tinggi letusan dalam rangkaian tersebut berkisar 300 hingga 900 meter di atas puncak. Variasi ketinggian ini menggambarkan perbedaan tinggi kolom letusan yang teramati pada setiap kejadian, sesuai dengan hasil pemantauan aktivitas gunung api.
Erupsi kembali tercatat pada pukul 10.37 WIB. Pada kejadian ini, kolom letusan teramati sekitar 800 meter di atas puncak. Kolom abu tampak berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal, kemudian bergerak ke arah barat daya dan barat. Aktivitas tersebut juga terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi 137 detik. Catatan waktu, tinggi kolom, arah pergerakan abu, serta parameter seismik tersebut menjadi bagian dari data pengamatan atas kelanjutan aktivitas Gunung Semeru hingga pukul 10.37 WIB.
Gunung Semeru saat ini berada pada Status Level III atau Siaga. Penetapan status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih tinggi dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat di kawasan sekitar. Oleh karena itu, warga, pendaki, wisatawan, serta pihak lain yang berada di sekitar gunung diminta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan dan tidak melakukan aktivitas di area yang telah ditetapkan sebagai zona rawan.
Masyarakat diimbau tidak melakukan kegiatan di luar ruangan, khususnya pada sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan. Area tersebut menjadi jalur utama yang berpotensi terdampak material erupsi, termasuk awan panas guguran dan aliran lahar. Larangan berlaku hingga jarak 13 kilometer dari puncak Gunung Semeru, yang menjadi pusat aktivitas erupsi. Masyarakat juga perlu menghindari lembah, alur sungai, serta wilayah rendah yang dapat menjadi jalur pergerakan material vulkanik.
Selain itu, aktivitas di sepanjang Besuk Kobokan dilarang dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai. Ketentuan ini perlu diperhatikan karena awan panas dan aliran lahar dapat meluas mengikuti alur sungai hingga sekitar 17 kilometer dari puncak. Perubahan cuaca, hujan di wilayah puncak, atau peningkatan volume material dapat memperbesar risiko aliran lahar secara tiba-tiba, sehingga masyarakat tidak disarankan mendekati sungai untuk memantau kondisi.
Aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru juga dilarang. Kawasan ini rawan terkena lontaran batu pijar dan material vulkanik lain yang dapat terjadi tanpa banyak waktu untuk menyelamatkan diri. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi dari otoritas kebencanaan, tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, serta segera mengikuti arahan evakuasi apabila kondisi berkembang dan rekomendasi diperbarui.
Petugas mengimbau masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar Gunung Semeru untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya akibat aktivitas vulkanik. Awan panas dan guguran lava dapat meluncur mengikuti lembah atau aliran sungai yang berhulu di kawasan puncak. Pergerakannya dapat membahayakan area di sekitar jalur aliran, sehingga masyarakat perlu memperhatikan informasi resmi dan menghindari aktivitas di lokasi yang berisiko.
Selain awan panas dan guguran lava, potensi lahar juga perlu diwaspadai, terutama ketika terjadi hujan di wilayah puncak atau lereng gunung. Material vulkanik yang terbawa aliran air dapat bergerak melalui sungai dan lembah, termasuk pada jalur yang tidak selalu terlihat aktif. Karena itu, warga diminta tidak mendekati aliran sungai, lembah, maupun kawasan yang menjadi jalur material vulkanik, serta tetap memperhatikan arahan petugas di lapangan.
Jalur yang menjadi perhatian meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Masyarakat juga perlu mewaspadai sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan karena berpotensi dilalui lahar. Kewaspadaan diperlukan di sepanjang aliran tersebut, khususnya saat kondisi cuaca mendukung terbentuknya aliran lahar. Pemantauan informasi dari pihak berwenang dan kepatuhan terhadap imbauan keselamatan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan awan panas, guguran lava, maupun lahar.
Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda | Aksi Cepat TNI Respons Meningkatnya Aktivitas Gunung Sinabung

